alexametrics
27.4 C
Manado
Selasa, 17 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Adieu, Professeur!

KONSEP kematian, keabadian, dan makna kehidupan berfaedah bagi manusia untuk memaknai hidupnya. Sedangkan, pengalaman kematian adalah bagi mereka yang sedang menuju kekekalan.

Pada Kamis, 28 April 2022, yang lalu, pengalaman tersebut dijalani oleh Le Professeur. Bagi penulis, sang profesor telah menjelma menjadi salah satu significant others, meminjam kata Charles Talyor, seorang filsuf kontemporer asal Kanada. Alasannya, narasi kehidupan penulis akan mendulang galat ketika nama sang profesor menjadi relatif. Le professeur merujuk pada Profesor dr. Winsy F. Th. Warouw, Sp.KK(K).

Disclaimer
Tulisan ini perlu dimulai dengan sebuah kejujuran. Ini bukanlah sebuah obituari karena hakikinya, tulisan ini tidak membawa dalam dirinya tugas untuk mendeklarasi secara resmi peristiwa ini. Ia juga tidak mengabdi pada sebuah kewajiban untuk memberi ulasan lengkap atas segala prestasi sang profesor. Penulis jauh dari kapasitas itu.

Tulisan ini pula tak sanggup memikul beban sebuah eulogi. Alasannya, ia tidak disampaikan dalam khidmatnya perkabungan. Peran ini bahkan tidak tercakup dalam penumbra asumsi relasi sang penulis dan sang profesor.
Sejatinya, tulisan ini menjauhi desakan objektivitas tentang ihwal sang profesor dan kehidupannya. Secara logis, narasi objektif kehidupan seorang individu hanya bisa dirancang oleh sang individu itu sendiri. Walaupun objektivitas ini masih tetap akan ternodai dengan subjektivitas sang individu karena ia tak lain seorang subjek. Demikian, seluruh ekspresi kehidupan sang individu sebagai subjek tak lepas dari bayang subjektivitas.

Logika di atas mungkin akan sedikit terpenuhi dan objektivitas agak terkuak, walau tanpa mengibas tirai subjektivitas, ketika seorang individu sedemikian nyamannya sehingga mampu bercanda dengan kematian. Misalnya, Bertrand Russell (1872-1970), seorang ahli filsafat, logika, dan matematika asal Inggris, secara “lancang” menulis obituari bagi dirinya sendiri pada tahun 1936. Ia membayangkan The Times of London akan menerbitkan auto-obituarynya. Memang, sebagai seorang ateis, ia melihat kematian sebagai keniscayaan natural. Terhadap sebuah kepastian, Russell tidak punya argumen kontra. Sedemikian damainya dia dengan konsep kematian sehingga ia tidak bisa membendung kelancangan nalarnya untuk bersenda gurau dengan kematian.

Berhadapan dengan tingginya dinding objektivitas dan kerdilnya kapasitas penulis, tulisan ini secara rendah hati mengabdi pada serpihan pengalaman subjektif dengan sang profesor. Ia pun melacak tilas demi menguak bagaimana kehidupan penulis dipengaruhi oleh kehadirannya.

Innov’Action
Setiap even fisik terikat oleh kategori ruang dan waktu. Tarikan linieritas historis kelahiran ide ini merentang sampai menyentuh pemikiran Aristoteles (384-322 SM), seorang filsuf Yunani, tentang kategori-kategori. Rigiditas prinsip fisik di atas membuat pertemuan pertama sang profesor dan penulis pun tunduk pada definisi ruang dan waktu tertentu.

Batasan ruang merujuk pada Sport Hall Unika De La Salle Manado. Sedangkan, waktu membentang dari hari Kamis-Jumat, 18-19 April 2013. Di ruang dan waktu tersebut, terlaksana sebuah even Student Innov’Action Forum (SIF) dengan tajuk “Innovation or Death”. Dari cara perkenalan para pembicara terurai, asumsi akan perbedaan sudut pandang dan titik berangkat terhadap tema besar “inovasi” menebal.

Seorang pebisnis, aktivis mahasiswa/entrepreneur (kemudian menjadi Co-Founder Ruangguru.com), seorang dokter, dan pembelajar filsafat memaparkan ide, menelisik makna, dan menyulut aksi sehubungan dengan inovasi.
Sang profesor sama sekali tidak berangkat dari kedokterannya dalam diskusi tersebut. Percikan ide dan alur pemaparannya tidak dikungkung oleh kakunya kerangkeng ilmiah dengan nuansa matematis dan logis yang kental. Ia justru menguraikan cairnya kreativitas individu dan gairah idealisme generasi muda. Kedua tema ini tentunya terlalu licin dan encer untuk didekap oleh jeruji matematika dan logika.

Asumsi penulis, prima facie, tentang sang profesor ternyata tidak terbukti. Sang profesor dan penulis justru memulai dari titik konseptual yang mirip, yaitu kreativitas dan individu, menyulut aksi dengan motivasi dan provokasi, namun menatap format aksi masa depan secara berbeda. Dari kemiripan dan perbedaan yang tampil dalam diskusi tersebut, common interest sang profesor dan penulis mengerucut pada kebebasan berpikir kritis sebagai dasar kreativitas dan misi memprovokasi generasi muda demi inovasi.

Menyiarkan ide
Setelah diskusi dalam even di atas, udar nalar dan berbagi keprihatinan tentang berbagai hal menjadi substansi setiap pertemuan dengan sang profesor. Dalam satu kesempatan, ia menawarkan sebuah tawaran yang justru lebih menimbulkan tanya daripada keyakinan. Sang profesor mengajak penulis untuk memperkenalkan idealisme di balik profil lulusan Unika De La Salle Manado yang dikenal dengan Expected Lasallian Graduate Attributes (ELGA). Platform berbagi ide sungguh baru bagi penulis, yaitu radio (RRI dan Montini).

Gugusan nilai ELGA terurai dalam creative and critical thinker; effective communicator; long-life learner; service-driven, ethically and socially responsible citizen; steward of environment; and spirit of entrepreneurship. Sang profesor sangat meyakini nilai-nilai individu dan sosial yang melandasi ELGA sebagai suluh penerang sekaligus daya dorong generasi muda.
Linieritas gagasan serta keseimbangan antara daya kritis dan keyakinan personal semakin mengental. Konsekuensinya, platform penyemaian idealisme justru semakin meluas dan mencakup TVRI Manado. Demikian juga, frekuensinya yang mulai mencapai durasi mingguan.

Menariknya, ide-ide dasar yang akan dikembangkan dalam diskusi datang dari kandungan nalar sang profesor. Memang, beberapa kali gagasan yang diangkat tergelitik akibat nukilan ide penulis dalam kolom ini, a moment of thinking. Ia ternyata telah menjadi salah satu pembaca sekaligus penanggap kritis terhadap artikel-artikel penulis.

Walaupun ide-ide dapat muncul dari mana saja, namun sang profesor senantiasa menjadi peramu ide dasar yang akan berkembang secara kreatif dalam diskusi. Ramuan sang profesor ini senantiasa mewujud dalam ringkasan ide sepanjang dua halaman yang ia kirim sehari sebelum diskusi. Ia kemudian mengajak penulis untuk mengembangkan gagasan dalam diskusi dari perspektif filsafat. Ruang bagi nalar untuk bergeliat demikian lapang disediakan oleh sang profesor. Penulis sungguh berenang dalam kolam kemerdekaan nalar ketika diskusi sedang berlangsung dan disiarkan, umumnya secara langsung.

Khazanah gagasan sang profesor membentang luas. Taburan ide yang telah didiskusikan merentang dari idealisme generasi muda sampai pandemi COVID-19, dari tata kelola pendidikan tinggi sampai pengobatan dan perawatan alternatif, dari sejarah perjuangan nasional/lokal sampai Industrie 4.0. Tema ini kemudian diserahkan pada analisis penulis dalam kemerdekaan yang luas ketika diskusi sedang berlangsung. Nalar pun bergerak liar dan kadang agak lancang mendulang makna serta mengumbar motivasi dan provokasi rasional.

Adieu…!
Sang profesor telah melengkapi kemanusiaanya dengan pengalaman akan kematian. Dalam khazanah teori, kematian masih misterius. Dalam ihwal pengalaman manusia, kematian sama riil dengan kehidupan. Dalam metafora garis terang dan gelap, kehidupan dan kematian melukiskan garis terang dan garis gelap silih berganti atau bersamaan dalam kanvas kemanusiaan.

Membicarakan kematian, dengan demikian, menantang tapi relevan. Sebagai konsep, semua interpretasi tentang kematian bermuara pada wujud alternatif, bukan dogma absolut. Sebagai pengalaman, kematian senantiasa luput dari proses konseptualisasi. Yang mati tidaklah mungkin mendefinisikan kematian itu.
Interpretasi spekulatif dan refleksi mendalam tentang kematian bertaburan. Namun, pentinglah menguak manfaat kematian bagi yang hidup untuk memaknai hidupnya.

Mungkin, sebaiknya kita menilik serius kematian bukan untuk memahaminya semata, melainkan untuk mengakrabkan diri dengan makna kehidupan itu sendiri. Sedangkan, tentang kematian, biarlah pengalaman itu menjadi milik mereka yang sedang berjalan menuju kekekalan. Adieu, Professeur (selamat jalan, Profesor)!

Epilog
Di hadapan jasad kaku sang profesor, penulis hanya bisa berbisik, “Terima kasih, Profesor! Ad vitam aeternam (Selamat menuju kehidupan kekal)!

KONSEP kematian, keabadian, dan makna kehidupan berfaedah bagi manusia untuk memaknai hidupnya. Sedangkan, pengalaman kematian adalah bagi mereka yang sedang menuju kekekalan.

Pada Kamis, 28 April 2022, yang lalu, pengalaman tersebut dijalani oleh Le Professeur. Bagi penulis, sang profesor telah menjelma menjadi salah satu significant others, meminjam kata Charles Talyor, seorang filsuf kontemporer asal Kanada. Alasannya, narasi kehidupan penulis akan mendulang galat ketika nama sang profesor menjadi relatif. Le professeur merujuk pada Profesor dr. Winsy F. Th. Warouw, Sp.KK(K).

Disclaimer
Tulisan ini perlu dimulai dengan sebuah kejujuran. Ini bukanlah sebuah obituari karena hakikinya, tulisan ini tidak membawa dalam dirinya tugas untuk mendeklarasi secara resmi peristiwa ini. Ia juga tidak mengabdi pada sebuah kewajiban untuk memberi ulasan lengkap atas segala prestasi sang profesor. Penulis jauh dari kapasitas itu.

Tulisan ini pula tak sanggup memikul beban sebuah eulogi. Alasannya, ia tidak disampaikan dalam khidmatnya perkabungan. Peran ini bahkan tidak tercakup dalam penumbra asumsi relasi sang penulis dan sang profesor.
Sejatinya, tulisan ini menjauhi desakan objektivitas tentang ihwal sang profesor dan kehidupannya. Secara logis, narasi objektif kehidupan seorang individu hanya bisa dirancang oleh sang individu itu sendiri. Walaupun objektivitas ini masih tetap akan ternodai dengan subjektivitas sang individu karena ia tak lain seorang subjek. Demikian, seluruh ekspresi kehidupan sang individu sebagai subjek tak lepas dari bayang subjektivitas.

Logika di atas mungkin akan sedikit terpenuhi dan objektivitas agak terkuak, walau tanpa mengibas tirai subjektivitas, ketika seorang individu sedemikian nyamannya sehingga mampu bercanda dengan kematian. Misalnya, Bertrand Russell (1872-1970), seorang ahli filsafat, logika, dan matematika asal Inggris, secara “lancang” menulis obituari bagi dirinya sendiri pada tahun 1936. Ia membayangkan The Times of London akan menerbitkan auto-obituarynya. Memang, sebagai seorang ateis, ia melihat kematian sebagai keniscayaan natural. Terhadap sebuah kepastian, Russell tidak punya argumen kontra. Sedemikian damainya dia dengan konsep kematian sehingga ia tidak bisa membendung kelancangan nalarnya untuk bersenda gurau dengan kematian.

Berhadapan dengan tingginya dinding objektivitas dan kerdilnya kapasitas penulis, tulisan ini secara rendah hati mengabdi pada serpihan pengalaman subjektif dengan sang profesor. Ia pun melacak tilas demi menguak bagaimana kehidupan penulis dipengaruhi oleh kehadirannya.

Innov’Action
Setiap even fisik terikat oleh kategori ruang dan waktu. Tarikan linieritas historis kelahiran ide ini merentang sampai menyentuh pemikiran Aristoteles (384-322 SM), seorang filsuf Yunani, tentang kategori-kategori. Rigiditas prinsip fisik di atas membuat pertemuan pertama sang profesor dan penulis pun tunduk pada definisi ruang dan waktu tertentu.

Batasan ruang merujuk pada Sport Hall Unika De La Salle Manado. Sedangkan, waktu membentang dari hari Kamis-Jumat, 18-19 April 2013. Di ruang dan waktu tersebut, terlaksana sebuah even Student Innov’Action Forum (SIF) dengan tajuk “Innovation or Death”. Dari cara perkenalan para pembicara terurai, asumsi akan perbedaan sudut pandang dan titik berangkat terhadap tema besar “inovasi” menebal.

Seorang pebisnis, aktivis mahasiswa/entrepreneur (kemudian menjadi Co-Founder Ruangguru.com), seorang dokter, dan pembelajar filsafat memaparkan ide, menelisik makna, dan menyulut aksi sehubungan dengan inovasi.
Sang profesor sama sekali tidak berangkat dari kedokterannya dalam diskusi tersebut. Percikan ide dan alur pemaparannya tidak dikungkung oleh kakunya kerangkeng ilmiah dengan nuansa matematis dan logis yang kental. Ia justru menguraikan cairnya kreativitas individu dan gairah idealisme generasi muda. Kedua tema ini tentunya terlalu licin dan encer untuk didekap oleh jeruji matematika dan logika.

Asumsi penulis, prima facie, tentang sang profesor ternyata tidak terbukti. Sang profesor dan penulis justru memulai dari titik konseptual yang mirip, yaitu kreativitas dan individu, menyulut aksi dengan motivasi dan provokasi, namun menatap format aksi masa depan secara berbeda. Dari kemiripan dan perbedaan yang tampil dalam diskusi tersebut, common interest sang profesor dan penulis mengerucut pada kebebasan berpikir kritis sebagai dasar kreativitas dan misi memprovokasi generasi muda demi inovasi.

Menyiarkan ide
Setelah diskusi dalam even di atas, udar nalar dan berbagi keprihatinan tentang berbagai hal menjadi substansi setiap pertemuan dengan sang profesor. Dalam satu kesempatan, ia menawarkan sebuah tawaran yang justru lebih menimbulkan tanya daripada keyakinan. Sang profesor mengajak penulis untuk memperkenalkan idealisme di balik profil lulusan Unika De La Salle Manado yang dikenal dengan Expected Lasallian Graduate Attributes (ELGA). Platform berbagi ide sungguh baru bagi penulis, yaitu radio (RRI dan Montini).

Gugusan nilai ELGA terurai dalam creative and critical thinker; effective communicator; long-life learner; service-driven, ethically and socially responsible citizen; steward of environment; and spirit of entrepreneurship. Sang profesor sangat meyakini nilai-nilai individu dan sosial yang melandasi ELGA sebagai suluh penerang sekaligus daya dorong generasi muda.
Linieritas gagasan serta keseimbangan antara daya kritis dan keyakinan personal semakin mengental. Konsekuensinya, platform penyemaian idealisme justru semakin meluas dan mencakup TVRI Manado. Demikian juga, frekuensinya yang mulai mencapai durasi mingguan.

Menariknya, ide-ide dasar yang akan dikembangkan dalam diskusi datang dari kandungan nalar sang profesor. Memang, beberapa kali gagasan yang diangkat tergelitik akibat nukilan ide penulis dalam kolom ini, a moment of thinking. Ia ternyata telah menjadi salah satu pembaca sekaligus penanggap kritis terhadap artikel-artikel penulis.

Walaupun ide-ide dapat muncul dari mana saja, namun sang profesor senantiasa menjadi peramu ide dasar yang akan berkembang secara kreatif dalam diskusi. Ramuan sang profesor ini senantiasa mewujud dalam ringkasan ide sepanjang dua halaman yang ia kirim sehari sebelum diskusi. Ia kemudian mengajak penulis untuk mengembangkan gagasan dalam diskusi dari perspektif filsafat. Ruang bagi nalar untuk bergeliat demikian lapang disediakan oleh sang profesor. Penulis sungguh berenang dalam kolam kemerdekaan nalar ketika diskusi sedang berlangsung dan disiarkan, umumnya secara langsung.

Khazanah gagasan sang profesor membentang luas. Taburan ide yang telah didiskusikan merentang dari idealisme generasi muda sampai pandemi COVID-19, dari tata kelola pendidikan tinggi sampai pengobatan dan perawatan alternatif, dari sejarah perjuangan nasional/lokal sampai Industrie 4.0. Tema ini kemudian diserahkan pada analisis penulis dalam kemerdekaan yang luas ketika diskusi sedang berlangsung. Nalar pun bergerak liar dan kadang agak lancang mendulang makna serta mengumbar motivasi dan provokasi rasional.

Adieu…!
Sang profesor telah melengkapi kemanusiaanya dengan pengalaman akan kematian. Dalam khazanah teori, kematian masih misterius. Dalam ihwal pengalaman manusia, kematian sama riil dengan kehidupan. Dalam metafora garis terang dan gelap, kehidupan dan kematian melukiskan garis terang dan garis gelap silih berganti atau bersamaan dalam kanvas kemanusiaan.

Membicarakan kematian, dengan demikian, menantang tapi relevan. Sebagai konsep, semua interpretasi tentang kematian bermuara pada wujud alternatif, bukan dogma absolut. Sebagai pengalaman, kematian senantiasa luput dari proses konseptualisasi. Yang mati tidaklah mungkin mendefinisikan kematian itu.
Interpretasi spekulatif dan refleksi mendalam tentang kematian bertaburan. Namun, pentinglah menguak manfaat kematian bagi yang hidup untuk memaknai hidupnya.

Mungkin, sebaiknya kita menilik serius kematian bukan untuk memahaminya semata, melainkan untuk mengakrabkan diri dengan makna kehidupan itu sendiri. Sedangkan, tentang kematian, biarlah pengalaman itu menjadi milik mereka yang sedang berjalan menuju kekekalan. Adieu, Professeur (selamat jalan, Profesor)!

Epilog
Di hadapan jasad kaku sang profesor, penulis hanya bisa berbisik, “Terima kasih, Profesor! Ad vitam aeternam (Selamat menuju kehidupan kekal)!

Most Read

Artikel Terbaru

/