27C
Manado
Rabu, 27 Januari 2021

Tempus Fugit

MANADOPOST.ID–“Waktu berlari” demikian terjemahan frasa Latin di atas. Secara popular, kutipan ini merujuk pada puisi gubahan Publius Vergilius Maro (70-19 SM), seorang penyair di era Romawi Kuno. Ia dikelompokkan sebagai penyair pada mazhab Agustan karena kemunculan karyanya berkonteks historis rezim Kaisar Agustus (27 SM- 14 AD), kaisar pertama Romawi Kuno.

Vergilius mengungkap keterpisahan manusia dari putaran waktu. Sementara sang waktu berlari dan takkan kembali, manusia terbelenggu pada pencarian kenikmatan yang tak berujung. Apalagi, tawaran alam sedemikian memikatnya.

Waktu berlari meninggalkan 2020, memasuki 2021 tanpa bergeming. Kerja alamiah waktu ini jelas selaras dengan frasa Vergilius. Tak satupun dari manusia, dengan kesadaran mumpuni mengklaim ia tak beranjak dari 2020. Putaran roda waktu ini terlepas dari intervensi manusiawi.

Namun, frasa selanjutnya tentang keterbelengguan manusia terhadap kenikmatan bisa mendapatkan pemaknaan beragam. Kegelisahan hasrat manusia akan kekayaan dan kuasa, yang mewujud dalam begitu banyak manifestasi, memang masih tak terbendung. Demikian, frasa Vergilius masih relevan. Manusia memang masih terbelenggu pencarian kenikmatan. Namun, tampilan aksi kemanusiaan dari individu dan komunitas partikular yang tersebar secara sporadis di seluruh pelosok dunia di tahun 2020, memberi kesaksian berbeda.

Frasa selanjutnya tentang tawaran yang demikian memikat, secara khusus di tahun 2020, umumnya akan bertemu ragu bahkan penolakan. 2020 “memikat” kenangan dengan cara yang berbeda jauh dari pembentukan kenangan manis. Majalah TIME terbitan 14 Desember 2020 menamai 2020 “The Worst Year Ever”. Artikel Stephanie Zacharek, seorang kritikus film majalah TIME di New York City, menghantar renungan akhir tahun ini dengan judul “2020 Tested Us Beyond Measure. Where Do We Go from here?”

2020

Judul pilihan TIME telah menyesatkan beberapa penyimpul yang tergesa-gesa. Hadirnya artikel Zacharek dan sampul depan bombastis TIME mendapat reaksi The Washington Post, lewat artikel Michael S. Rosenwald, “Was 2020 the worst year ever? Historians weigh in.” Sambil menunjukkan beberapa media massa yang senada dengan TIME, Rosenwald mengungkap sangsi dari para sejarawan.

Menurut Rosenwald, sejarawan justru menempatkan Black Death 1348, the Holocaust 1944, dan 1816 ketika anomali iklim global terjadi akibat letusan gunung Tambora 1815, di atas 2020 dengan pandemi Covid-19. Demikian pula Robert Allison, sejarawan Suffolk University. Ia merujuk Perang Dunia I dan pandemi Spanish Flu 1918 yang mengikutinya.

Padahal, Zacharek tidak jemawa dengan argumennya yang dihiperbola TIME. Setelah kalimat pembuka, Zacharek bahkan menulis “There have been worse years in U.S. history, and certainly worse years in world history, but most of us alive today have seen nothing like this one (Memang ada tahun yang lebih buruk [daripada 2020] dalam sejarah Amerika Serikat dan tentunya dalam sejarah dunia, tapi kebanyakan dari kita yang hidup sekarang belum pernah mengalami hal ini [seluruh peristiwa di tahun 2020].”

Zacharek memutar ulang ingatan tentang Perang Dunia I, pandemi 1918, the Great Depression 1930, dan Perang Dunia II, sebagai contoh. Namun, salah satu poinnya mengacu pada ketidakberdayaan manusia berhadapan dengan 2020 akibat ketidaktahuan global menghadapi manifestasinya, misalnya pandemi Covid-19. “The rest of us have had no training wheels for this (Kita tidak punya keterampilan memadai untuk menghadapi ini).”

Rasa putus asa akibat ketidakberdayaan ini, menurut Zacharek, semakin berat diusung karena seliweran informasi tanpa basis kebenaran, terutama di media sosial. Jejalan informasi sempalan ini menyusutkan kinerja nalar. Namun, di sisi lain, ia menggelorakan disposisi rasa liar, antara suka dan benci, sebagai instrumen penimbang utama sebelum pembentukan keputusan. Nurani yang dipompa nalar jernih justru kurus meranggas.

Ketidakberdayaan ini bertemu dengan kembar jahatnya, lanjut Zacharek, yaitu segala dampak buruk pandemi 2020. Elegi Zacharek tentang kembar jahat ini mendaraskan kepenatan pengalamannya ketika Amerika Serikat bertemu hantaman pandemi Covid-19. Ia mengungkap keteledoran administrasi Donald Trump berbasis keangkuhan tanpa nalar. Keangkuhan ini hampir menjatuhkan AS dalam keterpurukan paling dalam tanpa asa untuk kembali. Mereka sempat menjadi negara yang mengisolasi diri dari kolektivitas global menghadapi pandemi. Di tengah pandemi, riak sosial akibat penyakit lama, ketidakadilan dan ketimpangan ras, justru meruang secara publik.

Bagi Indonesia, 2020 juga penuh tantangan. Krisis kesehatan publik, yang mencakup infrastruktur, manajemen, dan sumber daya manusianya, diperparah dengan praktik intoleransi. Penegasan identitas pembeda coba merongrong konsensus historis, filosofis, dan ideologis bangsa. Sumber ideologis dan praktik pendidikan dan regenerasi politik mengering dan hampir disapu oleh pemegang modal dan penguasa politik.

Kesenjangan resiliensi terhadap bencana nonalam ini menyeruak di ruang publik. Belum lagi, mengekalnya watak-watak kerdil dalam diri koruptor besar yang telah terkuak di ruang publik, dan koruptor-koruptor laten yang masih di bawah penumbra. Kewarasan publik terguncang karena mereka tertangkap sedang memangsa porsi rakyat kecil di kala pandemi. Pada saat yang sama, pelakunya justru sosok yang bertanggung jawab mempraktikan keadilan sosial dan tepa salira bagi rakyat kecil.

Bualan, dusta, dan kebencian masih menjejali ranah publik, terutama melalui media sosial. Orang-orang, yang bukan tokoh bangsa, justru masih sering mengacaukan ruang informasi dengan gaduh. Pewujudan keadilan sosial masih dihambat oleh perilaku-perilaku dursila. Akibatnya, pemerataan belum mengada dalam domain pengalaman konkret masyarakat. Pandemi 2020 bukanlah penyebab utama dan satu-satunya, walau ia pastilah mewujud sebagai batu uji keandalan bangsa ini.

2021

2020 mengajarkan banyak hal. Tapi, apa? Kita mengalami jeda. Kita berhenti sejenak. Kita belajar apa yang “penting” dengan kehidupan kita. Hening dan domestikasi mengajarkan kita makna kebersamaan dalam keluarga, dan pentingnya masa depan anak. Protokol kesehatan mengajarkan pentingnya “hal-hal kecil” (mencuci tangan, menjaga jarak, dan memakai masker, misalnya). Kita belajar bahwa kebersamaan, kolektivitas, dan solidaritas lebih bermakna daripada persaingan, kompetisi, dan isolasi nasionalistis.

Namun, demikian vulgar makna pembelajaran ini, deviasi hasrat dan emosi kadang menghalang tuntunan nalar. Selain masih ada kelompok yang terkungkung teori konspirasi ada tidaknya Covid-19, kelompok yang sadar bertemu muka dengan kebosanan, kelelahan, kepenatan, dan himpitan kelangsungan hidup. Dalam kerangkeng ini, nalar kadang lumpuh. Nafsu dan rasa menunggangi suara hati dalam membentuk keputusan dan memerintah tindakan.

Disposisi mental publik sedang mengadapi ketimpangan ini. Di satu sisi, pembelajaran penuh makna. Di sisi lain, deviasi hasrat dan emosi. Pembelajaran ini memerlukan asupan motivasi, informasi, kebijakan strategis, dan tuntunan sederhana. Ini seharusnya yang menjejali ruang informasi. Frekuensi dan intensitas asupan positif perlu menghimpit, atau setidaknya mengimbangi, ruang gaduh dan riuh berbasis bualan. Ini menuntut gerak bersama.

Di sisi lain, mengimbangi gerak masyarakat sipil, administrasi pemerintahan dan birokrasi menghayati tuntutan “melayani”. Harapannya, pilkada barusan mencipta pemimpin-pemimpin dengan basis semangat publik ini. Perebutan kuasa politik telah usai, terbitlah kolektivitas menghadirkan keadilan sosial. Namun, sangsi tetap menyisip tanya “apakah setiap individu beramanat sama dapat bertindak sama?” Reformasi pragmatis, formal, dan strategis memang penting, namun reformasi akhlak perlu mendasarinya.

Epilog

Di antara wajah suram 2020, penulis mengalami pembelajaran lain selama jeda dan domestikasi. Wajah ketulusan dan kepolosan, melalui tanya, tangis, dan tawa Athena, bak jangkar yang menambat keyakinan akan kebaikan dalam diri manusia. Demikian, Athena mendesak kami sekeluarga menapaki ambang 2021 penuh keyakinan akan kemenangan kemanusiaan sekali lagi. Selamat Hari Ulang Tahun, Anakku!(*)

Artikel Terbaru