33.4 C
Manado
Kamis, 11 Agustus 2022

Intelektual Elang yang Mericau

ELANG terbang tinggi seakan tanpa batas. Ia melalang buana dalam kemandirian. Ia jarang kasatmata dan jarang terdengar. Ia bukanlah sekelompok burung pengicau yang gaduh. Mereka bergerak dalam kumpulan dan memenuhi bumi dengan celotehan dan kotoran berserakan. Demikianlah Galileo Galilei secara elegan memetaforakan diri bak elang.

Tulisan ini hadir ketika budi tergelitik dengan sebuah artikel menarik yang diteruskan oleh seorang sahabat nalar. Sedemikian menariknya sehingga sepantasnya tanggapan terhadapnya juga mewujud dalam sebuah artikel. Artikel ini berjudul “Intelektual Burung Elang vs. Intelektual Burung Gagak.” Apalagi sang penulis artikel ini merujuk pada dua filsuf, Galileo Galilei, yang menegaskan diri sebagai filsuf sekaligus matematikawan utama (primario filosofo e matematico) dan Sokrates, sang saka guru filsafat Yunani Kuno.

Penulis bersimpati terhadap gagasan dasar yang diusung oleh Aswar Hasan dalam artikel tersebut. Pesannya, “Maka janganlah menjadi penghalang suara kebenaran sepanjang hidup, karena akan berujung kerusakan dan penyesalan yang sulit termaafkan”. Pengakuan penulis terhadap pesan ini, mengikuti gaya Galileo dalam The Assayer (Sang Analis [metal]; Il Saggiatore), tunduk pada logika sederhana. Jika kebenaran telah teruji, maka berbagai proses ujian, sebagai penghalang mencapai keterujian, baik tendensius maupun murni, menjadi tidak relevan. Namun, karena kebenaran dalam dunia bersifat terbatas, maka kebenaran ini pun akan tunduk pada kebenaran yang lebih teruji nantinya. Bukankah konteks besar tumbangnya geosentrisme oleh heliosentrisme menjadi salah satu garisan kuas besar dalam kanvas kehidupan Galileo, walau penemuan ilmiahnya jauh melampaui polemik astronomis tersebut?

Rekonstruksi
Hasan merangkai gagasan-gagasannya melalui alur diksi yang elegan. Untaian ide-ide secara selaras bergayut pada simpul-simpul argumen yang tersusun apik. Demikian, ia menjamin kelancaran nalar dalam menyisir setiap kumpulan kata yang membentuk proposisi, yang pada gilirannya membentuk argumen.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Tulisan tersebut berawal dari kisah tragis Galileo dalam mengarungi labirin kekuasan dogmatis demi sebuah kebenaran ilmiah. Keyakinan teguhnya akan kebenaran tersebut berdiri atas penalaran logisnya dan pengamatan astronomisnya. Dalam runutan Stephen Hawking (1942-2018), seorang ahli teori fisika dan kosmologi asal Inggris, Galileo tidak sendiri dalam dukungannya terhadap sistem tata surya berbasis teori Nicolaus Copernicus (1473-1543), seorang poliglot dan polimatik asal Polandia.

Dalam narasi populer Hawking, A Brief History of Time, Johannes Kepler (1571-1630), seorang ahli astronomi asal Jerman, juga secara publik mendukung heliosentrisme Kopernikan sebagai argumen kontra model Aristoteles (384-322 SM) dan Ptolomeus (circa 100-170) yang menempatkan bumi sebagai pusat dalam sistem tata suryanya. Menurut Hawking, proses menjungkirbalikkan model Ptolomeus berawal pada tahun 1609 ketika Galileo menginstrumentalisasi teleskop. Dalam observasinya, pengamatan Galileo tertumbuk pada penemuan satelit atau bulan yang mengitari planet Jupiter. Demikian, tumbanglah prediksi Aristoteles dan Ptolomeus tentang semua benda langit mengitari sang bumi.

Tapi, bukankah penemuan tersebut tidak serta-merta merobohkan kukuhnya dogma bumi sebagai pusat sistem tata surya? Tentu saja. Namun, bangunan teori geosentrisme goyah karena salah pilarnya remuk redam. Validitas argumen yang menopang teori tersebut tidak dapat ditopang oleh premis yang tak tahan tes validasi empiris.

Cerita Hawking tentang hubungan Galileo, sebagai pionir ilmu pengetahuan modern, dan otoritas Gereja di Roma bernuansa dinamis. Keyakinannya akan Revolusi Kopernikan sebenarnya mendahului bukti empirisnya. Setelah penemuan astronomisnya, ia berdiri kukuh dengan keyakinannya secara publik. Term “secara publik” mengimplikasikan tantangan eksternal yang mewujud dalam rigiditas dogma eklestiastikal. Benarlah, para pemikir Aristotelian bersekutu mendesak otoritas Roma memberedel Kopernikanisme.

Kedekatan Galileo dengan otoritas di Roma terungkap ketika ia secara sukarela datang ke Roma untuk menjelaskan posisinya. Berbasis argumen bahwa Kitab Suci bukanlah buku berbasis teori-teori ilmiah, ia membela dirinya. Namun, pada tahun 1616, Kopernikanism dianggap “salah dan keliru” dan buku-buku dari Copernicus, Kepler dan Paolo Antonio Foscarini (circa 1565-1616), seorang imam asal Italia Selatan, ditarik dari peredaran sampai terkoreksi. Galileo “hanya” mendapat saran untuk tidak lagi “mempertahankan atau meyakini” teori tersebut.

Semilir kesejukan menerpa Galileo setelah sahabatnya menjadi Paus pada tahun 1623. Dalam periode ini, nalarnya sibuk berdebat dengan Orazio Grassi (1583-1654), seorang imam asal Italia. Dalam hilir mudik argumentasi keduanya, lahirlah karya Galileo yang berjudul Sang Analis (Il Saggiatore) pada tahun 1623. Buku ini didedikasikan kepada sahabatnya sang Paus. Setelah membina hubungan baik, nalarnya terbebas dari belenggu dogmatis dan menghasilkan Dialogue Concerning the Two Chief World Systems, Ptolemaic & Copernican pada tahun 1632.

Tidak membutuhkan waktu lama, komisi yang dibentuk Paus untuk menelaah karya Galileo menetapkan bahwa nafas Kopernikanisme masih menjadi inti buku ini dan tidak hanya secara “hipotetis”. Galileo akhirnya berhadapan untuk kedua kalinya dengan inkuisisi. Ia menerima vonis tahanan rumah seumur hidup.
Namun, otoritas dogmatis dan inkuisisi tendensius tak pernah memadamkan suluh kemerdekaan nalar dan kesemestaan kebenaran ilmiah. Bukti kerasnya Galileo mewujud dalam sebuah karya, Two New Sciences (1642), baik sebagai dukungan terhadap Revolusi Kopernikan maupun sebagai cikal bakal fisika modern.
Narasi ini tentunya senada dengan cerita Hasan. Penulis juga hendak menginsinuasi mufakatnya dengan nada dasar cerita ini: sinar kebenaran tak pernah terkungkung oleh tabir gelap apapun dan siapapun penajanya. Tapi, relasi Galileo dan otoritas eklestiastikal di Roma ternyata lebih bernuansa dinamis. Ini justru mengungkap secara lebih vulgar kegigihan sang elang.

Pelurusan
Hasan mempunyai argumen lain. Judul artikelnya mengeksplisitkannya. Ada desakan strategis untuk mengungkap dua jenis intelektual di Indonesia (demikian kiranya ruang lingkup “di sekitar kita…” dalam artikel tersebut). Strategi ini rupanya hendak menunggangi metafora menarik, hampir menjadi legenda populer, Galileo.

Penulis hendak mengusulkan pelurusan. Dalam artikelnya, Hasan menyebut rujukan metafora tersebut sebagai kutipan terhadap surat Galileo terhadap salah satu putrinya, Maria Celeste. Menurut Mark Covington dan Amit Mistry, The Status of Women in Galileo’s Time, Maria Celeste menulis banyak surat kepada Galileo dari tahun 1623-1633. Sayangnya, surat-surat Galileo sebelum 1633 dan surat-suratnya dari Roma ketika ia bertatap muka dengan inkuisisi keduanya pada tahun 1633 lenyap tak berbekas. Jadi, agak sukar membuktikan bahwa metafora tersebut berasal dari salah satu surat Galileo.

Kutipan yang cenderung mendekati makna metafora tersebut justru menghiasi salah satu karya sarkasme Galileo. Ketika itu, ia sedang berperang argumen dengan Grassi. Karya sarkastik dengan diksi tajam berjudul Sang Analis (Il Saggiatore) pada tahun 1623. Bukan hanya sebagai sarkasme dan kontrakritik terhadap Grassi karya ini menjadi corong Galileo untuk mematri metode ilmiah sebagai “bahasa” untuk memahami realitas fisik.

Sebagai kontrakritik, buku ini mengandung permainan logis yang melucuti model Grassi untuk menjelaskan tata surya, ketidakpedulian Grassi yang mengutip teori Galileo tanpa merujuknya, dan menuduh Galileo sebagai pendukung komet sebagai ilusi. Sekedar memberi kesempatan untuk mengecap pedasnya sarkasme Galileo, “It is true, though, that in reading Sarsi’s [nama pena Grassi] book I have wondered that what I said never did reach Sarsi’s ears. Is it not astonishing that so many things have been reported to him which I never said, nor even thought, while not a single syllable reached him of other things that I have said over and over again?”

Sedangkan, kutipan yang mengabadikan metafora tersebut: “Perhaps Sarsi believes that all the host of good philosophers may be enclosed within four walls. I believe that they fly, and that they fly alone, like eagles, and not in flocks like starlings. It is true that because eagles are rare birds they are little seen and less heard, while birds that fly like starlings fill the sky with shrieks and cries, and wherever they settle befoul the earth beneath them. Yet if true philosophers are like eagles they are not [unique] like the phoenix. The crowd of fools who know nothing, Sarsi, is infinite. Those who know very little of philosophy are numerous. Few indeed are they who really know some part of it, and only One knows all.”

Bagi Galileo, filsuf pengemban kebenaran melayang bak elang dalam kesendirian. Ia jarang terlihat dan terdengar, namun gaung kebenaran tetap menggema dari sukmanya. Intelektual gadungan justru mendapatkan kekuatan dalam massa dan membeo bak burung Jalak (familia: Sturnidae). Ketika mereka terbang, mereka mericau secara gaduh dan keras. Ketika membumi, mereka hanya mengotorinya dengan bualan dan omong kosong.

Epilog
Namun, Galileo bukanlah elang yang diam. Ia mericau kebenaran dan membawa kegaduhan di pusat otoritas dogmatis. Ketika ia mendarat di sana, ia mewujudkan kemerdekaan nalar dan melahirkan ilmu pengetahuan modern. (*)

ELANG terbang tinggi seakan tanpa batas. Ia melalang buana dalam kemandirian. Ia jarang kasatmata dan jarang terdengar. Ia bukanlah sekelompok burung pengicau yang gaduh. Mereka bergerak dalam kumpulan dan memenuhi bumi dengan celotehan dan kotoran berserakan. Demikianlah Galileo Galilei secara elegan memetaforakan diri bak elang.

Tulisan ini hadir ketika budi tergelitik dengan sebuah artikel menarik yang diteruskan oleh seorang sahabat nalar. Sedemikian menariknya sehingga sepantasnya tanggapan terhadapnya juga mewujud dalam sebuah artikel. Artikel ini berjudul “Intelektual Burung Elang vs. Intelektual Burung Gagak.” Apalagi sang penulis artikel ini merujuk pada dua filsuf, Galileo Galilei, yang menegaskan diri sebagai filsuf sekaligus matematikawan utama (primario filosofo e matematico) dan Sokrates, sang saka guru filsafat Yunani Kuno.

Penulis bersimpati terhadap gagasan dasar yang diusung oleh Aswar Hasan dalam artikel tersebut. Pesannya, “Maka janganlah menjadi penghalang suara kebenaran sepanjang hidup, karena akan berujung kerusakan dan penyesalan yang sulit termaafkan”. Pengakuan penulis terhadap pesan ini, mengikuti gaya Galileo dalam The Assayer (Sang Analis [metal]; Il Saggiatore), tunduk pada logika sederhana. Jika kebenaran telah teruji, maka berbagai proses ujian, sebagai penghalang mencapai keterujian, baik tendensius maupun murni, menjadi tidak relevan. Namun, karena kebenaran dalam dunia bersifat terbatas, maka kebenaran ini pun akan tunduk pada kebenaran yang lebih teruji nantinya. Bukankah konteks besar tumbangnya geosentrisme oleh heliosentrisme menjadi salah satu garisan kuas besar dalam kanvas kehidupan Galileo, walau penemuan ilmiahnya jauh melampaui polemik astronomis tersebut?

Rekonstruksi
Hasan merangkai gagasan-gagasannya melalui alur diksi yang elegan. Untaian ide-ide secara selaras bergayut pada simpul-simpul argumen yang tersusun apik. Demikian, ia menjamin kelancaran nalar dalam menyisir setiap kumpulan kata yang membentuk proposisi, yang pada gilirannya membentuk argumen.

Tulisan tersebut berawal dari kisah tragis Galileo dalam mengarungi labirin kekuasan dogmatis demi sebuah kebenaran ilmiah. Keyakinan teguhnya akan kebenaran tersebut berdiri atas penalaran logisnya dan pengamatan astronomisnya. Dalam runutan Stephen Hawking (1942-2018), seorang ahli teori fisika dan kosmologi asal Inggris, Galileo tidak sendiri dalam dukungannya terhadap sistem tata surya berbasis teori Nicolaus Copernicus (1473-1543), seorang poliglot dan polimatik asal Polandia.

Dalam narasi populer Hawking, A Brief History of Time, Johannes Kepler (1571-1630), seorang ahli astronomi asal Jerman, juga secara publik mendukung heliosentrisme Kopernikan sebagai argumen kontra model Aristoteles (384-322 SM) dan Ptolomeus (circa 100-170) yang menempatkan bumi sebagai pusat dalam sistem tata suryanya. Menurut Hawking, proses menjungkirbalikkan model Ptolomeus berawal pada tahun 1609 ketika Galileo menginstrumentalisasi teleskop. Dalam observasinya, pengamatan Galileo tertumbuk pada penemuan satelit atau bulan yang mengitari planet Jupiter. Demikian, tumbanglah prediksi Aristoteles dan Ptolomeus tentang semua benda langit mengitari sang bumi.

Tapi, bukankah penemuan tersebut tidak serta-merta merobohkan kukuhnya dogma bumi sebagai pusat sistem tata surya? Tentu saja. Namun, bangunan teori geosentrisme goyah karena salah pilarnya remuk redam. Validitas argumen yang menopang teori tersebut tidak dapat ditopang oleh premis yang tak tahan tes validasi empiris.

Cerita Hawking tentang hubungan Galileo, sebagai pionir ilmu pengetahuan modern, dan otoritas Gereja di Roma bernuansa dinamis. Keyakinannya akan Revolusi Kopernikan sebenarnya mendahului bukti empirisnya. Setelah penemuan astronomisnya, ia berdiri kukuh dengan keyakinannya secara publik. Term “secara publik” mengimplikasikan tantangan eksternal yang mewujud dalam rigiditas dogma eklestiastikal. Benarlah, para pemikir Aristotelian bersekutu mendesak otoritas Roma memberedel Kopernikanisme.

Kedekatan Galileo dengan otoritas di Roma terungkap ketika ia secara sukarela datang ke Roma untuk menjelaskan posisinya. Berbasis argumen bahwa Kitab Suci bukanlah buku berbasis teori-teori ilmiah, ia membela dirinya. Namun, pada tahun 1616, Kopernikanism dianggap “salah dan keliru” dan buku-buku dari Copernicus, Kepler dan Paolo Antonio Foscarini (circa 1565-1616), seorang imam asal Italia Selatan, ditarik dari peredaran sampai terkoreksi. Galileo “hanya” mendapat saran untuk tidak lagi “mempertahankan atau meyakini” teori tersebut.

Semilir kesejukan menerpa Galileo setelah sahabatnya menjadi Paus pada tahun 1623. Dalam periode ini, nalarnya sibuk berdebat dengan Orazio Grassi (1583-1654), seorang imam asal Italia. Dalam hilir mudik argumentasi keduanya, lahirlah karya Galileo yang berjudul Sang Analis (Il Saggiatore) pada tahun 1623. Buku ini didedikasikan kepada sahabatnya sang Paus. Setelah membina hubungan baik, nalarnya terbebas dari belenggu dogmatis dan menghasilkan Dialogue Concerning the Two Chief World Systems, Ptolemaic & Copernican pada tahun 1632.

Tidak membutuhkan waktu lama, komisi yang dibentuk Paus untuk menelaah karya Galileo menetapkan bahwa nafas Kopernikanisme masih menjadi inti buku ini dan tidak hanya secara “hipotetis”. Galileo akhirnya berhadapan untuk kedua kalinya dengan inkuisisi. Ia menerima vonis tahanan rumah seumur hidup.
Namun, otoritas dogmatis dan inkuisisi tendensius tak pernah memadamkan suluh kemerdekaan nalar dan kesemestaan kebenaran ilmiah. Bukti kerasnya Galileo mewujud dalam sebuah karya, Two New Sciences (1642), baik sebagai dukungan terhadap Revolusi Kopernikan maupun sebagai cikal bakal fisika modern.
Narasi ini tentunya senada dengan cerita Hasan. Penulis juga hendak menginsinuasi mufakatnya dengan nada dasar cerita ini: sinar kebenaran tak pernah terkungkung oleh tabir gelap apapun dan siapapun penajanya. Tapi, relasi Galileo dan otoritas eklestiastikal di Roma ternyata lebih bernuansa dinamis. Ini justru mengungkap secara lebih vulgar kegigihan sang elang.

Pelurusan
Hasan mempunyai argumen lain. Judul artikelnya mengeksplisitkannya. Ada desakan strategis untuk mengungkap dua jenis intelektual di Indonesia (demikian kiranya ruang lingkup “di sekitar kita…” dalam artikel tersebut). Strategi ini rupanya hendak menunggangi metafora menarik, hampir menjadi legenda populer, Galileo.

Penulis hendak mengusulkan pelurusan. Dalam artikelnya, Hasan menyebut rujukan metafora tersebut sebagai kutipan terhadap surat Galileo terhadap salah satu putrinya, Maria Celeste. Menurut Mark Covington dan Amit Mistry, The Status of Women in Galileo’s Time, Maria Celeste menulis banyak surat kepada Galileo dari tahun 1623-1633. Sayangnya, surat-surat Galileo sebelum 1633 dan surat-suratnya dari Roma ketika ia bertatap muka dengan inkuisisi keduanya pada tahun 1633 lenyap tak berbekas. Jadi, agak sukar membuktikan bahwa metafora tersebut berasal dari salah satu surat Galileo.

Kutipan yang cenderung mendekati makna metafora tersebut justru menghiasi salah satu karya sarkasme Galileo. Ketika itu, ia sedang berperang argumen dengan Grassi. Karya sarkastik dengan diksi tajam berjudul Sang Analis (Il Saggiatore) pada tahun 1623. Bukan hanya sebagai sarkasme dan kontrakritik terhadap Grassi karya ini menjadi corong Galileo untuk mematri metode ilmiah sebagai “bahasa” untuk memahami realitas fisik.

Sebagai kontrakritik, buku ini mengandung permainan logis yang melucuti model Grassi untuk menjelaskan tata surya, ketidakpedulian Grassi yang mengutip teori Galileo tanpa merujuknya, dan menuduh Galileo sebagai pendukung komet sebagai ilusi. Sekedar memberi kesempatan untuk mengecap pedasnya sarkasme Galileo, “It is true, though, that in reading Sarsi’s [nama pena Grassi] book I have wondered that what I said never did reach Sarsi’s ears. Is it not astonishing that so many things have been reported to him which I never said, nor even thought, while not a single syllable reached him of other things that I have said over and over again?”

Sedangkan, kutipan yang mengabadikan metafora tersebut: “Perhaps Sarsi believes that all the host of good philosophers may be enclosed within four walls. I believe that they fly, and that they fly alone, like eagles, and not in flocks like starlings. It is true that because eagles are rare birds they are little seen and less heard, while birds that fly like starlings fill the sky with shrieks and cries, and wherever they settle befoul the earth beneath them. Yet if true philosophers are like eagles they are not [unique] like the phoenix. The crowd of fools who know nothing, Sarsi, is infinite. Those who know very little of philosophy are numerous. Few indeed are they who really know some part of it, and only One knows all.”

Bagi Galileo, filsuf pengemban kebenaran melayang bak elang dalam kesendirian. Ia jarang terlihat dan terdengar, namun gaung kebenaran tetap menggema dari sukmanya. Intelektual gadungan justru mendapatkan kekuatan dalam massa dan membeo bak burung Jalak (familia: Sturnidae). Ketika mereka terbang, mereka mericau secara gaduh dan keras. Ketika membumi, mereka hanya mengotorinya dengan bualan dan omong kosong.

Epilog
Namun, Galileo bukanlah elang yang diam. Ia mericau kebenaran dan membawa kegaduhan di pusat otoritas dogmatis. Ketika ia mendarat di sana, ia mewujudkan kemerdekaan nalar dan melahirkan ilmu pengetahuan modern. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/