28.9 C
Manado
Jumat, 27 November 2020

Perilaku Agresif

Oleh: Dr. Preysi S. Siby, S.Psi, M.Si

MANADOPOST.ID–Salah satu fenomena saat ini yang memprihatinkan yaitu banyak terjadinya tindak/ aksi kekerasan yang berkaitan dengan perilaku agresif di kalangan masyarakat, baik individu maupun massal. Tindakan tersebut dapat berupa kekerasan verbal maupun kekerasan fisik. Secara faktual perilaku tindak kekerasan tersebut menimbulkan banyak kerugian bagi orang lain. Banyak kasus kekerasan yang terjadi merupakan manifestasi dari perilaku agresif, baik kekerasan secara verbal maupun non verbal.

Psikolog sosial mendefinisikan agresi sebagai segala bentuk perilaku yang dimaksudkan untuk merugikan individu lain yang tidak ingin dirugikan (Baron & Richardson, 1994). Karena melibatkan persepsi niat, apa yang tampak seperti agresi dari satu sudut pandang mungkin tidak terlihat seperti itu dari sudut pandang lain, dan perilaku berbahaya yang sama mungkin atau mungkin tidak dianggap agresif tergantung pada niatnya. Namun, kerugian yang disengaja dianggap lebih buruk daripada kerugian yang tidak disengaja, bahkan ketika kerugiannya sama (Ames & Fiske, 2013).

Ahli psikologi menggunakan istilah kekerasan untuk merujuk pada agresi yang tujuannya menyebabkan kerusakan fisik yang ekstrem, seperti cedera atau kematian. Jadi kekerasan adalah bagian dari agresi. Semua tindakan kekerasan bersifat agresif, tetapi hanya tindakan yang dimaksudkan untuk menyebabkan kerusakan fisik yang ekstrem, seperti pembunuhan, penyerangan, pemerkosaan, dan perampokan, perusakan sarana prasarana fasilitas umum, dan juga perilaku destruktif lainnya yang merupakan kekerasan. Dalam KBBI, kekerasan didefinisikan dengan perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.

Perilaku agresif merupakan perasaan marah atau tindakan kasar akibat kekecewaan atau kegagalan dalam mencapai pemuasan atau tujuan, yang dapat diarahkan kepada orang atau benda, perbuatan bermusuhan yang dapat diarahkan kepada orang atau benda, sifat atau nafsu menyerang sesuatu yang dipandang sebagai hal atau situasi yang mengecewakan, menghalangi, atau menghambat (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2011).

Mac Neil dan Stewart menjelaskan bahwa perilaku agresif adalah suatu perilaku atau suatu tindakan yang diniatkan untuk mendominasi atau berperilaku secara destruktif, melalui kekuatan verbal maupun kekuatan fisik, yang diarahkan kepada objek sasaran perilaku agresif. Objek sasaran perilaku meliputi lingkungan fisik, orang lain dan diri sendiri. Secara singkatnya agresi adalah tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak milik orang lain. Bentuk nyata agresivitas yang dilakukan anak-anak/remaja adalah maraknya perkelahian/tawuran antar pelajar, yang sering membawa korban jiwa. Hal yang terjadi pada saat tawuran sebenarnya adalah perilaku agresi dari seorang individu atau kelompok (Aisyah, 2010).

Dari sudut pandang psikologi, ada sejumlah teori besar yang mendasari pemikiran mengenai agresi, antara lain teori instinct oleh Sigmund Frued, teori survival oleh Charles Darwin dan teori social learning oleh Neil Miller dan John Dollard, yang kemudian dikembangkan lagi oleh Albert Bandura. Teori Freud memandang perilaku agresif sebagai hal yang intrinsik dan merupakan instinct yang melekat pada diri manusia. Selanjutnya Darwin dengan teori survival-nya memandang bahwa secara historis, perilaku agresif ini dianggap sebagai suatu tindakan manusia untuk kebutuhan survival agar tetap dapat menjaga dan mengembangkan kemanusiawiannya ataupun membangun dan mengembangkan komunitas. Teori social learning yang dipelopori oleh Neil Miller dan John Dollard yang meyakini bahwa perilaku agresif merupakan perolehan daripada hasil belajar yang dipelajari sejak kecil dan dijadikan sebagai pola respon. Dalam perkembangannya selanjutnya, Bandura dan Walters mengusulkan satu perbaikan atas gagasan Miller dan Dollard tentang belajar melalui peniruan. Bandura dan Walters menyarankan bahwa kita belajar banyak perilaku melalui peniruan, bahkan tanpa adanya penguat (reinforcement) sekalipun yang kita terima.

Menurut Buss dan Perry (1992) mengelompokkan agresivitas kedalam 4 bentuk agresi, yaitu: (a) Agresi fisik, Merupakan komponen perilaku motorik, seperti melukai dan menyakiti orang secara fisik. Contohnya terjadinya perkelahian antar pelajar yang mengakibatkan beberapa orang terluka parah, (b) Agresi verbal, merupakan komponen motorik, seperti melukai dan menyakiti orang lain dengan menggunakan verbal atau perkataan. Misalnya seperti mencaci maki, berkata kasar, berdebat, menunjukkan ketidaksukaan atau ketidaksetujuan, menyebarkan gosip, dan lain-lain. Contohnya, beberapa siswa yang saling mengejek satu sama lainnya dengan ejekan yang menyakitkan, (c) Agresi marah, merupakan emosi atau afektif, seperti munculnya kesiapan psikologis untuk bertindak agresif. Misalnya kesal, hilang kesabaran dan tidak mampu mengontrol rasa marah. Contohnya, seseorang akan kesal kalau dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah dilakukannya, (d) Sikap permusuhan, meliputi komponen kognitif, seperti benci dan curiga pada orang lain, iri hati dan merasa tidak adil dalam kehidupan. Contohnya, seseorang sering merasa curiga terhadap orang lain, yang dikiranya menaruh dendam pada dirinya, padahal orang lain tersebut tidak dendam terhadapnya.

Ada tujuh perspektif agresif dalam ranah psikologi menurut Krahe (dalam Badrun Susantyo,2011), yaitu:

  1. a) Perspektif psikoanalisis. Menurut Freud, manusia selalu mempunyai potensi bahwa sadar yaitu suatu dorongan untuk merusak diri atau thanatos. Operasionalisasi dorongan tersebut dikatakan oleh Baron dan Byrne (1994) dapat dilakukan melalui perilaku agresif, dialihkan pada objek yang dijadikan kambing hitam/ korban, atau mungkin disublimasikan dengan cara-cara yang lebih bisa diterima masyarakat;
  2. b) Perspektif frustrasi-agresi. Salah satu teori agresi paling awal, diajukan pada tahun 1939 oleh sekelompok lima psikolog Yale: John Dollard, Neal E. Miller, Leonard W. Doob, Orval H. Mowrer, dan Robert R. Sears. Mereka mendefinisikan frustrasi sebagai sesuatu yang menghalangi atau mengganggu tujuan (definisi yang secara khusus mengecualikan reaksi emosional terhadap tujuan yang diblokir), dan mereka mendefinisikan agresi sebagai perilaku yang tujuannya adalah melukai atau melukai target. Kelompok Yale merumuskan hipotesis agresi-frustrasi berdasarkan tulisan-tulisan awal Sigmund Freud, yang menganggap agresi sebagai “reaksi primordial” terhadap frustrasi. Dalam kenyataannya, tidak setiap perilaku agresif dapat diarahkan pada sumber frustrasi, sehingga orang akan mengarahkan pada sasaran lain (Worchel & Cooper, 1986);
  3. c) Perspektif neo-asosianisme kognitif, atau dikenal sebagai teori pengaruh negatif. Disampaikan oleh psikolog sosial Leonard Berkowitz, yang merupakan pengembangan dari hipotesis frustasi-agresi. Teori tersebut menyatakan bahwa pengalaman atau pengaruh tertentu dapat berkontribusi terhadap timbulnya perasaan atau perilaku agresif. Perspektif ini menyatakan bahwa peristiwa-peristiwa yang tidak mengenakkan akan menstimulasi perasaan negative, kemudian, perasaan negatif selanjutnya akan menstimulasi secara otomatis dan reaksi motorik; yang berasosiasi dengan reaksi melawan atau menyerang. Asosiasi ini menimbulkan perasaan marah (emosi) dan takut. Sejauh mana perilaku agresif terbentuk, tergantung kepada proses kognisi tingkat tinggi seseorang;
  4. d) Model pengalihan rangsangan. Dibangun berdasarkan teori emosi dua faktor, yang memiliki pandangan bahwa intensitas pengalaman kemarahan merupakan fungsi dua komponen, yaitu 1) kekuatan rangsangan aversif, dan 2) cara rangsangan itu dijelaskan dan diberi label (Schachter, 1964; Zillmann, 1979). Selain itu, Zillmann (Krahe, 2001) juga merumuskan bahwa jika suatu rangsangan segera diketahui dengan jelas oleh individu, ia akan mencoba mencari penjelasan dengan mendasarkannya pada stimulus informasional yang ada dalam situasinya dari sumber-sumber netral atau tidak relevan mungkin akan dialihkan ke rangsangan yang ditimbulkan oleh stimulasi aversif melalui proses miss-attribution (kesalahan atribusi). Rangsangan yang dibangkitkan oleh sumber yang tidak berhubungan dengan stimulasi aversif mungkin salah diatribusikan pada kejadian aversif sehingga mengintensifkan kemarahan yang ditimbulkan oleh kejadian semacam itu. Tetapi yang penting dalam hal ini adalah adanya kesadaran tentang sumber asli rangsangan telah hilang, sehingga individu tersebut masih merasakan rangsangan itu namun sudah tidak lagi menyadari asalnya;
  5. e) Perspektif sosial kognitif. Dipelopori oleh Huesmann (1988, 1998) telah memperluas perspektif bahwa cara orang memikirkan kejadian aversif dan reaksi emosional yang mereka alami sebagai sebuah akibat, merupakan aspek penting dalam menentukan manifestasi dan kekuatan respon agresifnya. Pendekatan ini telah menemukan titik temu tentang perbedaan individual dalam agresi sebagai fungsi perbedaan dalam pemrosesan informasi sosial dengan melontarkan dua issue khas yaitu: 1) perkembangan skemata ( kognitif yang mengarahkan performa sosial perilaku agresif, dan 2) cara-cara pemrosesan informasi individu yang agresif dan yang non agresi (Krahe, 2001);
  6. f) Teori pembelajaran sosial. yang dikembangkan secara lebih luas oleh Albert Bandura. Teori ini berkeyakinan bahwa perilaku agresif merupakan perilaku yang dipelajari dari pengalaman masa lalu apakah melalui pengamatan langsung (imitasi), pengukuh positif, dan karena stimulus diskriminatif. Perilaku agresif juga dapat dipelajari melalui model yang dilihat dalam keluarga, dalam lingkungan kebudayaan setempat atau melalui media massa. Perilaku agresi yang disertai pengukuh positif akan meningkatkan perilaku agresi. Pengukuh positif dalam konteks sehari-hari seringkali diekspresikan dengan persetujuan verbal dari orang-orang di sekelilingnya (Wiggins Wiggins & Zanden, 1994). Hal ini sering kali dijumpai pada kelompok yang mempunyai sub budaya agresif separti gang remaja, kelompok militer, maupun kelompok olah raga beladiri seperti tinju, silat dan lain-lain. Perilaku agresi yang disertai pengukuh negatif juga mampu meningkatkan perilaku agresi. Dalam hal ini, perilaku agresi dilakukan karena seseorang menjadi korban dari stimulus yang menyakitkan separti diejek atau diserang orang lain dan ia melakukan pembalasan;
  7. g) Perspektif model interaksi sosial. Menurut model ini perilaku agresif dipandang sebagai pengaruh sosial yang koersif. Tedeshci dan Felson (1994) telah memperluas analisis perilaku agresif menjadi teori interaksi sosial mengenai tindakan koersif. Dalam model ini, Tedeshci dan Felson berpandangan bahwa strategi koersif dipergunakan oleh si pelaku untuk menyakiti targetnya atau untuk membuat targetnya mematuhi tuntutan pelaku berdasarkan tiga tujuan utama, yaitu mengontrol perilaku orang lain, menegakkan keadilan, dan mempertahankan atau melindungi identitas positif. Oleh karena itulah tindakan koersif ini dikonsepkan sebagai hasil proses pengambilan keputusan dimana pelakunya pertama-tama memutuskan menggunakan strategi koersif untuk mempengaruhi orang lain, kemudian memilih bentuk koersi tertentu diantara pelbagai pilihan yang ada.

Pencegahan perilaku agresif merupakan sebuah upaya besar untuk membina sebuah bangsa yang besar dan berjaya. Oleh karena itu Polri dalam hal ini Polres ataupun Polsek yang merupakan ujung tombak dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat perlu menyusun program-program dalam menghadapi kejahatan kekerasan yang dilakukan oleh pelaku, seperti melakukan pendekatan dan penyuluhan kepada masyarakat untuk bersama-sama mencegah dan mengatasi perilaku kekerasan dan atau kejahatan. Polri sebagai organisasi pelayan publik bertanggung jawab terhadap keamanan dan ketertiban publik masyarakat, serta bertugas dalam menegakkan hukum. Polri memiliki beban tugas yang tinggi dalam artian selalu berhadapan dengan imbas dari berbagai persoalan pergolakan ekonomi dan politik, persoalan sosial termasuk diantaranya unjukrasa, tawuran dan perkelahian warga. Petugas selalu mengahadapi situasi yang fluktuatif dan sewaktu-waktu dapat berubah menjadi tidak terkendali. Dalam menangani berbagai situasi tersebut, Polri bertindak dalam mekanisme kontrol dan berpedoman pada SOP.

Manusia sebagai makhluk bermoral memiliki kesadaran moral, yang lahir dari panggilan luhur hati nurani untuk memperlakukan sesama sebagai makhluk yang memiliki harkat dan martabat yang tinggi, dan juga sebagai makhluk sosial memiliki kontrol diri yang baik sehingga dapat terhindar dari bentuk-bentuk perilaku agresif yang bertentangan dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. (*)

-

Artikel Terbaru

KPU Minsel Beber 15 Hal Baru di Pilkada

MANADOPOST.ID—Perhelatan pemilihan kepala daerah (Pilkada) di Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel) tak lama lagi selesai. Masyarakat pada 9 Desember nanti bakal

ISPA `Serang` Warga Bolmong

MANADOPOST.ID--Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) dr Erman Paputungan mengatakan, untuk penyakit yang paling banyak terjadi di Bolmong adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). 

Tiga Tahun,  Pemkab Bagikan 11.819 Sertifikat Tanah

MANADOPOST.ID---Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolmong Selatan (Bolsel) berhasil membagikan sertifikat tanah gratis kurang lebih 11.819 sertifikat.

Kotamobagu Akan Terapkan Elektronifikasi Transaksi Pemda

MANADOPOST.ID--Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kotamobagu, Ahmad Yani Umar, mengatakan pemerintah akan mengeluarkan regulasi Peraturan Presiden (Perpres) mengenai Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD).

Bolmong Mulai Salurkan Bantuan Bantuan Tahap VII

MANADOPOST.ID--Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang Mongondow (Bolmong) kembali menyalurkan Bantuan tahap VII bagi masyarakat terdampak akibat pandemi Covid-19.