27C
Manado
Rabu, 14 April 2021

Memaknai Absurditas

MANADOPOST.ID–Ibu pertiwi kembali bersedu sedan. Tak sempat lipur hatinya dari kesedihan dan kemuraman akibat terjangan cakar pandemi, ia kini diguncang teror. Walau identifikasi pelakunya semakin terang benderang, motif dan tujuannya kini masih berada dalam tahap reka. Kesimpulan berbasis ketergesaan kesan dan praduga tentu tak perlu dituju. Di tahap ini, gelombang informasi telanjang dan bebas yang berseliweran di media sosial perlu ditanggapi dengan nalar awas.

Ledakan itu terjadi di depan Gereja Katedral Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu pagi, tanggal 28 Maret 2021. Presiden Jokowi menegaskan bahwa tindakan terorisme adalah kejahatan kemanusiaan dan tidak ada kaitannya dengan agama apapun.

“Saya mengajak semua anggota masyarakat untuk bersama-sama memerangi terorisme, radikalisme yang bertentangan dengan nilai-nilai agama, nilai-nilai luhur kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ketuhanan dan Kebhinekaan,” kata Jokowi dalam konferensi pers virtual melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden, Minggu, 28 Maret 2021 (nasional.kompas.com).

Tersurat dalam pernyataan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Mahfud MD, teror ini berbasis aksi bunuh diri. “Pemerintah menyatakan mengutuk keras tindakan bom bunuh diri tersebut dan telah memerintahkan kepada aparat hukum dan aparat-aparat lain yang terkait untuk mencari dan mengejar pihak-pihak yang mengetahui, berhubungan, atau jadi bagian dari pelaku atau kelompok tersebut,” kata Mahfud dalam konferensi pers, Minggu, 28 Maret 2021 (nasional.kompas.com).

Riak analisis dan seruan kemudian ramai mengikuti. Analisis psikologi dan terorisme, ketahanan ideologi dan sosial budaya, grafologi dan linguistik, demografi, serta seruan tokoh-tokoh agama meruang dalam ranah publik (www.kompas.id). Tulisan ini gelisah dengan hal lain, yaitu fenomena bunuh diri.

Bunuh Diri

Sambil melepas empati berbaur dengan sentimen kemanusiaan serta menghantar doa menyisir keabadian, penulis berusaha menghindarkan nalar dari godaan keremehan spekulasi dan konspirasi. Ia membawanya pada fenomena bunuh diri. Faktanya, sang pelaku telah menghentikan hidupnya secara tragis. Ia memberikan henti yang lugas pada hidupnya. Orang bisa langsung bertanya “ada apa dengan hidupnya?” “Bagaimana kehidupan ini hadir di hadapannya?” “Bermakna atau tidak?” Permenungan ini secara tak terelakkan menghantar budi pada makna hidup.

Penulis tidak bisa menduga seberapa besar pengaruh berita ini kepada siapapun yang terpapar. Dari berbagai kemungkinan, penulis hendak mengarusutamakan satu hal: kasus bermakna eksistensial. Ini menyangkut kebermaknaan hidup. Apakah hidup ini pantas dijalani atau tidak?

Menurut Albert Camus (1913-1960), seorang novelis, jurnalis, dan esais asal Prancis, pertanyaan di atas fundamental dalam filsafat. Ia sendiri beberapa kali menolak kategorisasi sebagai filsuf eksistensialis. Namun, ia merumuskan kalimat pembuka yang sangat terkenal dalam dunia eksistensialisme “there is but one truly serious philosophical problem, and that is suicide (hanya ada satu problem filsafat yang sungguh serius, yaitu bunuh diri).”

Mengapa? Menurut Camus, tidak pernah orang ingin mati karena sebuah argumen faktual. Ia merujuk pada kasus Galilei Galileo. Bertatap muka dengan persekusi karena pandangan heliosentrisnya, Galileo memilih kehidupan. Bukan karena ia meyangkal kebenaran teorinya, tapi taruhannya sama sekali tidak sepadan, yakni kehilangan hidupnya.

Bagi Camus, pertanyaan tentang fakta astronomis tentang alam semesta kalah fundamentalnya jika dibandingkan dengan pertanyaan tentang makna kehidupan. Di satu sisi, orang bisa menghabisi nyawanya karena kehilangan makna hidup. Di sisi lain, orang bisa juga kehilangan nyawanya demi keyakinannya akan kehidupan. Ini sangat paradoks, menurut Camus. Alasan untuk hidup ternyata dapat menjadi alasan terjitu untuk kehilangan nyawa.

Absurditas

Kegamangan Camus akan kondisi absurd kehidupan manusia menjadi latar bagi konsepnya tentang bunuh diri. Absurditas dibentuk oleh disharmoni fundamental antara pencarian manusia akan makna, di satu sisi, dan ketidakbermaknaan yang dipancarkan oleh alam semesta, di sisi yang lain. Manusia yang berusaha mencari makna dalam hidup justru sering berjumpa dengan kenyataan hidup yang datar dan kaku. Baginya, absurditas merepresentasi kondisi faktual manusia.

Misalnya, seorang pejuang keadilan malah mati dibunuh tanpa diketahui pelaku utamanya. Seorang pejuang anti-korupsi diperhadapkan pada penganiayaan dan tebaran ancaman terhadap diri sendiri dan keluarga. Perjuangan institusi anti-korupsi malah diperhadapkan pada suara riuh penggembos dan ngengat di pusaran representasi rakyat. Semua ini hanya menghantar sang pejuang dan institusi tersebut pada tembok tebal oposisi dan konflik.

Lain lagi, pelayan publik justru banyak menjadi sasaran OTT KPK. Dunia pendidikan sebagai salah satu pusat pencarian kebenaran sekarang ini malah menjadi sarang penyamun dan penipu. Di depan kelas, seorang pendidik bisa mengagungkan kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Sebaliknya, tentang rekan kerjanya, mulutnya menjadi sumber hasutan dan sarang hoaks.

Solusi

Sebelum Camus, Søren Kierkegaard (1813-1855), filsuf, kritikus sosial, dan teolog asal Denmark, telah mendiskusikan konsep absurditas. Baginya, absurditas berhubungan erat dengan ide pembangkangan fundamental. Kierkegaard merujuk pada cerita tentang Abraham yang diminta untuk mengorbankan anaknya.

Mengorbankan anaknya absurd bagi Abraham. Alasannya, ia justru diminta untuk membangkang terhadap keyakinan rasional dan moralnya. Absurditas, bagi Kierkegaard, menguak kondisi fundamental yang tak terelakkan. Walau rasio dan moralnya menegasi, namun ia merasa didesak secara tak terelakkan untuk memenuhinya.

Refleksi Camus dan Kierkegaard berujung pada solusi filosofis. Mereka mengusung tiga hal: bunuh diri, lompatan iman, dan pengakuan. Bunuh diri mengungkap penyangkalan terhadap absurditas hidup. Keduanya menolak konsep bunuh diri karena itu sama dengan penyangkalan fakta eksistensial manusia. Bahkan, menurut Camus, aksi melarikan diri dari absurditas ini justru absurd. Masalah tidak diakrabi dengan solusi, tapi diakhiri dengan problem fundamental lain, yakni kematian.

Kierkegaard mendorong lompatan iman sebagai solusi terhadap persoalan eksistensial ini. Menurutnya, demi menggapai realitas yang melampaui absurditas, irasionalitas dibutuhkan. Dengan irasionalitas, sangkar logis dan empiris yang kaku menjadi tak relevan. Inilah lompatan iman dengan pengakuan akan Yang Transenden. Sebaliknya, Camus menolak solusi ini. Ia asing dengan segala yang transenden.

Camus lebih mendorong solusi lain, yakni pengakuan. Akuilah dan hidupilah hidup yang absurd! Manusia perlu berdamai dengan kemutlakan absurditas. Demikian, ia secara bertahap memaknai proses perjuangannya itu. Sisyphus memaknai kutukannya dengan menerima keremehan rutinitasnya. Ia terus mendorong batu ke puncak gunung, walau ia tahu bahwa batu itu pasti akan terguling lagi ke kaki gunung.

Epilog

Absurditas, paradoks, konflik, dan oposisi fundamental bagi hidup manusia. Pintu pemaknaan terbuka ketika manusia mengakuinya daripada menyangkalnya.(*)

Artikel Terbaru