26.6 C
Manado
Jumat, 30 Oktober 2020

Peri Kehidupan

MANADOPOST.ID–Medio April yang lalu, penulis pernah menulis tentang kematian. Refleksi tersebut berhenti pada satu kesimpulan: “the concept of death is for the living to value their lives; the experience of death is for those who are entering the eternal life (konsep kematian diperuntukkan bagi mereka yang masih hidup supaya mereka mulai memaknai kehidupan; sedangkan, pengalaman akan kematian milik dari mereka yang sedang dalam perjalanan menuju kehidupan abadi).”

Demikian, bagi yang hidup membentanglah keluasan cakupan kehidupan di depan mereka. Bersama keluasan ini, kedalaman makna kehidupan tersedia bagi mereka yang bergegas untuk mengangkatnya ke permukaan. Prima facie, kehidupan tampil sebagai fakta terberi. Karenanya, sering kali ia dilalui tanpa dialami. Ia diterima tanpa disyukuri. Ia dijalani tanpa disadari. Berangkat dari fenomena ini, sangatlah mungkin bahwa tabir kegelapan yang melingkupi kehidupan sama samarnya dengan kematian. Artinya, kehidupan bisa sama misteriusnya dengan kematian.

Idealisme Kehidupan

An unexamined life is not worth living (kehidupan yang tidak direfleksikan adalah kehidupan yang tak pantas dihidupi)” merujuk pada ajaran Sokrates (470-399SM) yang sering dirujuk secara populer. Sebenarnya, konteks perkataan Sokrates ini ditemukan dalam tulisan Plato, Apology. Apology memuat dialog pembelaan Sokrates atas tuduhan “mengorupsi mental generasi muda dan ketidaksalehan.”

Sokrates menuntut semua keyakinan yang mendasari kehidupan untuk senantiasa dikritisi. Di sini, ia sebenarnya menyasar kehidupan yang penuh makna. Ia berusaha menguras deviasi, topeng dan polesan yang menjauhkan kehidupan dari pemaknaan otentik. Pemurnian kehidupan ini tunduk pada uji dan kritik berulang yang alergi kemapanan. Sokrates memilah instrumen uji dan kritik kehidupan dari tujuannya. Tujuannya menyasar kehidupan otentik yang dialami manusia sebagai kehidupan yang penuh makna. Baginya, rujukan kehidupan manusia mengusung idealisme nilai-nilai kemanusiaan.

Sokrates mendesak manusia untuk terjun dalam keberlanjutan praktik uji dan aktivitas refleksi. Keberlanjutan praktik tersebut akan mencegah manusia dari keacuhan dan lupa akan kedalaman kehidupan. Aktivitas ini pun akan mencegah kehidupan dari kungkungan rutinitas yang mengekalkan langgam remehnya. Demikian, tuntutan kehidupan à la Sokrates tidaklah kurang dari level ideal.

Keremehan

Idealisme Sokrates akan kehidupan bertolok belakang dengan tendensi kontemporer manusia dalam menjalani kehidupannya. Di dunia yang, menurut Ralph Keyes, sedang dalam era post truth, manusia tidak akrab lagi dengan kebenaran. Jalan yang panjang untuk mencari secercah iluminasi akan kebenaran dianggap membosankan. Semua harus cepat, instan, segera. Standar pertimbangan terdegradasi dari level rasional ke level hasrat buta. Di sinilah, kemelekan rasio diganti kebutaan nafsu.

Manusia cenderung mengagungkan eksploitasi emosi dan keyakinan personal tanpa rujukan. Opini publik bukan lagi dibangun berbasis pertimbangan rasional dan kebenaran, melainkan oleh hoaks, dusta, fitnah, dan bualan. Idealisme politik terkesan arkais, sedangkan politik sempalan dan instan merampas ruang praktik populer publik. Masyarakat bukan lagi forum untuk peduli, melainkan akumulasi nukilan keacuhan.

Keremehan hidup yang tak tertanggung tersebut merundung beratnya bobot dan cara hidup à la Sokrates. Dalam keremehan ini, suburlah keacuhan dan penggadaian kewarasan demi popularitas. Agen-agen kebenaran punah dalam impitan lintah-lintah hasrat.

Batas

Robert Nozick (1938-2002), seorang filsuf Amerika di bidang politik dan epistemologi, melihat makna kehidupan justru dalam keterbatasannya. Baginya, keadaan terbatas merupakan bagian hakiki dari kehidupan manusia. Manusia, pada hakekatnya, terbatas.

Keterbatasan hakiki ini bukanlah titik akhir makna kemanusiaan. Sebaliknya, pengalaman akan keterbatasan membuka jalan pemaknaan. Manusia bersua makna kehidupannya justru ketika ia melampaui setiap demarkasi yang merentang dalam kehidupan. Pengakuan terhadap pencapaian manusia terberi ketika batas terlampaui. Apalagi, ketika pelampauan itu disusul oleh pelampauan berikutnya.

Optimisme menyeruak dari dalam cara berpikir Nozick. Problemnya, proses pelampauan ini dihantui oleh keberulangan tak berujung. Ia berhadapan langsung dengan lingkaran setan dari batas di atas batas dan pelampauan di atas pelampauan. Nozick menawarkan solusi, yaitu eksistensi realitas yang tidak berbatas. Realitas ini akan memberi titik henti pada siklus tersebut.

Makna dalam Ketidakbermaknaan

Optimisme Nozick selaras dengan pandangan Richard Taylor (1919-2003), seorang filsuf Amerika di bidang metafisika. Taylor menegaskan amanat subjek untuk memaknai kehidupannya. Penyampaian pesan ini menyitir kisah Sisyphus. Dalam Mitos Yunani Kuno, Sisyphus adalah manusia yang dikutuk oleh para dewa karena ketamakan dan sifat penipunya. Ia dihukum untuk memikul sebuah batu ke atas bukit. Sesampainya di sana, batu itu akan menggelinding ke bawah dan Sisyphus harus mengangkatnya lagi. Hukuman ini terus berulang dalam kekekalan.

Bagi Taylor, gambaran kehidupan Sisyphus tidak banyak berbeda dengan kehidupan kita. Walaupun kehidupan Sisyphus dan manusia mengimplikasikan ketidakbermaknaan yang tak terbatas (endless pointlessness), itu bukan berarti bahwa manusia tidak bisa memaknai hidupnya. Hukuman para dewa atas Sisyphus seakan meranggaskan makna kehidupannya. Sebaliknya, Sisyphus justru menemukan makna dalam rutinitas menjalani hukuman tersebut. Mutatis mutandis, ketika manusia menjalani kehidupan dalam kesungguhan dan ketulusan, ia sedang menuai pemaknaan.

Jadi, hidup manusia tidak hanya bermakna dalam kebaikan, keutamaan, keunggulan, dan keperwiraan. Mengalami dengan sungguh setiap kegiatan, walaupun rutin dan biasa, berarti meniti jalan pemaknaan hidup. Dengan demikian, kedalaman hidup dapat terselami baik dalam kebaikan maupun kemalangan, sejauh subjek memaknainya.

Epilog

Berhadapan dengan dunia penuh remeh-temeh, keacuhan, dusta dan fitnah, idealisme hidup à la Sokrates menjadi tak akrab. Tapi, ini bukan berarti bahwa manusia kehilangan peluang untuk bermakna. Dalam normalitas hidup (hidup penuh batas) dan dalam rutinitas hidup (keberulangan tanpa henti), manusia perlu terus-menerus, tanpa bosan, menembus batas. Ia akhirnya harus menengadah dan menggapai yang tak terbatas.(*)

-

Artikel Terbaru

Limpahkan Kasus ASN `Nakal` ke KASN

MANADOPOST.ID---Kasus dugaan pelanggaran netralitas ASN Kotamobagu berinisial SA, segera dilimpahkan ke Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN).

Bocah 7 Tahun Asal Mitra Ditetapkan Kasus Suspek

MANADOPOST.ID—Bocah laki-laki 7 Tahun asal Kecamatan Tombatu Utara, Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra) ditetapkan kasus suspek terbaru, berdasarkan data Satgas Covid-19 Mitra, Kamis (29/10) kemarin.

Polres Minsel Ciduk Lima Tersangka Togel

MANADOPOST.ID—Tim Reserse Mobile (Resmob) Satuan Reserse Kriminal Polres Minahasa Selatan (Minsel), mengamankan lima tersangka kasus judi togel yang beroperasi di Kecamatan Tumpaan dan Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minsel.

Pantai Malalayang Jadi TPS Sementara

MANADOPOST.ID---Kelurahan Malalayang Satu dijadikan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) sementara. Pantauan Manado Post, sampah dari semua kelurahan di Kecamatan Malalayang di buang

Terangi Empat Desa di Morowali Utara, PLN Ukir Sejarah di 75 Tahun Indonesia Merdeka

MANADOPOST.ID – PLN Unit Induk Wilayah (UIW) Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo) melalui Unit Pelaksana Proyek Ketenagalistrikan Sulawesi Tengah kembali berhasil melistriki desa