25 C
Manado
Kamis, 6 Agustus 2020

China Berharap Trump Menang

Oleh: Bertram Budiharto
Siswa SMA Binus International School Simprug

BARU-BARU ini, publik dunia digegerkan dengan sebuah buku John Bolton berjudul The Room Where It Happened yang mengandung serangkaian kontroversi. Mulai dari Putin yang menganggap Trump adalah presiden yang gampang dipermainkan, Kim Jong Un menertawakan Trump karena idenya untuk meredakan ketegangan di Semenanjung Korea, hingga perjanjian quid pro quo antara Trump dengan China.

Dalam buku itu, dijelaskan bahwa Trump melontarkan harapannya kepada Xi Jinping untuk memenangkan pemilu kedua kalinya pada November depan dengan renegosiasi ulang terkait perjanjian dagang antar kedua negara. Intinya memohon China agar membeli produk pertanian asal Amerika karena ituakan menguntungkan para petani — sumber kantong pemilih terbesar Trump pada pemilu November 2016 silam.

Banyak pengamat geopolitik dunia pun mereka-reka, itulah yang menjadi topik perbincangan utama antara Sekretaris Negara AS Mike Pompeo dengan diplomat senior Tiongkok Jiang Yechi di Hawaii pada 17 Juni lalu. Hingga kini, isi pembicaraannya tidak pernah diungkap ke publik karena sudah pasti pertemuan diantara keduanya bersifat rahasia.

Trump sangat geram ketika mengetahui rencana Bolton untuk mempublikasi buku memoarnya itu sehari sebelumnya. Ia menuduh Bolton telah melakukan pelanggaran yang sangat berat karena menyalahgunakan jabatannya sebagai eks-Penasihat Keamanan Senior Gedung Putih untuk mendapatkan informasi rahasia dan kemudian membocorkannya kepada publik. Tak perlu waktu lama, Trump pun memerintahkan Jaksa Agung Federal AS, William Barr untuk segera menjerat hukuman terhadap Bolton dengan dakwaan serupa, namun akhirnya ditolak mentah-mentah olehnya karena tidak cukup bukti.

Mungkin saja, Barr berpikir bahwa isi buku tersebut hanya mengandung konten yang menyudutkan Trump selama menjabatsebagai Presiden AS. Tidak ada korelasinya sama sekali dengan tuduhan Trump yang menyebut buku itu berbahaya karena mengandung informasi rahasia negara.

Bagi sebagian besar masyarakat, argumen Bolton ini penuh dengan kejanggalan karena tidak sejalan dengan sikap permusuhan dan kebencian yang selama ini selalu dikobarkan Trump terhadap Tiongkok. Pasti hampir semua diantara kita bertanya-tanya, “Mengapa Trump yang begitu dikenal oleh publik sebagai tokoh atau figur antitesa dari Xi Jinping dan Tiongkok tanpa ada rasa malu memberanikan diri memberikan tawaran perjanjian perdagangan dengan tujuan utama memenangkan Trump untuk kedua kalinya?”

Mungkin ada yang berpikiran lain mengapa Tiongkok begitu mudahnya menyanggupi permintaan penawaran dari musuhlamanya itu. Lagipula, selama ini, kebijakan perdagangan Amerika di bawah Trump yang sangat proteksionis merugikan pertumbuhan ekonomi Tiongkok karena sebagian besar ekspornya terpukul akibat pengenaan tarif yang begitu tinggi. Kalau sampai begitu, pasti Tiongkok juga menyelipkan permintaan khususnya di balik semua cerita ini, tetapi belum terungkap saja.

Anggap saja kisah yang ditulis oleh Bolton itu benar adanya. Ada beberapa kemungkinan yang mungkin mampu mendasari alasan mengapa China berharap Trump menang untuk kedua kalinya pada pemilu presiden Amerika yang akan datang.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa walaupun banyak kebijakan ekonomi Trump yang merugikan China, namun Trump adalah figur yang dianggap oleh banyak orang tidak stabil secara mental. Sehingga, kebijakannya pun masih sangat fleksibel dan mudah berubah-ubah.

Apalagi, baru-baru ini, Trump kembali memberikan sinyal permusuhan terhadap Jerman dengan menarik ribuan pasukan NATO dari wilayah bekas penguasa Nazi itu ke Polandia. Trump beranggapan bahwa Jerman sebetulnya sudah menjadi negara maju dan karena itu meminta Jerman untuk membiayai sendiri pasukannya dari anggaran pertahanan negara. Hal itu pulalah yang menjadi topik pembicaraan utama antara pertemuan Trump dengan Presiden Polandia yang berkunjung ke Gedung Putih, baru-baru ini. Diketahui, hubungan Amerika dengan negara-negara anggota NATO memburuk sejak Trump berkuasa di Amerika Serikat.

Rupanya peluang inilah yang secara cerdik ditangkap olehTiongkok. Menurut beberapa pejabat senior China — beberapa sudah pensiun dan beberapa masih aktif bekerja — aliansi Amerika dengan sekutunya adalah hal yang jauh lebih penting dari kebijakan ekonomi dan perdagangan Trump yang merugikan negaranya. Dengan sikap permusuhan Trump dengan negara-negara anggota NATO, skenario Amerika putus hubungan dengan sekutu dekatnya menjadi sebuah skenario yang sudah diperhitungkan dari pihak China matang-matang.

Pernyataan dari beberapa pejabat senior China itu tampaknya tidak bisa dipandang sebelah mata, mengingat manuver Tiongkok yang terus lincah dan agresif bermain di daerah Laut Cina Selatan (LCS), yang selama ini sulit direbut langsung oleh pihak China karena masih mendapat pengawasan yang ketat dari geng ‘polisi dunia’: Amerika dan kawan-kawannya. Tingkah laku Trump terhadap organisasi militer NATO itu diupayakan dipertahankan oleh pemerintah China sebagai strategi ‘buying time’ yang sewaktu-waktu menjadi bom waktu sekaligus bumerang terhadap pemerintahan Trump sendiri. Dengan kata lain, inilah kesempatan sekali dalam seabad yang ingin diperoleh China agar semakin lancar mengeksekusi rencana-rencana aksinya di area LCS.

Berbeda dengan Trump, Joe Biden, calon presiden potensial penantang Donald Trump di pemilu Amerika Serikat asal Partai Demokrat, dipandang sebagai figur yang relatif cenderung lebih stabil. Skenario nasib aliansi AS yang secara resmi menjadi kalkulasi pihak China di tangan Trump tidak akan berlaku lagi jika Biden berkuasa. Justru, hubungan Amerika dengan negara-negara anggota NATO yang sempat memburuk bisa kembali mesra lagi dan diperkirakan akan semakin merapatkan barisan untuk melawan Tiongkok sebagai musuh bersama negara-negara Barat.

Peristiwa lain yang akhir-akhir ini menunjukkan argumen Trump bahwa Biden dekat dengan negara Tiongkok karena memiliki konflik kepentingan juga dapat dengan mudah dibantah juga tak luput dari pemikiran liar China. Sebut saja, dalam beberapa pidato kampanyenya, Biden secara keras menentang upaya-upaya yang dilancarkan Tiongkok terhadap Hong Kong dan Muslim Uighur di Xinjiang. Bahkan, Biden secara lantang menyebut Presiden Xi Jinping sebagai ‘preman’.

Akhirnya, muncullah pertanyaan dari pihak China yang sampai saat ini belum mampu dijawab olehnya, “Apakah rencana menggebuk Tiongkok sudah menjadi agenda nasional Amerika?” Pertanyaan itu semakin mendekati arah kebenaran ketika Kongres AS secara bipartisan meloloskan RUU yang menghukum Tiongkok atas perlakuan kejinya pada etnisminoritas Uighur.

Kalau sampai itu yang terjadi, situasi hari ini dan kedepan akan dipenuhi oleh hari-hari yang mengerikan. China pasti sudah berpikir, “Toh, hubungan Amerika-Tiongkok tidak akan pernah membaik di tangan keduanya nanti, terus buat apa kita mati-matian bersusah payah ingin menjegal Trump supaya tidak menang dalam pemilu keduanya nanti?” Intinya, China tidakmau kecele untuk kedua kalinya karena pada 2016, banyak pihak beranggapan bahwa Tiongkok mendukung Hillary Clinton dan sudah menyiapkan berbagai langkah aksi kedepan hubungan kerjasama antara Tiongkok-Amerika. Nyatanya, Hillary kalah melawan Trump.

Terlepas dari analisa di atas, dunia tentunya berharap hubungan Amerika-Tiongkok pulih kembali dan ketegangan geopolitik yang sedang berlangsung saat ini berangsur-angsur mereda. Alasan utamanya, pandemi corona masih terus saja menggeliatdan melanda seluruh permukaan bumi tanpa membedakan etnis, ras, atau golongan tertentu. Keadaan sudah sangat sulit, terlihat dari angka pengangguran yang meningkat drastis yang terjadi dimana-mana selama pandemi ini. Ditambah lagi, pertengkaran antar kedua negara adidaya bukannya membantu masalah malah semakin memukul industri manufaktur dunia. Padahal, semuanegara dunia sedang berharap agar ekonominya segera bangkit dengan menggenjot kembali seluruh mesin produksi sehabis pandemi COVID-19 ini mampu diatasi secara bersama-sama.

Trump atau Biden yang akan memenangkan pemilu pada November tahun ini, lebih lanjut menentukan hubungan antaraAmerika-Tiongkok.***

-

Artikel Terbaru

Cek Data Pemilih, Kowaas: Nomor Bebas Pulsa

Pendataan pemilih menjadi hal krusial demi suksesnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2020.

Jika Ada Kecurangan Pilkada, Soputan: Lapor di Aplikasi Gowaslu

Peran teknologi informasi turut mendukung pelaksanaan penyelenggaraan Pilkada.

OD Minta Kepala Daerah Sosialisasikan Gerakan Kibar Serentak Merah Putih

Gerakan Kibar Serentak Merah Putih oleh Gubernur Sulut Olly Dondokambey (OD) yang dimulai sejak 1-31 Agustus untuk memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-75 masih belum tersosialisasi dengan baik.

Airmadidi Banjir Bantuan SGR-PDM

Kepedulian Shintia Gelly Rumumpe (SGR) dan Petrus Defni Macarau (PDM) untuk warga Minahasa Utara (Minut) tak hanya isapan jempol semata. Mengawali bulan kemerdekaan, SGR dan PDM terus turun langsung membagikan bantuan untuk warga yang membutuhkan.

MEP Nahkodai Golkar Minsel

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golkar Minsel resmi memiliki nahkoda baru. Seperti diketahui dalam Musyawarah Daerah (Musda) Golkar ke-IV, yang digelar pada Senin (3/8) kemarin, bertempat di Hotel Sutanraja Amurang, dr Michaela Elsiana Paruntu MARS atau yang akrab disapa MEP, resmi menahkodai Golkar Minsel.