31 C
Manado
Selasa, 20 Oktober 2020

Politik Banal

MANADOPOST.ID–Bendera partai politik sudah berkibar. Wajah peserta pilkada sudah terpampang di berbagai sudut jalan. Memori tentang pilkada sebelumnya berlomba-lomba ke permukaan ingatan. Visi dan misi dipaparkan. Janji ditebar. Antuasiasme akan perbaikan dan perubahan menyeruak.

Pada saat yang sama, muncullah juga memori praktik politik banal. Ada sembako, amplop, dan kaos sebagai jaminan kapitalisasi suara. Komunitas-komunitas primordial menggeliat. Kompetisi-kompetisi lokal marak. Identitas “ke-torang-an” menyepak eksistensi “ke-dorang-an”. Inklusi ternoda karena tercapai dengan bayaran eksklusi. Perbedaan tak diakui demi kesamaan.

Spektator Politik

Bagaimana partisipasi politik masyarakat? Dalam sistem demokrasi, ide partisipasi politik bersintesis dengan ide representasi. Namun, sintesis ini bukanlah rahim identifikasi absolut rakyat dan wakilnya; bukan pula legitimasi lugu timbang terima seluruh langgam politik rakyat kepada wakilnya di lembaga legislatif. Walaupun rancu, sintesis ini menemukan jalannya dalam praktik demokrasi kontemporer. Reduksi langgam politik rakyat mengerucut pada praktik pesta demokrasi. Dalam bentang daerah, semua cita nalar, disposisi rasa, determinasi karsa, dan praktik karya politik rakyat menghilir ke pilkada.

Konsekuensinya, praktik politik ini bertemu ufuknya dalam pelantikan sang pemenang perhelatan. Setelah itu, rakyat imun dari proses pembentukan kebijakan publik yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi. Mereka terstruktur di periferi pusaran demokrasi dan menatap dinamika politik dari kejauhan. Hasil akhir sebuah proses politik berbasis selebrasi tak lain merujuk pada alienasi.

Sistem representasi, hakikatnya, bukanlah subtitusi paripurna partisipasi rakyat. Sebaliknya, partisipasi politik rakyat membentuk bagian esensial dalam proses demokrasi. Melibati berita dan telaah politik di stasiun tv dan media cetak, apalagi media sosial,tidaklah cukup. Mendiskusikannya di ruang publik dan merefleksikannya secara privat sekalipun tidaklah secara otomatis menjamin tingginya bobot partisipasi politik rakyat.

Pada level tersebut, rakyat justru berubah menjadi penikmat rentetan kasus demi kasus. Bak episode sinetron yang ditayangkan dan membentuk untaian alur cerita, tanpa peran penontonnya. Proses ini membatasi peran rakyat sebatas spektator yang kelu mendefinisi kedalaman dan tujuan hakiki politik itu sendiri.

Partisipasi politik banal memang terkesan eksis namun kabur makna dan miskin transformasi. Keterlibatan menjadi dangkal dan superfisial. Potensi aktivitas rakyat dalam pertimbangan dan pengambilan keputusan demi kehidupan bersama serta pencapaian rasa keadilan rakyat meranggas dan akhirnya kering aktualisasi.

Pada titik ini, partisipasi politik rakyat menjadi simulacrum, meminjam term Jean Baudrillard (1929-2007), sosiolog, filsuf dan kritikus kultural asal Prancis. Partisipasi politik menjadi rujukan tanpa perujuk; menjadi referensi tanpa substansi. Term ini telah menjadi hyperreality.

Politik Mahal

Dalam simulacrum itu, kepentingan rakyat dan negara menjadi utopia tanpa akar realitas. Cakupan pertimbangan politik alergi menggapainya. Pemusatan kapital dan pengekalan kepentingan pribadi dan kelompok merajalela. Hilirnya menjadi habitat praktik politik berbiaya tinggi.

Merunut litani praktik politik mahal akan menyasar satu fenomena familier, yakni kedangkalan regenerasi politik. Justru karena sistem internal partai politik belum mengapresiasi kaderisasi politik terencana dan terstruktur, hadirnya kader impromptu menjadi jamak dan tak terhindari.

Sang kader instan mengampu amanat untuk menanggulangi anggaran politik raksasa. Inilah wujud proyek tambal sulam. Ia perlu membayar harga gerakan politik malaproses. Kewarasan proses perlu dipoles dengan topeng kewajaran yang tingkatnya tunduk pada harga nominal. Problemnya, proyek sulaman ini jauh dari jaminan kualitas proses politik dan mutu sang kader.

Praktik politik ini mengandaikan rentang waktu minim. Kesegeraan ini menambah bobot harga nominal sebuah kedok kewajaran. Nilai-nilai yang terkandung dalam politik yang sedianya “tak ternilai” kini “bernilai” dan mempunyai “nominal”.

Sistem politik dengan balutan praktik demikian menggambarkan bangunan infrastruktur politik yang keropos dan suprastruktur politik tambalan. Inilah konstruksi politik tanpa substansi. Pengamat politik, akademisi, tokoh bangsa sudah berkoar-koar tentang kelemahan sistemis ini. Namun, pemahaman ini belum mendarat pada kesadaran sistemis. Indulgensi terhadap egosentrisme narsistik dalam dunia politik masih terlalu berakar.

Partisipasi sempalan, eradikasi posisi sentral rakyat, dan politik berbiaya tinggi memberntuk wajah banal politik kita. Tampilan wajah itu seharusnya menjagakan kesadaran akan ancaman semunya keterlibatan rakyat penuh euforia. Gampangnya rakyat tersingkir dari pusaran politik menandakan peran rakyat yang superfisial tanpa akar.

Kesantunan  

Jargon politik santun semakin mempertegas status “tampilan” dunia politik. Sebagai “tampilan”, dunia politik menyajikan dongeng nir pesan moral. Ia kemudian menyita perhatian penontonnya dengan pola tindak menawan dan alur cerita mencengkram perhatian.

Di sini, dunia politik lebih menampilkan lapisan periferal demokrasi. Kesantunan actor impromtu menyamarkan egosentrisme dan narsisme. Bangunan infrastruktur dan suprastruktur politik malah dibiarkan keropos. Kejujuran, keadilan, dan kebenaran dibiarkan hanyut dalam alam ketidaksadaran.

Yang didorong ke permukaan mencakup cara tampil di panggung politik. Karena “tampilan” yang dicecar, keterlibatan rakyat dipatok hanya sebagai pemirsa. Kesemuan dalam dunia politik ini semakin tak terhindarkan.

Kehadiran problem ini bukanlah tanpa bekas. Pertama, keterpisahan dunia politik dari aspirasi keadilan dan rasa kebenaran publik. Gap yang tercipta ini mengalienasi rakyat dari gambaran dirinya sebagai suatu komunitas sosial politik. Mereka hidup dalam cangkang politik namun tidak mengalaminya dalam praktik. Gap ini mencipta ironi: rakyat terperangkap politik namun teralienasi dari nilai-nilai hakikinya. Rakyat menjadi bagian politik; bukan politik sebagai bagian hidup rakyat. Politik akhirnya menjadi demagog bagi kehidupan rakyatnya.

Kedua, apatisme politik. Karena semua ini telah menjadi biasa dan berulang, rakyat akan jenuh dan pada gilirannya, tidak peduli. Partisipasi rakyat dalam euforia pesta demokrasi bukanlah tanda paten kepeduliannya.

Mereka sangat mungkin menyalurkan suara. Mereka sangat mungkin berdebat dan membela calonnya. Mereka sangat mungkin berkonvoi. Namun, mereka tidak lagi peduli akan “janji perubahan”, “visi pembaharuan”, dan “tujuan kesejahteraan”. Politik berbayar menciptakan zombie yang berjalan menuju kotak suara.

Demagog

Dalam bukunya Democracy in America, Alexis de Tocqueville (1805-1859), seorang filsuf dan sejarawan Prancis, menyingkap ancaman despotisme modern. Despotisme ini berbeda dengan despotisme kuno. Despotisme kuno mengutamakan penindasan fisik dan teror mental untuk meredam perlawanan rakyat dan melanggengkan kekuasaan.

Despotisme modern, sebaliknya, bersifat lembut dan paternalistik terhadap rakyat. Contohnya, sang despot menjamin kestabilan ekonomi dan pemilihan yang legal. Namun, semuanya dilakukan dengan motivasi terselubung. Ia hendak menggiring rakyatnya ke kenikmatan peraduan ruang privat agar tidak lagi mencampuri urusan politik.

Berbeda dengan despotisme modern à la Tocqueville, alienasi rakyat di sini lebih disebabkan oleh ketidakberdayaan untuk menjadi aktor dalam proses politik. Lagi pula, untuk mengabadikan peran spektator rakyat, narasi politik dan penampilan narsistik terus dikedepankan. Ini semakin diperparah oleh retorika dan seruan pembangkit rasa takut dan kecemasan rakyat.

Jika memang level emosional dan sentimen publik yang senantiasa dieksploitasi, maka yang ditakutkan bukanlah kehadiran despotisme modern. Sang despot mungkin diganti oleh seorang demagog yang bertopeng keelokan.

Dekonstruksi Sentripetal

Narasi, retorika, pencitraan, dan budaya narsistik merupakan karakteristik politik kemolekan. Praktik politik yang terpusat pada kulit luarnya mengakibatkan degradasi peran rakyat dari aktor menjadi spektator. Rakyat teralienasi.

Kondisi ini menutut dekonstruksi sentripetal. Dekonstruksi ini seharusnya didukung oleh daya pendorong menuju ke pusat. Peran rakyat yang periferal perlu didorong kembali ke pusat dunia politik. Gerakan ini mengasumsikan partisipasi otentik, kesejahteraan rakyat, serta lestarinya nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan.

Epilog

Dekonstruksi ini memerlukan pemimpin yang tanggap menjawab guncangan pada sendi dasar pelayanan publik. Ia mampu secara efisien menggunakan instrumen teknologi untuk mencapai tujuan pelayanan publik yang efektif. Ia menjadikan hukum sebagai landasan gerak. Dengan integritas pribadi, bukan narasi dan retorika, ia mengakumulasi kepercayaan rakyat. Dialah pemimpin esensial, bukan polesan semu demi kemolekan.(*)

-

Artikel Terbaru

Giring Ajak Pilih Olly-Steven

MANADOPOST.ID—Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menyatukan tekad memenangkan Olly Dondokambey dan Steven Kandouw di Pilgub 2020. Tak tanggung-tanggung, Pelaksana Tugas Ketua Umum PSI Giring Ganesha hadir di Manado.

Demi Bolsel, Iskandar-Deddy Ubah Lawan Jadi Teman

MANADOPOST.ID—Pesta demokrasi lima tahunan di Kabupaten Bolmong Selatan (Bolsel) kian menarik saja. Sebab hampir dipastikan seluruh elemen masyarakat pesisir selatan BMR ini, mendukung

Gorango Community Menangkan OD-AA

MANADOPOST.ID—Calon Gubernur Sulut Olly Dondokambey (OD) dan calon Wali Kota Manado Andrei Angouw (AA) menghadiri peresmian Rumah Relawan Gorango Community di Paal II Manado.

ODC Perkuat SB-RG di Boltim

MANADOPOST.ID—Kehadiran Olly Dondokambey Center (ODC) di bawah komando Ketum Ferry Wowor di Boltim, menambah kekuatan paslon Drs H Suhendro Boroma MSi-Drs Rusdi Gumalangit (SB-RG).

Money Politics Naik, Modus Sembako Uang Tunai

MANADOPOST.ID—Sejumlah pelanggaran diduga terjadi selama tahapan pilkada, yang saat ini sementara berlangsung di Sulawesi Utara (Sulut). Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Sulut membeber, sudah ada aduan masuk dari 15 kabupaten/kota.