alexametrics
26.4 C
Manado
Kamis, 26 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Panopticon dan Pandemi

Oleh: Valentino Lumowa

Sebagai indera, mata berfungsi untuk melihat. Berjalan bersama budi, ia dapat membaca, mengintip, bahkan mengawasi. Sebagai sebuah metafora, mata yang mengawasi dapat menciptakan sebuah komunitas yang disiplin. Komunitas yang disiplin ini menggambarkan prosedur subordinasi individu dan praksis kekuasaan tanpa perlu menghadirkan sistem monarki.
Pemetaan jaringan oleh Google Maps kini seakan merangkum tampilan dunia. Untuk skala yang lebih kecil, closed-circuit television (CCTV) jamak terlihat di sudut-sudut bangunan. Instrumen ini merekam semua fenomena dalam radius jangkauannya. Semua intrumen ini memicu perasaan diintai dan diawasi. Perasaan ini tetap menyeruak dalam konstelasi metal subjek walau tanpa prapengetahuan akan pemantau di balik monitor. Bahkan, perasaan tersebut tetap mendesak tanpa mengetahui apakah alat itu benar-benar berfungsi. Harapannya, instrumen ini menyuburkan praktik disiplin.
Pengawasan
Judul di atas merujuk pada konsep Jeremy Bentham (1748-1832) tentang panopticon. Bentham, sebagai seorang filsuf, ahli hukum, dan reformis sosial Inggris, lebih melihat karya ini sebagai “sebuah ide sederhana menyangkut arsitektur”. Panopticon mendeskripsikan model baru untuk melahirkan kuasa nalar atas nalar. Nalar yang berkuasa itu milik dari sang supervisor yang meringkuk dalam menara tidak tembus pandang. Sedangkan, nalar tersubordinasi milik dari setiap penghuni bangunan melingkar sebagai periferi dari menara pusat.
Komposisi panopticon dalam benak Bentham: di tengah, sebuah menara; di periferi, bangunan berbentuk cicin. Menara dikarakterisasi dengan jendela melebar dan transparan ke arah sisi dalam bangunan. Sedangkan, bangunan melingkar terdiri dari sel individual yang memadati ruang bangunan tersebut.
Setiap sel mempunyai dua jendela. Yang satu menghadap menara, yang lain ada di sisi berlawanan. Fungsinya melanjutkan cahaya dari sel yang satu ke sel yang lain. Komposisi ini juga menunjang pandangan sang supervisor dari menara pusat untuk menembus sel yang satu ke sel yang ada di belakangnya. Gugusan sel ini nampak bak sangkar transparan raksasa. Dalam sel-sel inilah ditempatkan tahanan, pasien, orang dengan gangguan jiwa, buruh, atau orang yang dikutuk dan disingkirkan dari masyarakat. Penghuninya tentu berpadanan dengan peruntukan bangunan panoptic yang bersangkutan.
Strategi pandangan bangunan ini dikonstruksi satu arah. Sang supervisor secara leluasa mengawasi setiap gerak-gerik penghuni. Sebaliknya, para penghuni mengetahui bahwa mereka berada di bawah pengawasan ketat dan berkelanjutan. Namun, mereka kehilangan privilese atas pengetahuan akan eksistensi sang supervisor. Dalam penuturan Michel Foucault (1926-1984), seorang filsuf dan kritikus sastra asal Prancis, “He is seen, but he does not see; he is the object of information, never a subject in communication (ia kelihatan, tapi tak bisa melihat; ia adalah objek informasi, tidak pernah sebagai subjek dalam komunikasi).”
Konsekuensinya, para penghuni dikungkungi pengalaman transparansi diri terus-menerus. Mereka sepenuhnya terekspos terhadap pengawasan sang supervisor. Mereka bak berada di bawah kuasa yang permanen, walaupun ia hanya hadir dalam efek bukan secara aktual. Maksudnya, sang supervisor tetap menyebar jaring kuasa atas semua subordinat, baik ketika ia ada di menara maupun ketika ia tak hadir untuk mengawasi mereka. Sedangkan, dari sisi penghuni bangunan panoptic, kehadiran sang supervisor senantiasa terasa dan terwakili secara tetap oleh menjulangnya menara di pusat institusi.
Menurut Foucault, Bentham secara konseptual berhasil merekonstruksi mesin separasi antara “yang melihat” dan “yang dilihat”. “[I]n the periferic ring, one is totally seen, without ever seeing; in the central tower, one sees everything without ever being seen (dalam bangunan berbentuk cincin di periferi, seseorang terlihat, tanpa pernah melihat; dalam menara pusat, seseorang melihat segalanya tanpa pernah terlihat)”.
Bentham tidak pernah membayangkan hadirnya despot atau demagog dalam diri sang supervisor. Komposisi sang supervisor dan para subordinat lebih menyasar koreksi bagi tahanan, penyembuhan bagi pasien, perbaikan kesehatan mental bagi orang dengan gangguan jiwa, atau efektivitas dan produktivitas bagi para buruh. Konteks tujuannya bukanlah mala melainkan moral. Dalam semangat utilitarianisme, Bentham mengejar efisiensi peran supervisor demi mencapai perbaikan dan pencapaian maksimal di sisi para subordinat.
Disiplin
Karya Bentham ini sedianya jauh dari perhatian. Foucaultlah yang menariknya dari kungkungan ketidaktahuan. Ia membahasnya dalam bukunya, Surveiller et Punir (1975). Di sini, Foucault memberi sentuhan interpretasi segar bagi komposisi arsitektural panopticon. Apalagi, ia mencoba untuk memahami relasi sang supervisor dan para subordinat dari perspektif fungsi kekuasan.
Bagi Foucault, kekuatan arsitektural panopticon berefek pemeliharaan fungsi dan kesempurnaan kekuasaan tanpa jatuh pada jebakan sistem monarki. Panopticon menyempurnakan kekuasaan tanpa mengabsolutkan aksi. Pendekatan arsitektural panopticon ternyata dapat memelihara keseimbangan kekuasaan antara sang supervisor dan para subordinat tanpa perlu kehadiran sang supervisor. Lebih mengesankan lagi, konsep ini membuat para subordinat secara sukarela merangkul posisi mereka dalam relasi kekuasaan ini.
Dengan demikian, Foucault melihat ini sebagai rekayasa manjur bagi masyarakat modern berbasis disiplin. Ia kemudian merevitalisasi makna panopticon ke dalam inspirasi metaforis. Baginya, konsep ini selaras dengan kecenderungan komunitas berbasis disiplin dalam mengontrol masyarakatnya.
Pandemi
Kini, peran panoptic ini bak dimainkan oleh pandemi covid-19. Ia hadir sans frontières (lintas batas, tanpa wajah). Ia, pada saat yang sama, dapat ada di mana-mana dan tidak ada di mana-mana. Namun, kontingensi ini sama sekali tidak relevan. Ia tetap menyeruakkan kegamangan dalam bertindak, kedisiplinan dalam bersikap, bahkan kadang frustasi dan masa bodoh.
Kondisi ini menempatkan semua orang di dunia dalam pantauan. Semua diawasi, semua senantiasa dihimbau untuk bertindak sesuai dengan protokol dan kebijakan global, nasional, dan daerah. Semua ada dalam kewaspadaan yang sama. Pandemi ini tidak berada dalam menara pusat panoptic yang dapat diidentifikasi secara kasat mata. Ia justru mengawasi dari ketidaktentuan.
Asumsi bahwa pandemi mungkin ada di mana saja mempertajam kewaspadaan. Sikap waspada yang rasional menghilir dalam praksis kedisiplinan. Menjaga kebersihan tubuh dan teratur mencuci tangan kini mulai menjadi kebiasaan. Jarak fisik dengan siapa saja perlahan-lahan dibangun, walau penuh perjuangan. Mata, hidung, dan mulut mulai menjadi anggota tubuh yang sakral dari sentuhan teledor. Orang lain dan diri sendiri semakin dihargai melalui praktik kebersihan pernapasan. Rumah akhirnya dikondisikan untuk menjadi “home”.
Praksis kedisiplinan teraktualisasi dengan mengasumsikan pantauan dan pengawasan. Namun, pada gilirannya, kehadiran pandemi dalam komposisi masyarakat berdisiplin seharusnya menjadi tidak relevan. Kedisiplinan terbangun bukanlah demi sang pandemi. Ia justru seharusnya mentradisi kembali demi perbaikan kualitas kemanusiaan.
Epilog
Menara panoptic yang kukuh berdiri dan terpusat dapat hadir tak kasat mata. Namun, perubahan wujud menara pengawas dan relasi kekuasaan antara sang supervisor dan para subordinat hanyalah instrumen. Instrumen ini berguna sampai semakin banyak manusia menjadi semakin manusiawi. Semoga kehadiran tak terelakkan dari pandemi ini memanusiawikan lebih banyak manusia.(*)

Oleh: Valentino Lumowa

Sebagai indera, mata berfungsi untuk melihat. Berjalan bersama budi, ia dapat membaca, mengintip, bahkan mengawasi. Sebagai sebuah metafora, mata yang mengawasi dapat menciptakan sebuah komunitas yang disiplin. Komunitas yang disiplin ini menggambarkan prosedur subordinasi individu dan praksis kekuasaan tanpa perlu menghadirkan sistem monarki.
Pemetaan jaringan oleh Google Maps kini seakan merangkum tampilan dunia. Untuk skala yang lebih kecil, closed-circuit television (CCTV) jamak terlihat di sudut-sudut bangunan. Instrumen ini merekam semua fenomena dalam radius jangkauannya. Semua intrumen ini memicu perasaan diintai dan diawasi. Perasaan ini tetap menyeruak dalam konstelasi metal subjek walau tanpa prapengetahuan akan pemantau di balik monitor. Bahkan, perasaan tersebut tetap mendesak tanpa mengetahui apakah alat itu benar-benar berfungsi. Harapannya, instrumen ini menyuburkan praktik disiplin.
Pengawasan
Judul di atas merujuk pada konsep Jeremy Bentham (1748-1832) tentang panopticon. Bentham, sebagai seorang filsuf, ahli hukum, dan reformis sosial Inggris, lebih melihat karya ini sebagai “sebuah ide sederhana menyangkut arsitektur”. Panopticon mendeskripsikan model baru untuk melahirkan kuasa nalar atas nalar. Nalar yang berkuasa itu milik dari sang supervisor yang meringkuk dalam menara tidak tembus pandang. Sedangkan, nalar tersubordinasi milik dari setiap penghuni bangunan melingkar sebagai periferi dari menara pusat.
Komposisi panopticon dalam benak Bentham: di tengah, sebuah menara; di periferi, bangunan berbentuk cicin. Menara dikarakterisasi dengan jendela melebar dan transparan ke arah sisi dalam bangunan. Sedangkan, bangunan melingkar terdiri dari sel individual yang memadati ruang bangunan tersebut.
Setiap sel mempunyai dua jendela. Yang satu menghadap menara, yang lain ada di sisi berlawanan. Fungsinya melanjutkan cahaya dari sel yang satu ke sel yang lain. Komposisi ini juga menunjang pandangan sang supervisor dari menara pusat untuk menembus sel yang satu ke sel yang ada di belakangnya. Gugusan sel ini nampak bak sangkar transparan raksasa. Dalam sel-sel inilah ditempatkan tahanan, pasien, orang dengan gangguan jiwa, buruh, atau orang yang dikutuk dan disingkirkan dari masyarakat. Penghuninya tentu berpadanan dengan peruntukan bangunan panoptic yang bersangkutan.
Strategi pandangan bangunan ini dikonstruksi satu arah. Sang supervisor secara leluasa mengawasi setiap gerak-gerik penghuni. Sebaliknya, para penghuni mengetahui bahwa mereka berada di bawah pengawasan ketat dan berkelanjutan. Namun, mereka kehilangan privilese atas pengetahuan akan eksistensi sang supervisor. Dalam penuturan Michel Foucault (1926-1984), seorang filsuf dan kritikus sastra asal Prancis, “He is seen, but he does not see; he is the object of information, never a subject in communication (ia kelihatan, tapi tak bisa melihat; ia adalah objek informasi, tidak pernah sebagai subjek dalam komunikasi).”
Konsekuensinya, para penghuni dikungkungi pengalaman transparansi diri terus-menerus. Mereka sepenuhnya terekspos terhadap pengawasan sang supervisor. Mereka bak berada di bawah kuasa yang permanen, walaupun ia hanya hadir dalam efek bukan secara aktual. Maksudnya, sang supervisor tetap menyebar jaring kuasa atas semua subordinat, baik ketika ia ada di menara maupun ketika ia tak hadir untuk mengawasi mereka. Sedangkan, dari sisi penghuni bangunan panoptic, kehadiran sang supervisor senantiasa terasa dan terwakili secara tetap oleh menjulangnya menara di pusat institusi.
Menurut Foucault, Bentham secara konseptual berhasil merekonstruksi mesin separasi antara “yang melihat” dan “yang dilihat”. “[I]n the periferic ring, one is totally seen, without ever seeing; in the central tower, one sees everything without ever being seen (dalam bangunan berbentuk cincin di periferi, seseorang terlihat, tanpa pernah melihat; dalam menara pusat, seseorang melihat segalanya tanpa pernah terlihat)”.
Bentham tidak pernah membayangkan hadirnya despot atau demagog dalam diri sang supervisor. Komposisi sang supervisor dan para subordinat lebih menyasar koreksi bagi tahanan, penyembuhan bagi pasien, perbaikan kesehatan mental bagi orang dengan gangguan jiwa, atau efektivitas dan produktivitas bagi para buruh. Konteks tujuannya bukanlah mala melainkan moral. Dalam semangat utilitarianisme, Bentham mengejar efisiensi peran supervisor demi mencapai perbaikan dan pencapaian maksimal di sisi para subordinat.
Disiplin
Karya Bentham ini sedianya jauh dari perhatian. Foucaultlah yang menariknya dari kungkungan ketidaktahuan. Ia membahasnya dalam bukunya, Surveiller et Punir (1975). Di sini, Foucault memberi sentuhan interpretasi segar bagi komposisi arsitektural panopticon. Apalagi, ia mencoba untuk memahami relasi sang supervisor dan para subordinat dari perspektif fungsi kekuasan.
Bagi Foucault, kekuatan arsitektural panopticon berefek pemeliharaan fungsi dan kesempurnaan kekuasaan tanpa jatuh pada jebakan sistem monarki. Panopticon menyempurnakan kekuasaan tanpa mengabsolutkan aksi. Pendekatan arsitektural panopticon ternyata dapat memelihara keseimbangan kekuasaan antara sang supervisor dan para subordinat tanpa perlu kehadiran sang supervisor. Lebih mengesankan lagi, konsep ini membuat para subordinat secara sukarela merangkul posisi mereka dalam relasi kekuasaan ini.
Dengan demikian, Foucault melihat ini sebagai rekayasa manjur bagi masyarakat modern berbasis disiplin. Ia kemudian merevitalisasi makna panopticon ke dalam inspirasi metaforis. Baginya, konsep ini selaras dengan kecenderungan komunitas berbasis disiplin dalam mengontrol masyarakatnya.
Pandemi
Kini, peran panoptic ini bak dimainkan oleh pandemi covid-19. Ia hadir sans frontières (lintas batas, tanpa wajah). Ia, pada saat yang sama, dapat ada di mana-mana dan tidak ada di mana-mana. Namun, kontingensi ini sama sekali tidak relevan. Ia tetap menyeruakkan kegamangan dalam bertindak, kedisiplinan dalam bersikap, bahkan kadang frustasi dan masa bodoh.
Kondisi ini menempatkan semua orang di dunia dalam pantauan. Semua diawasi, semua senantiasa dihimbau untuk bertindak sesuai dengan protokol dan kebijakan global, nasional, dan daerah. Semua ada dalam kewaspadaan yang sama. Pandemi ini tidak berada dalam menara pusat panoptic yang dapat diidentifikasi secara kasat mata. Ia justru mengawasi dari ketidaktentuan.
Asumsi bahwa pandemi mungkin ada di mana saja mempertajam kewaspadaan. Sikap waspada yang rasional menghilir dalam praksis kedisiplinan. Menjaga kebersihan tubuh dan teratur mencuci tangan kini mulai menjadi kebiasaan. Jarak fisik dengan siapa saja perlahan-lahan dibangun, walau penuh perjuangan. Mata, hidung, dan mulut mulai menjadi anggota tubuh yang sakral dari sentuhan teledor. Orang lain dan diri sendiri semakin dihargai melalui praktik kebersihan pernapasan. Rumah akhirnya dikondisikan untuk menjadi “home”.
Praksis kedisiplinan teraktualisasi dengan mengasumsikan pantauan dan pengawasan. Namun, pada gilirannya, kehadiran pandemi dalam komposisi masyarakat berdisiplin seharusnya menjadi tidak relevan. Kedisiplinan terbangun bukanlah demi sang pandemi. Ia justru seharusnya mentradisi kembali demi perbaikan kualitas kemanusiaan.
Epilog
Menara panoptic yang kukuh berdiri dan terpusat dapat hadir tak kasat mata. Namun, perubahan wujud menara pengawas dan relasi kekuasaan antara sang supervisor dan para subordinat hanyalah instrumen. Instrumen ini berguna sampai semakin banyak manusia menjadi semakin manusiawi. Semoga kehadiran tak terelakkan dari pandemi ini memanusiawikan lebih banyak manusia.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/