32 C
Manado
Jumat, 4 Desember 2020

Debat Kedua

MANADOPOST.ID–Periferi sering merebut ruang publik di ekor pelaksanaan debat. Esensi justru menguap. Embel-embel mengekal dalam ingatan. Sedang, informasi dan argumen dilanda lupa. Tulisan ini menjadi antitesis kecenderungan tersebut. Tulisan ini hendak melawan lupa. Ia bertugas memantik ingatan akan substansi.

Konteks

Tema debat kedua menyasar kesejahteraan rakyat, pendidikan dan penanggulangan kemiskinannya, termasuk ekonomi industri, pendidikan, perdagangan, UMKM, koperasi, gender, disabilitas dan anak. KPU kembali diapresiasi. Pelaksanaan berbasis protokol kesehatan, pembatasan undangan penyaksi langsung, serta ketertiban tetap terjaga.

Analisis debat ini perlu ditempatkan dalam konteks. Dalam perkembangan demokrasi kontemporer, tradisi debat publik semakin mengental dan menancapkan perannya. Harapannya, tradisi ini menghilir ke proses pembentukan pilihan politik yang terinformasi semaksimal mungkin.

Peran pentingnya merujuk pada pemberian informasi langsung dari para pasangan calon, bukan dari informasi turunan dan interpretasi. Selain itu, perbedaan gagasan terpapar vulgar tanpa mediasi. Demikian pula, kesamaannya. Visi dan misi, serta agenda berdasarkan tema dijelaskan minus embel-embel umbar emosi. Pembatasan waktu menjadi garda reksa emosi dan rasa.

Di sisi lain, debat hanyalah satu elemen dalam proses. Pendengar tidaklah serta-merta mampu menilai ragam pesan dalam debat. Sedang, para pendukung kukuh masing-masing paslon meneropong debat dari satu perspektif teguh. Lagipula, seluruh informasi terberi dapat tenggelam dalam lautan percakapan harian, interpretasi bias, mediasi partisan, dan potongan video TikTok.

Berbasis hakekat debat sebagai pemberi informasi tambahan pada calon pemilih, tujuan analisis ini lebih menyasar kelengkapan informasi. Tulisan ini menyasar kejelian dan kejernihan mengidentifikasi elemen-elemen pertanyaan. Debat memang memadukan dalam keselarasan keunggulan program, ketajaman argumentasi, dan entertainment. Karena itu, penampilan tak seimbang tentu akan meranggaskan pesan.

Debat tersusun dalam lima segmen: 1) pemaparan visi misi, 2)menjawab pertanyaan yang telah disediakan, 3) dan 4) pasangan calon memberi pertanyaan kepada masing-masing pasangan calon untuk dijawab; jawaban dapat diperdalam oleh pasangan calon penanya, serta 5) pernyataan penutup. Segmen tiga dan empat menjadi pembeda debat tahap dua dengan yang sebelumnya. Sebelumnya, jawaban pertanyaan terberi tidak ditanggapi. Ruang ini kemudian sedikit dibuka di tahap dua.

Segmen visi-misi

Nuansa segmen ini mirip dengan nuansa segmen yang sama di debat sebelumnya. Semua paslon cukup nyaman menggelar rumusan dasar “keyakinan” masing-masing. Segmen ini bak sebuah persiapan memasukin gelanggang debat yang menanti di segmen berikut. Di sisi lain, segmen ini penting untuk menancapkan pataka di atas zona mental debat yang masih tak bertuan.

Kesalahan teknis dalam penetapan waktu menginterupsi segmen ini. Pengaturan waktu oleh moderator berbeda dengan waktu yang terberi bagi paslon 1 dan 2. Moderator kemudian merekonstruksi dan mengalokasikan durasi yang sama bagi paslon 3 demi menampal kisruh teknis ini. Namun, kesalahan teknis ini seharusnya tidak perlu terjadi. Poin teknis ini perlu kembali merebut fokus penyelenggara.

Segmen dua

Paslon 3 mengawali segmen kedua. Pertanyaannya menyangkut strategi penanggulangan kemiskinan dengan memperhatikan dampak pandemi di bidang UMKM dan pengangguran. Berangkat dari identifikasi kelompok paling miskin, miskin dan rentan miskin, paslon 3 kemudian merancang strategi penanganan bagi masing-masing kelompok. Kelompok paling miskin disentuh dengan pemenuhan kebutuhan pokok; kelompok miskin lewat penguatan UMKM dan kelompok usaha; kelompok rentan miskin diberdayakan dengan diklat untuk keluar dari pengangguran.

Pertanyaan mengenai kesejahteraan umum menyasar paslon 1. Secara khusus, kebijakan dan strategi untuk melindungi dan menjamin keadilan gender, kelompok minoritas dan anak. Paslon 1 menegaskan pentingnya sinergitas provinsi dan kabupaten/kota melalui penyediaan data terutama menyangkut gender. Paslon 1 menegaskan peran kabupaten/kota dalam penyelesaian masalah gender dan pemberian hak seimbang kepada semua. Sedangkan, provinsi lebih fokus pada sinergitas.

Paslon 2 mendapat pertanyaan tentang strategi untuk memenuhi hak pendidikan, berkeadilan, kesehatan, fasilitas umum, dan pekerjaan layak bagi penyandang disabilitas. Paslon 2 fokus pada strategi pemenuhan kebutuhan penyandang disabilitas, kelengkapan sarana prasarana di 15 kabupaten/kota. Pelayanan terhadap kelompok disabilitas seharusnya berbasis prinsip keadilan dan eksistensi mereka. Fokus pada penyediaan infrastruktur dan sarana/prasarana, paslon 2 kurang menyinggung isu kesehatan, fasilitas umum, dan pekerjaan layak bagi penyandang disabilitas.

Segmen tiga

Dalam segmen ini, kisruh teknis kembali terjadi. Moderator menetapkan 2 menit durasi jawaban terhadap pertanyaan. Namun, faktanya setiap paslon mendapatkan alokasi 3 menit untuk menjawab. Koreksi tidak dijelaskan. Durasi akhirnya mengikuti penunjuk durasi yang tertera di layar (3 menit). Kembali, poin teknis yang perlu diperhatikan penyelenggara.

Paslon 3 mengajukan pertanyaan tentang road map menurunkan koefisien gini atau ketimpangan pendapatan suatu wilayah. Paslon 1 mengedepankan program kesejahteraan petani dan nelayan, kestabilan harga berbasis kearifan lokal, tambahan dana desa sebesar 200 juta/desa, bantuan UMKM dan penyediaan rumah layak huni.

Paslon 2 mengangkat peran KEK. Strateginya menghadirkan investor untuk pengolahan hasil pertanian (kelapa, cengkih, pala). Strategi ini juga akan menghadirkan lapangan kerja, mengentaskan pengangguran, dan terlaksana secara merata di setiap kabupaten/kota. Paslon 2 juga menegaskan pemerataan pendapatan sebagai solusi melalui pemerataan serapan tenaga kerja.

Tanggapan paslon 3 mengangkat kurangnya pemahaman akan koefisien gini. Konsekuensinya, penetrasi terancang oleh paslon 1 dan 2 kurang menyasar inti ketimpangan pendapatan masyarakat di suatu kawasan.

Paslon 1 mengajukan pertanyaan tentang investasi berbasis equator principles (prinsip untuk mengendalikan resiko sosial dan lingkungan). Prinsip ini diadopsi oleh institusi finansial, umumnya bank. Paslon 2 menegaskan perizinan berbasis perundang-undangan. Mereka juga mengedepankan koordinasi dengan pemerintah pusat. Mereka mengusung prinsip keadilan dan pengarusutamaan kepentingan masyarakat kecil.

Berangkat dari capaian investasi Provinsi Sulawesi Utara (2015=3 triliun; 2019=11 triliun), Paslon 3 menegaskan manfaat langsung investasi bagi pertumbuhan ekonomi, pengentasan pengangguran, peningkatan PDRB, penurunan kemiskinan dan ketimpangan koefisien gini. Mereka juga mengangkat hadirnya hotel, industri, dan geliat di bidang pertanian dan perikanan, serta kegiatan ekspor. Pengukurannya merujuk pada indikator makro rilisan BPS.

Paslon 1 menanggapi dengan menjelaskan definisi equator principles. Mereka mengangkat peran pemerintah untuk menanggulangi resiko lingkungan hidup dan sosial dari masuknya investasi. Salah satu wujud prinsip ini merujuk pada corporate social responsibility (CSR).

Pertanyaan paslon 2 mengenai hasil UN pendidikan menengah provinsi yang berada di peringkat bawah secara nasional. Paslon 3 menanggapinya dengan mengangkat kebijakan baru Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang menghapus UN dan menggantinya dengan penilaian sekolah yang lebih komprehensif. Kebijakan penganggaran (24%) untuk pendidikan, peningkatan kesejahteraan tenaga pendidik berbasis UMP (3 juta), peningkatan kegiatan belajar mengajar, pemerataan guru, rendahnya angka putus sekolah, capaian tingkat integritas, peningkatan kualitas tenaga pendidik, dan anugerah Ki Hajar, digelar.

Paslon 1 mengangkat ketimpangan antara anggaran 24% dan hasil kelulusan SMA/SMK tahun 2019. Mereka mengangkat penempatan kepala dinas yang tidak sesuai tupoksi dan berjanji untuk menghapus kondisi ini. Mereka mengusung program revolusi metode pendidikan berbasis IT, peningkatan tunjangan 5000 guru, SMK unggulan bertaraf internasional, kerja sama internasional, dan mengeluarkan kartu cerdas anak sulut.

Paslon 2 menanggapi jawaban kedua paslon dengan mengangkat ketimpangan dana pendidikan dan pelaksanaan proyek. Mereka juga mengangkat pentingnya pendidikan terhadap pengukuran IPM provinsi.

Segmen empat

Paslon 3 bertanya tentang road map kedua paslon untuk meningkatkan PDRB. Paslon 1 mengusung strategi menetapkan asumsi PAD provinsi sebesar 4,5 triliun, penyediaan 3000 rumah, modal usaha 50.000 UMKM, jaminan badan usaha milik pemerintah provinsi terhadap HET.

Jawaban paslon 2 menyasar pemerataan lapangan kerja di bidang pariwisata melalui pemberdayaan rumah makan, transportasi, dan travel. Berbasis kontribusi pertanian dan industri terhadap PDRB provinsi, mereka juga menambahkan strategi pemajuan industri pertanian dan industri lain.

Paslon 3 membedakan definisi PAD dan PDRB, serta menegaskan ketidakjelasan substansi akibat tidak dihitungnya produksi.

Pertanyaan paslon 2 mengangkat strategi mengangkat harga sektor unggulan provinsi (kopra dan cengkih). Paslon 3 mengedepankan peran kartel menjatuhkan harga cengkih sebagai salah satu unggulan provinsi. Selain itu, perdagangan bebas pun berdampak. Mereka mengusung strategi diversifikasi pertanian. Dampak pandemi terhadap harga cengkih juga diangkat.

Paslon 1 mengakui pengaruh pasar bebas dan strategi pengembangan tanaman lain. Strategi mereka mengusung peran badan usaha milik daerah dan desa untuk memberikan jaminan kepada petani dengan menetapkan HET cengkih. Tanggapan paslon 2 mendesak jalan keluar melalui pembangunan industri dan menghindari praktik ijon.

Paslon 1 menanyakan strategi recovery industri yang terkena dampak pandemi selain subsidi dan stimulus. Paslon 2 tidak menggunakan kesempatan untuk menjawab. Paslon 3 mengedepankan intervensi langsung dan tidak langsung. Strategi langsung mencakup pemberian bantuan makanan, asuransi pertanian, kesehatan, dan asuransi bagi para nelayan. Mereka menambahkan bantuan permodalan dengan total 1 triliun untuk pelaku ekonomi yang terdampak pandemi.

Tanggapan paslon 1 mengangkat strategi diversifikasi produk dan pelayanan, inovasi teknologi, pemberdayaan sumber daya alam dan manusia lokal, peningkatan produktivitas dan efisiensi, serta lini bisnis baru.

Epilog

Di bagian-bagian tertentu, debat ini menggambarkan kejelian, strategi, dan basis data. Semua sudah terpampang. Pemilih rasional membutuhkan kelengkapan info. Entertainment hanyalah penyerta. Ketika ia menjadi arus utama, debat publik menjadi hambar.(*)

-

Artikel Terbaru

Oktober, Neraca Perdagangan Sulut Surplus 563,9 Miliar

MANADOPOST.ID—Hingga Oktober tahun ini, Sulawesi Utara (Sulut) masih tetap konsisten menjaga kestabilan neraca perdagangan. Berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Rabu (2/12) lalu

Desa Wisata Candirejo Borobudur Tawarkan Sensasi Budaya Jawa

Salah satu desa wisata tradisional yang terkenal #DiIndonesiaAja adalah Desa Penglipuran, Bali. Nah, selain itu, masih banyak desa wisata tradisional lain, termasuk yang lokasinya tak jauh dari Candi Borobudur, Jawa Tengah.

Kios UMKM Sediakan Beragam Kue Natal

MANADOPOST.ID— Bagi Anda yang masih bingung untuk mencari kue natal, Kios UMKM menjadi pilihan yang tepat.

Desa Wisata Penglipuran Batasi Kapasitas Pengunjung Hingga 50%

Selalu ada hal menarik untuk diceritakan mengenai Pulau Dewata Bali, salah satunya adalah Desa Penglipuran yang terletak di Kelurahan Kubu, Kabupaten Bangli, Bali.

Umat Muslim Manado: Terima Kasih Olly-Steven dan AA-RS

MANADOPOST.ID—Masih dalam rangkaian Maulid Nabi Muhammad SAW, relawan Bravo New pasangan calon (Paslon) Pilkada Sulut, Olly Dondokambey-Steven Kandouw