31.4 C
Manado
Jumat, 1 Juli 2022

Tinta di Kelingking dan Sulut Memerah

Angel Rumeen
Wakil Pemimpin Redaksi Manado Post

2020 hampir berakhir. Bisa dikatakan ini puncak tahun politik di Sulawesi Utara (Sulut). Pemilihan gubernur dan wakil gubernur serta pilkada di tujuh kabupaten/kota digelar. Sampai hari ini tahapannya masih berlangsung.

2020 menyuguhkan banyak kejutan. Pilkada serentak sempat ditunda. Sebelumnya dijadwalkan 23 September. Tapi Covid-19 menyerang di awal 2020. Disepakatilah tetap digelar. Diundur hingga 9 Desember. Regulasi ikut direvisi.

Mulai dari tata cara pendaftaran hingga kampanye (walaupun banyak yang abai). Tahapan pilkada serentak tetap dilaksanakan. Dengan protap kesehatan. Menariknya dari data penyelenggara, KPU Provinsi Sulut, partisipasi pemilih naik (loh).

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Naik 14,7% dari pemilu 2019 silam. Berbanding lurus juga dengan kenaikan angka positif Covid-19 di Sulut belakangan ini.

Pesta demokrasi tahun ini memang terkesan adem-ayem. Euforia tertahan. Meski pesertanya cukup banyak. Dari 8 pilkada, tercatat 24 pasangan calon berpartisipasi. Dua di antaranya disumbang dari pasangan independen. Terdapat 3 pasangan incumbent, 5 calon yang ada hubungan darah dengan incumbent, serta tahun ini sebanyak 12 orang srikandi ikut mencalonkan diri.

Sayangnya, mereka semua kalah. Dinasti politik tumbang. Srikandi tak mampu hadapi amukan lawan. Independen pun masih belum bisa buktikan diri. Kembali memperpanjang daftar yang kalah di pilkada.

2020 harus diakui tahunnya PDI Perjuangan. Politik Sulut dikuasai merah (warna yang identik dengan PDI Perjuangan). 2019 silam mereka berhasil merebut 18 kursi DPRD Provinsi Sulut. Nyaris semua kabupaten/kota mereka menang.

PDI Perjuangan menempatkan kadernya di jajaran kursi pimpinan dewan. Paling fantastis, perolehan mereka di Manado. Sukses menggulung incumbent, Partai Demokrat. 2020 kesuksesan itu berlanjut. PDI Perjuangan tampil garang. Sulut memerah. Banteng (lambang PDI Perjuangan), menguasai Pilkada serentak.

Sejak awal 2020, banyak yang memprediksi PDI Perjuangan bakal menang besar. Karena memang Banteng dikatakan partai paling siap. Menjadi partai pertama yang mengumumkan siapa calon gubernur dan calon wakil gubernur. Berlanjut terus di pilkada 7 kabupaten/kota. Mesin partai berjalan sebagaimana mestinya.

Terlihat di Manado, Tomohon, Minsel, dan Bitung. Bukan hanya faktor figur. Tapi mesin partai juga buat PDI Perjuangan merebut kemenangan. Bahkan di wilayah incumbent yang dikuasai parpol lain.

PDI Perjuangan tahun ini menorehkan sejumlah rekor. Di antaranya, Olly Dondokambey-Steven Kandouw menjadi pasangan gubernur dan wakil gubernur pertama yang maju ke pilgub dua periode berturut dan menang. Kemudian PDI Perjuangan berhasil ‘pecah telur’ di Pilwako Tomohon, Pilwako Manado, dan Pilkada Minut.

Sosok calon Wali Kota Manado Andrei Angouw dari PDI Perjuangan juga menasional. Angouw bukan saja menjadi Wali Kota Manado pertama dari PDI Perjuangan yang dipilih langsung rakyat, namun juga politikus Konghucu pertama yang jadi wali kota.

Di tahun politik ini, ada partai politik tak mengirim kadernya di pentas demokrasi. Kebanyakan hanya ‘nempel’ di partai besar saja. Ada yang beralasan jumlah kursi di parlemen kecil, partai baru, atau memilih fokus di satu daerah (nyatanya kalah juga).

Tahun 2020 diwarnai ujian loyalitas, senyuman kemenangan, tangis kekalahan, dan kedewasaan berpolitik. Apa yang bisa dipetik dari kesuksesan pilkada di tengah pandemi dan kemenangan besar PDI Perjuangan?

Masyarakat Sulut kian pintar dan antusias menyalurkan hak politiknya. Banyak faktor melatarbelakangi. Mulai dari keinginan ada perubahan, senang mencoba figur baru, ingin daerah maju, bercita-cita eksis di media sosial dengan jari kelingking bertinta, hingga faktor terakhir adanya politik transaksional sebelum ke TPS (virus ini belum ada vaksinnya).
Kemudian, kemenangan PDI Perjuangan bukan instan. Mesin partai disiapkan bukan hanya dalam waktu semalam.

Sangat panjang. Menilik perjalanan PDI Perjuangan, sebelum menang di pileg 2019. Pilkada 2015, 2017, dan 2018, PDI Perjuangan merasakan kekalahan di sejumlah daerah. Maka sejak itu mesin partai terus diperkuat. Soliditas kader dibakar. Tak heran jika pemilih militan Olly-Steven (sesuai survei LSI) mencapai 55%. Usaha memang tak akan mengkhianati hasil.

Hasilnya…
Mengutip teori klasik Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Di penghujung 2020 kita berharap bersama, pesta demokrasi tahun ini bisa membawa kebaikan bagi masyarakat Sulut di tahun mendatang.(*)

Angel Rumeen
Wakil Pemimpin Redaksi Manado Post

2020 hampir berakhir. Bisa dikatakan ini puncak tahun politik di Sulawesi Utara (Sulut). Pemilihan gubernur dan wakil gubernur serta pilkada di tujuh kabupaten/kota digelar. Sampai hari ini tahapannya masih berlangsung.

2020 menyuguhkan banyak kejutan. Pilkada serentak sempat ditunda. Sebelumnya dijadwalkan 23 September. Tapi Covid-19 menyerang di awal 2020. Disepakatilah tetap digelar. Diundur hingga 9 Desember. Regulasi ikut direvisi.

Mulai dari tata cara pendaftaran hingga kampanye (walaupun banyak yang abai). Tahapan pilkada serentak tetap dilaksanakan. Dengan protap kesehatan. Menariknya dari data penyelenggara, KPU Provinsi Sulut, partisipasi pemilih naik (loh).

Naik 14,7% dari pemilu 2019 silam. Berbanding lurus juga dengan kenaikan angka positif Covid-19 di Sulut belakangan ini.

Pesta demokrasi tahun ini memang terkesan adem-ayem. Euforia tertahan. Meski pesertanya cukup banyak. Dari 8 pilkada, tercatat 24 pasangan calon berpartisipasi. Dua di antaranya disumbang dari pasangan independen. Terdapat 3 pasangan incumbent, 5 calon yang ada hubungan darah dengan incumbent, serta tahun ini sebanyak 12 orang srikandi ikut mencalonkan diri.

Sayangnya, mereka semua kalah. Dinasti politik tumbang. Srikandi tak mampu hadapi amukan lawan. Independen pun masih belum bisa buktikan diri. Kembali memperpanjang daftar yang kalah di pilkada.

2020 harus diakui tahunnya PDI Perjuangan. Politik Sulut dikuasai merah (warna yang identik dengan PDI Perjuangan). 2019 silam mereka berhasil merebut 18 kursi DPRD Provinsi Sulut. Nyaris semua kabupaten/kota mereka menang.

PDI Perjuangan menempatkan kadernya di jajaran kursi pimpinan dewan. Paling fantastis, perolehan mereka di Manado. Sukses menggulung incumbent, Partai Demokrat. 2020 kesuksesan itu berlanjut. PDI Perjuangan tampil garang. Sulut memerah. Banteng (lambang PDI Perjuangan), menguasai Pilkada serentak.

Sejak awal 2020, banyak yang memprediksi PDI Perjuangan bakal menang besar. Karena memang Banteng dikatakan partai paling siap. Menjadi partai pertama yang mengumumkan siapa calon gubernur dan calon wakil gubernur. Berlanjut terus di pilkada 7 kabupaten/kota. Mesin partai berjalan sebagaimana mestinya.

Terlihat di Manado, Tomohon, Minsel, dan Bitung. Bukan hanya faktor figur. Tapi mesin partai juga buat PDI Perjuangan merebut kemenangan. Bahkan di wilayah incumbent yang dikuasai parpol lain.

PDI Perjuangan tahun ini menorehkan sejumlah rekor. Di antaranya, Olly Dondokambey-Steven Kandouw menjadi pasangan gubernur dan wakil gubernur pertama yang maju ke pilgub dua periode berturut dan menang. Kemudian PDI Perjuangan berhasil ‘pecah telur’ di Pilwako Tomohon, Pilwako Manado, dan Pilkada Minut.

Sosok calon Wali Kota Manado Andrei Angouw dari PDI Perjuangan juga menasional. Angouw bukan saja menjadi Wali Kota Manado pertama dari PDI Perjuangan yang dipilih langsung rakyat, namun juga politikus Konghucu pertama yang jadi wali kota.

Di tahun politik ini, ada partai politik tak mengirim kadernya di pentas demokrasi. Kebanyakan hanya ‘nempel’ di partai besar saja. Ada yang beralasan jumlah kursi di parlemen kecil, partai baru, atau memilih fokus di satu daerah (nyatanya kalah juga).

Tahun 2020 diwarnai ujian loyalitas, senyuman kemenangan, tangis kekalahan, dan kedewasaan berpolitik. Apa yang bisa dipetik dari kesuksesan pilkada di tengah pandemi dan kemenangan besar PDI Perjuangan?

Masyarakat Sulut kian pintar dan antusias menyalurkan hak politiknya. Banyak faktor melatarbelakangi. Mulai dari keinginan ada perubahan, senang mencoba figur baru, ingin daerah maju, bercita-cita eksis di media sosial dengan jari kelingking bertinta, hingga faktor terakhir adanya politik transaksional sebelum ke TPS (virus ini belum ada vaksinnya).
Kemudian, kemenangan PDI Perjuangan bukan instan. Mesin partai disiapkan bukan hanya dalam waktu semalam.

Sangat panjang. Menilik perjalanan PDI Perjuangan, sebelum menang di pileg 2019. Pilkada 2015, 2017, dan 2018, PDI Perjuangan merasakan kekalahan di sejumlah daerah. Maka sejak itu mesin partai terus diperkuat. Soliditas kader dibakar. Tak heran jika pemilih militan Olly-Steven (sesuai survei LSI) mencapai 55%. Usaha memang tak akan mengkhianati hasil.

Hasilnya…
Mengutip teori klasik Aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Di penghujung 2020 kita berharap bersama, pesta demokrasi tahun ini bisa membawa kebaikan bagi masyarakat Sulut di tahun mendatang.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/