26C
Manado
Jumat, 26 Februari 2021

Asa Masyarakat Sipil

MANADOPOST.ID–Idealisme masyarakat sipil tak hanya melucuti ruang publik dari partisipasi kuno berbasis status sosial, ekonomi, hak lahir, dan ketimpangan gender. Ia juga melahirkan lima karakteristik ideal lain, yaitu kebebasan mengkritik, interaksi dan kapasitas sosial, diferensiasi fungsional, media, dan strata menengah. Perkembangan orok ini mendapatkan palungan historisnya dalam ranah sosial politik sejak abad ke-18.

Idealisme

Dominasi kekuatan rasional mengaliri nadi Enlightenment (Era Pencerahan Budi). Kekuatan ini gilirannya mengarusutamakan kebebasan mengkritik. Kondisi ini menghadirkan pintu bagi keterbukaan dan dinamika wajar sebuah masyarakat sipil. Inilah karakter yang pertama. Namun, keterbukaan ini terberi dengan addendum pembatas. Kebebasan yang ada dalam setiap individu seharusnya dan sepantasnya dipraktikkan dalam ruang publik.

Menurut Reinhart Koselleck (1923-2006), sejarawan Jerman, ekspresi kebebasan ini meruang dalam rubrik sosial. Baginya, masyarakat sipil menjadi rahim bagi “rubrik-rubrik interaksi” di mana praktik sosialisasi terjadi. Ini menghantar alur deskripsi ke ranah karakteristik kedua, yaitu interaksi dan kapasitas sosial. Dalam rubrik interaksi, individu berkomunikasi secara langsung dengan individu yang lain.

Di sini, komunitas bak wasit yang melucuti prakondisi pembeda setiap individu. Suspensi terhadap karakteristik sosial pembeda melapangkan interaksi individu tanpa pretensi. Di sisi lain, selain memelihara kesetaraan individu, arena interaksi yang memelihara kesetaraan individu, ternyata juga melestarikan perbedaan yang tak tersangkalkan di tengah masyarakat.

Setiap individu menyertakan dalam dirinya penanda-penanda identitas, seperti budaya, agama, ras, dan golongan tertentu. Perbedaan “esensial” ini diakui bersama dengan karakteristik lain yang lebih “fungsional”. Nyatanya, dinamika arena interaksi ini menyokong divisi-divisi dalam komunitas. Apalagi jika tata kelola dan sejarah komunitas tersebut mensyaratkan perbedaan itu.

Artinya, rubrik interaksi menerima setiap individu dengan identitas diri yang berbeda. Arena ini pun ramah terhadap perbedaan fungsi yang diperankan oleh setiap individu dalam komunitas yang bersangkutan. Profesi setiap individu justru memperkaya interaksi dan praktik kapasitas sosial mereka.

Diferensiasi fungsional dalam masyarakat inilah yang menjadi karakter ketiga. Masyarakat sipil yang ideal seharusnya menyediakan ruang bagi ekspresi setiap individu. Apresiasi terhadap kekayaan divisi fungsional yang dibawa oleh setiap individu dalam arena interaksi ini memperkaya mutu komunikasi mereka. Tentunya, masyarakat sipil menyerap segala keuntungannya.

Karakteristik ideal berikutnya adalah kehadiran media. Media telah berpartisipasi dalam memperkokoh pilar masyarakat sosial sejak abad ke-18. Lalu lintas surat-menyurat, publikasi, dan koran menentukan sirkulasi informasi massa. Mereka menciptakan alam intelektual di tengah masyarakat sipil. Kondisi ini pada gilirannya memantik sikap dasar kritis dan interaksi konstruktif antaranggota komunitas. Di level tertentu, horizon intelektual ini menjadi tuan rumah yang ramah bagi interaksi antarkomunitas dalam suatu masyarakat sipil.

Abad ke-20 dan ke-21 menyaksikan peran media massa yang meluas secara sporadis. Selain munculnya wajah-wajah media baru (radio, tv, dan film), media massa menawarkan wadah mumpuni bagi komunikasi antarpersonal. Ia pun memelihara tuntutan kualitas komunikasinya.

Dan lahirlah internet. Sapuan kehadirannya tidak hanya merubah platform komunikasi. Ia merubah durasi, jenis, bahkan kualitas komunikasi interpersonal. Ia berani menjanjikan potensi konektivitas antarindividu dan antarkomunitas, tanpa terkecuali, dalam masyarakat sipil. Singkatnya, ia menjanjikan partisipasi total. Sebelum kehadiran internet, masyarakat sipil modern hanya bisa memimpikan romantisme partisipasi total à la Yunani Kuno. Namun, apa yang dimimpikan itu kini hadir di ujung horizon janji internet. Ia hanya sejauh aplikasi internet.

Karakteristik kelima merujuk pada meluasnya eksistensi strata menengah. Strata ini meliputi entrepreneur, pegawai swasta, manajer, pengacara, insinyur, dokter, guru, dll. Mereka merujuk pada pekerjaan dan profesi sebagai hasil pencapaian individu dan pendidikan.

Kepentingan mereka terletak pada aksi menumpulkan polarisasi dalam masyarakat sosial karena kehadiran kelompok borjuis. Selain mencairkan kekakuan, mereka hadir dan mempromosikan jurnalisme ruang publik. Kondisi ini menyulut suburnya praktik nalar di tengah masyarakat sipil.

Kritik

Antonio Gramsci (1891–1937), ahli pemikiran Marx asal Italia, mengkritik fenomena masyarakat sipil. Ia mengangapnya sebagai benteng kaum borjuis. Gramsci menanggap masyarakat sipil sebagai kaki tangan negara kapitalis, Ia menuduh rezim kapitalis menggunakan propaganda, indoktrinasi, dan pendidikan umum/negeri sebagai instrumen untuk memelihara dukungan kaum borjuis.

Karena itu, ia berkesimpulan bahwa masyarakat sipil akan tumbuh subur dalam negara yang dialiri darah borjuis. Rezim ini tak akan membiarkan keyakinan dan aspirasi rakyatnya bertumbuh sporadis dan alamiah. Mereka akan mengintervensinya secara strategis demi pengekalan wajah ideologisnya.

Perspektif Gramsci tentunya sangat mempengaruhi kritiknya. Konstruksi konseptual Gramsci mengasumsikan divisi mutlak antara kelompok masyarakat borjuis dan proletar. Dalam tradisi pemikiran Marx, kecurigaan terhadap kelompok borjuis merupakan kecenderungan bawaan.

Implikasi

Lepas dari kritik Gramsci, konsep masyarakat sipil masih mengimplikasikan potensi pengembangan kualitas demokrasi. Pertama, idealisme kebebasan mengekspresikan pikiran, terutama dalam bentuk kritik dapat mengaliri proses pemurnian demokrasi. Kritik otentik akan melucuti proses demokrasi dari gurita kepentingan sempit pribadi dan golongan.

Kedua, interaksi sosial dalam arena masyarakat sipil seharusnya dimurnikan dari proyek populisme. Namun, idealisme ini mendapat tantangan dasyat. Hasrat mendominasi dari individu-individu kerdil kini mendapatkan instrumen ampuh dalam wujud internet.

Internet menghadirkan daya jelajah dan durasi dengan potensi tanpa batas bagi proyek populisme. Potensi keterlibatan total setiap individu dan rentang waktu dalam definisi “real time” menjadi momok serius bagi demokrasi. Kerentanan individu terhadap muslihat populisme demi dominasi kini berada dalam posisi kritis. Segelintir ahli menamai fenomena kritis ini “kematian kebenaran” atau “pascakebenaran”.

Ketiga, diferensiasi fungsional individu yang disyaratkan oleh masyarakat sipil seharusnya bersifat rasional. Hasrat dominasi yang mengental terkadang melapangkan intervensi kepentingan-kepentingan sesaat. Intervensi sesat ini menghantar proses diferensiasi pada fungsi cacat dari individu-individu yang tak cakap.

Divisi-divisi fungsional dalam masyarakat sipil seharusnya mengarusutamakan kepantasan, kepatutan, kompetensi, dan kualifikasi. Elemen-elemen rasional ini merupakan pilar-pilar yang menyokong setiap pertimbangan dalam praksis divisi-divisi fungsional tersebut.

Media dan strata menengah mengambil peran sentral dalam dinamika pengembangan kualitas masyarakat sipil. Namun, media seharusnya imun terhadap godaan hegemoni. Rezim seharusnya dikontrol dan dievaluasi secara wajar. Kebaikan dipromosikan, kegagalan dikoreksi.

Sedangkan, strata menengah tidak boleh senyap dan bisu. Cekokan kemapanan ekonomis seharusnya tidak menumpulkan daya kritis. Kenyamanan peraduan dan peran profesional sepatutnya tidak meredam partisipasi aktif, bahkan langsung.

Mereka tidak boleh terbuai dalam kesenyapan mayoritas sehingga membiarkan minoritas bernalar sumbang bernyanyi lebih nyaring. Mereka seharusnya mengambil peran sentral dalam diskusi publik yang mengarahkan kepedulian sosial sepenuhnya demi kedaulatan masyarakat.

Epilog

Masyarakat sipil menjadi neksus setiap individu rasional untuk mengekspresikan kritik. Ia melapangkan praksis rasional tersebut demi interaksi sosial yang bermutu. Interaksi tersebut pada gilirannya memberi ruang terhadap diferensiasi fungsional.

Media massa menghadirkan jaminan konektivitas. Strata menengah mengisi arena interaksi sosial. Secara strategis, mereka menggunakan instrumen media demi ruang publik yang bermutu. (*)

Artikel Terbaru