26C
Manado
Senin, 1 Maret 2021

Cegah Banjir Bendungan Kukang-Lolak Urat Nadi Perekonomian Sulut

Oleh: Desmianti Babo
(Jurnalis Ekonomi dan Bisnis)

BANJIR sudah menjadi agenda tahunan di Kota Manado. Terjadi ketika curah hujan yang ekstrim dan debit air tidak lagi mampu ditampung oleh aliran sungai, seperti yang terjadi pada akhir pekan lalu (16-17 Januari 2021). Jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, luas daerah yang dilanda banjir kini jauh lebih besar. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulut, 9 dari 11 Kecamatan di Manado terdampak peristiwa banjir. Yakni Kecamatan Tikala, Paal 2, Malalayang, Sario, Bunaken, Tumunting, Mapanget, Singkil dan Wenang. Tetapi berdasar pantauan kami Kecamatan Wanea pada Kelurahan Tingkulu juga terdampak banjir. Hanya kecamatan Bunaken kepulauan yang tidak terdampak.

Akan tetapi banjir pekan lalu bukanlah yang terbesar di Kota Manado. Sejarah mencatat pada 14 Januari 2014 silam, terjadi bencana Banjir Bandang terbesar dengan memakan kerugian Rp. 1,871 triliun. Meliputi kerusakan semua infrastruktur di Manado, yaitu jalan, jembatan drainase, tanggul, sungai, dan sarana publik (Data Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkominfo) sehingga mengakibatkan roda perekonomian di Ibukota Sulut waktu itu lumpuh total.

Untuk mengatasi masalah banjir di Sulut, pemerintah pusat sementara ini melaksanakan pembangunan dua bendungan yaitu Bendungan Kuwil Kawangkoan (Kukang) dan Bedungan Lolak dengan total anggaran Rp.3,1 triliun. Tujuannya bukan hanya mengatasi banjir, tetapi juga dapat menggerakkan roda perekonomian di Sulut.

Layaknya darah yang dipompa dan dialirkan dari jantung melalui urat nadi ke seluruh bagian organ tubuh manusia. Begitu pula Fungsi dan Tujuan dari pembangunan Bendungan Kukang dan Bendungan Lolak dirancang bukan hanya untuk mengatasi banjir tetapi juga sebagai urat nadi perekonomian di Sulut. Ini merupakan salah satu Program Strategi Nasional Presiden Joko Widodo dan dilaksanakan oleh Kementerian PUPR melalui Balai Wilayah Sungai [BWS] Sulawesi Satu saat ini.

Bendungan Kukang berlokasi di Desa Kolongan, Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara dan Bendungan Lolak terletak di Desa Pindol, Kecamatan Lolak Kabupaten Bolaangmongondow (Bolmong). Dibangun dengan beberapa fungsi yang besar bagi masyarakat dan perekonomian di Sulut, adalah sebagai berikut.

Fungsi utama Bendungan Kukang untuk mereduksi banjir sebesar 282,18 meter kubik perdetik. Diyakini bisa mereduksi lebih dari setengah banjir besar yang terjadi di Manado 2014 silam sebesar 470 meter kubik per detik. Sebagaimana diketahui, kota Manado yang berada di tepi laut Teluk Manado yang merupakan daerah hilir dari 3 DAS besar yaitu DAS Tondano, DAS Sario dan DAS Malalayang. Ketika hujan deras terjadi dan massa air di Kota Manado meningkat, maka debit air di daerah DAS Tondano dapat dikendalikan melalui Bendungan Kukang yang sementara dibangun saat ini.

Bendungan Lolak juga berfungsi untuk mengendalikan banjir di Kecamatan Lolak yang adalah daerah yang sering banjir di Kabupaten Bolmong. Namun demikian, Bendungan Lolak sejatinya memiliki fungsi utama untuk menyediakan air irigasi pada 2.214 hektar lahan sawah di Bolmong. Menurut Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, salah satu komponen utama keberhasilan produksi beras, adalah ketersediaan air. Sehingga untuk menjamin ketersediaanya, PUPR terus berupaya membangun bendungan.

Dalam kajian SNVT Pembangunan Bendungan BWS Sulawesi I, latar belakang dari pembangunan Bendungan Lolak, karena terdapat 2.000 hektar lahan pertanian sawah potensial di kanan Bendungan Lolak yang belum terairi. Maka diprediksi, ketika beroperasi nanti Sulut akan ketambahan 2.000 hektar lahan sawah Produktif. Data Balai Pertanian Tanaman Pangan (BPTP) Kementan di Sulut pada tahun 2018, rata-rata produksi padi sawah Bolmong yakni 4,5 ton/hektar pada satu musim tanam. Sehingga ke depan jika air irigasi Bendungan Lolak sudah beroperasi, maka dapat meningkatkan produksi kurang lebih 9.000 ton padi. Jika 100 persen Padi menjadi 60 persen Beras, berarti dari 9.000 ton Padi akan menghasilakan 5.400 ton Beras x Rp.10.000/kg, maka petani dapat menghasilkan Rp.54 miliar pada tiap musim panen. Sehingga pada produktivitas setahun 2,5 dikalikan Rp.54 miliar maka dapat dipastikan ada ketambahan pendapatan petani sebesar Rp.135 Miliar per tahun.

Fungsi lainnya dari kedua bendungan ini yaitu sebagai penyedia air baku untuk Manado, Minut, Bitung, dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung. Berdasarkan kajian Raymond Luntungan, Dirut PDAM Dua Sudara Bitung, sistem penyediaan air di Kota Bitung tidak mampu memenuhi kebutuhan air serta sumber air baku tidak maksimal dan tidak mampu mencukupi kebutuhan seiring dengan pertumbuhan populasi. Sehingga Bendungan Kukang dapat menjadi solusi kelangkaan air baku serta dapat membantu memenuhi kebutuhan air pada KEK Bitung.

Berdasarkan kajian SNVT Pembangunan Bendungan BWS Sulawesi I, Bendungan ini akan berkontribusi pada ketersediaan air baku sebesar 4,5 meter kubik per detik. Atau dapat menyediakan air baku sejumlah 388,8 juta liter per hari (4.500 liter x 3.600 detik x 24Jam). Sementara kapasitas air baku pada Bendungan Lolak yakni 500 liter per detik. Sehingga dapat menyediakan air baku sejumlah 43,2 juta liter air per hari (500 liter x 3.600 detik x 24 Jam) bagi masyarakat Bolmong.

Disisi lain, kedua bendungan ini kedepan akan berkontribusi menyediakan energi listrik. Bendungan Kukang melalui Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) dengan kapasitas 2×0,70 MW atau 1,4 MW sementara Bendungan Lolak adalah 2,43 MW. Jika dihitung pendapatannya, apabila PLTM Bendungan Kukang dapat beroperasi sebagaimana yang dirancangkan dan maksimum daya terpakai 90% yakni 1,25 MW maka dalam setahun pendapatannya adalah 1.250 KWh x 24 jam x 365 hari = 10,95 juta KWh/tahun. Dikali Rp.1.444,7 = Rp.15,8 miliar per tahun (Rp.1.444,7 / KWh=harga tarif daftar listik golongan R1/ TR 1300 VA). Sementara listrik dari Bendungan Lolak jika beroperasi sesuai rancangannya, dapat menghasilakan pemasukan bagi Negara sejumlah Rp. 27,84 miliar per tahun (90% dari 2,43MW = 2.200 KWh x 24 jam x 365 hari = 19,27 juta KWh/ tahun x Rp.1.444,7).

Fungsi berikut dari pembangunan bendungan yaitu sebagai pengembangan kawasan pariwisata di Sulut. Menurut Kepala BWS Sulawesi 1, Bastari, keberadaan Bendungan Kukang nantinya akan menjadi daya tarik tersendiri karena memiliki icon kebudayaan, yakni adanya waruga sebagai makam leluhur suku Minahasa. Namanya Taman Wisata Budaya Waruga. Terletak di lokasi pembangunan Bendungan Kukang dan sudah mulai dibangun sejak Agustus 2020 lalu, diawali peletakan batu pertama oleh Gubernur Olly Dondokambey.

Kemudian Bendungan Lolak sebagai kawasan pariwisata bertajuk Pariwisata Hutan Kebun Buah. Sehingga dalam pelaksanaannya sejak tahun lalu, kawasan bendungan mulai ditanam dengan berbagai varian pohon buah. Antara lain, durian, mangga, matoa, duku, pala, nangka, sirsak, rambutan dan lain-lain. Diyakini, saat beroperasi nanti ke dua kawasan pariwisata ini bisa menjadi sumber pendapatan langsung bagi pengelola dan juga penghasilan bagi masyarakat sekitar. Serta akan menghadirkjan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) baru yang terlibat di lokasi wisata bendungan.

Dengan perhitungan dan berbagai asumsi diatas, dapat disimpulkan bahwa masyarakat Sulut dan Negara akan ketambahan penghasilan sekitar Rp.200 miliar per tahun ketika kedua bendungan tersebut telah beroperasi. Dari berbagai kajian diatas inilah, maka proyek bendungan Kukang dan Lolak bisa dikategorikan sebagai Pembangunan Infrastruktur Dinamis, karena mampu menjadi sumber pendapatan langsung bagi masyarakat Sulut dan juga pemasukan bagi Negara. Hal ini yang nantinya menjadi motor penggerak perekonomian Sulut ke depan. Maka tidak salah lagi, jika dua bendungan ini merupakan bagian dari Program Strategis Nasional (PSN) oleh Presiden Jokowidodo yang nantinya menjadi Urat Nadi Perekonomian di Sulut.

Bagaimana dengan keadaan pembangunan saat ini. Data terakhir dari BWS Sulawesi I, per akhir November 2020, realisasi pembangunan Bendungan Kukang Paket I terealisasi 72,8 persen dikerjakan oleh PT.WIKA-DMT. Paket II terealisasi 87,6 persen dikerjakan oleh PT. Nindya Karya. Sementara proyek Bendungan Lolak yang dikerjakan seutuhnya oleh PT. PP, Paket I telah terealisasi 100 persen dan Paket II baru terealisasi 24,5 persen. Nah dengan pengalaman dan kapasitas dari Perusahaan tersebut diatas, yang mendapat mandat langsung dari Kementerian PUPR untuk mengerjakan proyek bendungan di Sulut. Diyakini dapat menyelesaikan Bendungan Kukang dan Lolak dengan tepat waktu dan sesuai dengan fungsi serta peruntukannya.

Kepala BWS Sulawesi I, Bastari yang dimandat oleh Kementerian PUPR menjadi Kepala Balai sejak Juni 2020 lalu, sekaligus melanjutkan tanggung jawab pelaksanaan mega proyek pembangunan dua bendungan ini, tentunya mempunyai tugas dan tanggung jawab yang tidak mudah. Tapi dengan pengalaman beliau yang sebelumnya merupakan Kepala Balai Bendungan pada Ditjen Sumberdaya Air (SDA) Kementerian PUPR. Tentunya memiliki kapabilitas dan kapasitas untuk menyelesaikan proyek ini hingga tuntas dan dapat beroperasi sesuai fungsi dan tujuan yang telah direncanakan dengan sebaik-baiknya. Sehingga hasilnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Sulut.

Kita sebagai masyarakat Sulut patut berbangga dengan dibangunnya Mega Proyek dua bendungan ini. Namun, kita juga harus turut mengawal dan mendorong agar pembangunan infrastruktur ini dapat cepat selesai dan segera mengantongi izin operasi bendungan. Sehingga ke dua bendungan dapat beroperasi sesuai rencana dan fungsinya. Supaya hasilnya dapat langsung kita rasakan yaitu meningkatnya perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Sulut.(*)

Artikel Terbaru