25 C
Manado
Kamis, 6 Mei 2021
spot_img

“Aku Mau!”

MANADOPOST.ID-Dalam hitungan hari, jasa-jasa Kartini akan didengungkan lagi. Hari Kartini akan kembali lewat dalam bentangan sejarah. Ragam ekspresi dan dedikasi lahiriah pernah terungkap. Pemutaran film “Kartini”, penggunaan pakaian daerah sebagai ganti seragam kerja, serta meme lucu dan kritis tentang peran perempuan hanyalah segelintir usaha maujud.

Lembar kosong dalam buku sejarah masih menyisakan ruang bagi inovasi konkret. Namun, kurikulum tersembunyi dari karakter khas Kartini masih menunggu untuk diangkat di permukaan. Mereka masih rindu diidentifikasi setiap individu Indonesia.

Originalitas Kartini dalam memperjuangkan nasib perempuan semasanya tidak bisa disangkal. Semangatnya untuk bebas menjadi inspirasi perempuan Indonesia sampai sekarang dan seterusnya. Kriteria ruang dan waktu tidak mampu menjadi aturan definitif untuk mengekang kontribusi dan semangatnya yang memancar.

Ia memang tidak menghasilkan karya akademik dan artistik yang memukau dunia. Namun, semangatnya yang murni dan original menjadi nafas dari semua tulisan yang ia hasilkan. Sedemikian halusnya pesan-pesan Kartini sehingga mereka menembus batas-batas sejarah.

Sedemikian kukuhnya visi dan asanya sehingga mereka tetap menginspirasi usaha manusia Indonesia untuk mengembangkan peradabannya. Di bawah ini, beberapa petikan surat-surat yang menggambarkan karakter khas dari Kartini.

Perindu Kebebasan yang Gigih

“Belum lama ini, saya bercakap-cakap dengan ibu hal ikhwal perempuan, bahwa tidak ada yang lebih menarik bagi saya, tidak ada yang lebih saya rindukan daripada terbang lepas dan bebas…”

“Saya tahu jalan yang akan saya tempuh ini sukar. Banyak duri dan onaknya. Jalan itu berbatu-batu, berlekak-lekuk, licin. Jalan itu belum dirintis. Dan biarpun saya tidak beruntung untuk sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan rasa bahagia. Karena jalannya sudah terbuka dan saya turut mengadakan jalan menuju tempat perempuan bumiputera merdeka dan mandiri. Sudah senang benarlah hati saya, bila orang tua anak perempuan lain yang hendak mandiri tidak dapat lagi mengatakan ‘belum ada seorang pun dari kita yang berbuat demikian’. Aneh! Saya tidak merasa ngeri, takut, ataupun gentar. Saya tenang dan penuh keberanian.” (Surat kepada Rosa Abendanon, 7 Oktober 1900).

Pejuang Nilai-Nilai Kemanusiaan

“Alangkah banyak hal ikhwal yang menyedihkan dalam dunia perempuan Jawa. Alangkah banyak sengsara yang diderita. Jalan bagi gadis Jawa, terutama bagi gadis bangsawan hanyalah satu saja, yaitu nikah. Saya ini anak seorang bangsa Jawa, menjadi besar di haribaan bangsa ini, selamanya hidup di sini. Saya hendak menyatakan bahwa perempuan Bumiputera sungguh mempunyai hati, sanggup merasakan penderitaan, tak ada ubahnya dengan perempuan di negeri nyonya yang beradab halus. Tetapi kami di sini menderita diam-diam dan menyerah semata. Tiada kuasa dan tiada berdaya. Karena tiada berkepandaian dan berpengetahuan.”

“Tujuan perjuangan kami ada dua, yaitu turut berusaha memajukan bangsa dan merintis jalan bagi saudara-saudara kami perempuan, menuju ke arah keadaan yang manusiawi.” (Surat kepada Nelle van Kol, Agustus 1901).

Pemimpi yang Terkungkung

“Mengapa Tuhan memberi kita bakat-bakat, jika tidak dianugerahi sarana untuk mengembangkannya. Kedua adikku pandai melukis. Dan mereka ingin semakin mahir. Tapi, kami tidak mempunyai kesempatan untuk hal-hal seperti itu. Karena kami hidup di Jawa. Kami tidak mungkin pergi ke Eropa. Untuk bisa ke Eropa kami harus mengantongi izin Yang Mulia Menteri Keuangan. Tapi, kami tidak diizinkan. Betapa sedih rasanya. Sungguh-sungguh menginginkan sesuatu tapi tak kuasa mewujudkannya. Jika ayah bisa, aku yakin ia tidak akan melarang kami untuk pergi jauh ke luar negeri.”

“Kamu bertanya tentang asal mulanya aku terkurung di dalam empat tembok besar itu. Menurutmu, pastilah aku terkurung dalam sebuah bui atau semacamnya. Tidak, Stella. Penjaraku adalah sebuah rumah besar dengan pekarangan yang luas yang dikelilingi oleh tembok besar yang tinggi. Betapapun besarnya rumah dan pekarangan itu, jika dipaksa untuk tetap berada di dalamnya tanpa boleh keluar, maka sama saja dengan berada dalam sebuah penjara. Aku ingat, setiap kali aku sudah putus asa, biasanya kuhempaskan tubuhku ke dinding bisu dan pintu yang selalu terkunci itu. Ke mana pun aku berjalan, aku selalu terhalang oleh tembok yang tinggi dan pintu mati itu.” (Surat kepada Stella Zeehandelar, 6 November 1899).

Pendidik Manusia yang Pertama

“Kami di sini meminta dan memohon dengan sangat agar mendapat pengajaran dan pendidikan untuk perempuan. Ini bukannya karena kami hendak menjadikan perempuan sebagai saingan laki-laki dalam hidup, melainkan karena kami ingin menjadikan perempuan lebih cakap dalam melakukan kewajibannya. Kewajiban itu diserahkan oleh alam sendiri ke tangannnya, yaitu menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama. Bukankah dari perempuan itu, manusia pertama kali mendapatkan pendidikan yang penting artinya bagi manusia sepanjang kehidupannya? Perempuanlah yang menaburkan bibit kebaikan dan kejahatan yang pertama dalam sanubari manusia.”

“Beberapa waktu lalu, kami berpikir bahwa orang yang banyak pengetahuannya, mulialah budi pekertinya. Lalu, mulai tampak bahwa pengetahuan yang banyak itu bukan tanda mulianya budi pekerti orang itu. Kamipun sampai ke hadapan pintu kebenaran. Bukan sekolah saja yang mendidik sanubari. Lingkungan di rumah harus mendidik pula. Sekolah mencerdaskan pikiran, sedangkan kehidupan di rumah membentuk watak anak itu. Ibu yang menjadi pusat kehidupan rumah tangga, dan kepada ibu dibebankan kewajiban pendidikan anak yang berat itu, yaitu pendidikan membentuk budinya.”

“Oh…tahulah kiranya para ibu apa yang sebenarnya diterimanya, bila ia dikaruniai kebahagiaan seorang perempuan. Bersamaan dengan kemewahan sebagai seorang ibu dengan menerima anak itu, diterimalah pula kewajiban untuk membentuk masa depan anak itu. Karena itulah kami minta pendidikan dan pengajaran untuk perempuan… Pekerjaan untuk memajukan peradaban harus diserahkan kepada kaum perempuan.” (Surat kepada Prof. Dr. G. K. Anton, 4 Oktober 1902).

Pejuang yang Optimis

“Kamu tahu apa motto hidupku? Aku mau! Dua kata sederhana ini telah membawaku melewati bergunung kesulitan. “Aku tidak bisa” adalah kata-kata yang mematahkan semangat. “Aku mau” akan mendorong kita ke puncak gunung. Aku penuh semangat. Semangatku menyala, Stella! Peliharalah api itu! Jangan biarkan padam. Besarkan hatiku. Kobarkan semangatku, Stella!” (Surat kepada Stella Zeehandelar, 12 Januari 1900).

Epilog

Ketika kecerdasan dan bakat-bakat manusiawi dibalut dengan kepedulian tulus dan otentik akan nilai-nilai dan kondisi aktual kemanusiaan semasa, lahirlah genius peradaban! Ia disebut demikian karena kontribusinya dalam menciptakan lompatan-lompatan peradaban menuju kehidupan manusia yang lebih utuh.

Itulah persis yang disumbangkan Kartini bagi Indonesia. Namun, ia tak pernah dan tak “perlu” mengklaim predikat itu.(*)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru