27.4 C
Manado
Kamis, 7 Juli 2022

Gerak

MANADOPOST.ID–“Dewasa ini, kita senantiasa bergerak,” demikian penegasan Zygmunt Bauman (1925-2017). Ia adalah seorang ahli sosiologi, yang lahir di Polandia dan kemudian berkebangsaan Inggris. Baginya, penciri manusia pascamodern mengacu pada pergerakan tanpa henti. Sejak masa modern menghadirkan teknologi dan merekayasa wajah transportasi dunia, kehidupan dan cara pandang manusia tentang ruang dan waktu telah berubah drastis.

Transportasi

Kehadiran teknologi telah menginterupsi jangkauan transportasi, merekonstruksi cara bertransportasi, dan mereduksi waktu bertransportasi. Tentang jangkauan transportasi, dunia bukan lagi batas bagi manusia. Di abad ke-19, ekspedisi ke bulan hanya berwujud khayalan dalam bentuk fiksi ilmiah. Novel Jules Verne, From the Earth to the Moon, menjadi rujukan. Kini, ekspedisi ini bukan mimpi lagi. Bahkan, setelah bulan, manusia telah mulai mengarahkan misinya ke planet lain.

Revolusi cara bertransportasi dipercepat oleh penemuan transportasi udara. Perjalanan antarpulau, antarnegara, dan antarbenua melalui darat dan laut, bukan lagi keharusan. Mereka kini puas dengan menyandang status alternatif. Belum lagi jika kita menghubungkan cara bertransportasi dengan tingkat kenyamanannya.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Kini, transportasi bukan lagi sekedar instrumen untuk mencapai tujuan. Tanpa mengesampingkan peran tersebut, transportasi dewasa ini telah membuat sintesis harmonis antara prasarana, jaminan keselamatan dan kemewahan. Sekarang, ketiganya bukan lagi alternatif pilihan, tapi satu paket keniscayaan.

Revolusi dunia transportasi pada gilirannya mereduksi waktu bertransportasi. Di masa pramodern dan modern, durasi bertransportasi nyaman dengan term-term minggu, bulan dan tahun. Sekarang, satu hari dialami sebagai durasi yang panjang untuk menjelaskan perjalanan antarnegara. Jam, menit, dan detik kini menjadi term-term familier untuk melafalkan durasi transportasi.

Pengelana

Gambaran di atas menegaskan bahwa manusia senantiasa bergerak. Namun, masa pascamodern telah mendefinisi kembali konsep “bergerak” ini. Karakter dasar pergerakan dan perpindahan di atas masih bersifat fisik. Sedangkan, di masa pascamodern, orang bisa saja duduk statis, namun, pada saat yang sama, ia sedang membelah dunia dengan internet. Tanpa beranjak dari posisi statis ini, manusia bisa berkomunikasi dengan manusia lain melampaui batas ruang. Karena itu, jarak pembelah kelokalan manusia menjadi tidak relevan.

Para ahli menyebut masa pascamodern ini dengan berbagai nama. Anthony Giddens (1938-…), seorang sosiolog berkebangsaan Inggris menyebutnya “masa modern akhir”. Sedangkan, Ulrich Beck (1944-2015), seorang sosiolog berkebangsaan Jerman, menamainya “masa modern kedua”. Namun, mereka merujuk pada karakteristik yang sama.

Titisan dunia teknologi informasi dan komunikasi dalam perkembangan dunia maya dan komputerisasi meradikalisasi wajah dunia pascamodern. Mereka telah mendefinisi ulang konsep gerak dan transportasi. Kini, pergerakan manusia cenderung melampaui kungkungan sangkar fisik. Manusia pascamodern menikmati “ruang tanpa batas” dalam internet. Setelah batas-batas fisik pergerakan manusia terangkat, manusia kini bak dikutuk untuk senantiasa bergerak.

Tahap ini terkesan menawarkan titik henti pada perkembangan manusia. Seakan bentuk pergerakan manusia telah mencapai titik radikalnya. Sayangnya, prediksi tergesa-gesa ini akan bertemu kekecewaan. Menurut Bauman, pergerakan ini justru semakin radikal karena telah mencapai level yang lebih dalam. Akar dinamika ini telah mencapai titik kedalamannya dalam diri manusia itu sendiri.

Kedalaman makna ini melewati batasan pergerakan fisik dan nonfisik. Ia melampaui pergerakan fisik manusia dari satu tempat ke tempat lain. Ia tak tercakup oleh definisi konsep kelana nonfisik di dunia maya. Semua pergerakan ini hanya meliputi lapisan luar manusia. Kini, akar pergerakan manusia telah bersentuhan dengan hasrat manusia itu sendiri.

Hasrat

Dunia pascamodern, tegas Bauman, telah meninggalkan misi dunia modern. Dunia modern hendak mencipta manusia dengan karakter dasar sebagai produsen. Asa ini dikejar dengan menggenjot industrialisasi dan perang. Dua kanal ini menampung hiliran manusia-manusia pekerja. Secara umum, karakterisasi ini menghadirkan individu-individu bermental produsen. Dunia modern memang menghadapi dan mengalami baik industrialisasi maupun perang secara bersamaan dan seringkali saling menyalip satu sama lain.

Kini, dunia pascamodern seakan hendak melukis gambaran manusia dengan garis-garis berkarakter sebagai konsumen. Gambaran ini bukan berarti menghapus detail-detail praktik produksi dan perang dalam perjalanan manusia pascamodern. Sebaliknya, gambaran manusia modern di atas tidak terlepas dari praktik-praktik konsumsi. Baik manusia modern maupun pascamodern memang memproduksi dan mengonsumsi. Garis pembeda dua gambaran manusia di atas justru merujuk pada prioritas dan penekanannya.

Manusia modern menempatkan produksi sebagai prioritas aktivitasnya. Sedangkan, manusia pascamodern cenderung terstruktur sebagai konsumen dari seluruh produk yang hadir di hadapannya. Bermental konsumen, manusia pascamodern tidak takut akan ancaman ceruk pemaknaan manusia, yaitu reduksi manusia ke dalam kerja. Ia pun tidak gentar dengan gertakan batasan manusia berharga sejauh berproduksi. Bagi manusia pascamodern, ancaman ini mewakili ketakutan masa modern. Ketakutan ini nampak dalam kritik Karl Marx (1818-1883) terhadap bangunan dunia modern. Ekses manusia pascamodern justru mengaburkan jeda di antara “manusia mengonsumsi untuk hidup” atau “manusia hidup untuk mengonsumsi”.

Manusia modern tidak bermasalah dengan konsumsi karena mereka melekatkan praktiknya dengan konsep kebutuhan. Konsumsi berhenti ketika kebutuhan telah terpuaskan. Konsumsi kembali berproses karena individu bertemu kebutuhan baru. Dalam dunia pascamodern, akar konsumsi terstruktur dalam hasrat manusia. Di sini, proses konsumsi tidak berhenti ketika kebutuhan terpenuhi.

Ia terperosok dalam proses konsumsi yang tak berujung. Alasannya, proses ini melekat pada kedalaman hasrat manusia pascamodern itu sendiri. Kebutuhan berhenti setelah mencapai pemenuhannya. Sebaliknya, hasrat tidak pernah mencapai pemenuhannya. Tujuan proses pascamodern ini bukanlah pemenuhan hasrat, namun “mengikuti” hasrat. Karena melampaui kategori pemenuhan, hasrat hanya bisa “diikuti”.

Problemnya, hasrat tidaklah berbatas. Karena itu, batasan dan pemenuhan tidak pernah menjadi muara bagi semua aktivitas mengikuti hasrat. Apalagi, hasrat terbuka pada manipulasi. Palung inilah yang menjadi sasaran gerak produksi dan konsumsi masa pascamodern. Mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan. Mereka memanipulasi hasrat.

Sekarang

Konsekuensinya, tuntutan “segera” dan “cepat” mewarnai proses konsumsi manusia pascamodern.  Segalanya berubah dan bergerak cepat. Komitmen jangka panjang menyentuh level kelangkaan. Penekanan pada durasi kegiatan menjadi penting. Bahkan, manusia pascamodern cenderung lebih mementingkan durasi dan batas waktu daripada komitmen dan loyalitas.

Konsekuensi lainnya, konsep linieritas dalam waktu hilang ketika manusia mengikuti hasrat. Mengikuti hasrat hanya taat pada konsep “sekarang”. Kesegeraan menjadi penting. Hasrat demi hasrat kemudian ditelusuri tanpa jeda waktu lagi. Akhirnya, “hasrat mengonsumsi hasrat”, “hasrat menghasrati hasrat”, “keinginan menginginkan keinginan”.

Manusia yang terjebak dalam belenggu hasrat ini akan senantiasa haus. Ia akan cenderung mengejar hasrat bukan kebutuhan. Ia akan menuntut hilangnya proses menunggu dalam berhasrat. Ia pun cenderung berpindah dari hasrat yang satu ke hasrat yang lain tanpa pola menetap. Ia gampang kehilangan kepedulian, perhatian dan fokus. Baginya, konsep belajar dan menghidupi hidup menjadi tidak menarik karena memakan waktu lama. Ia tidak memilah proses dan hasil. Baginya, proses dan hasil harus menyatu dalam kenikmatan dan penikmatan.

Epilog

Siapakah manusia? Manusia mendefinisi era atau periode mendiktenya? Dalam kebimbangan, manusia seharusnya setia pada posisinya sebagai subjek!(*)

MANADOPOST.ID–“Dewasa ini, kita senantiasa bergerak,” demikian penegasan Zygmunt Bauman (1925-2017). Ia adalah seorang ahli sosiologi, yang lahir di Polandia dan kemudian berkebangsaan Inggris. Baginya, penciri manusia pascamodern mengacu pada pergerakan tanpa henti. Sejak masa modern menghadirkan teknologi dan merekayasa wajah transportasi dunia, kehidupan dan cara pandang manusia tentang ruang dan waktu telah berubah drastis.

Transportasi

Kehadiran teknologi telah menginterupsi jangkauan transportasi, merekonstruksi cara bertransportasi, dan mereduksi waktu bertransportasi. Tentang jangkauan transportasi, dunia bukan lagi batas bagi manusia. Di abad ke-19, ekspedisi ke bulan hanya berwujud khayalan dalam bentuk fiksi ilmiah. Novel Jules Verne, From the Earth to the Moon, menjadi rujukan. Kini, ekspedisi ini bukan mimpi lagi. Bahkan, setelah bulan, manusia telah mulai mengarahkan misinya ke planet lain.

Revolusi cara bertransportasi dipercepat oleh penemuan transportasi udara. Perjalanan antarpulau, antarnegara, dan antarbenua melalui darat dan laut, bukan lagi keharusan. Mereka kini puas dengan menyandang status alternatif. Belum lagi jika kita menghubungkan cara bertransportasi dengan tingkat kenyamanannya.

Kini, transportasi bukan lagi sekedar instrumen untuk mencapai tujuan. Tanpa mengesampingkan peran tersebut, transportasi dewasa ini telah membuat sintesis harmonis antara prasarana, jaminan keselamatan dan kemewahan. Sekarang, ketiganya bukan lagi alternatif pilihan, tapi satu paket keniscayaan.

Revolusi dunia transportasi pada gilirannya mereduksi waktu bertransportasi. Di masa pramodern dan modern, durasi bertransportasi nyaman dengan term-term minggu, bulan dan tahun. Sekarang, satu hari dialami sebagai durasi yang panjang untuk menjelaskan perjalanan antarnegara. Jam, menit, dan detik kini menjadi term-term familier untuk melafalkan durasi transportasi.

Pengelana

Gambaran di atas menegaskan bahwa manusia senantiasa bergerak. Namun, masa pascamodern telah mendefinisi kembali konsep “bergerak” ini. Karakter dasar pergerakan dan perpindahan di atas masih bersifat fisik. Sedangkan, di masa pascamodern, orang bisa saja duduk statis, namun, pada saat yang sama, ia sedang membelah dunia dengan internet. Tanpa beranjak dari posisi statis ini, manusia bisa berkomunikasi dengan manusia lain melampaui batas ruang. Karena itu, jarak pembelah kelokalan manusia menjadi tidak relevan.

Para ahli menyebut masa pascamodern ini dengan berbagai nama. Anthony Giddens (1938-…), seorang sosiolog berkebangsaan Inggris menyebutnya “masa modern akhir”. Sedangkan, Ulrich Beck (1944-2015), seorang sosiolog berkebangsaan Jerman, menamainya “masa modern kedua”. Namun, mereka merujuk pada karakteristik yang sama.

Titisan dunia teknologi informasi dan komunikasi dalam perkembangan dunia maya dan komputerisasi meradikalisasi wajah dunia pascamodern. Mereka telah mendefinisi ulang konsep gerak dan transportasi. Kini, pergerakan manusia cenderung melampaui kungkungan sangkar fisik. Manusia pascamodern menikmati “ruang tanpa batas” dalam internet. Setelah batas-batas fisik pergerakan manusia terangkat, manusia kini bak dikutuk untuk senantiasa bergerak.

Tahap ini terkesan menawarkan titik henti pada perkembangan manusia. Seakan bentuk pergerakan manusia telah mencapai titik radikalnya. Sayangnya, prediksi tergesa-gesa ini akan bertemu kekecewaan. Menurut Bauman, pergerakan ini justru semakin radikal karena telah mencapai level yang lebih dalam. Akar dinamika ini telah mencapai titik kedalamannya dalam diri manusia itu sendiri.

Kedalaman makna ini melewati batasan pergerakan fisik dan nonfisik. Ia melampaui pergerakan fisik manusia dari satu tempat ke tempat lain. Ia tak tercakup oleh definisi konsep kelana nonfisik di dunia maya. Semua pergerakan ini hanya meliputi lapisan luar manusia. Kini, akar pergerakan manusia telah bersentuhan dengan hasrat manusia itu sendiri.

Hasrat

Dunia pascamodern, tegas Bauman, telah meninggalkan misi dunia modern. Dunia modern hendak mencipta manusia dengan karakter dasar sebagai produsen. Asa ini dikejar dengan menggenjot industrialisasi dan perang. Dua kanal ini menampung hiliran manusia-manusia pekerja. Secara umum, karakterisasi ini menghadirkan individu-individu bermental produsen. Dunia modern memang menghadapi dan mengalami baik industrialisasi maupun perang secara bersamaan dan seringkali saling menyalip satu sama lain.

Kini, dunia pascamodern seakan hendak melukis gambaran manusia dengan garis-garis berkarakter sebagai konsumen. Gambaran ini bukan berarti menghapus detail-detail praktik produksi dan perang dalam perjalanan manusia pascamodern. Sebaliknya, gambaran manusia modern di atas tidak terlepas dari praktik-praktik konsumsi. Baik manusia modern maupun pascamodern memang memproduksi dan mengonsumsi. Garis pembeda dua gambaran manusia di atas justru merujuk pada prioritas dan penekanannya.

Manusia modern menempatkan produksi sebagai prioritas aktivitasnya. Sedangkan, manusia pascamodern cenderung terstruktur sebagai konsumen dari seluruh produk yang hadir di hadapannya. Bermental konsumen, manusia pascamodern tidak takut akan ancaman ceruk pemaknaan manusia, yaitu reduksi manusia ke dalam kerja. Ia pun tidak gentar dengan gertakan batasan manusia berharga sejauh berproduksi. Bagi manusia pascamodern, ancaman ini mewakili ketakutan masa modern. Ketakutan ini nampak dalam kritik Karl Marx (1818-1883) terhadap bangunan dunia modern. Ekses manusia pascamodern justru mengaburkan jeda di antara “manusia mengonsumsi untuk hidup” atau “manusia hidup untuk mengonsumsi”.

Manusia modern tidak bermasalah dengan konsumsi karena mereka melekatkan praktiknya dengan konsep kebutuhan. Konsumsi berhenti ketika kebutuhan telah terpuaskan. Konsumsi kembali berproses karena individu bertemu kebutuhan baru. Dalam dunia pascamodern, akar konsumsi terstruktur dalam hasrat manusia. Di sini, proses konsumsi tidak berhenti ketika kebutuhan terpenuhi.

Ia terperosok dalam proses konsumsi yang tak berujung. Alasannya, proses ini melekat pada kedalaman hasrat manusia pascamodern itu sendiri. Kebutuhan berhenti setelah mencapai pemenuhannya. Sebaliknya, hasrat tidak pernah mencapai pemenuhannya. Tujuan proses pascamodern ini bukanlah pemenuhan hasrat, namun “mengikuti” hasrat. Karena melampaui kategori pemenuhan, hasrat hanya bisa “diikuti”.

Problemnya, hasrat tidaklah berbatas. Karena itu, batasan dan pemenuhan tidak pernah menjadi muara bagi semua aktivitas mengikuti hasrat. Apalagi, hasrat terbuka pada manipulasi. Palung inilah yang menjadi sasaran gerak produksi dan konsumsi masa pascamodern. Mereka tidak hanya memenuhi kebutuhan. Mereka memanipulasi hasrat.

Sekarang

Konsekuensinya, tuntutan “segera” dan “cepat” mewarnai proses konsumsi manusia pascamodern.  Segalanya berubah dan bergerak cepat. Komitmen jangka panjang menyentuh level kelangkaan. Penekanan pada durasi kegiatan menjadi penting. Bahkan, manusia pascamodern cenderung lebih mementingkan durasi dan batas waktu daripada komitmen dan loyalitas.

Konsekuensi lainnya, konsep linieritas dalam waktu hilang ketika manusia mengikuti hasrat. Mengikuti hasrat hanya taat pada konsep “sekarang”. Kesegeraan menjadi penting. Hasrat demi hasrat kemudian ditelusuri tanpa jeda waktu lagi. Akhirnya, “hasrat mengonsumsi hasrat”, “hasrat menghasrati hasrat”, “keinginan menginginkan keinginan”.

Manusia yang terjebak dalam belenggu hasrat ini akan senantiasa haus. Ia akan cenderung mengejar hasrat bukan kebutuhan. Ia akan menuntut hilangnya proses menunggu dalam berhasrat. Ia pun cenderung berpindah dari hasrat yang satu ke hasrat yang lain tanpa pola menetap. Ia gampang kehilangan kepedulian, perhatian dan fokus. Baginya, konsep belajar dan menghidupi hidup menjadi tidak menarik karena memakan waktu lama. Ia tidak memilah proses dan hasil. Baginya, proses dan hasil harus menyatu dalam kenikmatan dan penikmatan.

Epilog

Siapakah manusia? Manusia mendefinisi era atau periode mendiktenya? Dalam kebimbangan, manusia seharusnya setia pada posisinya sebagai subjek!(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/