28 C
Manado
Sabtu, 5 Desember 2020

Olly-Steven dan Masa Depan Cengkih Sulawesi Utara

Oleh: Marhany V.P. Pua

POLEMIK masalah Cengkih pasca debat kedua PILKADA Gubernur dan Wakil Gubernur Sulut, 11 November 2020 yang lalu, terus ramai di jagad media sosial. Sebagai pemerhati masalah Cengkih, saya terpanggil untuk turut berpendapat soal Cengkih ini.

Saya jadi ingat, di Tahun 2005 yang lalu, saya bersama para petani Cengkih Minahasa, sempat turun demo di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta, untuk protes dan meminta Pemerintahan SBY kala itu mencarikan solusi masalah Cengkih di Minahasa.

Cengkih, memang punya daya tarik sendiri, sebagai komoditi istimewa yang TUHAN karuniakan, yang pada dekade Tahun 1970-an menjadi “sumber kebahagiaan” bagi rakyat Minahasa. Namun romantika Cengkih mengalami pasang surut seiiring perkembangannya kini. Mencermati debat publik yang disiarkan TVRI, saat masalah Cengkih diangkat, saya berpendapat bahwa sebagai Pemimpin Sulawesi Utara, dan sebagai Calon Gubernur, Pak Olly Dondokambey tampil dengan jujur dan berani menyampaikan data yang benar dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian bahwa produksi Cengkih Sulawesi Utara saat ini ada di angka 5.554 ton, atau di rangking ke 8, setelah  Sulawesi Selatan ( 20.363 ton ), Maluku ( 20.008 ton ), Jawa Timur ( 11.461 ), dstnya.

Kondisi ini menyebabkan kita tidak punya posisi tawar (bargaining position) yang kuat dalam pusaran penentuan harga Cengkih, baik dipasar nasional maupun internasional. Untuk itu, perlu dicari solusi bersama dalam mengatasi kondisi per-Cengkihan di Sulawesi Utara.

Dalam kesempatan tersebut, Pak Olly menjelaskan bahwa penurunan drastis produksi Cengkih Sulawesi Utara bukan tanpa sebab, tapi sejarah mencatat bahwa ada masa dimana petani Cengkih berada dalam situasi yang dilematis, terutama karena hadirnya lembaga monopoli Cengkih yang namanaya BPPC.

Menurut tulisan Petrik  Matanasi (tirto.id, 21 Februari 2019),  bahwa turunnya produksi Cengkih Sulawesi Utara disebabkan oleh adanya kartel yang bernama BPPC (Badan Penyanggah Perdagangan Cengkih) yang pendiriannya melalui Keputusan Presiden Suharto di tahun 1990. Lembaga ini dipimpin langsung oleh Tommy Suharto. BPPC menjadi pengontrol satu-satunya di industri Cengkih. Semua Cengkih dari petani wajib dijual ke Koperasi Unit Desa, untuk nantinya dibeli oleh BPPC.

Di tengah monopoli itu, BPPC pun bebas memainkan harga. Mereka membeli Cengkih dari petani dengan harga semurah-murahnya, dan menjual ke pabrik rokok dengan harga semahal-mahalnya. Sebelum ada BPPC, harga terendah Cengkih masa itu adalah Rp. 20.000 per kilogram. Setelah ada BPPC, harga Cengkih turun drastis hingga Rp. 2 ribu per kilogram. Seketika itu, menurut Petrik Matanasi, Cengkih yang tadinya emas, menjadi onggokan rempah tak berharga.

Para petani Cengkih marah, namun tak berdaya. Karena kemurkaan sekaligus ketidakberdayaan itu, petani Cengkih memilih untuk menebang atau membakar pohon Cengkih kala itu. Tak heran para petani Cengkih menjuluki BPPC sebagai, “VOC gaya baru”. Para petani dan pemerhati Cengkih pasti mengetahui  siapa saja orang-orang Sulut yang ada dibelakang BPPC kala itu.

Karenanya dalam debat publik tersebut, Pak Olly mau mengedepankan tentang sebuah fakta sambil mendorong dan menganjurkan agar petani Cengkih Sulawesi Utara menyadari kondisi ini. Karenanya sambil mencari solusi untuk menaikan harga Cengkih, para petani juga diingatkan harus berupaya untuk mencari alternatif lain.

Saya yakin keberpihakan Pak Gubernur Olly Dondokambey kepada petani sangat kuat, karena beliau juga seorang petani. Bila TUHAN  berkenan dan mendapat dukungan rakyat Sulawesi Utara untuk kembali terpilih memimpin Sulawesi Utara, saya yakin  pasangan Olly

Steven telah siap dengan beragam program sebagai solusi mengatasi masalah Cengkih. Beberapa diantaranya yakni  mendorong potensi pasar agar pabrik rokok mulai membeli Cengkih petani, berupaya untuk ikut mengawasi mekanisme pasar,  program agroindustri untuk Cengkih agar terjadi nilai tambah yang signifikan terhadap komoditi Cengkih, komunikasi intensif dengan Forum  Petani Cengkih Sulawesi Utara.

Serta berbagai upaya untuk  menaikan  harga Cengkih agar para petani Cengkih Sulawesi Utara  dapat  kembali  bergairah, serta meningkat pendapatannya menuju kesejahteraan. Karenanya, kepada para petani Cengkih dan keluarga, kiranya tetap semangat, dan percayalah Pak Olly Steven ada bersama petani untuk terus mencari solusi dalam rangka menaikan harga Cengkih serta melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kesejehteraan petani.(*)

-

Artikel Terbaru

Para Pelaku Pariwisata Berharap Pada Vaksin

MANADOPOST.ID- Kehadiran vaksin menjadi penting ketika angka positif COVID-19 menunjukkan penambahan kasus setiap hari. Angka-angka kasus positif yang terus bertambah ini tidak hanya terjadi di Indonesia

50 Persen ASN Mitra WFH

MANADOPOST.ID—Mulai pekan depan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Minahasa Tenggara (Mitra), akan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH). Hal ini dikatakan Sekretaris Kabupaten (Sekkab) David Lalandos, Jumat (4/12).

Oknum Hukumtua Segera Ditahan Kejaksaan

MANADOPOST.ID—Oknum Hukum tua (Kumtua) Desa Malenos Baru, berinisial ST alias Sjeny dalam waktu dekat dipastikan ditahan dalam kasus dugaan penyalahgunaan Dana desa (Dandes).

Bertarung Nyawa, 40 Menit GSVL Dihantam Gelombang

MANADOPOST.ID-Cuaca buruk yang disertai dengan angin kencang dan gelombang tinggi selang 2 hari berturut-turut di kota Manado

DPR RI: Tarif Tol Manado-Bitung Mahal

MANADOPOST.ID—Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) melaksanakan agenda rutin tahunan dengan mengunjungi Sulawesi Utara (Sulut), Jumat (4/12).