28 C
Manado
Minggu, 16 Mei 2021
spot_img

Pembelajaran Daring di Masa Pandemi Covid-19

Oleh: Fabyana Imelda Tamboto, S.S., M.Pd

Dosen Program Studi PGSD, Universitas Katolik De La Salle Manado

PANDEMI covid-19 yang melahirkan tuntutan untuk melakukan social distancing, maka pemerintah melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Surat Edaran Nomor 36962/MPK.A/HK/2020  yang memutuskan agar seluruh kegiatan belajar mengajar di semua level pendidikan  harus  dilaksanakan dengan menggunakan metode daring (dalam jaringan) atau online untuk mencegah perkembangan dan penyebaran coronavirus disease (Covid-19).

Selanjutnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga menerbitkan Surat Edaran Pemerintah No. 15 tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19) ditegaskan bahwa belajar dari rumah dilaksanakan dengan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang dibagi ke dalam 2 (dua) pendekatan, yaitu:  pembelajaran jarak jauh dalam jaringan (daring) dan pembelajaran jarak jauh luar jaringan (luring). Berdasarkan Permenristikdikti No. 1 tahun 2017 pembelajaran jarak jauh bersifat terbuka, merupakan salah satu metode belajar mandiri, belajar bisa terjadi di mana saja dan kapan saja, dan belajar dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.

Pendekatan pembelajaran daring terdiri dari 2 jenis, yaitu: synchronounus learning  dan asynchronous learning. Synchronous learning adalah pembelajaran tatap muka secara langsung sesuai dengan jadwal yang dilakukan secara online dengan menggunakan beberapa aplikasi, seperti google meet, whats app, zoom meeting sehingga guru bisa berinteraksi dengan para siswa. Asynchronous learning adalah pembelajaran secara daring dimana guru tidak melaksanakan tatap muka dan interaksi langsung dengan para siswa. Pada asynchronous learning guru hanya memberikan tugas kepada siswa dengan menggunakan aplikasi online dan siswa secara mandiri menyelesaikan tugas tersebut kemudian mengumpulkannya pada aplikasi online yang telah ditentukan oleh guru. Interaksi akan terjadi jika guru memberikan respon atau komentar terhadap tugas yang telah diserahkan.

Masalah terbesar yang dihadapi oleh para guru di tingkat pendidikan dasar adalah bagaimana menciptakan pembelajaran daring yang berkualitas agar para siswa mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan hidup? Berdasarkan pengalaman sejak bulan Maret 2020 ketika pemerintah memutuskan bahwa pembelajaran selama pademi covid-19 tidak dilaksanakan dalam ruangan kelas, maka infrastruktur sekolah, kompetensi guru, dan kemampuan keuangan orang tua menjadi penyebab munculnya masalah tersebut.

Uraian berikut ini membahas tentang kompetensi guru dalam merancang strategi pembelajaran daring yang bermutu dengan satu prinsip dasar bahwa pendidikan adalah suatu proses untuk mengajarkan cara belajar (learning how to learn) kepada para siswa dan bukan belajar tentang sesuatu (learning what to learn). Pembelajaran daring memungkinkan siswa mengembangkan kemampuan belajarnya dengan melakukan eksplorasi pengetahuan dan eksperimen terhadap pengetahuan yang diperoleh melalui internet dan guru akan berperan sebagai fasilitator untuk memastikan siswa menggunakan sumber belajar yang berkualitas dan kredibel.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berdasarkan Surat Edaran No. 15 tahun 2020 telah menyiapkan beberapa portal dan aplikasi pembelajaran daring, antara lain: a) Rumah Belajar oleh Pusdatin Kemendikbud https://belajar.kemdikbud.go.id/, b) TV edukasi Kemendikbud https://tve.kemdikbud.go.id/live/, c) Pembelajaran Digital oleh Pusdatin dan SEAMOLEC. Kemendikbud http://rumahbelajar.id/, d) Guru berbagi http://guruberbagi.kemdikbud.go.id/, dst.

Dalam pembelajaran daring guru harus memperhatikan hal berikut ini: melakukan adaptasi kurikulum untuk mengembangkan bahan ajar dan media pembelajaran sesuai dengan konteks pandemi covid-19, memastikan bahwa semua siswa dapat belajar secara bermakna, dan melakukan pendekatan kepada orang tua agar terlibat dalam setiap proses pembelajaran. Dalam usaha mendesain pembelajaran daring yang berkualitas guru harus melakukan beberapa hal penting pada setiap tahap proses pembelajaran. Pertama, tahap perencanaan.

Pada tahap ini yang harus dilakukan oleh guru adalah menyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan kondisi pandemic covid-19. Guru harus menyesuaikan materi pelajaran dengan kebutuhan dan kemampuan para siswa, pada pembelajaran daring guru tidak bisa beraggapan bahwa semua materi dalam buku paket belajar guru dan siswa harus dipelajari. Memilih media dan sarana pembelajaran berbasis teknologi yang tepat dengan asumsi bahwa guru harus memiliki ketrampilan dalam menggunakan teknologi sesuai dengan kebutuhan saat ini. Mempertimbangkan regulasi dan kebijakan tentang pelaksanaan pembelajaran daring. Mampu merancang bentuk evaluasi yang akan digunakan pada akhir pembelajaran.

Kedua, tahap pelaksanaan. Guru harus mengembangkan kemampuan untuk menggunakan e-learning dan media online; pada saat pembelajaran dilaksanakan guru harus disiplin dalam menggunakan waktu; guru harus menguasai materi pelajaran dengan baik dan mampu membuat presentasi dalam bentuk video pembelajaran dan atau animasi untuk menarik minat belajar siswa; mengusahakan tercapainya  pembelajaran yang telah ditetapkan; memberikan tugas yang mampu mendorong siswa untuk menemukan pengetahuan dan memiliki kecakapan hidup.

Tugas sebaiknya berbentuk pemecahan masalah (problem solving) dan siswa diarahkan untuk mencari landasan teori yang dapat membantu mereka untuk menemukan solusi dari masalah yang diberikan dan mempresentasikan dalam bentuk video yang dishare ke media sosial. Penilaian dilakukan berdasar pada banyaknya jumlah viewer, like dan komentar. Pada pembelajaran daring guru harus bisa memberikan feedback atau tanggapan terhadap hasil kerja para siswa. Keberhasilan pelaksanaan pembelajaran daring ditentukan juga oleh keterlibatan orang tua siswa, guru harus menjalain komunikasi yang baik dengan orang tua untuk memberikan informasi tentang materi pelajaran dan cara menyelesailan tugas.

Tahap ketiga adalah evaluasi. Evaluasi membantu guru untuk melihat keberhasilan dari proses pembelajaran yang dilaksanakan.  Dalam rangka menjamin mutu pembelajaran, guru harus melakukan evaluasi pada: tujuan pembelajaran yang dirumuskan dalam RPP, kesesuaian materi belajar dengan kebutuhan siswa, metode dan media pembelajaran yang digunakan, kemampuan guru untuk mengadakan interaksi virtual dengan para siswa, kemampuan siswa untuk memberikan respon terhadap guru, kemampuan siswa memahami tugas problem solving yang diberikan, evaluasi dan saran orang tua siswa terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan, kemampuan siswa untuk menyelesaikan dan memasukkan tugas yang diberikan. Model evaluasi yang dilaksanakan sudah dirumuskan terlebih dahulu dalam RPP pada tahap perencanaan.

Tugas utama dari seorang guru ialah berusaha untuk melaksanakan pembelajaran yang berkualitas agar siswa bisa mendapatkan pengetahuan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Pembelajaran yang berkualitas harus dilaksanakan sesuai dengan standar mutu untuk memberikan jaminan kepada para siswa, orang tua, dan masyarakat bahwa pembelajaran tersebut memberikan hasil terbaik. Baik pembelajaran luring maupun pembelajaran daring, keduanya diselenggarakan sesuai dengan standar mutu yang sama tanpa ada dispensasi.

Pembelajaran daring sebenarnya bukan merupakan model pembelajaran jarak jauh yang baru. Hanya saja model ini kemudian menjadi kebutuhan utama dari pendidikan di masa pandemi covid-19. Model pembelajaran daring telah mendorong pemerintah dan institusi pendidikan, baik negeri maupun swasta, melakukan berbagai inovasi. Semoga tulisan ini bisa menambah wawasan para pembaca tentang eksistensi dari pembelajaran daring yang kualitasnya sering dibandingkan dengan pembelajaran luring.

 

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru