23.4 C
Manado
Thursday, 8 December 2022

PENCERAHAN TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH KOTA (BISA BELAJAR DARI TEMPAT/NEGARA LAIN)

Oleh: Prof. Dr. Treesje K. Londa, MSi

Pemerhati dan Peneliti Bidang Lingkungan Hidup, Guru Besar Bidang Pengetahuan Lingkungan Hidup; Staf Pengajar di Jurusan Fisika FMIPAK UNIMA

MASALAH sampah tak akan pernah berahir selama kehidupan masih berlangsung. Mulai dari lokasi sumber sampah sampai ke TPA atau Tempat Pemrosesan Akhir sampah. Masalah yang sering kita saksikan adalah ceceran dan tumpukan sampah yang masih antri untuk diangkut ke TPA, dimana TPA juga bermasalah dalam pengelolaan sampah yang kian menumpuk dan belum bisa menerapkan pengolahan yang yang baik dan sehat buat lingkungan setempat dan sekitarnya.

Jumlah penduduk yang kian meningkat menambah volume sampah kota yang harus diolah. Jika volume sampah per orang/hari sekitar 0.3 spi 0,4 kg atau 2-3 liter per orang/hari, maka untuk jumlah penduduk sekitar 500 ribu bisa menghasilkan sampai 200 ton sampah/hari khusus sampah rumah tangga (belum termasuk sampah spesifik lainnya). Jika kita hitung-hitungan, dari hasil penelitian sampah organik rumah tangga (sampah kotor dan sampah halaman) dapat mencapai sekitar 70%. Sisanya sekitar 30% adalah sampah anorganik.

Baca Juga:  Dinas PUPR Kota Manado Mengucapkan Selamat HUT ke 399 Kota Manado
1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Arahan peraturan tentang pengelolaan sampah harusnya dilakukan pemisahan di rumah masing-masing. Kalau kita mau belajar dari negara yang telah berhasil mengelola sampah rumah tangga, yang mampu memisahkan sampah rumah tangga dalam 3 konteiner : sampah dapur/kotor, sampah halaman dan sampah kering (bisa didaur ulang: plastik, kardus, kertas, botol, besi, dll), dapat dipastikan volume sampah yang ke TPA akan berkurang drastis. Dan proses ini sangat dipengaruhi oleh pendampingan dan arahan pemerintah setempat disertai penegakan peraturan yang telah ada. Pengangkutan sampah juga harus teratur, yakni mengangkut hanya sampah sejenis saja dalam satu waktu yang telah disepakati sebelumnya. Tidak boleh dicampur dengan sampah berbeda.

Perkembangan teknologi semakin canggih dari waktu ke waktu. Jika Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) seperti arahan peraturan pengelolaan sampah dapat diterapkan dengan benar, maka pengelolaan sampah kota akan menjadi sangat efektif. Sudah saatnya kota mencoba (mungkin untuk tahap awal di jalan utama/besar) menggunakan truk pengangkut sampah secara otomatis tanpa bantuan pekerja/buruh sampah. Di pastikan tidak ada ceceran sampah lagi.

Baca Juga:  "Efektifkah Pelaksanaan PSBB di Indonesia?"

Tekad untuk peningkatan kebersihan kota memang sangat terlihat ahir-ahir ini, sesuai peraturan perundangan yang  menyatakan bahwa pemerintah menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dengan cara antara lain menumbuhkembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat, serta memfasilitasi dan melaksanakan upaya pengurangan/penanganan/pemanfaatan sampah. Dan masyarakat juga punya kewajiban mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan.

Masalah sampah bisa diselesaikan, banyak contoh bisa kita saksikan sendiri dari berbagai tempat dan negara, dan bisa mengadopsinya terutama yang berkaitan dengan upaya pemisahan dan pengangkutan sampah ke TPS, TPST dan TPA. Arahan, pendampingan dan komitmen pemerintah kota sangat dibutuhkan untuk membangkitkan semangat dan kesadaran warga kota. (*)

 

Oleh: Prof. Dr. Treesje K. Londa, MSi

Pemerhati dan Peneliti Bidang Lingkungan Hidup, Guru Besar Bidang Pengetahuan Lingkungan Hidup; Staf Pengajar di Jurusan Fisika FMIPAK UNIMA

MASALAH sampah tak akan pernah berahir selama kehidupan masih berlangsung. Mulai dari lokasi sumber sampah sampai ke TPA atau Tempat Pemrosesan Akhir sampah. Masalah yang sering kita saksikan adalah ceceran dan tumpukan sampah yang masih antri untuk diangkut ke TPA, dimana TPA juga bermasalah dalam pengelolaan sampah yang kian menumpuk dan belum bisa menerapkan pengolahan yang yang baik dan sehat buat lingkungan setempat dan sekitarnya.

Jumlah penduduk yang kian meningkat menambah volume sampah kota yang harus diolah. Jika volume sampah per orang/hari sekitar 0.3 spi 0,4 kg atau 2-3 liter per orang/hari, maka untuk jumlah penduduk sekitar 500 ribu bisa menghasilkan sampai 200 ton sampah/hari khusus sampah rumah tangga (belum termasuk sampah spesifik lainnya). Jika kita hitung-hitungan, dari hasil penelitian sampah organik rumah tangga (sampah kotor dan sampah halaman) dapat mencapai sekitar 70%. Sisanya sekitar 30% adalah sampah anorganik.

Baca Juga:  Pembangunan Zona Intergitas sebagai bentuk Implementasi Reformasi Birokrasi

Arahan peraturan tentang pengelolaan sampah harusnya dilakukan pemisahan di rumah masing-masing. Kalau kita mau belajar dari negara yang telah berhasil mengelola sampah rumah tangga, yang mampu memisahkan sampah rumah tangga dalam 3 konteiner : sampah dapur/kotor, sampah halaman dan sampah kering (bisa didaur ulang: plastik, kardus, kertas, botol, besi, dll), dapat dipastikan volume sampah yang ke TPA akan berkurang drastis. Dan proses ini sangat dipengaruhi oleh pendampingan dan arahan pemerintah setempat disertai penegakan peraturan yang telah ada. Pengangkutan sampah juga harus teratur, yakni mengangkut hanya sampah sejenis saja dalam satu waktu yang telah disepakati sebelumnya. Tidak boleh dicampur dengan sampah berbeda.

Perkembangan teknologi semakin canggih dari waktu ke waktu. Jika Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) seperti arahan peraturan pengelolaan sampah dapat diterapkan dengan benar, maka pengelolaan sampah kota akan menjadi sangat efektif. Sudah saatnya kota mencoba (mungkin untuk tahap awal di jalan utama/besar) menggunakan truk pengangkut sampah secara otomatis tanpa bantuan pekerja/buruh sampah. Di pastikan tidak ada ceceran sampah lagi.

Baca Juga:  'Festival Bumi Kilu' BWSS I--Pemkot Manado Kampanyekan Upaya Menjaga Kelestarian Sumber Daya Air

Tekad untuk peningkatan kebersihan kota memang sangat terlihat ahir-ahir ini, sesuai peraturan perundangan yang  menyatakan bahwa pemerintah menjamin terselenggaranya pengelolaan sampah yang baik dengan cara antara lain menumbuhkembangkan dan meningkatkan kesadaran masyarakat, serta memfasilitasi dan melaksanakan upaya pengurangan/penanganan/pemanfaatan sampah. Dan masyarakat juga punya kewajiban mengurangi dan menangani sampah dengan cara yang berwawasan lingkungan.

Masalah sampah bisa diselesaikan, banyak contoh bisa kita saksikan sendiri dari berbagai tempat dan negara, dan bisa mengadopsinya terutama yang berkaitan dengan upaya pemisahan dan pengangkutan sampah ke TPS, TPST dan TPA. Arahan, pendampingan dan komitmen pemerintah kota sangat dibutuhkan untuk membangkitkan semangat dan kesadaran warga kota. (*)

 

Most Read

Artikel Terbaru

/