24.4 C
Manado
Senin, 15 Agustus 2022

Antara Prediksi dan Fenomena?

“ASIA TIGAPULUH TAHUN MENDATANG”

Oleh: Richard A.D. Siwu

MEMASUKI tahun 2020, tahun keduapuluh abad ke-21 awal milenium ketiga, dunia digoncang oleh pandemi covid-19 yang mengancam fisik manusia dan juga berdampak pada peri kehidupan manusia, baik sosial, ekonomi, politik, maupun agama. Budaya tradisional yang senang ngumpul kapan saja dan dimana pun untuk keakraban, sudah tidak bisa lagi seenaknya dilakukan.

Kini keakraban sosial harus mengikuti “protokol” resmi pemerintah sebagai petunjuk “tatakrama hidup” (New Normal life) untuk menghindar dari pendemi covid-19, virus corona. Kata lain, keakraban hidup sosial tidak bisa seenaknya lagi diekspresikan dengan “cipika-cipiku”, karena harus berjarak, bermasker, dst. Kalau tempo doeloe ada pribahasa “Jauh dimata, dekat dihati”, kini kedekatan itu diwujudkan lewat cellular phonehandphone. “Kenangan” dan “keakraban” tak lagi harus diungkapkan dengan bertemu dan berkumpul secara fisik, tapi lewat media elektronik.

Lebih dari itu, pandemi virus corona pun ternyata berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi dan politik, sebagaimana pendapat para peneliti dan pemerhati yang kita ikuti di berbagai media massa televisi atau media sosial. Dari berbagai opini, kita bisa memperoleh  kesan bahwa fenomena global dampak pandemi virus corona akan membangkitkan persaingan baru di antara bangsa-bangsa dalam generasi kedepan. Ada negara-negara yang sekarang mampu membangun dan menyejahterakan rakyatnya, tapi mungkin juga pada generasi berikutnya menurun.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Terkait fenomena yang baru disebut diatas, saya terdorong untuk mencermati opini para pakar dan pengamat tertentu di media massa mengenai dampak dari pandemi covid-19 pada kehidupan masyarakat dunia. Berbagai opini itu sungguh menggugah keingintahuan: bagaimana kira-kira kehidupan sosial, ekonomi, bahkan politik selanjutnya dari negara-negara di dunia abad ke-21, millenium ketiga?  Sudahkah pernah ada suatu prediksi yang berdasar pada kajian rasional mengenai ciri dan corak kehidupan masyarakat abad ke-21? Untuk mengungkap keingintahuan itulah, maka tulisan ini akan mengemukakan sebuah ulasan mengenai dua presuposisi; yakni dari Hamish McRae dan Peter Berger, sebagai respons pada dua pertanyaan tsb.

Prediksi Kemakmuran Asia Timur

Duapuluh lima tahun silam (1995), seorang Jurnalis Majalah Inggris, Liverpool Post, Hamish McRae, menulis sebuah buku berjudul: The World in 2020 (bahasa Indonesia: Dunia di Tahun 2020). Buku ini tentu menghebokan masyarakat dunia kala itu, karena kontennya adalah mengenai peralihan suatu kekuatan ekonomi dunia dari Barat ke Timur. Menurutnya, sekitar “tiga puluh tahun” ke depan, terhitung mulai dari awal tahun 1990an, kesuksesan atau kegagalan suatu negara manapun akan ditentukan oleh “pertumbuhan ekonomi” (economic growth). Menurut McRae, jurnalis yang pernah redaktur keuangan media massa terkenal Guardian, bahwa nanti ada negara-negara yang berhasil meningkatkan taraf hidup ekonomi menjadi lebih makmur, bahkan juga meningkatkan kekuasaan dan pengaruh mereka di dunia. Tetapi bisa juga ada negara-negara di antara mereka yang gagal dan mengakibatkan kemerosotan dan kesengsaraan rakyat.

Selanjutnya, McRae memetakan negara-negara dalam tiga kawasan: Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur. Menurutnya, walau acuan pertumbuhan ekonomi mereka sama, yakni  bertumpu pada “Produk Domestik Bruto” (Gross Domestic Product – GDP), namun pengukuran mengenai “dayaguna masyarakat” (social efficiency) berbeda.  Berkaitan dengan penilaian mengenai GDP, menurutnya, negara-negara di kawasan Amerika Utara mengukur tingkat pengeluaran negara bagi pendayagunaan masyarakat, atau publik, relatif rendah. Mengapa? Karena sebagian besar pengeluaran negara untuk dayaguna publik bersumber dari pembayaran langsung individu lewat asuransi. Sebaliknya, negara-negara di kawasan Eropa, mengukurnya justru dari tingkat “campur tangan”  pemerintah yang tinggi akan alokasi untuk sumberdaya masyarakat dan menaruh kepercayaan pada “simpanan” (bank deposit) negara. Sedang berbagai negara di kawasan Asia Timur, kendati mereka berlatarbelakang politik yang kontradiktif antara demokratis dan diktator, memiliki kesamaan dalam hal pemberdayaan masyarakat, dimana peranan negara tidaklah terlalu besar, namun berdedikasi tinggi pada pendidikan. Dan, dari negara-negara Asia Timur, dalam periode empat dekade setelah Perang Dunia II, hanya dua negara, yakni Singapura dan Jepang, disebutnya berhasil “melompati  kesenjangan” ekonomi.

Lebih menarik lagi, dari tiga kawasan tersebut, yang menjadi fokus perhatian McRae adalah Asia Timur, secara khusus, Jepang dan Cina (RRT). Menurutnya, dua negara ini diprediksi akan berkompetisi dalam menaikkan pertumbuhan ekonomi. Dan, “Akhirnya Cina akan tampil sebagai kekuatan dominan”, karena “jumlah penduduk dan luas tanahnya memastikan hal itu”. Tetapi, lanjutnya, bahwa “baru akan menjadi jelas pada tahun 2020, sebab Cina memiliki terlalu banyak rintangan politik yang harus dilompatinya…..” Maksudnya, nanti tahun keduapuluh abad ke-21, akan terlihat (apakah) abad ini akan menjadi “abad Asia”, seperti dua abad sebelumnya dimana abad 19 adalah “abad Eropa”, dan abad ke-20 menjadi “abad Amerika Utara”. Negara-negara di dua kawasan ini berhasil meningkatkan “pertumbuhan ekonomi” (economic growth) karena keberhasilan mereka dalam mengembangkan industri modern, dan bisa saling kerjasama antara mereka. Pertanyaan ialah, mengapa McRae memfokus observasi dan kajiannya pada kawasan Asia Timur, secara khusus dua negara: Jepang dan Cina, yang nantinya akan bertarung di abad ke-21?

Menurut McRae, dalam pengamatannya pada dekade ’90an, dua negara tsb, Jepang dan Cina, telah memperlihatkan kemajuan yang luar biasa, dan menjadi indikator bahwa kedepan di tahun 2020 akan memperlihatkan “pertumbuhan paling pesat di dunia”.  Namun, menurutnya ada dua kendala yang tidak begitu mudah untuk mereka melampaui negara-negara di kawasan Amerika Utara dan Eropa. Pertama, kekuatan ekonomi kasawan Asia Timur itu punya “landasan yang sempit”; dan kedua, negara-negara di dua kawasan itu nanti menirunya. Sebagai misal, katanya, Jepang memiliki tiga hal yang merupakan tantangan bagi rakyatnya: (1) Bagaimana cara menyesuaikan diri dengan penduduknya yang semakin menua; (2) Bagaimana menjadi pengelola yang lebih ahli dalam imperium komersial  dan finansial ekstern; dan (3) Bagaimana cara menjadi pemimpin dunia regional. Sementara, Cina akan menghadapi beberapa tantangan untuk penyesuaian dengan ekonomi global, a.l., perubahan generasi pemimpin dari generasi tua ke generasi muda, perubahan ideologi dan politik, dari sentralis ke federalis.

Akhirnya, McRae menyimpulkan bahwa, diatas semua tantangan yang baru disebut, ukuran untuk menjadi imperium komersil tetaplah bertumpu pada “pertumbuhan ekonomi” (economic growth). Dan, bila semua tantangan-tantangan itu bisa diatasi, maka pertumbuhan ekonomi akan meningkat dan turut meningkatkan pula pengaruh kekuatan atau kekuasaan mereka. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi dan pengaruh kekuasaan akan meningkat bila tantangan-tantangan yang disebutkan bisa diatasi.

Revolusi Kapitalis

Sesungguhnya, sembilan tahun sebelum terbit bukunya Hamish McRae, telah terbit buku dari seorang sosiolog kenamaan, Peter Berger, berjudul: The Capitalist Revolution, dan sub-judul Fifty Propositions About Prosperity, Equality, and Liberty (1986). Lewat buku ini, Berger mengemukakan adanya pertumbuhan ekonomi yang pesat dan bertipe baru dari negara-negara tertentu di Asia Timur,  karenanya dia menggunakan ungkapan “revolusi kapitalis”.  Ungkapan “revolusi kapitalis” digunakannya dengan maksud untuk menyatakan dampak kapitalisme pada masyarakat zaman modern.

Masyarakat dunia sejak abad ke-19 telah mengalami transformasi sistem sosial, budaya, ekonomi, dan politik dari masyarakat pra-modern ke modern. Masyarakat modern adalah masyarakat yang berorientasi pada sistem nilai rasional baru, yakni berdasar pada idea atau wawasan yang mementingkan “Kemakmuran/kesejahteraan” (Prosperity), “Kesamaan hak” (Equality), termasuk “Ha-hak Azasi Manusia” (Human Rights), dan “kemerdekaan” (Liberty). Sedang sistem nilai sosial, budaya, ekonomi dan politik di Eropa zaman pra-modern, yang berlangsung pada Abad-abad Pertengahan (abad ke-5 – ke-15), adalah sistem pemerintahan monarchi, yakni kekuasaan dipegang oleh raja atau ratu, dan kaisar, dengan sistem ekonomi – politik feodal. Jadi, “revolusi kapitalis” adalah suatu transformasi atau perubahan sistem nilai sosial, budaya, ekonomi, dan politik dari pra-modern ke modern. Singkat kata, budaya dan peradaban modern berasal dari “Dunia Barat”, khususnya Eropa, tetapi ketika menyebar secara global berjumpa dengan keberagaman sistem nilai budaya, sosial, dan politik (kekuasaan) di “Dunia non-Barat”, khususnya di Asia, yang juga merupakan tantangan modernisasi.

Sangat menarik, walau maksud dari buku ini, sebagaimana dikatakan penulisanya, Berger, untuk memberi gambaran umum mengenai kaitan kapitalisme dan masyarakat dunia modern, tapi dia justru secara khusus mengemukakan perkembangan kapitalisme di Asia Timur. Alasannya adalah untuk mengungkap fenomena “model baru” atau “tipe baru” kapitalisme industri yang muncul di Asia Timur. Dengan tipe baru ini orang bisa menganalisa akan kesamaan dan ketidaksamaan antara Barat dan Asia Timur dalam hal kapitalisme industri. Apa dan bagaimana yang dia maksudkan? Kesamaannya adalah, pada satu pihak, industri modern berasal dari “spesis” kapitalisme Barat. Tetapi, pada lain pihak, kapitalisme industri modern di Asia Timur memiliki “spesis” masing-masing sesuai dengan lingkungan sosial-budaya dan politik masing-masing negeri. Kata lain, kapitalisme industri yang berkembang di Asia bisa dibedakan dan dipilah mana yang bercorak historis dan budaya Barat, dan mana yang berorak budaya Asia Timur dengan beragam jenis.

Lalu, negara-negara Asia Timur yang dia maksud adalah Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong. Lebih lagi, dia pun memasukkan empat negara Asia Tenggara (ASEAN), yakni Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Thailand yang juga mengalami pertumbuhan ekonomi sebagai dampak penetrasi kapitalisme Asia Timur. Negara-negara ini disebutnya “the new East Asian capitalism”  (kapitalisme baru Asia Timur) dan menjelaskan fenomena ini sebagai “second case”. Disebut “second case” (kasus kedua) oleh karena “revolusi kapitalisme” pertama (first case) terjadi di masyarakat negara-negara Eropa pada abad ke-19.

Dinamika pertumbuhan ekonomi negara-negara tsb membuktikan bahwa mereka telah “menghasilkan” satu “tipe” atau “model baru” sistem kapitalisme industri di Asia Timur. Ungkapan ini bermaksud untuk menjelaskan bahwa mereka berhasil menjadikan sistem kapitalisme industri yang khas sebagai contoh, bahkan model, yang bisa  membebaskan masyarakat di negara-negara tsb dari julukan “negara-negara terbelakang-belum berkembang” (underdeveloped countries). Sehingga, dengan demikian, mereka kini tidak lagi diasosiasikan sebagai (bagian) “Dunia Ketiga”, tetapi beralih ke “negara-negara berkembang” (developing countries). Artinya, mereka kini berhasil mengembangkan ekonomi menjadi semacam pabrik yang mengolah bahan-bahan eksport; kecuali Jepang yang memang telah maju dan tidak tergantung pada ekonomi Eropa Barat. Lepas dari keberlainan dalam hal politik, mereka semua memiliki karakter sama; yakni, adanya peranan aktif pemerintah dalam mempercepat proses pembangunan.

Selanjutnya, menurut Berger, kekhususan pembangunan ekonomi modern Jepang  adalah, adanya “Restorasi Meji” abad ke-19 yang memunculkan sebuah reformasi sistem politik di negeri ini. Dengan Restorasi Meiji, maka sistem kekuasaan berubah dari feodalisme tertutup ke sistem kapitalisme terbuka. Dari keterisolasian masyarakat feudal ke keterbukaan masyarakat kapitalis. Sungguhpun demikian, keterbukaan sistem pembangunan ekonomi negara tidak tergantung pada tipe kapitalisme modern Barat, tapi dibangun serta dikembangkan dengan tipe atau model baru. Kata lain, tipe kapitalisme negeri ini tidak persis sama dengan kapitalisme “gaya Barat”, tapi yang disebutnya “sosialisme Miji”, yakni berkaraker “tradisi kolektif” Jepang.

Pendek kata, Restorasi Meiji Jepang merupakan perwujudan hak-hak sipil publik, tetapi bukan demokrasi liberal Barat yang individualistic, melainkan suatu kemerdekaan masyarakat untuk memiliki properti dan usaha privat ekonomi. Dengan demikian, hak-hak rakyat dilindungi dari kuasa dan kesewenangan orang-orang ningrat atau aristokrat. Paling tidak, menurut Berger, wujud hak-hak sipil demikian inilah juga yang dimaksud tipe baru sistem kapitalisme di negeri-negeri Asia Timur yang disebutkan.

Antara Prediksi dan Fenomena?

Setelah membaca serta mengkaji kembali di tahun 2020 akan dua presuposisi dari Hamish McRae dan Peter Berger, ternyata tidak keliru memunculkan pertanyaan kontroversial: “Antara Prediksi dan Fenomena?” Mengapa dikatakan kontroversial? Karena, pada satu pihak, prediksi mereka sesungguhnya dimunculkan pada periode dimana kemajuan pertumbuhan ekonomi di kawasan timur dan tenggara Asia sedang memperlihatkan peningkatan yang juga turut memperkuat pengaruh politik mereka. Dan, secara khusus juga sedang terjadi perubahan ideologi dan penyesuaian sistem politik yang terbuka di Cina (RRT), seperti halnya yang terjadi di Jepang bersama tiga negara Asia Timur serta empat negara Asia Tenggara (ASEAN). Dengan kata lain, keberhasilan mereka melakukan penyesuan sistem kapitalisme industri modern dengan sistem budaya, sosial dan politik masing-masing negeri merupakan fenomena yang menjadi dasar prediksi. Bahkan, lebih lagi, bila dalam bukunya yang terbit tahun 1995 dengan judul Dunia di Tahun 2000, McRae menyebut “tiga puluh tahun” kedepan (tahun 2030), tapi hanya “dua puluh lima tahun” kedepan saja, berarti kecepatan lima tahun, mereka telah meningkatkan “pertumbuhan ekonomi” (economic growth).

Sementara, pada lain pihak, di tahun 2020 ini justru muncul fenomena baru lain, yakni  pandemi covid-19, yang tidak ada kaitan dengan issue “pertumbuhan ekonomi” (economic growth) di dunia, khususnya Asia Timur, tiga-empat dekade silam. Juga bukan suatu pemunculan revolusi kapitalis “tipe baru kedua” (second case) yang menaikkan kemakmuran di Asia Timur. Sebaliknya, fenomena pandemi virus corona yang justru berdampak negatif pada kondisi pertumbuhan ekonomi dunia, dan bertolakbelakang dengan prediksi dan proposisi tsb di atas. Namun, ada beberapa negara yang berada pada peringkat Lower Middle Income (Pendapatan Menengah Kebawah) naik menjadi Upper Middle Income (Pendapatan Menegah Keatas). Dan, betapa membanggakan, bahwa di tengah gumulan akan pandemi covid-19, Indonesia termasuk salah satu dari negara-negara yang telah memperoleh peringkat Upper Middle Income dari Bank Dunia. Kendarti demikian, tentu tetap harus melakukan penyesuaian sosial, budaya, ekonomi, dan politik untuk mempertahankan atau menaikan status ini di tengah New Normal life (cara hidup normal yang baru). Penyesuaian cara hidup baru bukan hanya mengikuti protokol resmi untuk pengaman dan penyelamatan kondisi fisik manusia dari pandemi virus corona, tetapi juga penyesuaian model atau sistem baru dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik. Bahkan, jangan-jangan juga fenomena pandemi covid-19 yang berdampak pada kehidupan masyarakat modern akan muncul nanti sebagai third case (kasus ketiga) “revolusi kapitalisme”? Atau, lebih dari itu, jangan-jangan kajian Krishan Kumar dalam bukunya From Post-Industrial To Post-Modern Society (1995) yang akan terwujud nanti, yakni masyarakat dunia nanti akan mengalami peralihan sistem bermasyarakat dari pasca-industri ke pasca-modern?

Jawaban dari perspektif ilmiah atas pertanyaan diatas tentu  masih dibutuhkan suatu kajian yang lebih khusus lagi. Tapi, sekedar mengakhiri ulasan tulisan ini, ada kata-kata bijak tua tempo doeloe mengatakan; “Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak”. Kira-kira begitulah juga semua prediksi dan fenomena yang diungkap di atas, kayaknya masih berupa “tanda-tanda zaman” yang tak teralami secara inderawi?(*)

 

 

Oleh: Richard A.D. Siwu

MEMASUKI tahun 2020, tahun keduapuluh abad ke-21 awal milenium ketiga, dunia digoncang oleh pandemi covid-19 yang mengancam fisik manusia dan juga berdampak pada peri kehidupan manusia, baik sosial, ekonomi, politik, maupun agama. Budaya tradisional yang senang ngumpul kapan saja dan dimana pun untuk keakraban, sudah tidak bisa lagi seenaknya dilakukan.

Kini keakraban sosial harus mengikuti “protokol” resmi pemerintah sebagai petunjuk “tatakrama hidup” (New Normal life) untuk menghindar dari pendemi covid-19, virus corona. Kata lain, keakraban hidup sosial tidak bisa seenaknya lagi diekspresikan dengan “cipika-cipiku”, karena harus berjarak, bermasker, dst. Kalau tempo doeloe ada pribahasa “Jauh dimata, dekat dihati”, kini kedekatan itu diwujudkan lewat cellular phonehandphone. “Kenangan” dan “keakraban” tak lagi harus diungkapkan dengan bertemu dan berkumpul secara fisik, tapi lewat media elektronik.

Lebih dari itu, pandemi virus corona pun ternyata berdampak pada kehidupan sosial, ekonomi dan politik, sebagaimana pendapat para peneliti dan pemerhati yang kita ikuti di berbagai media massa televisi atau media sosial. Dari berbagai opini, kita bisa memperoleh  kesan bahwa fenomena global dampak pandemi virus corona akan membangkitkan persaingan baru di antara bangsa-bangsa dalam generasi kedepan. Ada negara-negara yang sekarang mampu membangun dan menyejahterakan rakyatnya, tapi mungkin juga pada generasi berikutnya menurun.

Terkait fenomena yang baru disebut diatas, saya terdorong untuk mencermati opini para pakar dan pengamat tertentu di media massa mengenai dampak dari pandemi covid-19 pada kehidupan masyarakat dunia. Berbagai opini itu sungguh menggugah keingintahuan: bagaimana kira-kira kehidupan sosial, ekonomi, bahkan politik selanjutnya dari negara-negara di dunia abad ke-21, millenium ketiga?  Sudahkah pernah ada suatu prediksi yang berdasar pada kajian rasional mengenai ciri dan corak kehidupan masyarakat abad ke-21? Untuk mengungkap keingintahuan itulah, maka tulisan ini akan mengemukakan sebuah ulasan mengenai dua presuposisi; yakni dari Hamish McRae dan Peter Berger, sebagai respons pada dua pertanyaan tsb.

Prediksi Kemakmuran Asia Timur

Duapuluh lima tahun silam (1995), seorang Jurnalis Majalah Inggris, Liverpool Post, Hamish McRae, menulis sebuah buku berjudul: The World in 2020 (bahasa Indonesia: Dunia di Tahun 2020). Buku ini tentu menghebokan masyarakat dunia kala itu, karena kontennya adalah mengenai peralihan suatu kekuatan ekonomi dunia dari Barat ke Timur. Menurutnya, sekitar “tiga puluh tahun” ke depan, terhitung mulai dari awal tahun 1990an, kesuksesan atau kegagalan suatu negara manapun akan ditentukan oleh “pertumbuhan ekonomi” (economic growth). Menurut McRae, jurnalis yang pernah redaktur keuangan media massa terkenal Guardian, bahwa nanti ada negara-negara yang berhasil meningkatkan taraf hidup ekonomi menjadi lebih makmur, bahkan juga meningkatkan kekuasaan dan pengaruh mereka di dunia. Tetapi bisa juga ada negara-negara di antara mereka yang gagal dan mengakibatkan kemerosotan dan kesengsaraan rakyat.

Selanjutnya, McRae memetakan negara-negara dalam tiga kawasan: Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur. Menurutnya, walau acuan pertumbuhan ekonomi mereka sama, yakni  bertumpu pada “Produk Domestik Bruto” (Gross Domestic Product – GDP), namun pengukuran mengenai “dayaguna masyarakat” (social efficiency) berbeda.  Berkaitan dengan penilaian mengenai GDP, menurutnya, negara-negara di kawasan Amerika Utara mengukur tingkat pengeluaran negara bagi pendayagunaan masyarakat, atau publik, relatif rendah. Mengapa? Karena sebagian besar pengeluaran negara untuk dayaguna publik bersumber dari pembayaran langsung individu lewat asuransi. Sebaliknya, negara-negara di kawasan Eropa, mengukurnya justru dari tingkat “campur tangan”  pemerintah yang tinggi akan alokasi untuk sumberdaya masyarakat dan menaruh kepercayaan pada “simpanan” (bank deposit) negara. Sedang berbagai negara di kawasan Asia Timur, kendati mereka berlatarbelakang politik yang kontradiktif antara demokratis dan diktator, memiliki kesamaan dalam hal pemberdayaan masyarakat, dimana peranan negara tidaklah terlalu besar, namun berdedikasi tinggi pada pendidikan. Dan, dari negara-negara Asia Timur, dalam periode empat dekade setelah Perang Dunia II, hanya dua negara, yakni Singapura dan Jepang, disebutnya berhasil “melompati  kesenjangan” ekonomi.

Lebih menarik lagi, dari tiga kawasan tersebut, yang menjadi fokus perhatian McRae adalah Asia Timur, secara khusus, Jepang dan Cina (RRT). Menurutnya, dua negara ini diprediksi akan berkompetisi dalam menaikkan pertumbuhan ekonomi. Dan, “Akhirnya Cina akan tampil sebagai kekuatan dominan”, karena “jumlah penduduk dan luas tanahnya memastikan hal itu”. Tetapi, lanjutnya, bahwa “baru akan menjadi jelas pada tahun 2020, sebab Cina memiliki terlalu banyak rintangan politik yang harus dilompatinya…..” Maksudnya, nanti tahun keduapuluh abad ke-21, akan terlihat (apakah) abad ini akan menjadi “abad Asia”, seperti dua abad sebelumnya dimana abad 19 adalah “abad Eropa”, dan abad ke-20 menjadi “abad Amerika Utara”. Negara-negara di dua kawasan ini berhasil meningkatkan “pertumbuhan ekonomi” (economic growth) karena keberhasilan mereka dalam mengembangkan industri modern, dan bisa saling kerjasama antara mereka. Pertanyaan ialah, mengapa McRae memfokus observasi dan kajiannya pada kawasan Asia Timur, secara khusus dua negara: Jepang dan Cina, yang nantinya akan bertarung di abad ke-21?

Menurut McRae, dalam pengamatannya pada dekade ’90an, dua negara tsb, Jepang dan Cina, telah memperlihatkan kemajuan yang luar biasa, dan menjadi indikator bahwa kedepan di tahun 2020 akan memperlihatkan “pertumbuhan paling pesat di dunia”.  Namun, menurutnya ada dua kendala yang tidak begitu mudah untuk mereka melampaui negara-negara di kawasan Amerika Utara dan Eropa. Pertama, kekuatan ekonomi kasawan Asia Timur itu punya “landasan yang sempit”; dan kedua, negara-negara di dua kawasan itu nanti menirunya. Sebagai misal, katanya, Jepang memiliki tiga hal yang merupakan tantangan bagi rakyatnya: (1) Bagaimana cara menyesuaikan diri dengan penduduknya yang semakin menua; (2) Bagaimana menjadi pengelola yang lebih ahli dalam imperium komersial  dan finansial ekstern; dan (3) Bagaimana cara menjadi pemimpin dunia regional. Sementara, Cina akan menghadapi beberapa tantangan untuk penyesuaian dengan ekonomi global, a.l., perubahan generasi pemimpin dari generasi tua ke generasi muda, perubahan ideologi dan politik, dari sentralis ke federalis.

Akhirnya, McRae menyimpulkan bahwa, diatas semua tantangan yang baru disebut, ukuran untuk menjadi imperium komersil tetaplah bertumpu pada “pertumbuhan ekonomi” (economic growth). Dan, bila semua tantangan-tantangan itu bisa diatasi, maka pertumbuhan ekonomi akan meningkat dan turut meningkatkan pula pengaruh kekuatan atau kekuasaan mereka. Dengan kata lain, pertumbuhan ekonomi dan pengaruh kekuasaan akan meningkat bila tantangan-tantangan yang disebutkan bisa diatasi.

Revolusi Kapitalis

Sesungguhnya, sembilan tahun sebelum terbit bukunya Hamish McRae, telah terbit buku dari seorang sosiolog kenamaan, Peter Berger, berjudul: The Capitalist Revolution, dan sub-judul Fifty Propositions About Prosperity, Equality, and Liberty (1986). Lewat buku ini, Berger mengemukakan adanya pertumbuhan ekonomi yang pesat dan bertipe baru dari negara-negara tertentu di Asia Timur,  karenanya dia menggunakan ungkapan “revolusi kapitalis”.  Ungkapan “revolusi kapitalis” digunakannya dengan maksud untuk menyatakan dampak kapitalisme pada masyarakat zaman modern.

Masyarakat dunia sejak abad ke-19 telah mengalami transformasi sistem sosial, budaya, ekonomi, dan politik dari masyarakat pra-modern ke modern. Masyarakat modern adalah masyarakat yang berorientasi pada sistem nilai rasional baru, yakni berdasar pada idea atau wawasan yang mementingkan “Kemakmuran/kesejahteraan” (Prosperity), “Kesamaan hak” (Equality), termasuk “Ha-hak Azasi Manusia” (Human Rights), dan “kemerdekaan” (Liberty). Sedang sistem nilai sosial, budaya, ekonomi dan politik di Eropa zaman pra-modern, yang berlangsung pada Abad-abad Pertengahan (abad ke-5 – ke-15), adalah sistem pemerintahan monarchi, yakni kekuasaan dipegang oleh raja atau ratu, dan kaisar, dengan sistem ekonomi – politik feodal. Jadi, “revolusi kapitalis” adalah suatu transformasi atau perubahan sistem nilai sosial, budaya, ekonomi, dan politik dari pra-modern ke modern. Singkat kata, budaya dan peradaban modern berasal dari “Dunia Barat”, khususnya Eropa, tetapi ketika menyebar secara global berjumpa dengan keberagaman sistem nilai budaya, sosial, dan politik (kekuasaan) di “Dunia non-Barat”, khususnya di Asia, yang juga merupakan tantangan modernisasi.

Sangat menarik, walau maksud dari buku ini, sebagaimana dikatakan penulisanya, Berger, untuk memberi gambaran umum mengenai kaitan kapitalisme dan masyarakat dunia modern, tapi dia justru secara khusus mengemukakan perkembangan kapitalisme di Asia Timur. Alasannya adalah untuk mengungkap fenomena “model baru” atau “tipe baru” kapitalisme industri yang muncul di Asia Timur. Dengan tipe baru ini orang bisa menganalisa akan kesamaan dan ketidaksamaan antara Barat dan Asia Timur dalam hal kapitalisme industri. Apa dan bagaimana yang dia maksudkan? Kesamaannya adalah, pada satu pihak, industri modern berasal dari “spesis” kapitalisme Barat. Tetapi, pada lain pihak, kapitalisme industri modern di Asia Timur memiliki “spesis” masing-masing sesuai dengan lingkungan sosial-budaya dan politik masing-masing negeri. Kata lain, kapitalisme industri yang berkembang di Asia bisa dibedakan dan dipilah mana yang bercorak historis dan budaya Barat, dan mana yang berorak budaya Asia Timur dengan beragam jenis.

Lalu, negara-negara Asia Timur yang dia maksud adalah Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong. Lebih lagi, dia pun memasukkan empat negara Asia Tenggara (ASEAN), yakni Singapura, Malaysia, Indonesia, dan Thailand yang juga mengalami pertumbuhan ekonomi sebagai dampak penetrasi kapitalisme Asia Timur. Negara-negara ini disebutnya “the new East Asian capitalism”  (kapitalisme baru Asia Timur) dan menjelaskan fenomena ini sebagai “second case”. Disebut “second case” (kasus kedua) oleh karena “revolusi kapitalisme” pertama (first case) terjadi di masyarakat negara-negara Eropa pada abad ke-19.

Dinamika pertumbuhan ekonomi negara-negara tsb membuktikan bahwa mereka telah “menghasilkan” satu “tipe” atau “model baru” sistem kapitalisme industri di Asia Timur. Ungkapan ini bermaksud untuk menjelaskan bahwa mereka berhasil menjadikan sistem kapitalisme industri yang khas sebagai contoh, bahkan model, yang bisa  membebaskan masyarakat di negara-negara tsb dari julukan “negara-negara terbelakang-belum berkembang” (underdeveloped countries). Sehingga, dengan demikian, mereka kini tidak lagi diasosiasikan sebagai (bagian) “Dunia Ketiga”, tetapi beralih ke “negara-negara berkembang” (developing countries). Artinya, mereka kini berhasil mengembangkan ekonomi menjadi semacam pabrik yang mengolah bahan-bahan eksport; kecuali Jepang yang memang telah maju dan tidak tergantung pada ekonomi Eropa Barat. Lepas dari keberlainan dalam hal politik, mereka semua memiliki karakter sama; yakni, adanya peranan aktif pemerintah dalam mempercepat proses pembangunan.

Selanjutnya, menurut Berger, kekhususan pembangunan ekonomi modern Jepang  adalah, adanya “Restorasi Meji” abad ke-19 yang memunculkan sebuah reformasi sistem politik di negeri ini. Dengan Restorasi Meiji, maka sistem kekuasaan berubah dari feodalisme tertutup ke sistem kapitalisme terbuka. Dari keterisolasian masyarakat feudal ke keterbukaan masyarakat kapitalis. Sungguhpun demikian, keterbukaan sistem pembangunan ekonomi negara tidak tergantung pada tipe kapitalisme modern Barat, tapi dibangun serta dikembangkan dengan tipe atau model baru. Kata lain, tipe kapitalisme negeri ini tidak persis sama dengan kapitalisme “gaya Barat”, tapi yang disebutnya “sosialisme Miji”, yakni berkaraker “tradisi kolektif” Jepang.

Pendek kata, Restorasi Meiji Jepang merupakan perwujudan hak-hak sipil publik, tetapi bukan demokrasi liberal Barat yang individualistic, melainkan suatu kemerdekaan masyarakat untuk memiliki properti dan usaha privat ekonomi. Dengan demikian, hak-hak rakyat dilindungi dari kuasa dan kesewenangan orang-orang ningrat atau aristokrat. Paling tidak, menurut Berger, wujud hak-hak sipil demikian inilah juga yang dimaksud tipe baru sistem kapitalisme di negeri-negeri Asia Timur yang disebutkan.

Antara Prediksi dan Fenomena?

Setelah membaca serta mengkaji kembali di tahun 2020 akan dua presuposisi dari Hamish McRae dan Peter Berger, ternyata tidak keliru memunculkan pertanyaan kontroversial: “Antara Prediksi dan Fenomena?” Mengapa dikatakan kontroversial? Karena, pada satu pihak, prediksi mereka sesungguhnya dimunculkan pada periode dimana kemajuan pertumbuhan ekonomi di kawasan timur dan tenggara Asia sedang memperlihatkan peningkatan yang juga turut memperkuat pengaruh politik mereka. Dan, secara khusus juga sedang terjadi perubahan ideologi dan penyesuaian sistem politik yang terbuka di Cina (RRT), seperti halnya yang terjadi di Jepang bersama tiga negara Asia Timur serta empat negara Asia Tenggara (ASEAN). Dengan kata lain, keberhasilan mereka melakukan penyesuan sistem kapitalisme industri modern dengan sistem budaya, sosial dan politik masing-masing negeri merupakan fenomena yang menjadi dasar prediksi. Bahkan, lebih lagi, bila dalam bukunya yang terbit tahun 1995 dengan judul Dunia di Tahun 2000, McRae menyebut “tiga puluh tahun” kedepan (tahun 2030), tapi hanya “dua puluh lima tahun” kedepan saja, berarti kecepatan lima tahun, mereka telah meningkatkan “pertumbuhan ekonomi” (economic growth).

Sementara, pada lain pihak, di tahun 2020 ini justru muncul fenomena baru lain, yakni  pandemi covid-19, yang tidak ada kaitan dengan issue “pertumbuhan ekonomi” (economic growth) di dunia, khususnya Asia Timur, tiga-empat dekade silam. Juga bukan suatu pemunculan revolusi kapitalis “tipe baru kedua” (second case) yang menaikkan kemakmuran di Asia Timur. Sebaliknya, fenomena pandemi virus corona yang justru berdampak negatif pada kondisi pertumbuhan ekonomi dunia, dan bertolakbelakang dengan prediksi dan proposisi tsb di atas. Namun, ada beberapa negara yang berada pada peringkat Lower Middle Income (Pendapatan Menengah Kebawah) naik menjadi Upper Middle Income (Pendapatan Menegah Keatas). Dan, betapa membanggakan, bahwa di tengah gumulan akan pandemi covid-19, Indonesia termasuk salah satu dari negara-negara yang telah memperoleh peringkat Upper Middle Income dari Bank Dunia. Kendarti demikian, tentu tetap harus melakukan penyesuaian sosial, budaya, ekonomi, dan politik untuk mempertahankan atau menaikan status ini di tengah New Normal life (cara hidup normal yang baru). Penyesuaian cara hidup baru bukan hanya mengikuti protokol resmi untuk pengaman dan penyelamatan kondisi fisik manusia dari pandemi virus corona, tetapi juga penyesuaian model atau sistem baru dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik. Bahkan, jangan-jangan juga fenomena pandemi covid-19 yang berdampak pada kehidupan masyarakat modern akan muncul nanti sebagai third case (kasus ketiga) “revolusi kapitalisme”? Atau, lebih dari itu, jangan-jangan kajian Krishan Kumar dalam bukunya From Post-Industrial To Post-Modern Society (1995) yang akan terwujud nanti, yakni masyarakat dunia nanti akan mengalami peralihan sistem bermasyarakat dari pasca-industri ke pasca-modern?

Jawaban dari perspektif ilmiah atas pertanyaan diatas tentu  masih dibutuhkan suatu kajian yang lebih khusus lagi. Tapi, sekedar mengakhiri ulasan tulisan ini, ada kata-kata bijak tua tempo doeloe mengatakan; “Rupa langit kamu tahu membedakannya tetapi tanda-tanda zaman tidak”. Kira-kira begitulah juga semua prediksi dan fenomena yang diungkap di atas, kayaknya masih berupa “tanda-tanda zaman” yang tak teralami secara inderawi?(*)

 

 

Most Read

Artikel Terbaru

/