27C
Manado
Rabu, 27 Januari 2021

Ada Asa di 2021

SEMUA sepakat pandemi jadi momok di 2020. Dampaknya menyasar berbagai bidang. Di semua daerah. Termasuk Sulut.

Tapi di sektor pembangunan, ada pengecualian. Pagu anggaran infrastruktur Nyiur Melambai memang tak lolos dari pemangkasan. Sama seperti yang lain. Di-refocusing untuk penanganan Covid-19. Namun dampaknya, hampir tak terasa.

Sedari awal, pemprov memang punya tujuh prioritas pembangunan. Ini dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah 2020.

Yang disasar; penanggulangan kemiskinan, pemantapan SDM pariwisata, ketahanan pangan dan industri ekonomi kreatif, pemerataan infrastruktur, ketenteraman dan ketertiban masyarakat khususnya saat Pilkada, reformasi birokrasi, serta mitigasi bencana dan pengelolaan lingkungan hidup.
Di sisi alokasi dana, enam hal diutamakan. Yang sudah pasti tentu Pilkada. Kemudian pendidikan, kesehatan, pemenuhan fungsi inspektorat, pembangunan SDM dan tentunya infrastruktur.

Dari 4,1 triliun modal Pemprov Sulut. Rp400 miliar dialokasikan kerek infrastruktur. Ini rencana ajib menjadikan Sulut makin hebat. Sebelum bencana datang. Per Maret 2020, satu per satu mata anggaran refocusing.

Lebih dari Rp500 miliar dialihkan dari APBD. APBN lain lagi. Khusus untuk infrastruktur, 46 paket proyek terpaksa batal tender. Total Rp560 miliar digeser. Untuk penyediaan sarana kesehatan. Dan pemulihan ekonomi.

Faktanya, berbagai proyek strategis toh tetap jalan. Sebut saja, peresmian Tol Manado-Bitung. Presiden Joko Widodo kekeh melakukan peresmian. Dari jarak jauh. Atau bahasa kerennya via daring. Juga tak kalah mentereng, Bendungan Kuwil.

Contoh lain, pembangunan RSUD provinsi. Fasilitas kesehatan yang didanai APBD itu justru makin dipacu. Dikebut beroperasi akhir tahun. Padahal, rumah sakit di Sulut so tafiaro. Apalagi di musim corona. Ada tiga RS baru diresmikan. Belum lagi RS Khusus Mata. Juga menanti waktu running.

Hampir tak terdengar ada proyek bombastis yang ditunda. Apalagi dibatalkan tahun ini. Baik dari APBD maupun APBN. Praktis, hanya proyek ‘pelengkap’ yang dikorbankan.

Kok bisa? Olly Dondokambey. Ya, OD memang istimewa. Ini diakui para pejabat pusat di Sulut. Khususnya mereka yang bertugas memacu pra sarana The Land of Smiling People.

“Pernah waktu itu di masa penyusunan pagu anggaran, Pak Menteri (Basuki Hadimuljono) bilang yang ini batal. Eh malah muncul di daftar proyek prioritas saat dibahas DPR,” cerita salah satu kepala balai Kementerian PUPR di Sulut.

Olehnya, warga Sulut boleh bangga. Kalau kata mereka yang suka diskusi di arus bawah, OD itu RI 3. Mengacu pada jabatannya sebagai Bendahara Umum PDI Perjuangan. Partai penguasa eksekutif dan legislatif pusat saat ini. Jadi RI 1 Jokowi, RI 2 Megawati Soekarnoputri dan RI 3 ya OD.

Memang stigma itu jauh dari aturan konstitusi. Tapi kenyataannya memang demikian. Menteri pun sulit membendung lobi ‘anak emas’ Ibu Mega, sapaan akrab kader partai berlambang moncong putih kepada sang ketum.

OD memang dikenal punya banyak jaringan. Menyasar semua strata pemerintahan. Mulai dari level tinggi, menengah hingga sekelas eselon III antar lembaga. Bayangkan saja, sekelas Ketua MPR RI yang merupakan petinggi Golkar justru menyatakan dukungan ke OD pada Pilgub kemarin. Padahal, marwah partai berlambang pohon beringin di Sulut, sedang dipertaruhkan. Penantang utama OD adalah Ketua DPD I Golkar Sulut Christiany Eugenia Paruntu. Logikanya, bagaimana bisa meyakinkan rakyat soal kapasitas dan kapabilitas pribadi, kalau tokoh sentral di partai yang dinaunginya justru tidak yakin dia akan menang.

Alhasil, Sulut jadi ‘kandang banteng’. PDI Perjuangan memastikan menang di tujuh dari delapan Pilkada yang digelar. Peluang sapu bersih pun masih sangat terbuka. Boltim belum final. Di sana ada gugatan. Pelanggarannya waduh, Astagfirullah. Peluang menang calon yang ditawarkan partai OD bernaung masih terbuka lebar. Gugatan hasil rekapitulasi dilayangkan sudah dilayangkan. Ke MK. Langsung oleh dua paslon.

Lalu apa dampaknya bagi pembangunan infrastruktur? Sangat besar. Gaung sinergitas yang terus dikampanyekan jagoan-jagoan Pilkada PDI Perjuangan di Sulut dipastikan terealisasi. Pembangunan terintegrasi antar pusat, provinsi hingga kabupaten/kota tidak akan sulit. Bukan lagi mimpi. Tapi kenyataan yang tinggal tunggu waktu.

Dari delapan kepala daerah sisa Pilkada. Ada tiga bupati/wali kota petahana kader asli PDI Perjuangan (di luar Pilkada). Sementara tiga lainnya figur usungan banteng. Wakilnya dari PDI Perjuangan. Praktis dikuasai OD.

Harapan pun kian membumbung di 2021. Rp24,49 triliun akan mengalir ke Sulut. Untuk menyokong pembangunan di berbagai sektor. Sejumlah megaproyek kembali dipacu. Antara lain jalan akses Manado-Likupang, penataan Likupang dan Bunaken. Selain itu, ada pula penataan kawasan Pantai Malalayang di Manado. Dan pembangunan 463 homestay di kawasan pariwisata.

Juga akan dibangun jembatan di Marinsow, Manado. Serta penambahan kapasitas pengolahan air minum di Malalayang. Lalu ada proyek pembangunan tempat pembuangan akhir sampah regional Mamitarang. Hingga program pengendalian banjir Manado dan sekitarnya.

Gebrakan Sang Don, begitu OD karib disapa elit PDI Perjuangan, kini dinanti. Selain mengkritisi, kita perlu berdoa. Minta pertolongan Tuhan. Dan berterimakasih untuk 2020. Salam.

Artikel Terbaru