32.4 C
Manado
Kamis, 30 Juni 2022

Banner Mobile (Anymind)

Mengudar Nasionalisme yang Terbelenggu

- Advertisement -

BANGKIT sebagai sebuah bangsa tidak terjadi sekali. Proses membangsa merujuk sebuah perjalanan tak lekang dari linieritas waktu dan kemudian membentuk sejarah. Pastinya, kebangkitan mengasumsikan pelampauan kondisi asal. Kondisi asal tersebut umumnya menggambarkan mediokritas. Demikian, ketika bangsa Indonesia merayakan kebangkitannya, itu seharusnya merujuk pada lompatan melampaui jebakan kondisi rata-rata.

Hari-hari ini, nasionalisme kita sementara mendapat asupan dari capaian atlet-atlet Indonesia yang berlaga di SEA GAMES 2022 di Hanoi, Vietnam. Walau, rupanya kita harus mengakui raihan Vietnam sebagai persiapan dan perhatian serius mereka terhadap dunia olah raga di negaranya. Makna kebangkitan juga semakin terang bersamaan dengan pengalaman melandainya tingkat ketegangan akan ancaman COVID-19. Ufuk pandemi memang belum terlihat. Namun, pendar mengarah pada endemi sudah sementara dititi.

Tesis Dasar Nasionalisme

Nasionalisme mengacu pada sebuah aliran yang mengakomodasi ideologi, bentuk-bentuk kultur, dan gerakan sosial dan menjadikan konsep kebangsaan (nation) sebagai fokus segala bentuk ekspresinya. Dua hal mendasar yang ditekankan adalah, pertama, menjunjung kedaulatan rakyat sebagai suatu bangsa. Kedua, mengidealkan legitimasi politik suatu bangsa sebagai suatu negara yang didasarkan pada kemampuan untuk menentukan kodrat dan masa depan sendiri.

- Advertisement -

Secara umum, nasionalisme mencakup dua fenomena besar. Pertama, semua bentuk sikap dan tindakan yang mengekspresikan kecintaan terhadap bangsa dan menegaskan identitas kebangsaan. Kedua, nasionalisme juga mencakup semua sikap dan tindakan anggota suatu bangsa untuk menegaskan dan mempertahankan kedaulatan. Jadi, nada dasar aliran nasionalisme adalah penegasan identitas kebangsaan dan pemeliharaan kedaulatan kebangsaan sebagai satu negara.

Dalam hal ini, sentimen kebangsaan yang membongkah dan membludak di arena-arena kompetisi nasional dan internasional tentu relevan dengan penegasan identitas kebangsaan. Rasa bangga yang mendalam tersebut membuat nasionalisme tidak abstrak lagi. Sebaliknya, itu dialami secara solid.

Di sisi lain, rekonstruksi bangsa yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah sejalan dengan pemeliharaan kedaulatan bangsa dan masyarakatnya. Pencapaian kesejahteraan masyarakat merupakan legitimasi politik tertinggi sebagai sebuah negara. Karena itu, dinamika negara yang diungkap di atas sungguh menghimpit proses penegasan nasionalisme negara kita.

Bentuk-Bentuk Ekstrim

Pada kenyataannya, sebagian besar negara-negara di dunia bersifat multinasional dan multietnis. Karena itu, klaim nasionalisme berbasis kelompok tertentu akan merusak wajah nasionalisme. Nasionalisme sempit ini akan berakibat pada konflik horizontal antar kelompok atau konflik vertikal antara pemerintah pusat dan kelompok separatis. Dalam hal ini, rekaman sejarah negara kita telah mencatat kejadian-kejadian di beberapa daerah di Jawa, Sulawesi, Maluku, Papua, Aceh, dll.

Ketegangan dan konfrontasi juga sangat mungkin terjadi antara negara yang satu dengan yang lain. Hal ini menjelaskan mengapa penegasan, penjagaan, dan pemeliharaan batas-batas negara menjadi krusial. Lebih dari itu, kemajuan teknologi bahkan memungkinkan konfrontasi dengan negara lain juga terjadi di media sosial. Hal ini seringkali terjadi karena usaha berlebihan untuk menunjukan superioritas negara yang satu kepada yang lain. Konfrontasi online tersebut bisa juga disebabkan oleh klaim sepihak suatu negara terhadap salah satu ekspresi atau produk kebudayaan negara lain (tarian, nyanyian, motif pakaian, makanan khas, dll).

Bentuk paling ekstrim dari nasionalisme bisa terungkap dalam bentuk perang, baik inter negara dan intra negara, bahkan dalam bentuk genocide (usaha untuk menghapuskan sebuah bangsa, etnis, kultur, ras, bahkan agama tertentu). Di abad ke-20, gerakan ekstrim ini telah muncul dengan menggunakan isu ras (Nazisme), isu nasionalis untuk menegaskan kedaulatan negara (facisme, state-nationalism). Dewasa ini, “rasisme” tidak lagi dianggap sebagai istilah yang tepat bagi gerakan berbasis isu ras. Term “etnosentrisme” dianggap lebih tepat mewakili logika dan motivasi gerakan tersebut.

Ekspresi ekstrim dari etnosentrisme adalah pembersihan etnik. Logika dibalik usaha ini adalah pembentukan satu negara yang direservasi secara eksklusif untuk satu etnis atau bangsa yang unggul saja. Sedangkan, motivasi yang melandasinya adalah untuk memperjuangkan kedaulatan dan mengartikulasi identitas bangsa secara kolektif dan eksklusif.

Belenggu

Ketika pusat-pusat pendidikan (sekolah dan universitas) belum mampu menyeimbangkan tuntutan managerial untuk bertahan hidup (aspek bisnis) dan tuntutan idealisme akademik dan kualitas pendidikan (pencerahan budi dan pedagogi), itu tanda bahwa nasionalisme kita masih terbelenggu. Ketika pencapaian karir akademik harus menghalalkan segala cara (ijazah palsu, plagiarisme, jual-beli nilai), itu berarti nasionalisme kita diricuh oleh pribadi-pribadi palsu.

Ketika mahasiswa atau murid masih takut untuk mengkritisi pengajarnya yang salah mengajar, yang tidak mempersiapkan diri sebelum mengajar, yang tidak mau atau tidak mampu mengembangkan dirinya secara serius, itu berarti agen-agen nasionalis kita masih kerdil. Ketika pengajar tidak mampu membuat sintesis antara menjadi favorit mahasiswa/murid dan menjaga kualitas akademik dan proses pedagogi, nasionalisme kita direduksi ke dalam favoritisme semu. Ketika salah satu atau bahkan banyak hal yang disebutkan di atas masih terjadi di lingkungan akademik kita, itu tanda bahwa kita merupakan mata rantai belenggu pengikat nasionalisme.

Ketika pemerintah dan birokrasi belum mampu melampaui job description, belum mampu menyajikan pelayanan prima, menempatkan pelayanan publik di bawah kepentingan pribadi dan partai politik, melakukan restrukturisasi lebih berdasarkan kedekatan filial dan politik daripada spesialisasi dan profesionalitas, itu menunjukan nasionalisme belum menjadi driving force reformasi birokrasi. Hal di atas juga menggambarkan bahwa revolusi mental masih jauh panggang dari api. Ketika pendidikan, pelayanan kesehatan, dan keamanan/ketertiban, masih mahal, sulit, dan langka bagi masyarakat banyak, itu berarti nasionalisme masih jauh dari tujuan hakikinya.

Ketika rekanan mereka, dewan legislatif dan penegak hukum, belum mampu mengambil keputusan tegas bahwa kepentingan publik dan bonum commune mengalahkan kepentingan pribadi dan partai politik, itu berarti nasionalisme akan senantiasa terkianati. Ketika duduk, berdiskusi, dan melegislasi aturan demi rakyatnya masih merupakan beban bagi badan eksekutif dan legislatif, itu tanda nasionalisme lumpuh.

Ketika pengadilan belum merupakan tempat terakhir bagi masyarakat untuk menemukan keadilan dan kebenaran karena masih merupakan singgasana para mafia, itu berarti nasionalisme kehilangan punggawa keadilan. Ketika setiap pasal perundang-undangan masih merupakan akumulasi dari kepentingan pribadi, kelompok, dan partai politik, itu menandakan bahwa makna nasionalisme tereduksi. Ketika sang koruptor tidak bisa ditangkap karena uang dan kuasanya masih sangat besar mempengaruhi keputusan penegak hukum, itu tanda bahwa nasionalisme sebagai semangat kebangsaan telah mati suri.

Ketika masyarakat masih tersiksa dengan aturan lalu lintas dan aturan menjaga kebersihan, menjadikan jalan publik sebagai sirkuit balap, menjadikan jalan publik sebagai tempat dan sumber mata pencaharian pribadi, itu tanda bahwa nasionalisme masih kalah dari egosentrisme.

Epilog

Indonesia meradang jika semangat nasionalisme semua elemen masyarakatnya dikalahkan oleh egosentrisme, favoritisme, dan kepalsuan. Nasionalisme yang terbelenggu ini butuh merdeka! Ternyata, kemerdekaan bukan momen. Ia adalah proses yang panjang!(*)

BANGKIT sebagai sebuah bangsa tidak terjadi sekali. Proses membangsa merujuk sebuah perjalanan tak lekang dari linieritas waktu dan kemudian membentuk sejarah. Pastinya, kebangkitan mengasumsikan pelampauan kondisi asal. Kondisi asal tersebut umumnya menggambarkan mediokritas. Demikian, ketika bangsa Indonesia merayakan kebangkitannya, itu seharusnya merujuk pada lompatan melampaui jebakan kondisi rata-rata.

Hari-hari ini, nasionalisme kita sementara mendapat asupan dari capaian atlet-atlet Indonesia yang berlaga di SEA GAMES 2022 di Hanoi, Vietnam. Walau, rupanya kita harus mengakui raihan Vietnam sebagai persiapan dan perhatian serius mereka terhadap dunia olah raga di negaranya. Makna kebangkitan juga semakin terang bersamaan dengan pengalaman melandainya tingkat ketegangan akan ancaman COVID-19. Ufuk pandemi memang belum terlihat. Namun, pendar mengarah pada endemi sudah sementara dititi.

Tesis Dasar Nasionalisme

Nasionalisme mengacu pada sebuah aliran yang mengakomodasi ideologi, bentuk-bentuk kultur, dan gerakan sosial dan menjadikan konsep kebangsaan (nation) sebagai fokus segala bentuk ekspresinya. Dua hal mendasar yang ditekankan adalah, pertama, menjunjung kedaulatan rakyat sebagai suatu bangsa. Kedua, mengidealkan legitimasi politik suatu bangsa sebagai suatu negara yang didasarkan pada kemampuan untuk menentukan kodrat dan masa depan sendiri.

Secara umum, nasionalisme mencakup dua fenomena besar. Pertama, semua bentuk sikap dan tindakan yang mengekspresikan kecintaan terhadap bangsa dan menegaskan identitas kebangsaan. Kedua, nasionalisme juga mencakup semua sikap dan tindakan anggota suatu bangsa untuk menegaskan dan mempertahankan kedaulatan. Jadi, nada dasar aliran nasionalisme adalah penegasan identitas kebangsaan dan pemeliharaan kedaulatan kebangsaan sebagai satu negara.

Dalam hal ini, sentimen kebangsaan yang membongkah dan membludak di arena-arena kompetisi nasional dan internasional tentu relevan dengan penegasan identitas kebangsaan. Rasa bangga yang mendalam tersebut membuat nasionalisme tidak abstrak lagi. Sebaliknya, itu dialami secara solid.

Di sisi lain, rekonstruksi bangsa yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah sejalan dengan pemeliharaan kedaulatan bangsa dan masyarakatnya. Pencapaian kesejahteraan masyarakat merupakan legitimasi politik tertinggi sebagai sebuah negara. Karena itu, dinamika negara yang diungkap di atas sungguh menghimpit proses penegasan nasionalisme negara kita.

Bentuk-Bentuk Ekstrim

Pada kenyataannya, sebagian besar negara-negara di dunia bersifat multinasional dan multietnis. Karena itu, klaim nasionalisme berbasis kelompok tertentu akan merusak wajah nasionalisme. Nasionalisme sempit ini akan berakibat pada konflik horizontal antar kelompok atau konflik vertikal antara pemerintah pusat dan kelompok separatis. Dalam hal ini, rekaman sejarah negara kita telah mencatat kejadian-kejadian di beberapa daerah di Jawa, Sulawesi, Maluku, Papua, Aceh, dll.

Ketegangan dan konfrontasi juga sangat mungkin terjadi antara negara yang satu dengan yang lain. Hal ini menjelaskan mengapa penegasan, penjagaan, dan pemeliharaan batas-batas negara menjadi krusial. Lebih dari itu, kemajuan teknologi bahkan memungkinkan konfrontasi dengan negara lain juga terjadi di media sosial. Hal ini seringkali terjadi karena usaha berlebihan untuk menunjukan superioritas negara yang satu kepada yang lain. Konfrontasi online tersebut bisa juga disebabkan oleh klaim sepihak suatu negara terhadap salah satu ekspresi atau produk kebudayaan negara lain (tarian, nyanyian, motif pakaian, makanan khas, dll).

Bentuk paling ekstrim dari nasionalisme bisa terungkap dalam bentuk perang, baik inter negara dan intra negara, bahkan dalam bentuk genocide (usaha untuk menghapuskan sebuah bangsa, etnis, kultur, ras, bahkan agama tertentu). Di abad ke-20, gerakan ekstrim ini telah muncul dengan menggunakan isu ras (Nazisme), isu nasionalis untuk menegaskan kedaulatan negara (facisme, state-nationalism). Dewasa ini, “rasisme” tidak lagi dianggap sebagai istilah yang tepat bagi gerakan berbasis isu ras. Term “etnosentrisme” dianggap lebih tepat mewakili logika dan motivasi gerakan tersebut.

Ekspresi ekstrim dari etnosentrisme adalah pembersihan etnik. Logika dibalik usaha ini adalah pembentukan satu negara yang direservasi secara eksklusif untuk satu etnis atau bangsa yang unggul saja. Sedangkan, motivasi yang melandasinya adalah untuk memperjuangkan kedaulatan dan mengartikulasi identitas bangsa secara kolektif dan eksklusif.

Belenggu

Ketika pusat-pusat pendidikan (sekolah dan universitas) belum mampu menyeimbangkan tuntutan managerial untuk bertahan hidup (aspek bisnis) dan tuntutan idealisme akademik dan kualitas pendidikan (pencerahan budi dan pedagogi), itu tanda bahwa nasionalisme kita masih terbelenggu. Ketika pencapaian karir akademik harus menghalalkan segala cara (ijazah palsu, plagiarisme, jual-beli nilai), itu berarti nasionalisme kita diricuh oleh pribadi-pribadi palsu.

Ketika mahasiswa atau murid masih takut untuk mengkritisi pengajarnya yang salah mengajar, yang tidak mempersiapkan diri sebelum mengajar, yang tidak mau atau tidak mampu mengembangkan dirinya secara serius, itu berarti agen-agen nasionalis kita masih kerdil. Ketika pengajar tidak mampu membuat sintesis antara menjadi favorit mahasiswa/murid dan menjaga kualitas akademik dan proses pedagogi, nasionalisme kita direduksi ke dalam favoritisme semu. Ketika salah satu atau bahkan banyak hal yang disebutkan di atas masih terjadi di lingkungan akademik kita, itu tanda bahwa kita merupakan mata rantai belenggu pengikat nasionalisme.

Ketika pemerintah dan birokrasi belum mampu melampaui job description, belum mampu menyajikan pelayanan prima, menempatkan pelayanan publik di bawah kepentingan pribadi dan partai politik, melakukan restrukturisasi lebih berdasarkan kedekatan filial dan politik daripada spesialisasi dan profesionalitas, itu menunjukan nasionalisme belum menjadi driving force reformasi birokrasi. Hal di atas juga menggambarkan bahwa revolusi mental masih jauh panggang dari api. Ketika pendidikan, pelayanan kesehatan, dan keamanan/ketertiban, masih mahal, sulit, dan langka bagi masyarakat banyak, itu berarti nasionalisme masih jauh dari tujuan hakikinya.

Ketika rekanan mereka, dewan legislatif dan penegak hukum, belum mampu mengambil keputusan tegas bahwa kepentingan publik dan bonum commune mengalahkan kepentingan pribadi dan partai politik, itu berarti nasionalisme akan senantiasa terkianati. Ketika duduk, berdiskusi, dan melegislasi aturan demi rakyatnya masih merupakan beban bagi badan eksekutif dan legislatif, itu tanda nasionalisme lumpuh.

Ketika pengadilan belum merupakan tempat terakhir bagi masyarakat untuk menemukan keadilan dan kebenaran karena masih merupakan singgasana para mafia, itu berarti nasionalisme kehilangan punggawa keadilan. Ketika setiap pasal perundang-undangan masih merupakan akumulasi dari kepentingan pribadi, kelompok, dan partai politik, itu menandakan bahwa makna nasionalisme tereduksi. Ketika sang koruptor tidak bisa ditangkap karena uang dan kuasanya masih sangat besar mempengaruhi keputusan penegak hukum, itu tanda bahwa nasionalisme sebagai semangat kebangsaan telah mati suri.

Ketika masyarakat masih tersiksa dengan aturan lalu lintas dan aturan menjaga kebersihan, menjadikan jalan publik sebagai sirkuit balap, menjadikan jalan publik sebagai tempat dan sumber mata pencaharian pribadi, itu tanda bahwa nasionalisme masih kalah dari egosentrisme.

Epilog

Indonesia meradang jika semangat nasionalisme semua elemen masyarakatnya dikalahkan oleh egosentrisme, favoritisme, dan kepalsuan. Nasionalisme yang terbelenggu ini butuh merdeka! Ternyata, kemerdekaan bukan momen. Ia adalah proses yang panjang!(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/