29 C
Manado
Selasa, 20 Oktober 2020

Konvergensi sebagai Solusi

MANADOPOST.ID-Menembus malam, roda kendaraan berputar pasti di awal bulan September 2020. Kendaraan ini mengantar tim Bappeda Provinsi Sulawesi Utara bersama dengan Team Leader LGCB-ASR INEY Region 5 Ditjen Bangda Kemendagri RI, Bapak Sam Patoro Larobu, menuju kabupaten lokasi fokus (lokus) stunting, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut).

Misi perjalanan ini menyasar monitoring dan penguatan konvergensi intervensi penanganan stunting dari pusat sampai ke daerah lokus. Faktanya, perjalanan ini bukan hanya akan akan mempertemukan tim gabungan ini dengan praktik unggul, tapi juga potensi penuh prospek.

Tim ini mengusung strategi bertahap. Tahap pertama mengevaluasi integrasi dan konvergensi pimpinan daerah dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Integrasi dan konvergensi ini kemudian akan diuji dengan proses deep interview dengan desa lokus dan keluarga yang anaknya termasuk dalam kategori anak stunting.

Stunting

Stunting merujuk pada kondisi gagal tumbuh pada anak di bawah lima tahun (balita) akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai terutama dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK), yaitu dari janin sampai anak berusia dua tahun. Konsekuensi jauhnya merujuk pada hambatan pada pertumbuhan dan perkembangan otak, serta kecenderungan resiko lebih tinggi untuk menderita penyakit kronis di masa dewasanya (Pedoman Pelaksanaan Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi di Kabupaten/Kota).

Intervensi pemerintah pusat sampai daerah memadankan intervensi gizi spesifik dan sensitif. Intervensi gizi spesifik menyasar penyebab langsung. Kegiatan ini mewujud dalam usaha memastikan asupan makanan dan gizi, pemberian makan, perawatan pola asuh, dan pengobatan infeksi/penyakit. Sedangkan, intervensi gizi sensitif melibati penyebab tak langsung. Dalam proses intervensi ini, pemerintah memadukan semua usaha peningkatan akses pangan bergizi, penajaman kesadaran, komitmen, dan praktik pengasuhan gizi ibu dan anak, peningkatan akses dan kualitas pelayanan gizi dan kesehatan, serta penyediaan air bersih dan sanitasi.

Komitmen tinggi pemerintah pusat demi penurunan angka stunting bermuara pada kesadaran dan aksi strategis yang berbasis pada pendekatan multisektor. Pendekatan ini mengintegrasikan program-program nasional, lokal, dan masyarakat di tingkat pusat dan daerah. Efektivitas pendekatan dan sinkronisasi program ini dipatenkan dalam 8 aksi konvergensi/integrasi mulai dari perencanaan dan penganggaran (aksi 1-3), pemberdayaan dan pelaksanaan (aksi 4 dan 5), pemantauan dan evaluasi (aksi 6-8).

Gambaran cakupan intervensi di atas langsung menampilkan sebuah deskripsi kerja raksasa. Deskripsi ini secara logis mengasumsikan jaringan kerja yang luas dan keterlibatan majemuk semua pilar demokrasi. Dua jenis intervensi ini sama sekali tidak bersifat eksklusif, mencukupi dan tertutup. Mereka justru berdaya serap dan daya undang tinggi terhadap semua jenis partisipasi dan keterlibatan dari masyarakat, dunia usaha, LSM, organisasi masyarakat, singkatnya semua pilar kewargaan.

Aksi Unggul

Tengah malam menyaksikan kehadiran tim ini di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara. Luapan energi dan antusiasme anggota tim menunda jam tidur dan menihilkan kelelahan fisik. Mereka langsung berbagi cerita dan strategi jitu demi menghadapi secara andal segala kemungkinan besok harinya.

Apresiasi tergambar jelas di wajah tim ini. Kehadiran Asisten II Bupati dan hampir semua pimpinan OPD yang terkait dalam konvergensi intervensi penanganan stunting daerah ini menggambarkan dedikasi tinggi terhadap aksi ini. Sang kepala dinas kesehatan memaparkan strategi dan aksi dengan penuh keyakinan. Sang kepala bapelitbangda mengatur alur diskusi secara elok. Radiasi antusiasme dan konvergensi tekad untuk menangani stunting di daerah ini menyebar dalam ruang diskusi. Sebuah awal yang indah, namun butuh uji.

Tim kemudian menjalankan strateginya untuk menguji gambaran andal di atas melalui kunjungan ke desa lokus. Desa Saleo Satu terpilih. Desa ini memang mengoleksi 29 kasus stunting, namun dengan sebuah prestasi: 15 anak “lulus” stunting. Kelulusan ini mengacu pada keluarnya anak-anak ini dari lubang jarum gagal tumbuh. Prestasi ini mengundang dua disposisi mental: kekaguman dan kuriositas. Disposisi mental ini tercurah dalam lontaran pertanyaan interviu mendalam dan berbagi pengalaman unggul. Nyatanya, konvergensi level pemerintah daerah dan desa menjadi solusi jitu.

Level OPD teknis memastikan pengukuran sementara baduta pada bulan Agustus 2020 mencapai target 100%. Posisi saat kunjungan tim menunjukkan angka 80% capaian dalam Aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM). Signifikansi capaian ini mencatatkan daerah ini sebagai pencatat angka pengukuran paling tinggi. Berdasarkan Buku Panduan e-PPGBM Sistem Informasi Gizi Terpadu, aplikasi ini bertujuan memperoleh informasi status gizi individu baik balita maupun ibu hamil secara cepat, akurat, teratur dan berkelanjutan demi penyusunan perencanaan dan perumusan kebijakan gizi.

Aksi desa ini melengkapi sintesis putaran gigi roda konvergensi intervensi stunting di daerah ini. Ia mengabdikan 30% dana desanya demi pengentasan stunting. Desa ini pun memastikan dirinya untuk memiliki ketahanan lumbung pangan. Kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan penyediaan air minum dan sanitasi desa ini mengintegrasikan sumber dana APBDes dan APBD.

Mereka pun mengandalkan kinerja tulus Kader Pembangunan Manusia (KPM) sebagai mitra kerja dalam memfasilitasi konvergensi intervensi penurunan stunting di desa ini. Para kader ini mencakup kader posyandu, kader gizi, dan kader lainnya. Potret desa Saleo Satu melengkapi album konvergensi intervensi penanganan stunting di daerah ini.

Dedikasi

Perjalanan tim ini sebelumnya telah menyasar desa lainnya. Desa ini mengungkap fakta unggul lain, yakni dengan alokasi minim ia “meluluskan” 6 anak stunting. Desa Minaesa, di Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara, mengidentifikasi 18 kasus stunting pada saat pengukuran bulan Februari 2020.

Berbeda dengan desa Saleo Satu yang mengandalkan strategi konvergensi unggul, desa ini bersandarkan pada dedikasi dan inovasi. Penemuan 18 kasus mendesak desa ini untuk berbenah. Stunting segera dilibati secara serius. Pelibatan ini berawal dari perencanaan dan penganggaran berbasis 3 sumber: pusat, daerah, dan desa.

Pemerintah pusat hadir dengan dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). BOK merujuk pada bantuan pemerintah melalui kementerian kesehatan untuk meningkatkan kinerja puskesmas dan jaringannya serta Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) demi pelayanan kesehatan promotif dan preventif sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM). Program ini mewujud dalam sinkronisasi dua kegiatan: PMT dan konseling gizi.

Kegiatan konseling dan pemantauan pertumbuhan anak balita di posyandu menjadi rutin. Kegiatan ini mengandalkan kinerja para tenaga kesehatan dengan sokongan dedikasi KPM. Petugas gizi menyosialisasikan menu makanan bergizi bagi anak di posyandu. Berhadapan dengan absensi orang tua, mereka tak apatis. Mereka bergegas untuk mengunjungi orang tua bersangkutan dengan pendekatan kekeluargaan. Dari BOK mengalir bantuan dalam bentuk bahan makanan belum diolah (kacang hijau dan susu) secara rutin dua kali per bulan. Sosialisasi dan konseling senantiasa menyertai pemberian bantuan makanan ini. Demikian, PMT dan konseling gizi beriringan.

Dari APBD, program pangan lestari tercetus. Kegiatannya mencakup penanaman pangan sehat oleh ibu-ibu yang memiliki anak stunting. Intervensi desa mencipta inovasi. Dana desa membiayai program Pos Tegas Stunting. Program ini mengalokasikan 60 ribu rupiah per anak stunting. Program ini bertujuan untuk mengintervensi melalui PMT dalam wujud olahan makanan bergizi selama 3 bulan berturut-turut. Menunya berawal dengan susu dan biskuit di pagi hari. Makan siang merujuk porsi makanan 4 bintang. Pada sore hari, 18 anak stunting ini kembali menikmati susu dan biskuit.

Dedikasi pemerintah desa berbaur dengan inovasi petugas gizi, kompetensi KPM, dan antusiasme penduduk desa, akhirnya bersintesis pada “kelulusan” 6 anak dari lubang jarum gagal tumbuh.

Epilog

Membandingkan strategi dan praktik unggul (“meluluskan” 15 dari total 29 anak berarti sekitar 51,7%) dan dedikasi plus inovasi (“meluluskan” 6 dari total 18 anak berarti sekitar 33,3%) menempati satu sisi pertimbangan. Di sisi yang lain, memadukan kedua pendekatan dan capaiannya ini menguak potensi provinsi ini untuk keluar dari belitan kasus stunting.

Kedua desa ini hanyalah bagian komplementer misi kemanusiaan bangsa dan provinsi ini. Belitan stunting akan mengaburkan janji generasi emas masa datang. Konvergensi intervensi menangani stunting inilah yang akan memoles potensi menjadi aktualisasi Indonesia emas.(*)

(Ditulis Oleh Tim Bappeda Provinsi Sulawesi Utara dan Team Leader LGCB-ASR INEY Region 5 Ditjen Bina Bangda Kemendagri RI)

-

Artikel Terbaru

Gantikan Situmorang, Moningkey Resmi  Pimpin Polres Minahasa

MANADOPOST.ID--Tongkat kepemimpinan Kepolisian Resort (Polres) Minahasa kembali berpindah. Berdasarkan Surat Keputusan Kapolri Nomor 979/V/2020 tanggal 1 Mei 2020 tentang pemberhentian

Minahasa Masih Aman dari La Nina

MANADOPOST.ID--Cuaca ekstrim terus menerpa wilayah Kabupaten Minahasa. Menurut BMKG, diketahui cuaca ekstrim tersebut terjadi akibat fenomena alam La Nina yang membuat

Relaksasi Pajak Ditolak, Hasrat Punya `Mobil` Murah Buyar

MANADOPOST.ID—Rencana penghapusan pajak mobil baru akibat dampak Coronavirus Disease (Covid-19), buyar. Sempat disambut baik oleh masyarakat Sulut karena berkesempatan membeli mobil murah, nyatanya rencana ini ditolak Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Sudah Empat Tenaga Kontrak `Dieksekusi`

MANADOPOST.ID—Pjs Wali Kota Bitung Drs Edison Humiang MSi kembali menunjukkan ketegasannya dengan memberhentikan dua tenaga kontrak yang terbukti tidak netral dalam Pilkada.

Angka Kehamilan Naik

MANADOPOST.ID—Terhitung sejak Januari sampai dengan September 2020, angka kehamilan di Kabupaten Sangihe mengalami peningkatan.