alexametrics
27.4 C
Manado
Minggu, 22 Mei 2022

Banner Mobile (Anymind)

Racun atau Nektar

RUMAH kopi senantiasa menjadi rumah bagi tumpang tindihnya narasi dan diskusi. Kini, kesan tradisionalnya tumbuh bersama ragam tampilan tematik rintisan kaum milenial. Raksasa waralaba juga tidak gegabah dengan tren dominasinya. Waralaba ini justru terdesak untuk respek terhadap eksistensi usaha kecil, mikro, dan menengah nan lekang dari ekspansi mereka

Resiliensi ragam rumah kopi ini bukan hanya manifestasi daya juang bisnis. Kehadiran mereka juga mencerminkan potensi Indonesia sebagai salah satu pengekspor terbesar setelah Brazil, Vietnam, dan Kolumbia. Walaupun, tantangan diversifikasi produk turunan kopi Indonesia sebagai komoditas ekspor masih terlalu menyesakkan untuk diabaikan.

Tajamnya aroma bisnis di sekitar kopi pun tak menyurutkan desakan tuntutan keadilan bagi seluruh gerigi roda yang berperan memutar roda produksi dan perdagangannya. Kesadaran global akan dinamika proses hilirisasi kopi dari hulu sampai bermuara ke rumah kopi dan di setiap cangkir penyeruput kopi, perlu senantiasa diasah demi apresiasi pantas.

Legenda dan Sejarah Kopi

Dalam sejarahnya, kopi telah diperhadapkan dengan oposisi-oposisi asumtif. Ia pernah dituduh sebagai “the drink of the devil” (minuman sang iblis), pendorong atau pemasung nafsu, penghalang pertumbuhan, penyebab kanker, bahkan penyebab tulang keropos. Pada saat yang sama, para penikmatnya menyanjung kopi sebagai elixir (obat mujarab) dan teman setia dalam diskusi.

Legenda itu dimulai di lereng-lereng gunung di Etiopia. Awalnya, biji kopi lebih merupakan makanan ringan penambah energi. Daunnya direbus untuk menghasilkan minuman yang mengandung caffeine dengan kadar rendah. Nanti sekitar abad ke-15, sangat mungkin seorang kemudian menyangrai biji kopi, menggilingnya, dan membuat kopi seperti yang kita kenal sekarang.

Untuk menggambarkan kasiat kopi, ada legenda Etiopia tentang penemuan kopi. Suatu hari seorang penyair sekaligus penggembala kambing, bernama Kaldi, melihat kambing-kambingnya sedang berdansa dengan menggunakan kaki belakang mereka. Mereka melakukan hal tersebut setelah makan daun dan buah kopi. Ketika Kaldi menguyah daun dan buah kopi tersebut, puisi dan lagu silih berganti keluar dari mulutnya. Ia bahkan merasa tidak akan pernah lelah dan menggerutu lagi.

Legenda kemudian berlanjut dalam sejarah. Setelah para peziarah memperkenalkannya di Afrika Utara, Persia, Mesir dan Turki di akhir abad ke-15, kopi mulai menjadi barang dagangan penting. Di abad ke-16 kopi telah sudah menjadi populer di masyarakat Timur Tengah pada umumnya. Kemudian melalui dokter, peneliti, ahli astronomi, dan penyair yang melakukan perjalanan ke Timur, kopi diperkenalkan kepada masyarakat Eropa secara khusus Jerman, Inggris dan Perancis.

Walau paruh pertama abad ke-17 kopi masih dianggap eksotik dan hanya bisa dijangkau oleh kaum elit, pada akhir abad ke-17 masyarakat Eropa mulai menemukan manfaat medis dan sosial dari kopi. Perkembangan ini kemudian semakin dipacu oleh kejayaan revolusi industri yang memungkinkan kopi diproduksi secara massal. Kopi akhirnya menjelma sebagai minuman universal yang mencairkan batas-batas strata sosial, ekonomi dan politik.

Filsafat dan Kopi

Socrates, Plato, dan Aristoteles tidak pernah menikmati secangkir kopi tubruk. Apalagi jenis Espresso, Cappuccino, Macchiato, Latte, dan Americano sebagai pengembangan artistik dan kultural dari kopi. Namun, setelah masuknya kopi ke Eropa pada abad ke-17, kopi menjadi salah satu minuman utama pendamping lahirnya pemikiran-pemikiran filosofis saat itu.

Voltaire (1694-1778) dikenal sebagai pembela pendekatan ilmu pengetahuan à la Newton. Ia pun dirujuk sebagai pembela filsafat dari terjangan fanatisme dan takhayul yang telah mengaburkan pandangan aristokrat monarkis dan eklesiastikal waktu itu. Dalam hubungannya dengan kopi, dilaporkan bahwa ia menghabiskan 40-50 cangkir kopi sehari.

Kopi juga menyertai periode Enlightenment di Perancis. Salah satu hasil intelektualnya mengacu pada L’Encyclopédie, sebuah proyek yang dipimpin oleh Dennis Diderot (1713-1784) dan d’Alembert (1717-1783). Karya ini menjadi bak amalgam semua pengetahuan yang telah dicapai di Eropa saat itu. Diderot menyertakan gambar gilingan kopi dalam proyek tersebut. Dilaporkan bahwa Voltaire menemani Diderot mengedit L’Encyclopédie sambil menikmati kopinya.

Immanuel Kant (1724-1804), seorang filsuf Jerman, tidak dikenal sebagai penikmat kopi hampir sepanjang hidupnya. Namun, dalam The Last Days of Immanuel Kant, Thomas de Quincey menggambarkan tingkat kemendesakan ketika Kant membutuhkan secangkir kopi. “Kopi harus segera tersedia. Tahu hal itu akan terjadi…kopi sudah digiling, air sudah sedang mendidih; pada saat perintah diturunkan, pelayannya segera datang bagaikan anak panah, memasukan kopi ke dalam air mendidih…Namun, jeda inipun sudah tak tertahankan bagi Kant.”

Søren Kierkegaard (1813-1855), seorang filsuf Denmark, dikenal sebagai pembela makna kehidupan manusia yang telah dipasung oleh formalisme dunia sosial dan religius yang semu dan oleh sistem pemikiran Hegel (1770-1831) yang abstrak. Ia mempunyai ritual membuat kopi sendiri. Ia akan menuang gula hingga membentuk piramida yang ujungnya melampaui bibir cangkir. Setelah itu, ia menuangkan kopi pekat dan panas ke dalam cangkir itu, yang secara perlahan meleburkan piramida gula tersebut.

Pada tahap ini, kopi telah menemani para filsuf untuk berkelana dengan pikirannya. Kopi menjadi pendamping diskusi-diskusi tentang hakikat realitas, kemampuan rasio sebagai fasilitas nalar, makna hidup manusia vs formalisme religius, dan makna keadilan. Di sini, kopi bukan hanya gaya hidup. Lebih dari itu, kopi telah menemani sebuah tradisi berpikir yang serius dan mendalam tentang manusia, realitas, bahkan Tuhan.

Filsafat kopi

David Berman, seorang profesor emeritus dari Trinity College Dublin, mengidentifikasi tiga jenis pencinta kopi. Kelompok pertama mencintai kopi pahit. Pahitnya kopi bukan terletak pada banyaknya kopi yang diseduh, tapi terlebih pada bagaimana biji kopi disangrai. Biji kopi jenis ini disangrai lebih lama dan lebih hitam. Dengan ini, kopi akan terasa lebih berat, pekat, hitam, dan pahit karena cita rasa asam dari biji kopi telah dilumpuhkan oleh proses tersebut. Secara umum, rasa pahit kopi memberi kesan sederhana, jelas, murni, dan gampang dicerna sebagai satu kesatuan rasa.

Kedua, kelompok yang mencintai kopi yang disangrai seperlunya sehingga menonjolkan rasa asam. Kualitas kopi ini terasa lebih terang, ringan, dengan kompleksitas rasa yang lebih liar dan ekspresif. Proses ini menyediakan kompleksitas kopi bagi orang-orang yang lebih condong pada selera dan cita rasa yang lebih bernuansa.

Kelompok ketiga menyasar mayoritas yang diam. Kebanyakan orang tidak memilih dua cita rasa ekstrem di atas. Mereka lebih cenderung fokus pada rasa kopi itu sendiri yang dikarakterisasi oleh minyak caffeol. Minyak caffeol ini, yang merupakan esensi dari kopi (pemberi cita rasa kopi), hanya 0,5 dari setiap biji kopi. Namun, esensi inilah yang membuat kopi menjadi kopi, yang tanpanya kopi tidak dapat diidentifikasi sebagai kopi.

Praktisnya, kelompok senyap ini menikmati Americano, yang tidak terlalu pahit dan tidak terlalu asam. Mereka menjadi konsumen umum dan tidak banyak berkecimpung dengan kompleksitas kopi. Bagi mereka, kopi mungkin bak fashion yang lebih dekat dengan langgam kekinian.

Esensi kopi, menurut para ahli kopi, ditentukan oleh cita rasa minyak caffeol. Cita rasa ini diidentifikasi oleh indera penciuman bukan indera perasa. Jadi, esensi kopi ditangkap bukan di saat kita meneguknya, tapi ketika kita menghirup cita rasa caffeol. Kalau begitu, apa peran rasa pahit dan asam dalam artikulasi esensi kopi? Haruskah kita mengeluarkan rasa pahit atau asam dari esensi kopi? Karena berbicara esensi, apakah ini perlu disebut metafisika kopi?

Selera rasa pahit atau asam sebenarnya seharusnya menjadi pintu memahami cita rasa seorang individu. Itu juga bisa menghantar kita untuk memahami sejarah kehidupan seseorang. Penulis sendiri senantiasa menikmati kopi tanpa gula, susu, atau cream. “Leave it black and pure, please!

Epilog

Menyitir pepatah Latin “de gustibus non disputandum est” (tentang selera, itu sebaiknya tidak perlu diperdebatkan), biarlah secangkir kopi dinikmati apapun selera sang pencinta. Biarlah caffeine yang diteguk menjadi nectar yang menstimulasi pikiran dan membuatnya lebih akurat sehingga kita berada dalam kejernihan dan keakuratan pikiran. Bukankah ini merupakan modal yang baik untuk memulai diskusi (entah politik, sosial, kultural, ekonomi, dan filsafat)?(*)

RUMAH kopi senantiasa menjadi rumah bagi tumpang tindihnya narasi dan diskusi. Kini, kesan tradisionalnya tumbuh bersama ragam tampilan tematik rintisan kaum milenial. Raksasa waralaba juga tidak gegabah dengan tren dominasinya. Waralaba ini justru terdesak untuk respek terhadap eksistensi usaha kecil, mikro, dan menengah nan lekang dari ekspansi mereka

Resiliensi ragam rumah kopi ini bukan hanya manifestasi daya juang bisnis. Kehadiran mereka juga mencerminkan potensi Indonesia sebagai salah satu pengekspor terbesar setelah Brazil, Vietnam, dan Kolumbia. Walaupun, tantangan diversifikasi produk turunan kopi Indonesia sebagai komoditas ekspor masih terlalu menyesakkan untuk diabaikan.

Tajamnya aroma bisnis di sekitar kopi pun tak menyurutkan desakan tuntutan keadilan bagi seluruh gerigi roda yang berperan memutar roda produksi dan perdagangannya. Kesadaran global akan dinamika proses hilirisasi kopi dari hulu sampai bermuara ke rumah kopi dan di setiap cangkir penyeruput kopi, perlu senantiasa diasah demi apresiasi pantas.

Legenda dan Sejarah Kopi

Dalam sejarahnya, kopi telah diperhadapkan dengan oposisi-oposisi asumtif. Ia pernah dituduh sebagai “the drink of the devil” (minuman sang iblis), pendorong atau pemasung nafsu, penghalang pertumbuhan, penyebab kanker, bahkan penyebab tulang keropos. Pada saat yang sama, para penikmatnya menyanjung kopi sebagai elixir (obat mujarab) dan teman setia dalam diskusi.

Legenda itu dimulai di lereng-lereng gunung di Etiopia. Awalnya, biji kopi lebih merupakan makanan ringan penambah energi. Daunnya direbus untuk menghasilkan minuman yang mengandung caffeine dengan kadar rendah. Nanti sekitar abad ke-15, sangat mungkin seorang kemudian menyangrai biji kopi, menggilingnya, dan membuat kopi seperti yang kita kenal sekarang.

Untuk menggambarkan kasiat kopi, ada legenda Etiopia tentang penemuan kopi. Suatu hari seorang penyair sekaligus penggembala kambing, bernama Kaldi, melihat kambing-kambingnya sedang berdansa dengan menggunakan kaki belakang mereka. Mereka melakukan hal tersebut setelah makan daun dan buah kopi. Ketika Kaldi menguyah daun dan buah kopi tersebut, puisi dan lagu silih berganti keluar dari mulutnya. Ia bahkan merasa tidak akan pernah lelah dan menggerutu lagi.

Legenda kemudian berlanjut dalam sejarah. Setelah para peziarah memperkenalkannya di Afrika Utara, Persia, Mesir dan Turki di akhir abad ke-15, kopi mulai menjadi barang dagangan penting. Di abad ke-16 kopi telah sudah menjadi populer di masyarakat Timur Tengah pada umumnya. Kemudian melalui dokter, peneliti, ahli astronomi, dan penyair yang melakukan perjalanan ke Timur, kopi diperkenalkan kepada masyarakat Eropa secara khusus Jerman, Inggris dan Perancis.

Walau paruh pertama abad ke-17 kopi masih dianggap eksotik dan hanya bisa dijangkau oleh kaum elit, pada akhir abad ke-17 masyarakat Eropa mulai menemukan manfaat medis dan sosial dari kopi. Perkembangan ini kemudian semakin dipacu oleh kejayaan revolusi industri yang memungkinkan kopi diproduksi secara massal. Kopi akhirnya menjelma sebagai minuman universal yang mencairkan batas-batas strata sosial, ekonomi dan politik.

Filsafat dan Kopi

Socrates, Plato, dan Aristoteles tidak pernah menikmati secangkir kopi tubruk. Apalagi jenis Espresso, Cappuccino, Macchiato, Latte, dan Americano sebagai pengembangan artistik dan kultural dari kopi. Namun, setelah masuknya kopi ke Eropa pada abad ke-17, kopi menjadi salah satu minuman utama pendamping lahirnya pemikiran-pemikiran filosofis saat itu.

Voltaire (1694-1778) dikenal sebagai pembela pendekatan ilmu pengetahuan à la Newton. Ia pun dirujuk sebagai pembela filsafat dari terjangan fanatisme dan takhayul yang telah mengaburkan pandangan aristokrat monarkis dan eklesiastikal waktu itu. Dalam hubungannya dengan kopi, dilaporkan bahwa ia menghabiskan 40-50 cangkir kopi sehari.

Kopi juga menyertai periode Enlightenment di Perancis. Salah satu hasil intelektualnya mengacu pada L’Encyclopédie, sebuah proyek yang dipimpin oleh Dennis Diderot (1713-1784) dan d’Alembert (1717-1783). Karya ini menjadi bak amalgam semua pengetahuan yang telah dicapai di Eropa saat itu. Diderot menyertakan gambar gilingan kopi dalam proyek tersebut. Dilaporkan bahwa Voltaire menemani Diderot mengedit L’Encyclopédie sambil menikmati kopinya.

Immanuel Kant (1724-1804), seorang filsuf Jerman, tidak dikenal sebagai penikmat kopi hampir sepanjang hidupnya. Namun, dalam The Last Days of Immanuel Kant, Thomas de Quincey menggambarkan tingkat kemendesakan ketika Kant membutuhkan secangkir kopi. “Kopi harus segera tersedia. Tahu hal itu akan terjadi…kopi sudah digiling, air sudah sedang mendidih; pada saat perintah diturunkan, pelayannya segera datang bagaikan anak panah, memasukan kopi ke dalam air mendidih…Namun, jeda inipun sudah tak tertahankan bagi Kant.”

Søren Kierkegaard (1813-1855), seorang filsuf Denmark, dikenal sebagai pembela makna kehidupan manusia yang telah dipasung oleh formalisme dunia sosial dan religius yang semu dan oleh sistem pemikiran Hegel (1770-1831) yang abstrak. Ia mempunyai ritual membuat kopi sendiri. Ia akan menuang gula hingga membentuk piramida yang ujungnya melampaui bibir cangkir. Setelah itu, ia menuangkan kopi pekat dan panas ke dalam cangkir itu, yang secara perlahan meleburkan piramida gula tersebut.

Pada tahap ini, kopi telah menemani para filsuf untuk berkelana dengan pikirannya. Kopi menjadi pendamping diskusi-diskusi tentang hakikat realitas, kemampuan rasio sebagai fasilitas nalar, makna hidup manusia vs formalisme religius, dan makna keadilan. Di sini, kopi bukan hanya gaya hidup. Lebih dari itu, kopi telah menemani sebuah tradisi berpikir yang serius dan mendalam tentang manusia, realitas, bahkan Tuhan.

Filsafat kopi

David Berman, seorang profesor emeritus dari Trinity College Dublin, mengidentifikasi tiga jenis pencinta kopi. Kelompok pertama mencintai kopi pahit. Pahitnya kopi bukan terletak pada banyaknya kopi yang diseduh, tapi terlebih pada bagaimana biji kopi disangrai. Biji kopi jenis ini disangrai lebih lama dan lebih hitam. Dengan ini, kopi akan terasa lebih berat, pekat, hitam, dan pahit karena cita rasa asam dari biji kopi telah dilumpuhkan oleh proses tersebut. Secara umum, rasa pahit kopi memberi kesan sederhana, jelas, murni, dan gampang dicerna sebagai satu kesatuan rasa.

Kedua, kelompok yang mencintai kopi yang disangrai seperlunya sehingga menonjolkan rasa asam. Kualitas kopi ini terasa lebih terang, ringan, dengan kompleksitas rasa yang lebih liar dan ekspresif. Proses ini menyediakan kompleksitas kopi bagi orang-orang yang lebih condong pada selera dan cita rasa yang lebih bernuansa.

Kelompok ketiga menyasar mayoritas yang diam. Kebanyakan orang tidak memilih dua cita rasa ekstrem di atas. Mereka lebih cenderung fokus pada rasa kopi itu sendiri yang dikarakterisasi oleh minyak caffeol. Minyak caffeol ini, yang merupakan esensi dari kopi (pemberi cita rasa kopi), hanya 0,5 dari setiap biji kopi. Namun, esensi inilah yang membuat kopi menjadi kopi, yang tanpanya kopi tidak dapat diidentifikasi sebagai kopi.

Praktisnya, kelompok senyap ini menikmati Americano, yang tidak terlalu pahit dan tidak terlalu asam. Mereka menjadi konsumen umum dan tidak banyak berkecimpung dengan kompleksitas kopi. Bagi mereka, kopi mungkin bak fashion yang lebih dekat dengan langgam kekinian.

Esensi kopi, menurut para ahli kopi, ditentukan oleh cita rasa minyak caffeol. Cita rasa ini diidentifikasi oleh indera penciuman bukan indera perasa. Jadi, esensi kopi ditangkap bukan di saat kita meneguknya, tapi ketika kita menghirup cita rasa caffeol. Kalau begitu, apa peran rasa pahit dan asam dalam artikulasi esensi kopi? Haruskah kita mengeluarkan rasa pahit atau asam dari esensi kopi? Karena berbicara esensi, apakah ini perlu disebut metafisika kopi?

Selera rasa pahit atau asam sebenarnya seharusnya menjadi pintu memahami cita rasa seorang individu. Itu juga bisa menghantar kita untuk memahami sejarah kehidupan seseorang. Penulis sendiri senantiasa menikmati kopi tanpa gula, susu, atau cream. “Leave it black and pure, please!

Epilog

Menyitir pepatah Latin “de gustibus non disputandum est” (tentang selera, itu sebaiknya tidak perlu diperdebatkan), biarlah secangkir kopi dinikmati apapun selera sang pencinta. Biarlah caffeine yang diteguk menjadi nectar yang menstimulasi pikiran dan membuatnya lebih akurat sehingga kita berada dalam kejernihan dan keakuratan pikiran. Bukankah ini merupakan modal yang baik untuk memulai diskusi (entah politik, sosial, kultural, ekonomi, dan filsafat)?(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/