30.4 C
Manado
Selasa, 5 Juli 2022

Membumikan Pancasila, Membangkitkan Pemuda

Oleh: Dr. Audy R. R. Pangemanan, M.Si.*

BULAN Oktober merupakan salah satu bulan penuh makna historikal bagi perjalanan Bangsa dan Negara Indonesia. Setiap tanggal 1 Oktober kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila, dan setiap tanggal 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pancasila sendiri lahir pada 1 Juni 1945, yang kemudian disahkan sebagai dasar Negara pada sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Tujuh belas tahun sebelumnya, Sumpah Pemuda telah diikrarkan oleh para pemuda Indonesia, untuk menegaskan bahwa persatuan adalah kunci dalam mewujudkan kemerdekaan bangsa. Terdapat dua peristiwa utama yang menandai eksistensi Negara Indonesia. Peristiwa Sumpah Pemuda sebagai wujud energi besar yang mendorong perjuangan terbentuknya Negara dengan satu tanah air, bangsa dan bahasa. Sementara Pancasila sebagai fondasi atau dasar Negara, yang digali dari kepribadian atau watak asli  manusia dan bangsa Indonesia. Banyak pihak kemudian menyimpulkan, Indonesia sebagai bangsa, sesungguhnya tercetuskan dalam momen Sumpah Pemuda, dan dasar negara ditemukan dalam Pancasila.

Prof. Mafud MD mengatakan bahwa Sumpah Pemuda memengaruhi para pendiri bangsa dalam menentukan ideologi Pancasila. Tidak jarang orang menyebut Pancasila merupakan pengejawantahan dari semangat pemuda yang berkobar-kobar sejak Kongres Pemuda I tahun 1926, dan puncaknya pada Kongres Pemuda II tahun 1928. Presiden Ke-5 RI Ibu Megawati Soekarnoputri menilai Sumpah Pemuda dan Pancasila memiliki satu historis yang kuat dan terdapat keterkaitan satu sama lain dalam terwujudnya kemerdekaan Indonesia. Jelas bahwa Sumpah Pemuda dan Pancasila merupakan satu tarikan nafas perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sumpah Pemuda tidak hanya memberi visi kebangsaan tetapi merupakan fondasi terpenting keseluruhan gagasan Indonesia merdeka, yaitu, komitmen satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan Indonesia.

Disisi lain, Pancasila hadir sebagai falsafah hidup berbangsa dan bernegara, yang digali oleh Bung Karno dari bumi Indonesia. Ketika mengusulkan dasar Negara melalui pidatonya pada sidang BPUPKI 1 Juni 1945, Bung Karno menamai 5 (lima) prinsip dasar yang dikemukakannya sebagai Pancasila. Bung Karno berkata “Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.” Lima nilai kesusilaan yang mengajarkan bangsa Indonesia untuk berwatak religius, berprikemanusiaan (bermoral), membangun persaudaraan, bersikap demokratis dan adil. Dan kelima karakter itu diperkuat dengan sikap bertoleransi untuk menjaga persatuan dalam keanekaragaman melalui semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Selaras dengan nilai utama dan semangat Sumpah Pemuda, yaitu, menyatukan seluruh komponen keanekaragaman suku, budaya, agama dan kepercayaan ke dalam satu ikatan bangsa dan negara seperti Indonesia.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Heryansyah (2014) dalam kajiannya menyebut kalau kita hayati lebih mendalam, sumpah pemuda merupakan aktifitas yang melampaui rasionalitas zamannya, yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesadaran tinggi akan satu-kesatuan dan persamaan nasib sebagai sebuah bangsa. Bisa kita bayangkan, sumpah para pemuda yang dilakukan untuk mengikatkan diri sebagai satu-kesatuan ditengah jajahan negara kolonial kejam yang menginginkan imprealisme tanpa batas. Ini adalah bukti bagaimana pemuda telah mengambil peran sentral dalam sejarah perjuangan bangsa, bukan hanya di Indonesia, tapi di semua negara di dunia. Pergerakan pemuda tidak lepas dari semangat membara dan idealismenya yang menjadi senjata utama. Pertanyaanya, apakah nilai dan semangat Sumpah Pemuda 93 tahun yang lalu itu masih sama dan tetap bergelora seperti bara api dihati generasi muda zaman sekarang?

Tema Hari Sumpah Pemuda ke-93 di tahun 2021 ini adalah  “Bersatu, Bangkit dan Tumbuh”. Dalam pidatonya, Menteri Pemuda dan Olahraga RI menyebut tema ini diambil untuk menegaskan kembali komitmen yang telah dibangun oleh para pemuda yang diikrarkan pada tahun 1928 dalam Sumpah Pemuda. Artinya, ada pergeseran nilai yang disadari. Semangat Sumpah Pemuda mulai meredeup dikalangan generasi muda itu sendiri. Generasi muda diingatkan bahwa  hanya dengan persatuan kita dapat mewujudkan cita-cita bangsa. Tema Bersatu, Bangkit dan Tumbuh ini sesungguhnya diperuntukan untuk seluruh elemen bangsa, tetapi bagi pemuda menjadi penting karena di tangan pemudalah kita berharap Indonesia bisa Bangkit dari keterpurukan akibat Pandemi dan melangkah lebih maju untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, demikian isi pidato Menpora dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2021.

Sepakat dengan bagian lain dari isi pidato Menpora; kalau pemuda generasi terdahulu mampu keluar dari jebakan sikap-sikap primordial suku, agama, ras dan kultur, menuju persatuan dan kesatuan Bangsa, maka tugas pemuda saat ini adalah harus sanggup membuka pandangan ke luar batas-batas tembok kekinian dunia, memiliki karakter, kapasitas, kemampuan inovasi, kreativitas yang tinggi, mandiri, inspiratif serta mampu bertahan dan unggul dalam menghadapi persaingan global demi menyongsong masa depan dunia yang lebih baik. Selain itu, salah satu harapan terbesar bangsa ini adalah bagaimana generasi muda – yang jumlahnya saat ini mencapai 53,81% dari total penduduk Indonesia berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020 –  menjadi manusia unggul Indonesia seutuhnya dengan nilai-nilai Pancasila yang teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Semestinya, generasi muda saat ini tidak lagi terjebak dalam isu-isu yang telah lama teratasi, bahkan oleh pemuda Indonesia di zaman 93 tahun yang lalu. Betapa mundurnya bangsa ini jika isu-isu seperti primodialisme suku, agama, ras, dan kultur masih menjadi momok yang menghambat kemajuan bangsa. Apalagi jika hal itu dilakukan oleh generasi muda, yang seharusnya menunjukkan perannya dalam mengawal perjalanan bangsa, baik sebagai pemberi kontrol atau pemberi masukan dalam rangka untuk menentukan kebijakan pemerintah kedepan.

Pada tahun 2045 nanti, kita akan mencapai puncak bonus demografi. Milenials dan Gen Y akan mencapai usia yang matang untuk mengisi ruang-ruang kepemimpinan bangsa ini, serta seluruh sektor pembangunan lainnya. Dalam kaitan itulah, maka pemuda masa kini tidak hanya perlu memiliki kecerdasan intelektual dan kemampuan manajemen yang baik, tapi juga harus memahami cita-cita dasar (rechtsidee), filsafat hidup, pandangan hidup serta ideologi negara saat di didirikan, agar kelak saat benar-benar menjadi pemimpin negara, segala tindakan yang dilakukan tidak menyimpang dari apa yang telah dirumuskan oleh founding people, sebagaimana yang dikemukakan Heryansyah dalam kajiannya, Tanggung Jawab Pemuda terhadap Masa Depan Pancasila. Untuk mencapai harapan tersebut bukanlah tanpa tantangan dan ancaman.

Oleh: Dr. Audy R. R. Pangemanan, M.Si.*

BULAN Oktober merupakan salah satu bulan penuh makna historikal bagi perjalanan Bangsa dan Negara Indonesia. Setiap tanggal 1 Oktober kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila, dan setiap tanggal 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pancasila sendiri lahir pada 1 Juni 1945, yang kemudian disahkan sebagai dasar Negara pada sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945. Tujuh belas tahun sebelumnya, Sumpah Pemuda telah diikrarkan oleh para pemuda Indonesia, untuk menegaskan bahwa persatuan adalah kunci dalam mewujudkan kemerdekaan bangsa. Terdapat dua peristiwa utama yang menandai eksistensi Negara Indonesia. Peristiwa Sumpah Pemuda sebagai wujud energi besar yang mendorong perjuangan terbentuknya Negara dengan satu tanah air, bangsa dan bahasa. Sementara Pancasila sebagai fondasi atau dasar Negara, yang digali dari kepribadian atau watak asli  manusia dan bangsa Indonesia. Banyak pihak kemudian menyimpulkan, Indonesia sebagai bangsa, sesungguhnya tercetuskan dalam momen Sumpah Pemuda, dan dasar negara ditemukan dalam Pancasila.

Prof. Mafud MD mengatakan bahwa Sumpah Pemuda memengaruhi para pendiri bangsa dalam menentukan ideologi Pancasila. Tidak jarang orang menyebut Pancasila merupakan pengejawantahan dari semangat pemuda yang berkobar-kobar sejak Kongres Pemuda I tahun 1926, dan puncaknya pada Kongres Pemuda II tahun 1928. Presiden Ke-5 RI Ibu Megawati Soekarnoputri menilai Sumpah Pemuda dan Pancasila memiliki satu historis yang kuat dan terdapat keterkaitan satu sama lain dalam terwujudnya kemerdekaan Indonesia. Jelas bahwa Sumpah Pemuda dan Pancasila merupakan satu tarikan nafas perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sumpah Pemuda tidak hanya memberi visi kebangsaan tetapi merupakan fondasi terpenting keseluruhan gagasan Indonesia merdeka, yaitu, komitmen satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan Indonesia.

Disisi lain, Pancasila hadir sebagai falsafah hidup berbangsa dan bernegara, yang digali oleh Bung Karno dari bumi Indonesia. Ketika mengusulkan dasar Negara melalui pidatonya pada sidang BPUPKI 1 Juni 1945, Bung Karno menamai 5 (lima) prinsip dasar yang dikemukakannya sebagai Pancasila. Bung Karno berkata “Sila artinya azas atau dasar, dan di atas kelima dasar itulah kita mendirikan Negara Indonesia, kekal dan abadi.” Lima nilai kesusilaan yang mengajarkan bangsa Indonesia untuk berwatak religius, berprikemanusiaan (bermoral), membangun persaudaraan, bersikap demokratis dan adil. Dan kelima karakter itu diperkuat dengan sikap bertoleransi untuk menjaga persatuan dalam keanekaragaman melalui semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Selaras dengan nilai utama dan semangat Sumpah Pemuda, yaitu, menyatukan seluruh komponen keanekaragaman suku, budaya, agama dan kepercayaan ke dalam satu ikatan bangsa dan negara seperti Indonesia.

Heryansyah (2014) dalam kajiannya menyebut kalau kita hayati lebih mendalam, sumpah pemuda merupakan aktifitas yang melampaui rasionalitas zamannya, yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kesadaran tinggi akan satu-kesatuan dan persamaan nasib sebagai sebuah bangsa. Bisa kita bayangkan, sumpah para pemuda yang dilakukan untuk mengikatkan diri sebagai satu-kesatuan ditengah jajahan negara kolonial kejam yang menginginkan imprealisme tanpa batas. Ini adalah bukti bagaimana pemuda telah mengambil peran sentral dalam sejarah perjuangan bangsa, bukan hanya di Indonesia, tapi di semua negara di dunia. Pergerakan pemuda tidak lepas dari semangat membara dan idealismenya yang menjadi senjata utama. Pertanyaanya, apakah nilai dan semangat Sumpah Pemuda 93 tahun yang lalu itu masih sama dan tetap bergelora seperti bara api dihati generasi muda zaman sekarang?

Tema Hari Sumpah Pemuda ke-93 di tahun 2021 ini adalah  “Bersatu, Bangkit dan Tumbuh”. Dalam pidatonya, Menteri Pemuda dan Olahraga RI menyebut tema ini diambil untuk menegaskan kembali komitmen yang telah dibangun oleh para pemuda yang diikrarkan pada tahun 1928 dalam Sumpah Pemuda. Artinya, ada pergeseran nilai yang disadari. Semangat Sumpah Pemuda mulai meredeup dikalangan generasi muda itu sendiri. Generasi muda diingatkan bahwa  hanya dengan persatuan kita dapat mewujudkan cita-cita bangsa. Tema Bersatu, Bangkit dan Tumbuh ini sesungguhnya diperuntukan untuk seluruh elemen bangsa, tetapi bagi pemuda menjadi penting karena di tangan pemudalah kita berharap Indonesia bisa Bangkit dari keterpurukan akibat Pandemi dan melangkah lebih maju untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia, demikian isi pidato Menpora dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2021.

Sepakat dengan bagian lain dari isi pidato Menpora; kalau pemuda generasi terdahulu mampu keluar dari jebakan sikap-sikap primordial suku, agama, ras dan kultur, menuju persatuan dan kesatuan Bangsa, maka tugas pemuda saat ini adalah harus sanggup membuka pandangan ke luar batas-batas tembok kekinian dunia, memiliki karakter, kapasitas, kemampuan inovasi, kreativitas yang tinggi, mandiri, inspiratif serta mampu bertahan dan unggul dalam menghadapi persaingan global demi menyongsong masa depan dunia yang lebih baik. Selain itu, salah satu harapan terbesar bangsa ini adalah bagaimana generasi muda – yang jumlahnya saat ini mencapai 53,81% dari total penduduk Indonesia berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020 –  menjadi manusia unggul Indonesia seutuhnya dengan nilai-nilai Pancasila yang teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Semestinya, generasi muda saat ini tidak lagi terjebak dalam isu-isu yang telah lama teratasi, bahkan oleh pemuda Indonesia di zaman 93 tahun yang lalu. Betapa mundurnya bangsa ini jika isu-isu seperti primodialisme suku, agama, ras, dan kultur masih menjadi momok yang menghambat kemajuan bangsa. Apalagi jika hal itu dilakukan oleh generasi muda, yang seharusnya menunjukkan perannya dalam mengawal perjalanan bangsa, baik sebagai pemberi kontrol atau pemberi masukan dalam rangka untuk menentukan kebijakan pemerintah kedepan.

Pada tahun 2045 nanti, kita akan mencapai puncak bonus demografi. Milenials dan Gen Y akan mencapai usia yang matang untuk mengisi ruang-ruang kepemimpinan bangsa ini, serta seluruh sektor pembangunan lainnya. Dalam kaitan itulah, maka pemuda masa kini tidak hanya perlu memiliki kecerdasan intelektual dan kemampuan manajemen yang baik, tapi juga harus memahami cita-cita dasar (rechtsidee), filsafat hidup, pandangan hidup serta ideologi negara saat di didirikan, agar kelak saat benar-benar menjadi pemimpin negara, segala tindakan yang dilakukan tidak menyimpang dari apa yang telah dirumuskan oleh founding people, sebagaimana yang dikemukakan Heryansyah dalam kajiannya, Tanggung Jawab Pemuda terhadap Masa Depan Pancasila. Untuk mencapai harapan tersebut bukanlah tanpa tantangan dan ancaman.

Most Read

Artikel Terbaru

/