24.4 C
Manado
Sabtu, 13 Agustus 2022

Membumikan Pancasila, Membangkitkan Pemuda

Tumbuh dekat dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, serta intensnya media sosial, menyebabkan generasi muda masa kini banyak terpengaruh fenomena materialisme, pragmatisme, dan hedonisme. Para milenials dan Gen Z cenderung bersikap individualistis, self centered, narsis, dan mencintai budaya instan. Sudut pandang tersebut mulai mengikis moralitas dan akhlak masyarakat, khususnya generasi muda. Dekadensi moral dan akhlak tersebut membawa pada ancaman yang lebih negatif dan merusak, yaitu, intoleransi, radikalisme, disintegrasi, serta infiltrasi ideologi asing. Munculnya isu-isu tersebut, yang semakin hari semakin mendera Indonesia, memperlihatkan telah tergerusnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada tahun 2017 yang lalu menemukan 9,5% milenial setuju Pancasila diganti sebagai ideologi negara. Meskipun persentase yang tidak setuju jauh lebih besar, yakni 90,5%, tetapi fakta itu merupakan sinyal awal kian tergerusnya Pancasila. Tahun 2020, hasil survey Komunitas Pancasila Muda menemukan ada 19,5% responden yang menyatakan tidak yakin dengan nilai-nilai Pancasila itu relevan dengan kehidupan mereka saat ini. Situasi ini sekaligus bisa jadi menunjukkan pergeseran pandangan dan ketidakpedulian generasi milenial terhadap Pancasila. Penyebab hilangnya penghayatan Pancasila di kalangan generasi muda karena beberapa faktor baik dari dalam diri generasi muda maupun faktor lingkungan. Ada banyak alasan, salah satunya sulitnya nilai-nilai Pancasila terdesimenasi dikalangan anak muda. Sebagai generasi dengan nilai-nilai sosial baru yang berbasis modernitas, kaum milenial disatu sisi terdorong pada peningkatan prestasi akademik, kreatifitas dan inovasi berbasis IPTEK yang tinggi, tapi jangan sampai mengabaikan pandangan-pandangan kebangsaan.

Menurut Wulandari (2021), tantangan Pancasila tentu akan terus mengalami dinamika dari dalam negeri sendiri, sebagaimana permasalahan yang ditemukan bahwa di sekolah saja Pancasila hanyalah menjadi hafalan tanpa memberikan makna dan gambaran nyata implementasinya. Dapat dikatakan, Pancasila mengalami surplus dalam hafalan, tetapi defisit dalam tindakan. Nilai-nilai Pancasila harus tetap dipahami dan diamalkan di tengah arus globalisasi dan era disrupsi. Saat ini, tantangan kita bersama adalah bagaimana nilai-nilai Pancasila teraktualisasi di kalangan milenial, dengan cara yang mudah mereka pahami. Milenials dan gen Z menjadi obyek utama yang harus didorong untuk tetap mengamalkan nilai luhur Pancasila.  Generasi muda saat ini merupakan motor untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Karena itu, milenials dan gen Z Indonesia harus tetap berpedoman pada Pancasila agar tidak tergerus oleh penyimpangan ideologi. Penanaman nilai Pancasila pada generasi muda akan semakin membentuk akhlak dan karakter cerdas, toleran, inklusif, dan punya literasi dan moderasi keagamaan yang baik.

Diperlukan strategi khusus dalam menanamkan nilai Pancasila pada generasi muda. Pendekatan doktrinasi untuk menanamkan Pancasila sudah tidak relevan. Dibanding menggurui anak-anak muda, akan lebih mudah mendengar aspirasi mereka tentang Pancasila. Pemerintah perlu menyiapkan strategi kekinian dan fleksibel dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila dikalangan generasi muda. Di era revolusi digital atau 4.0 saat ini, memanfaatkan perkembangan TIK dan platform media sosial merupakan metode efektif dalam upaya penanaman nilai-nilai Pancasila. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengemas konten-konten yang menarik perhatian generasi muda untuk belajar dan mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial adalah ruang yang sangat luas, dimana konten-konten bersaing untuk mendapat perhatian publik. Kalau ideologi-ideologi lain menyebarkan pahamnya melalui internet, Pancasila (juga) harus dibuat menarik melalui media-media internet itu. Lantas, konten Pancasila seperti apa yang perlu mengisi ruang publik media sosial? Konten-konten sosialisasi dan upaya internalisasi Pancasila non-seremonial dan struktural.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Dalam sosialisasi melalui platform digital, aktualisasi Pancasila harus ditampilkan secara praksis, pada level tindakan bukan diskursus yang tidak menyentuh bumi. Penanaman nilai-nilai Pancasila berbasis digital perlu dilakukan berdasarkan riset terhadap konten atau narasi apa yang mudah diterima kalangan milenial berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila. Misalnya, konten tentang “Ini Pancasila, Itu Pancasila” melalui potret-potret tindakan sederhana, seperti menghargai ibadah sesuai agama dan kepercayaan, antri, buang sampah pada tempatnya, membereskan sisa atau bekas makanan sendiri, menabung, bersih-bersih ruang kerja, socio-preneurship, dll. Ada begitu banyak aktifitas disekitar kita, yang jika dilakukan, akan dengan mudah kemudian menyebutnya, ini loh, Pancasila; itu loh, Pancasila. Menampilkan sosok publik sebagai teladan Pancasila dalam perbuatan/ tindakan juga harus benar-benar mengedepankan integritas bukan popularitas semata. Figur teladan yang ditampilkan adalah figur yang dekat dengan kehidupan anak muda. Hal ini penting sebagai strategi penanaman nilai-nilai Pancasila. Pada sisi pendidikan karakter, perlu mengembangkan Sekolah/ Akademi Pancasila Digital. Gali berbagai nilai Pancasila yang bisa disampaikan dengan metode yang kekinian, tidak menggurui, serta sesuai dengan selera generasi muda.

Ambiro mengemukakan, kelangsungan hidup Negara dan bangsa Indonesia di era globalisasi, mengharuskan kita untuk melestarikan nilai-nilai Pancasila, agar generasi muda sebagai penerus bangsa tetap dapat menghayati dan mengamalkannya dan agar intisari nilai-nilai  luhur Pancasila tetap terjaga dan menjadi pedoman bangsa Indonesia sepanjang masa.
Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Bung Karno “Apabila bangsa Indonesia ini melupakan Pancasila, tidak melangsungkan dan bahkan mengamalkan, maka bangsa ini akan hancur berkeping-keping. Oleh karena itu manusia Indonesia harus mengimplementasikan seluruh nilai-nilai pancasila tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.”

Tumbuh dekat dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, serta intensnya media sosial, menyebabkan generasi muda masa kini banyak terpengaruh fenomena materialisme, pragmatisme, dan hedonisme. Para milenials dan Gen Z cenderung bersikap individualistis, self centered, narsis, dan mencintai budaya instan. Sudut pandang tersebut mulai mengikis moralitas dan akhlak masyarakat, khususnya generasi muda. Dekadensi moral dan akhlak tersebut membawa pada ancaman yang lebih negatif dan merusak, yaitu, intoleransi, radikalisme, disintegrasi, serta infiltrasi ideologi asing. Munculnya isu-isu tersebut, yang semakin hari semakin mendera Indonesia, memperlihatkan telah tergerusnya nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Survei Centre for Strategic and International Studies (CSIS) pada tahun 2017 yang lalu menemukan 9,5% milenial setuju Pancasila diganti sebagai ideologi negara. Meskipun persentase yang tidak setuju jauh lebih besar, yakni 90,5%, tetapi fakta itu merupakan sinyal awal kian tergerusnya Pancasila. Tahun 2020, hasil survey Komunitas Pancasila Muda menemukan ada 19,5% responden yang menyatakan tidak yakin dengan nilai-nilai Pancasila itu relevan dengan kehidupan mereka saat ini. Situasi ini sekaligus bisa jadi menunjukkan pergeseran pandangan dan ketidakpedulian generasi milenial terhadap Pancasila. Penyebab hilangnya penghayatan Pancasila di kalangan generasi muda karena beberapa faktor baik dari dalam diri generasi muda maupun faktor lingkungan. Ada banyak alasan, salah satunya sulitnya nilai-nilai Pancasila terdesimenasi dikalangan anak muda. Sebagai generasi dengan nilai-nilai sosial baru yang berbasis modernitas, kaum milenial disatu sisi terdorong pada peningkatan prestasi akademik, kreatifitas dan inovasi berbasis IPTEK yang tinggi, tapi jangan sampai mengabaikan pandangan-pandangan kebangsaan.

Menurut Wulandari (2021), tantangan Pancasila tentu akan terus mengalami dinamika dari dalam negeri sendiri, sebagaimana permasalahan yang ditemukan bahwa di sekolah saja Pancasila hanyalah menjadi hafalan tanpa memberikan makna dan gambaran nyata implementasinya. Dapat dikatakan, Pancasila mengalami surplus dalam hafalan, tetapi defisit dalam tindakan. Nilai-nilai Pancasila harus tetap dipahami dan diamalkan di tengah arus globalisasi dan era disrupsi. Saat ini, tantangan kita bersama adalah bagaimana nilai-nilai Pancasila teraktualisasi di kalangan milenial, dengan cara yang mudah mereka pahami. Milenials dan gen Z menjadi obyek utama yang harus didorong untuk tetap mengamalkan nilai luhur Pancasila.  Generasi muda saat ini merupakan motor untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Karena itu, milenials dan gen Z Indonesia harus tetap berpedoman pada Pancasila agar tidak tergerus oleh penyimpangan ideologi. Penanaman nilai Pancasila pada generasi muda akan semakin membentuk akhlak dan karakter cerdas, toleran, inklusif, dan punya literasi dan moderasi keagamaan yang baik.

Diperlukan strategi khusus dalam menanamkan nilai Pancasila pada generasi muda. Pendekatan doktrinasi untuk menanamkan Pancasila sudah tidak relevan. Dibanding menggurui anak-anak muda, akan lebih mudah mendengar aspirasi mereka tentang Pancasila. Pemerintah perlu menyiapkan strategi kekinian dan fleksibel dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila dikalangan generasi muda. Di era revolusi digital atau 4.0 saat ini, memanfaatkan perkembangan TIK dan platform media sosial merupakan metode efektif dalam upaya penanaman nilai-nilai Pancasila. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah bagaimana mengemas konten-konten yang menarik perhatian generasi muda untuk belajar dan mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial adalah ruang yang sangat luas, dimana konten-konten bersaing untuk mendapat perhatian publik. Kalau ideologi-ideologi lain menyebarkan pahamnya melalui internet, Pancasila (juga) harus dibuat menarik melalui media-media internet itu. Lantas, konten Pancasila seperti apa yang perlu mengisi ruang publik media sosial? Konten-konten sosialisasi dan upaya internalisasi Pancasila non-seremonial dan struktural.

Dalam sosialisasi melalui platform digital, aktualisasi Pancasila harus ditampilkan secara praksis, pada level tindakan bukan diskursus yang tidak menyentuh bumi. Penanaman nilai-nilai Pancasila berbasis digital perlu dilakukan berdasarkan riset terhadap konten atau narasi apa yang mudah diterima kalangan milenial berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila. Misalnya, konten tentang “Ini Pancasila, Itu Pancasila” melalui potret-potret tindakan sederhana, seperti menghargai ibadah sesuai agama dan kepercayaan, antri, buang sampah pada tempatnya, membereskan sisa atau bekas makanan sendiri, menabung, bersih-bersih ruang kerja, socio-preneurship, dll. Ada begitu banyak aktifitas disekitar kita, yang jika dilakukan, akan dengan mudah kemudian menyebutnya, ini loh, Pancasila; itu loh, Pancasila. Menampilkan sosok publik sebagai teladan Pancasila dalam perbuatan/ tindakan juga harus benar-benar mengedepankan integritas bukan popularitas semata. Figur teladan yang ditampilkan adalah figur yang dekat dengan kehidupan anak muda. Hal ini penting sebagai strategi penanaman nilai-nilai Pancasila. Pada sisi pendidikan karakter, perlu mengembangkan Sekolah/ Akademi Pancasila Digital. Gali berbagai nilai Pancasila yang bisa disampaikan dengan metode yang kekinian, tidak menggurui, serta sesuai dengan selera generasi muda.

Ambiro mengemukakan, kelangsungan hidup Negara dan bangsa Indonesia di era globalisasi, mengharuskan kita untuk melestarikan nilai-nilai Pancasila, agar generasi muda sebagai penerus bangsa tetap dapat menghayati dan mengamalkannya dan agar intisari nilai-nilai  luhur Pancasila tetap terjaga dan menjadi pedoman bangsa Indonesia sepanjang masa.
Pandangan tersebut sejalan dengan pernyataan Bung Karno “Apabila bangsa Indonesia ini melupakan Pancasila, tidak melangsungkan dan bahkan mengamalkan, maka bangsa ini akan hancur berkeping-keping. Oleh karena itu manusia Indonesia harus mengimplementasikan seluruh nilai-nilai pancasila tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.”

Most Read

Artikel Terbaru

/