Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Penyelenggaraan Festival Sebagai Pintu Masuk Ekonomi Digital di Sulawesi Utara

Ayurahmi Rais • Kamis, 12 Maret 2026 | 18:37 WIB

 

Photo
Photo

 

Oleh: Ircham Andrianto Taufick, Kepala Tim Implementasi Kebijakan dan Pengawasan SP PUR BI Sulut

 

MANADOPOST.ID-Transformasi digital sering dibayangkan sebagai agenda teknologi yang rumit seperti sistem baru, aplikasi pembayaran, hingga infrastruktur digital.

Namun pada implementasinya, keberhasilan transformasi digital lahir dari pengalaman masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang membeli makanan di festival, membayar parkir, atau berbelanja produk UMKM hanya dengan memindai kode QR, di situlah digitalisasi transaksi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Di Sulawesi Utara, pengalaman ini hadir melalui berbagai event daerah. Festival telah menjadi medium yang mempertemukan budaya, pariwisata, transaksi digital, dan perubahan perilaku masyarakat. Gagasan ini menjadi penting karena transformasi digital pada dasarnya adalah tentang membangun kebiasaan masyarakat untuk menggunakannya.

Banyak daerah di Indonesia yang tidak kekurangan kanal pembayaran digital namun yang menjadi tantangan adalah bagaimana membuat masyarakat mau mencoba, merasa nyaman, lalu menggunakannya secara berulang.

Di sinilah festival memiliki keunggulan yang tidak dimiliki program sosialisasi formal. Festival mampu menghadirkan kerumunan masyarakat, volume transaksi yang tinggi, adanya rasa ingin tahu, dan suasana yang cair. Dalam ruang seperti itu, adopsi teknologi sering berlangsung lebih alami.

Digitalisasi sistem pembayaran di Sulawesi Utara berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Pada akhir 2025, jumlah pengguna QRIS di provinsi ini telah mencapai sekitar 529 ribu pengguna, 368 ribu merchant, dengan volume transaksi lebih dari 58 juta transaksi dan nilai transaksi sekitar Rp6,41 triliun. Angka tersebut menunjukkan bahwa pembayaran digital sudah menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat daerah.

Pertumbuhan ini juga sejalan dengan tren nasional. Pada akhir tahun 2025, QRIS telah digunakan oleh lebih dari 59 juta pengguna dan 42 juta merchant dengan sebagian besar merchant berasal dari sektor UMKM.

Digitalisasi pembayaran dengan demikian tidak hanya meningkatkan efisiensi transaksi, tetapi juga memperluas inklusi keuangan bagi pelaku usaha kecil.

Namun demikian, pertumbuhan angka tersebut belum cukup. Digitalisasi akan lebih berarti apabila hidup dalam ruang ekonomi masyarakat, titik yang ramai, akrab, dan bernilai sosial.

Penyelenggaraan Festival di daerah telah memenuhi seluruh unsur itu dengan mempertemukan wisata, belanja, kuliner, promosi usaha kecil, layanan publik, dan interaksi antarkomunitas dalam satu momentum.

Pengalaman Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) yang diadakan di Kota Bitung pada 8 – 13 Oktober 2025 memberi contoh yang menarik. Festival ini dikenal sebagai salah satu agenda penting yang menampilkan potensi bahari, kuliner, serta ekonomi kreatif lokal. Selama festival berlangsung, aktivitas ekonomi meningkat karena tingginya transaksi masyarakat, khususnya pada sektor kuliner dan produk UMKM. Ketika transaksi tersebut dilakukan melalui QRIS, digitalisasi pembayaran menjadi pengalaman langsung yang dirasakan manfaatnya.

Pendekatan ini penting, sebab masyarakat sering kali berubah karena pengalaman. Seseorang dapat berubah pikiran ketika merasakan bahwa transaksi menjadi lebih praktis, cepat, dan aman. Dalam konteks Bitung, FPSL telah menunjukkan bahwa transformasi digital tumbuh dari aktivitas ekonomi yang dekat dengan masyarakat.

Hal ini didukung dengan transaksi QRIS di Kota Bitung di bulan Oktober 2025 mencapai 359.681 transaksi dengan nilai Rp32,00 miliar dimana angka tersebut merupakan angka transaksi QRIS tertinggi di Kota Bitung sepanjang masa. Apabila dibandingkan secara tahunan, volume transaksi Kota Bitung pada 2025 mencapai 2,39 juta transaksi, tumbuh 93,08% dibanding tahun sebelumnya yang hanya tercatat 1,24 juta transaksi.

Contoh lain adalah Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2025 yang memperlihatkan bagaimana transformasi ekonomi digital dapat diperkenalkan dalam event internasional. TIFF merupakan salah satu festival bunga terbesar di Indonesia yang masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata. Festival ini terkenal dengan parade kendaraan hias bunga atau Tournament of Flower, yang diikuti oleh peserta dari berbagai negara.

Melalui mobil hias yang tampil dalam parade bunga, BI Sulut memperkenalkan konsep transaksi QRIS lintas negara yang memungkinkan transaksi antarnegara seperti Singapura, Thailand, Malaysia, dan Jepang.

Pesan digitalisasi ini disampaikan kepada puluhan ribu penonton yang memadati parade festival, menjadikan TIFF sebagai panggung edukasi ekonomi digital bagi masyarakat luas.

Pemanfaatan momentum TIFF untuk kampanye pembayaran digital menunjukkan bahwa festival dapat mengemban fungsi yang lebih luas yaitu menjadi etalase modernitas daerah dimana budaya tetap tampil diiringi pesan bahwa daerah tersebut siap bergerak dalam ekosistem ekonomi digital.

Di sisi lain, penyelenggaraan festival bukan jawaban atas seluruh tantangan digitalisasi. Tanpa dukungan infrastruktur, pembinaan merchant, literasi masyarakat, kesiapan lembaga keuangan, dan tindak lanjut pasca-acara, maka dampak transformasi digital hanya menjadi euforia sesaat.

Namun demikian, penyelenggaraan festival berhasil menjawab tantangan utama yaitu ketiadaan momen yang membuat masyarakat merasa perlu dan nyaman untuk mulai menggunakan teknologi digital. Festival berhasil menyediakan momen yang menghadirkan kebutuhan transaksi, interaksi sosial, dan pengalaman bersama dalam waktu yang sama. Dari sudut pandang kebijakan, ini berarti digitalisasi dirancang melalui panggung sosial yang hidup di masyarakat.

Bagi Sulawesi Utara, pelajaran ini sangat relevan. Provinsi ini memiliki kekuatan pada sektor pariwisata, perdagangan, UMKM, dan ekonomi kreatif yang disatukan dalam berbagai event publik. Apabila festival-festival daerah dirancang lebih terintegrasi dengan penguatan ekosistem pembayaran digital, maka manfaatnya akan semakin besar. Festival tidak hanya menggerakkan konsumsi dan menarik wisatawan, tetapi juga memperluas inklusi keuangan, memperkenalkan kebiasaan transaksi non-tunai, dan memperkuat citra daerah sebagai wilayah yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Pada akhirnya, transformasi ekonomi digital bukan hanya soal teknologi melainkan soal perubahan kebiasaan. Festival memberi ruang bagi perubahan itu untuk dimulai seperti dari transaksi kecil, dari pengalaman sederhana, dan dari interaksi yang dekat dengan masyarakat.

Jika momentum ini terus dirawat, festival akan menghasilkan legacy yang lebih penting yaitu membuat masyarakat semakin akrab dengan ekonomi digital dan akan mendukung pertumbuhan ekonomi daerah di masa depan.

Editor : Ayurahmi Rais