25C
Manado
Jumat, 26 Februari 2021

Penanganan Sampah Disorot, OD: Awas Kolera

MANADOPOST.ID-Bencana alam yang terjadi di Kota Manado ikut menimbulkan persoalan baru. Banyak wilayah di Ibu Kota Sulut ‘banjir’ tumpukan sampah.

Menyikapi persoalan ini, Gubernur Sulut Olly Dondokambey (OD), terus mendorong agar proyek pembangunan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Mamitarang yang berlokasi di Desa Ilo-ilo Wori, Kabupaten Minahasa Utara (Minut) untuk segera diselesaikan.

TPA tersebut juga ditegaskan OD, tidak akan mencemari lingkungan ataupun mengganggu kenyamanan warga. Pasalnya, pembangunan TPA melibatkan para ahli dan pengolahan nantinya akan bersifat higenis. Sehingga, TPA menurut OD, bukan hanya bersifat pembuangan, tapi pengolahan.

“TPA ini akan menjadi salah satu solusi penanganan sampah di Manado, bahkan Minahasa, Minut dan Bitung. Ini bukan tempat pembuangan sampah, tapi pengelolaan sampah yang akan diubah menjadi energi listrik. Tak ada kendala dalam pelaksanaan proyek ini, sebab untuk anggaran berasal dari APBN yang dikucurkan dua tahap. Tahap pertama telah dikucurkan sebanyak 124 miliar, tahap kedua juga 100-an miliar. Untuk tahap kedua akan dikucurkan tahun ini. Dan ini adalah proyek multi year,” bebernya.

OD mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut bertugas untuk menyediakan lahan dengan total 12 hektare. Dan saat ini menurutnya, pengadaan tanah berjalan lancar.

“Untuk tanah tak ada masalah, karena sudah dibebaskan yang sebelumnya adalah HGU. Ya ditargetkan Desember 2021 ini sudah beroperasi, namun jika tak ada kendala bisa lebih cepat. Dan untuk energi listrik yang akan dihasilkan, kita akan mengoptimalkan sampah dari Manado, Minahasa, Bitung dan Minut.

Karena untuk energi listrik dibutuhkan minimal 1000 ton sampah per hari, sedangkan kalau Manado saja hanya 500 ton per hari, makanya sampah dari Minahasa, Minut dan Bitung akan dibuang di sini. Dan saat ini sudah banyak investor yang menyatakan kesiapannya untuk melakukan pengelolaan,” tuturnya.

Gubernur OD juga menyoroti terkait kondisi pengelola sampah yang dilakukan Pemkot Manado saat ini. Menurutnya, pengelolaan yang dilakukan Pemkot Manado tak efektif.

“Selain bahaya penyakit Covid-19, warga Manado kini dihadapkan pada bahaya penyakit kolera. Karena saat ini ada banyak sampah pasca bencana banjir yang ada di Kota Manado. Segera akan dilakukan koordinasi dengan Pemkot Manado untuk menangani masalah sampah ini. Dan Pemprov siap mengambil tindakan nyata. Kita targetkan dalam dua pekan sudah dapat diatasi terkait masalah sampah yang ada saat ini,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sulut Rus’an M. Nur Taib optimis pelaksanaan proyek berjalan sesuai target.

“Progresnya sampai saat ini sudah sesuai target. Mudah-mudahan akhir tahun sudah selesai. Dan kita terus menggenjot semua program pekerjaan kita. Karena memang pembangunan ini dilakukan secara bertahap. Begitu juga dengan alokasi anggaran uang diberikan untuk pembangunan ini. Namun kita yakin, dengan adanya TPA ini, maka masalah sampah di Kota Manado dan sekitarnya bisa selesai dengan cepat,” sebutnya.

Sebelumnya, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Daerah Sulut Adolft Tamengkel membenarkan hal tersebut. Menurutnya, PLTSa tahun ini sedang digenjot dan menjadi prioritas dari Pemerintah Pusat untuk dibantu.

Persiapan di daerah menurut Tamengkel, sudah mulai berlangsung untuk mewujudkan hal tersebut. “PLTSa ini sementara kita genjot. Persiapan di daerah seperti pemanfaatan lahan pembangunan, di tingkat provinsi sudah disetujui. Tapi kita pastikan sudah berproses pembangunannya,” ungkapnya.

Selain itu Tamengkel mengatakan, akses penunjang seperti jalan sudah mulai running. Alokasi di tahap pertama tahun anggaran 2018 sudah tuntas. Persiapan air tanah dilokasi tersebut juga menurut Tamengkel sedang berjalan. Untuk anggaran juga menurutnya, dibagi antara Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dan APBN.

“Sarana sekitar sudah mulai dikerjakan. Mulai dari akses jalan masuk dan air tanah dilokasi. Dan untuk dasar pelaksanaannya sesuai dengan Undang-Undang (UU) 18/2008 tentang pengelolaan sampah. Serta Peraturan Presiden (Perpres) 35/2018, tentang percepatan pembangunan instalasi pengolah sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan. Lokasi pembangunan PLTSa ini menggunakan aset provinsi, maka kerja sama pembangunan menjadi urusan pemerintah daerah Provinsi Sulut, sesuai Pasal 4 ayat 1 dan 2,” imbuhnya.

Tamengkel menambahkan, daerah layanan dari TPA Regional Ilo-Ilo Wori yang berproyeksi menjadi PLTSa mencakup 4 daerah (lihat grafis, Red). Menurutnya, umur layanan TPA tersebut yakni 5 tahun dengan kapasitas 1.099 ton perhari hari dengan target penerima manfaat 25.000 KK.

“Jadi Pemprov Sulut akan melaksanakan pengelolaan sampah terintegrasi antara sistem sanitary landfill TPA sampah dan instalasi pengolahan sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan. Karena itu semua teknologi dan penerapan nantinya, bakal ramah lingkungan. Ini menjadi perhatian Pak Presiden Jokowi dan dikawal langsung Gubernur Sulut Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven Kandouw (ODSK),” kuncinya.(ewa/gnr)

Artikel Terbaru