23.4 C
Manado
Senin, 4 Juli 2022

Jangan Rusak Mental Pemilih Pemula

MANADOPOST.ID—Pemilih pemula adalah pemilih yang baru pertama kali tercatat dalam daftar pemilih dan menggunakan hak suaranya. Mereka adalah warga negara yang memasuki 17 tahun atau sudah menikah. Termasuk TNI/Polri yang memasuki masa pensiun.

Pengamat politik Sulut Dr Ferry Daud Liando mengatakan, penting untuk menjaga mental dan moral pemilih pemula ini agar jangan dirusak praktik politik uang.

“Karena mereka baru pertama kali memilih harusnya pendidikan politik perlu difokuskan pada kalangan ini. Mereka tidak boleh hanya diajarkan bagaimana cara atau teknis memilih tetapi yang paling penting diajarkan adalah bagaimana menjadi pemilih yang baik. Pemimpin yang baik selalu terpilih dari pemilih yang baik. Jika pemilihnya dipengaruhi uang, maka pemimpin yang dipilih karena uang, pasti bermoral buruk,” ujarnya kepada Manado Post, kemarin.

Menurut Tenaga Ahli Dirjen Otda Kementerian Dalam Negeri ini, jangan lagi ada cluster baru pemilih pragmatis.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

“Selama ini Pilkada kita selalu diganggu atau dinodai dengan pemilih-pemilih pragmatis. Keputusan mereka untuk memilih selalu didasarkan pada transaksi atau jual beli suara. Itulah sebabnya di darah tertentu tidak memilki kemajuan apa-apa karena pemilih tidak mensyaratkan kapasitas dan pengalaman calon sebagai pertimbangan untuk memilih. Semuanya karena uang,” jelasnya.

Lanjut Liando, sehingga cara untuk memutus mata rantai pemilih pragmatis itu perlu dilakukan pendidikan politik secara detail dan serius. Jangan sampai para pemilih pemula ini akan menjadi sasaran empuk para calon yang hanya mengandalkan uang di Pilkada.

“Pemilih pemula harus tau apa efek jika para calon terbiasa menyogok atau menyuap pemilih. Jangan sampai wilayah dimana mereka tinggal dipimpin oleh kepala daerah yang suka menyogok, menghalalkan segala cara merebut kekuasaan. Jangan sampai para pemilih pemula ini mengalami krisis kepercayaan akibat keteladanan buruk yang dilakonkan para pemimpinnya,” pungkas peneliti pada Electoral Research Institute (ERI) ini. (can)

MANADOPOST.ID—Pemilih pemula adalah pemilih yang baru pertama kali tercatat dalam daftar pemilih dan menggunakan hak suaranya. Mereka adalah warga negara yang memasuki 17 tahun atau sudah menikah. Termasuk TNI/Polri yang memasuki masa pensiun.

Pengamat politik Sulut Dr Ferry Daud Liando mengatakan, penting untuk menjaga mental dan moral pemilih pemula ini agar jangan dirusak praktik politik uang.

“Karena mereka baru pertama kali memilih harusnya pendidikan politik perlu difokuskan pada kalangan ini. Mereka tidak boleh hanya diajarkan bagaimana cara atau teknis memilih tetapi yang paling penting diajarkan adalah bagaimana menjadi pemilih yang baik. Pemimpin yang baik selalu terpilih dari pemilih yang baik. Jika pemilihnya dipengaruhi uang, maka pemimpin yang dipilih karena uang, pasti bermoral buruk,” ujarnya kepada Manado Post, kemarin.

Menurut Tenaga Ahli Dirjen Otda Kementerian Dalam Negeri ini, jangan lagi ada cluster baru pemilih pragmatis.

“Selama ini Pilkada kita selalu diganggu atau dinodai dengan pemilih-pemilih pragmatis. Keputusan mereka untuk memilih selalu didasarkan pada transaksi atau jual beli suara. Itulah sebabnya di darah tertentu tidak memilki kemajuan apa-apa karena pemilih tidak mensyaratkan kapasitas dan pengalaman calon sebagai pertimbangan untuk memilih. Semuanya karena uang,” jelasnya.

Lanjut Liando, sehingga cara untuk memutus mata rantai pemilih pragmatis itu perlu dilakukan pendidikan politik secara detail dan serius. Jangan sampai para pemilih pemula ini akan menjadi sasaran empuk para calon yang hanya mengandalkan uang di Pilkada.

“Pemilih pemula harus tau apa efek jika para calon terbiasa menyogok atau menyuap pemilih. Jangan sampai wilayah dimana mereka tinggal dipimpin oleh kepala daerah yang suka menyogok, menghalalkan segala cara merebut kekuasaan. Jangan sampai para pemilih pemula ini mengalami krisis kepercayaan akibat keteladanan buruk yang dilakonkan para pemimpinnya,” pungkas peneliti pada Electoral Research Institute (ERI) ini. (can)

Most Read

Artikel Terbaru

/