26C
Manado
Senin, 1 Maret 2021

Hujan Mereda, Bencana Masih Meluas

MANADOPOST.ID—Intensitas curah hujan mulai menurun. Namun, bencana banjir dan tanah longsor masih terjadi, hingga kemarin. Bahkan meluas ke sejumlah wilayah di Sulawesi Utara (Sulut).

Beragam upaya dilakukan demi meminimalisir korban jiwa. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulut Joy Oroh mengatakan, saat ini pihaknya sudah meminta semua data-data terkait daerah yang terdampak bencana.

“Kita sudah minta data-datanya, baik daerah maupun kerugian akibat bencana. Dan BPBD Kota Manado menyampaikan bahwa proses rekapan sementara berlangsung. Pasti akan kita sampaikan jika data-data dari daerah sudah masuk ke kita,” jelasnya.

Oroh mengatakan, bantuan untuk warga yang terdampak bencana di Kota Manado telah disentuh bantuan. “Bantuan ini berasal dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Pemprov Sulut serta pihak swasta yang ingin bahu-membahu membantu sesama. Dan sudah kita salurkan sejak pekan lalu. Dan saya juga pastikan bahwa semua alat-alat kesiapsiagaan bencana, semua dalam kondisi sehat. Dan tim juga sudah turun lapangan untuk memantau potensi-potensi bencana,” tutur dia.

Diketahui, bencana banjir dan longsor di Manado menyebabkan kerugian materi dan korban jiwa. Sebab, sekitar ribuan rumah terendam akibat banjir dan enam orang meninggal terkubur longsor.

Kepala BPBD Manado Donald Sambuaga mengatakan, pihaknya sementara mendata berapa jumlah rumah yang terendam banjir dan rusak akibat longsor. “Tim sementara melakukan pendataan di kecamatan. Jadi datanya sementara dirampungkan,” ungkapnya.

Dia mengakui pihaknya sementara menghitung kerugian materi akibat bencana. “Bencana ini karena faktor alam dan siklus lima tahunan serta dampak La Nina,” ujarnya.

Sementara itu, dari informasi bencana terjadi di Kota Manado karena ulah manusia seperti alih fungsi hutan di hulu karena pembangunan perumahan. Kurangnya daerah resapan air dan membuang sampah sembarangan.

“Kalau soal ulah manusia penyebab bencana, saya tidak berkompeten menilainya. Berdasarkan pengamatan BMKG ini disebabkan La Nina. Cuaca ekstrem akan terjadi Januari hingga Februari 2020,” ujarnya.

Menurut dia, pihaknya bersama Dinsos telah membuka posko dan membagikan makanan siap saji kepada masyarakat yang terdampak banjir dan longsor. “Dari Dinsos juga telah membagikan sembako kepada masyarakat terdampak. Kami juga membuka posko bagi yang ingin memberikan bantuan,” ujarnya.

Sementara, bagi rumah rusak akibat banjir longsor pihaknya sementara mendata. Nanti data ini akan dimasukan kepada pimpinan untuk langkah selanjutnya. “Apakah mereka akan mendapatkan bantuan. Yang pasti kami akan data dulu, setelah itu dikaji,” jelas dia.

Di sisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Minsel Roi Sumangkut menyebut, sejak dulu pihaknya telah memprediksi akan besarnya dampak bencana alam mengingat pihaknya melihat maraknya alih fungsi sempadan pantai.

“Sejak lalu selalu DLH mengingatkan agar jangan alih fungsi sempadan pantai, yg seharusnya untuk RTH, khususnya di area Tumpaan dan untuk bolevard yang saat ini terdampak gelombang pasang. Kemudian perlu ada barier dari vegetasi melalui penanaman mangrove baik jenis bakau maupun yang di bagian tepi jalan untuk jalur hijau,” katanya.

Kemudian juga terkait penambangan galian C yang belum memiliki izin serta pembalakan liar. “Pasti berdampak terhadap lingkungan yang akibatnya akan merugikan masyarakat, baik longsor maupun dampak negatif lainnya. Karena setiap kegiatan yang tidak berijin, brarti kegiatannya tidak ada pengawasan pemerintah, dan jika tidak ada arahan teknis dari pemerintah, brarti peluang sangat besar dalam pengrusakan lingkungan,” terang Sumangkut.

Kabupaten Minahasa Utara (Minut) juga tak luput dari bencana akibat intensitas curah hujan tinggi, selang beberapa hari belakangan. Berdasarkan laporan BPBD, hingga kemarin, ada empat kecamatan yang mengalami banjir dan tanah longsor.

Di Kelurahan Saronsong Satu, Kecamatan Airmadidi, Minggu (17/1), pukul 24.00 Wita, terjadi tanah longsor akibat curah hujan tinggi dan angin kencang. Satu rumah warga pun rusak akibat kejadian itu.

Sementara di Kelurahan Airmadidi Atas, Senin (18/1), pukul 11.30 Wita, pohon tumbang dan menimpa rumah warga sehingga rusak berat. Sementara di Kecamatan Likupang Selatan, Sabtu (16/1), pukul 21.15 Wita, tanah longsor terjadi di Desa Kokoleh Satu. Dampaknya, longsor pada badan jalan Raya Sukur-Likupang dengan panjang lebih dari 50 meter dan kedalaman di atas 10 meter.

Di Kecamatan Likupang Barat, tepatnya di Desa Gangga Satu, Minggu (17/1), pukul 17.15 Wita, gelombang pasang dikarenakan cuaca ekstrim di wilayah kepulauan, mengakibatkan 12 rumah warga rusak sedang hingga berat. Tanggul pemecah ombak turut rusak berat lebih dari 400 meter.

Di Desa Gangga Dua, tanggul pemecah ombak rusak berat sepanjang 600 meter. Kecamatan Likupang Timur pun tak luput dari bencana. Sabtu, (16/1) pukul 13.45 Wita, terjadi banjir dan longsor dikarenakan hujan lebat di Desa Likupang Dua. Beberapa rumah warga pun rusak.

Kepala BPBD Minut Jofieta Supit memastikan hingga tadi malam, tidak ada korban jiwa dalam rangkaian bencana tersebut. “Karena memang yang bisa kami lakukan adalah melakukan upaya semaksimal mungkin untuk menanggulangi dan meminimalisir korban,” terangnya kepada Manado Post, semalam.

Kemarin, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Bencana sudah gerak cepat turun ke lapangan. Terdiri dari BPBD, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Polres Minut, Kodim 1310, dan Dinas Kesehatan serta Basarnas. Satgas akan melakukan peninjauan ke lapangan yakni di Desa Sarongsong Satu, Kokoleh Satu, Likupang Satu dan Kampung Ambong. “Tujuannya adalah melihat secara langsung kondisi dampak dari cuaca ekstrim beberapa hari terakhir. Apakah ada bencana yang serius khususnya longsor,” terang Supit.

Ditambahkannya, juga dilakukan gelar apel bersama yang dihadiri Kapolres Minut AKBP Grace Rahakbau, Sekkab Jemmy Kuhu, Pabung Kodim, Kadis Kesehatan, Dinas PUPR, Dinas Sosial dan para camat. “Selain melakukan sosialisasi terkait dengan tanggap terhadap bencana, kami juga membuat posko pengaduan dan bantuan. Kami pun sangat mengapresiasi bantuan dari pimpinan Forkopimda yang begitu responsif,” ungkap dia.

Dampak cuaca buruk dan angin kencang yang terjadi di Kabupaten Minahasa Tenggara dalam beberapa hari terakhir mengakibatkan, terjadinya pohon tumbang, di kelurahan Lowu, lokasi eks rumah kopi Lepoet, Bajaringan yang dipasang paling atas bangunan jatuh dan terjadi longsor di jalan dekat Kantor Bupati Mitra.

Untuk itu, Bupati James Sumendap menyebut Mitra dalam kondisi siaga satu bencana. “Selain siaga Covid-19, saya minta juga siaga cuaca ekstrim. Oleh karena itu, malam ini kita siaga satu,” ungkap Sumendap.

Seluruh pejabat eselon II dan III, para camat, lurah, dan hukum tua di Kabupaten Mitra diinstruksikan untuk melakukan tindakan antisipasi bencana banjir dan tanah longsor. “Untuk itu semua agar tetap mengaktifkan semua sarana komunikasi telepon dan WhatApp mulai malam ini sampai besok. Sampaikan kepada masyarakat agar waspada terutama mereka yang berdomisili di daerah rawan bencana,” imbau dia.

Pantauan Manado Post hingga Senin (18/1) ada sejumlah titik di Kota Tomohon. Semisal di ruas Lingkar Barat Kota Tomohon, yang membentang dari Kelurahan Kinilow hingga Kamasi. “Ada longsor kecil dikarenakan intensitas hujan yang tinggi beberapa hari ini. Ini pun bukan dikarenakan adanya pembalakan, pembangunan tidak sesuai izin. Tapi lebih karena kontur tanah Tomohon yang sebagian lembek. Makin kompleks dengan tumbangnya pohon, yang notabene nya menjadi penahan tanah,” ungkap Kepala BPBD Kota Tomohon Robby Kalangi, ketika diwawancarai Senin (18/1) kemarin.

Ditambahkan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Martinus William Poluan, pihaknya memberikan catatan khusus bagi daerah yang berkarakteristik lembah dan tebing. Semisal di Kelurahan Rurukan, Kumelembuai hingga Tara-Tara. Yang berpotensi mengalami longsor, apalagi melihat kondisi curah hujan dan angin kencang. Diperkirakan bakal berakhir hingga akhir Februari nanti.

“Sudah ada tim yang dibagi, tiap hari melakukan shift, berkoordinasi dengan instansi terkait, semisal PLN, Balai Jalan, TNI-Polri bahkan jika mendesak bisa dikomunikasikan dengan teman-teman SAR. Ada dua alat berat disiagakan. Prinsipnya kewaspadaan harus dimiliki seluruh masyarakat. Apalagi mereka yang bermukim di daerah perbukitan,” beber Poluan.

“Kalau ada kejadian dikarenakan pembalakan liar, pembukaan lahan tidak sesuai izin. Lantas berpotensi mendorong bencana di Tomohon, saya kira peluang itu kecil,” jelasnya.

Akibat dihantam gelombang pasang Minggu (17/1) malam, beberapa ruas jalan Boulevard Tahuna tergerus. Bupati Kepulauan Sangihe Jabes Gaghana turun meninjau lokasi Senin (18/1). Bupati di sela-sela peninjauan menjelaskan, Pemkab akan segera melakukan penanganan yang terbaik agar semua infrastruktur yang rusak seperti ruas jalan Bolevard Tahuna segera diperbaiki.

“Beberapa titik di kawasan Boulevard Tahuna yang rusak akibat dihantam gelombang, karena itu saya sudah meminta instansi teknis segera melakukan perbaikan, mengingat kawasan merupakan lokasi strategis di Kota Tahuna,” jelas Gaghana.

Sementara itu, Kepala BPBD Sangihe Revolius Pudihang saat mendampingi Bupati menjelaskan, ombak besar ini sudah terjadi di Kabupaten Kepulauan Sangihe sejak Jumat (15/1) pekan lalu. Dan peninjauan yang dilakukan Bupati Sangihe ini adalah bentuk tanggung jawab dan perhatian Pemkab terhadap keselamatan masyarakat Sangihe.

“BPBD Sangihe juga melalui tim reaksi cepat telah melakukan pendataan dan memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak gelombang pasang. Ada pula beberapa keluarga yang terdampak, dimana mereka yang berdomisili di pesisir pantai Mala Pintu Kelurahan Santiago. Terdapat tujuh kepala keluarga yang mengungsi dan ditempatkan di SMP III Kolongan Mitung, dan telah dibagikan bantuan,”ungkap Pudihang.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Sangihe Ronald Izaak menjelaskan bencana banjir dan longsor terjadi di Kabupaten Kepulauan Sangihe kembali lagi merupakan bencana alam akibat cuaca buruk. Namun selain itu juga pemicu terjadinya bencana di Kepulauan Sangihe akibat penebangan pohon di hutan liar tanpa izin.

“Karena itu kami terus mengingatkan masyarakat agar menghentikan penebangan-penebangan pohon di hutan liar tanpa izin. Kemudian kebiasaan membuang sampah disepanjang aliran sungai dan pantai. Sehingga kebiasaan-kebiasaan ini harus dihentikan,”jelasnya.

Penyebab banjir di Bitung juga karena faktor cuaca ekstrim yang membuat volume air di sungai meluap. Seperti banjir baru-baru ini terjadi karena air sungai Girian meluap dan masuk ke pemukiman sekitar.

Ada tiga kelurahan yang terdampak yaitu Girian, Girian Weru Satu, dan Manembo-nembo. Apalagi ada tiga titik talut yang jebol hingga air masuk ke pemukiman warga. “Untungnya tidak ada korban jiwa dan kerugian materil. Karena air hanya setinggi lutut,” ujar Kepala BPBD Bitung Rudy Wongkar.

Cuaca esktrim di Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) beberapa hari terakhir, membuat beberapa kampung/kelurahan terkena dampak gelombang pasang dan longsor. Seperti masyarakat di pesisir pantai Kelurahan Bahoi, Kelurahan Balehumara, dan Kampung Barangka Pehe, Kecamatan Tagulandang yang terkena dampak gelombang pasang.

Peristiwa tersebut terjadi sejak Sabtu (16/1) pukul 19.00 Wita, namun hanya di dua kelurahan. Sedangkan untuk Kampung Barangka Pehe peristiwanya terjadi pada Minggu (17/1) malam lalu. Kepala BPBD Sitaro Bob CH Wuaten menyampaikan, dari peristiwa tersebut tidak ada korban jiwa.

Dan ada 16 unit rumah rusak sedang dan 13 rusak tergenang. Para pengungsi sebanyak 265 jiwa dari 84 KK mengungsi di kompleks kantor camat Tagulandang dan rumah keluarga. Namun tidak semua yang mengungsi di tempat yang disediakan pemerintah. Ada 206 jiwa dari 59 KK yang mengungsi di kantor camat dan 59 jowa dari 25 KK mengungsi di rumah keluarga mereka.

Dan penanganannya untuk saat ini para pengungsi di tempatkan di Kompleks Kantor Kecamatan Tagulandang dan sementara dilakukan pendataan terkait kebutuhan mendesak. Namun para pengungsi sejak Sabtu malam, telah diberikan bantuan logistik seperti pakaian dan kebutuhan lain oleh pihak kecamatan.

Karena saat ini bantuan logistik dari BPBD belum bisa diantar ke Tagulandang mengingat kondisi cuaca ekstrim seperti ini. Namun pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan agar menanggulangi terlebih dulu, nanti akan digantikan BPBD. “Jika esok (hari ini, red), sudah ada kapal maka bantuan logistik kepada masyarakat terdampak akan langaung dibawah,” katanya.

Bahwa gelombang pasang juga merusak Talud pengaman pantai di pulau Siau seperti di rumah dinas bupati Kelurahan Paseng dan Kampung Ping Kecamatan Siau Barat (Sibar). “Syukur hingga saat ini tidak ada korban jiwa,” jelasnya.

Lanjut Bob, sebagaimana saat ini fenomena alam La Nina tengah terjadi. Dampak dari itu berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, lahar hujan, dan gelombang pasang. Adapun mengantisipasi fenomena La Nina tersebut, Pemkab telah menetapkan status Siaga Darurat La Nina sampai dengan akhir Januari mendatang.

Penetapan status tersebut telah tertuang dalam Keputusan Bupati Kepulauan Sitaro Nomor 174 Tahun 2020, menyikapi kondisi cuaca yang masih belum menentu, maka ada kemungkinan untuk memperpanjang status siaga darurat ini. “Namun melihat perkembangan beberapa waktu ke depan,”

Dia menjelaskan, status siaga darurat itu adalah suatu keadaan terdapat potensi bencana, yang merupakan peningkatan eskalasi ancaman yang penentuannya didasarkan atas hasil pemantauan. Sehingga fenomena ini dari amatan adanya potensi ancaman bencana. “Makanya BPBD mengusulkan ke pimpinan daerah terkait penetapan status siaga darurat tersebut,” tuturnya.

Untuk itu, pihaknya tetap mengimbau masyarakat agar tetap waspada saat ini. Dan hal ini pun terjadi merupakan bencana alam. Namun selain itu juga pemicu terjadinya bencana di Kabupaten Kepulauan Sangihe akibat penebangan pohon di hutan liar tanpa izin.

“Karena itu kami terus mengingatkan masyarakat agar menghentikan penebangan-penebangan pohon di hutan liar tanpa izin. Kemudian kebiasaan membuang sampah disepanjang aliran sungai dan pantai. Sehingga kebiasaan-kebiasaan ini harus dihentikan,” tutur dia.

Pemkab Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) mengimbau masyarakat dan nelayan untuk antisipasi dini bencana akibat cuaca ekstrim. Hal ini disampaikan BPBD Bolmut Viktor Nanlessy. Menurutnya, anomali cuaca yang akhir-akhir tidak menentu, hujan lebat, angin puting beliung dan gempa perlu diantisipasi. Sebab, cuaca ekstrim diperkirakan sampai Maret mendatang. “Jadi bagi para nelayan jika kondisi laut tidak memungkinkan untuk melaut lebih baik diurungkan,” ujar Nanlessy.

Meski kondisi cuaca ektrim, Bolmut hingga kini belum berpotensi terjadinya bencana dan untuk titik-titik rawan bencana bolmut masih termasuk aman. “Mudah-mudahan Bolmut aman. Namun, harus tetap waspada karena perkiraan gelombang tinggi masih akan terus berlanjut,” imbaunya.(*)

Artikel Terbaru