24.4 C
Manado
Kamis, 7 Juli 2022

Megawati-Gubernur OD Bahas Kesiapsiagaan Hadapi Bencana

MANADOPOST.ID—Peningkatan kesiapsiagaan menghadapi bencana, menjadi fokus utama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut) dan pemerintah pusat.

Hal tersebut terbukti dengan ikut sertanya Gubernur Sulut Olly Dondokambey (OD) dalam Focus Group Discussion (FGD) peningkatan kesiapsiagaan menghadapi bencana secara virtual dengan keynote speaker Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.

FGD dirangkaikan dengan peresmian gerakan budaya siaga bencana oleh Megawati Soekarnoputri yang diinisiasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Gerakan ini dibangun demi meningkatkan komitmen seluruh penyelenggara negara serta masyarakat agar sadar bencana.

Hadir sejumlah pejabat tinggi negara di acara itu. Seperti Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala BNPB Doni Monardo, Kepala Basarnas Marsda (TNI) Henri Alfiandi, Kepala LIPI Laksana Tri Handoko, dan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Dalam kesempatan itu, Megawati Soekarnoputri menyatakan dirinya meyakini bahwa menghadapi bencana dan meminimalisasi kerusakan bisa dilakukan asal semuanya mau bergotong rotong.

Dia lalu menceritakan pengalaman Jepang, yang pemerintah dan rakyatnya, selalu belajar untuk siap menghadapi bencana. Sejumlah hal detil diperhatikan, kata Megawati, hingga soal tas ransel, alarm siaga, dan jalur evakuasi.

Siaga bencana juga mencakup penelitian mendalam soal jenis-jenis bencana yang mungkin hadir. Hingga bagaimana memperbaiki manajemen bantuan pasca bencana yang lebih baik.

“Maksud saya, mari kita gotong royong merubah berbagai hal. Satu adalah tata ruang. Kedua, urusan data gunung yang belum bisa sinkron,” kata Megawati. Kalau kita cuma sharing tanpa follow up, bagaimana kita menolong rakyat? Rakyat itu kerap hanya pasrah.

Dengan demikian, maka harus ada pelajaran dan simulasi sebelum bencana,” tegas Megawati. Gubernur OD menjelaskan Sulut merupakan dalam satu daerah rawan bencana di Indonesia.

“Karakteristik Sulut merupakan daerah yang rentan terhadap bencana alam. Sebagaimana data Indeks Resiko Bencana Indonesia (IRBI), Sulut masuk dalam kategori beresiko tinggi karena banyak potensi bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, angin puting beliung dan gelombang pasang. Karenanya, saya perlu menjelaskan bahwa pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana lewat sinergitas dan kerjasama semua pihak dalam penanggulangan bencana baik pemerintah daerah dan pusat,” katanya.

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita mengatakan di tahun 2002, saat masih menjadi wakil presiden, Megawati Soekarnoputri tampaknya mempunyai visi jauh ke depan soal bencana alam yang akan semakin meningkat di Indonesia. Sehingga mengantisipasi dengan menetapkan BMKG sebagai organisasi mandiri seperti saat ini.

“Berkat keputusan inilah BMKG bisa berkembang seperti saat ini, meskipun banyak hal yang mesti kita pelajari. Terima kasih kepada Presiden Kelima Ibu Megawati yang telah membesarkan dan menguatkan BMKG,” kunci Dwikorita. (ewa/gel)

MANADOPOST.ID—Peningkatan kesiapsiagaan menghadapi bencana, menjadi fokus utama Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut) dan pemerintah pusat.

Hal tersebut terbukti dengan ikut sertanya Gubernur Sulut Olly Dondokambey (OD) dalam Focus Group Discussion (FGD) peningkatan kesiapsiagaan menghadapi bencana secara virtual dengan keynote speaker Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.

FGD dirangkaikan dengan peresmian gerakan budaya siaga bencana oleh Megawati Soekarnoputri yang diinisiasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Gerakan ini dibangun demi meningkatkan komitmen seluruh penyelenggara negara serta masyarakat agar sadar bencana.

Hadir sejumlah pejabat tinggi negara di acara itu. Seperti Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala BNPB Doni Monardo, Kepala Basarnas Marsda (TNI) Henri Alfiandi, Kepala LIPI Laksana Tri Handoko, dan Kepala BMKG Dwikorita Karnawati.

Dalam kesempatan itu, Megawati Soekarnoputri menyatakan dirinya meyakini bahwa menghadapi bencana dan meminimalisasi kerusakan bisa dilakukan asal semuanya mau bergotong rotong.

Dia lalu menceritakan pengalaman Jepang, yang pemerintah dan rakyatnya, selalu belajar untuk siap menghadapi bencana. Sejumlah hal detil diperhatikan, kata Megawati, hingga soal tas ransel, alarm siaga, dan jalur evakuasi.

Siaga bencana juga mencakup penelitian mendalam soal jenis-jenis bencana yang mungkin hadir. Hingga bagaimana memperbaiki manajemen bantuan pasca bencana yang lebih baik.

“Maksud saya, mari kita gotong royong merubah berbagai hal. Satu adalah tata ruang. Kedua, urusan data gunung yang belum bisa sinkron,” kata Megawati. Kalau kita cuma sharing tanpa follow up, bagaimana kita menolong rakyat? Rakyat itu kerap hanya pasrah.

Dengan demikian, maka harus ada pelajaran dan simulasi sebelum bencana,” tegas Megawati. Gubernur OD menjelaskan Sulut merupakan dalam satu daerah rawan bencana di Indonesia.

“Karakteristik Sulut merupakan daerah yang rentan terhadap bencana alam. Sebagaimana data Indeks Resiko Bencana Indonesia (IRBI), Sulut masuk dalam kategori beresiko tinggi karena banyak potensi bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, gempa bumi, angin puting beliung dan gelombang pasang. Karenanya, saya perlu menjelaskan bahwa pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana lewat sinergitas dan kerjasama semua pihak dalam penanggulangan bencana baik pemerintah daerah dan pusat,” katanya.

Sementara itu, Kepala BMKG Dwikorita mengatakan di tahun 2002, saat masih menjadi wakil presiden, Megawati Soekarnoputri tampaknya mempunyai visi jauh ke depan soal bencana alam yang akan semakin meningkat di Indonesia. Sehingga mengantisipasi dengan menetapkan BMKG sebagai organisasi mandiri seperti saat ini.

“Berkat keputusan inilah BMKG bisa berkembang seperti saat ini, meskipun banyak hal yang mesti kita pelajari. Terima kasih kepada Presiden Kelima Ibu Megawati yang telah membesarkan dan menguatkan BMKG,” kunci Dwikorita. (ewa/gel)

Most Read

Artikel Terbaru

/