23.4 C
Manado
Minggu, 14 Agustus 2022

Legislator: Proyek Tanggul Penahan Banjir Sungai Ongkag Dumoga Asal-asal

MANADOPOST.ID- Komisi 3 DPRD Sulut, Senin (25/7) rapat dengar pendapat dengan Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) 1.

Rapat yang dilaksanakan di ruang komisi tersebut membahas terkait proyek pembangunan tanggul penahan banjir Sungai Ongkag Dumoga.

Pada rapat itu nampak hadir juga Anggota DPRD dari daerah pemilihan (dapil) Bolmong Raya, Jems Tuuk.

Politisi PDI Perjuangan ini memberi tanggapan terkait penjelasan dari pihak Balai Wilayah Sungai Sulawesi. Dimana menurutnya, banjir yang terjadi di Dumoga waktu yang lalu merupakan masalah besar bagi masyarakat.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Dia juga menyesali proyek dari pihak Balai Wilayah Sungai Sulawesi itu yang dinilainya bersama tokoh-tokoh masyarakat hanya asal-asalan.

“Dikatakan pihak Balai Sungai bahwa penyebabnya adalah hujan terlalu besar. Ini belum banjir besar di Dumoga. Nah, diprediksi pada waktu bikin proyek ini hanya asal-asal. Mungkin karena kami orang Dumoga jadi tim dari Balai tak peduli sehingga kerja asal-asal,” kata Tuuk.

Dia juga menyesalkan bahwa tak terjalin komunikasi yang baik bersama pihak Balai Sungai.

“Sementara pengerjaan proyek tersebut, saya mau beri masukan ke pihak Balai Sungai bahwa pekerjaan ini busuk dan buruk, tapi telepon tak diangkat. Maksud untuk mengingatkan bahwa pekerjaan ini asal-asalan. Karena bahasa ini bukan hanya dari saya. Tapi banyak,” tuturnya.

“Maka dari itu kami ambil kesimpulan biarin aja. Kalau banjir kecil pasti proyek itu langsung ambruk. Dan benar terjadi. Lihat saja ke depan, pasti akan seperti itu,” sambungnya.

Tuuk juga mempertanyakan apakah dalam pengerjaan proyek tersebut tak pernah dipikir untuk buat drainase.

“Yang dijawab Balai Sungai, belum punya proyek itu. Nah, coba dibayangkan suatu pekerjaan besar di pinggir sungai kemudian dengan bahasa mengatakan tak merancang pembuangan air. Saya tak terima argumen seperti ini.

Bagaimana buat satu proyek di pinggir air dengan limpahan banyak kemudian tak pikirkan kalau banjir airnya dibuang kemana. Coba pakai otak untuk pikirkan,” sindirnya keras.

Dia membeberkan mewakili masyarakat sudah membuat draf ke Kejagung dan akan gugat Menteri PUPR.

Tuuk juga menyatakan bahwa jikalau insinyur yang bangun proyek ini adalah benar, harusnya masalah tersebut tak terjadi.

“Sebab harus dihitung volume air yang terbuang berapa banyak. Tapi ini hanya asal buat. Sehingga saya ambil kesimpulan apakah di Sulut insinyurnya goblok-goblok atau proyek ini terlalu banyak korupsinya. Saya juga tak bisa jawab dua pertanyaan ini,” tegasnya.

Dia juga menjelaskan bahwa argumen yang ditangkapnya bahwa air yang dari saluran adalah penyebab robohnya tanggul. Karena volume air terlalu besar.

“Apakah pernah dihitung jumlah debit air perdetik yang masuk. Apakah masuk akal saluran hanya kecil seperti itu yang dibuat Makanya saya katakan proyek ini dikerjakan asal-asalan,” pungkasnya. (ando)

MANADOPOST.ID- Komisi 3 DPRD Sulut, Senin (25/7) rapat dengar pendapat dengan Balai Wilayah Sungai Sulawesi (BWSS) 1.

Rapat yang dilaksanakan di ruang komisi tersebut membahas terkait proyek pembangunan tanggul penahan banjir Sungai Ongkag Dumoga.

Pada rapat itu nampak hadir juga Anggota DPRD dari daerah pemilihan (dapil) Bolmong Raya, Jems Tuuk.

Politisi PDI Perjuangan ini memberi tanggapan terkait penjelasan dari pihak Balai Wilayah Sungai Sulawesi. Dimana menurutnya, banjir yang terjadi di Dumoga waktu yang lalu merupakan masalah besar bagi masyarakat.

Dia juga menyesali proyek dari pihak Balai Wilayah Sungai Sulawesi itu yang dinilainya bersama tokoh-tokoh masyarakat hanya asal-asalan.

“Dikatakan pihak Balai Sungai bahwa penyebabnya adalah hujan terlalu besar. Ini belum banjir besar di Dumoga. Nah, diprediksi pada waktu bikin proyek ini hanya asal-asal. Mungkin karena kami orang Dumoga jadi tim dari Balai tak peduli sehingga kerja asal-asal,” kata Tuuk.

Dia juga menyesalkan bahwa tak terjalin komunikasi yang baik bersama pihak Balai Sungai.

“Sementara pengerjaan proyek tersebut, saya mau beri masukan ke pihak Balai Sungai bahwa pekerjaan ini busuk dan buruk, tapi telepon tak diangkat. Maksud untuk mengingatkan bahwa pekerjaan ini asal-asalan. Karena bahasa ini bukan hanya dari saya. Tapi banyak,” tuturnya.

“Maka dari itu kami ambil kesimpulan biarin aja. Kalau banjir kecil pasti proyek itu langsung ambruk. Dan benar terjadi. Lihat saja ke depan, pasti akan seperti itu,” sambungnya.

Tuuk juga mempertanyakan apakah dalam pengerjaan proyek tersebut tak pernah dipikir untuk buat drainase.

“Yang dijawab Balai Sungai, belum punya proyek itu. Nah, coba dibayangkan suatu pekerjaan besar di pinggir sungai kemudian dengan bahasa mengatakan tak merancang pembuangan air. Saya tak terima argumen seperti ini.

Bagaimana buat satu proyek di pinggir air dengan limpahan banyak kemudian tak pikirkan kalau banjir airnya dibuang kemana. Coba pakai otak untuk pikirkan,” sindirnya keras.

Dia membeberkan mewakili masyarakat sudah membuat draf ke Kejagung dan akan gugat Menteri PUPR.

Tuuk juga menyatakan bahwa jikalau insinyur yang bangun proyek ini adalah benar, harusnya masalah tersebut tak terjadi.

“Sebab harus dihitung volume air yang terbuang berapa banyak. Tapi ini hanya asal buat. Sehingga saya ambil kesimpulan apakah di Sulut insinyurnya goblok-goblok atau proyek ini terlalu banyak korupsinya. Saya juga tak bisa jawab dua pertanyaan ini,” tegasnya.

Dia juga menjelaskan bahwa argumen yang ditangkapnya bahwa air yang dari saluran adalah penyebab robohnya tanggul. Karena volume air terlalu besar.

“Apakah pernah dihitung jumlah debit air perdetik yang masuk. Apakah masuk akal saluran hanya kecil seperti itu yang dibuat Makanya saya katakan proyek ini dikerjakan asal-asalan,” pungkasnya. (ando)

Most Read

Artikel Terbaru

/