27.4 C
Manado
Minggu, 3 Juli 2022

Unair Tumou Tou, Unsrat Tumongkok Tou

MANADOPOST.ID— Perjuangan mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) program pendidikan dokter spesialis (PPDS) di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) belum berhasil. Hingga saat ini, permintaan mahasiswa mendapatkan keringanan uang kuliah tunggal (UKT) selama pandemi, belum digubris.

Berbanding terbalik langkah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Seakan menggunakan falsafah Dr Sam Ratulangi, Si Tou Timuo Tumou Tou (manusia hidup menghidupkan orang lain), Rektor Unair mengeluarkan kebijakan di masa pandemi.

Di antaranya 2.395 mahasiswa bebas UKT, 1.750 diberi keringanan, dan 1.675 mahasiswa program pendidikan dokter spesialis (PPDS) hanya membayar 50% UKT. Sebab mereka banyak bersinggungan langsung dalam penanganan pandemi di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. “Unair Tumou Tou, Unsrat Tumokok Tou,” protes sejumlah mahasiswa.

Dilansir Jawa Pos (Grup Manado Post), UKT mahasiswa PPDS Unair mendapatkan keringanan 50%, tapi tidak berlaku bagi penerima beasiswa tugas belajar.  “Unair titip salam. Mereka bisa, Unsrat tidak. Anehnya rektorat bersikukuh tidak ada payung hukum. Padahal ada Permendikbud 25,” tegas dr Jacob Pajan, Koordinator Residen Unsrat.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Rektor Unair Prof Mohammad Nasih dalam siaran persnya mengemukakan alasan. Yakni mahasiswa PPDS terlibat langsung dalam penanganan Covid-19, sehingga mendapatkan insentif UKT sebesar 50 persen.

“Kami (UNAIR, Red) sudah siapkan bagi siapa saja mahasiswa yang ingin mengajukan keringanan UKT, silakan mengirim surat dan menyertakan alasannya. Kalau ada alasan spesifik dan konkrit, akan kami berikan keringanan,” ungkap Prof Nasih.

Prof Nasih melanjutkan, insentif itu diberikan bukan karena adanya penurunan UKT. Namun mengingat aktivitas mahasiswa PPDS yang terjun secara langsung menangani Covid-19.

Menurutnya, metode pendidikan mahasiswa PPDS berbeda dengan lainnya. Rumah sakit, lanjut dia, adalah laboratorium belajar bagi para mahasiswa PPDS. Dalam katagori tersebut, kata Prof Nasih, semakin banyak kasus maka semakin menunjukkan kompetensi seseorang teruji.

Karena keterampilan itu, model pembelajaran pendidikan dokter juga berbeda dengan mahasiswa di fakultas lain. Sehingga hubungan atau pola interaksi antara peserta dengan para pendidik berbeda.

Prof Nasih melanjutkan, pada masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, ada dua sisi yang menjadi dilema. Pertama, UNAIR tetap memberikan kepedulian dengan ikut menangani Covid-19. Kedua, UNAIR juga berusaha menjaga kesehatan dan keselamatan mahasiswa PPDS.

“Kawan-kawan PPDS yang mempunyai persoalan kesehatan, mempunyai penyakit penyerta atau komorbid yang berisiko tinggi tertular Covid-19, kami anjurkan untuk mengambil cuti tanpa harus membayar UKT,” ujarnya.

Dia menambahkan, jika mengajukan cuti akademik dalam rangka Covid-19, mahasiswa PPDS tidak perlu membayar UKT. Cuti akademik itu juga tidak termasuk dalam hitungan ketentuan batas maksimal cuti.

“Kami juga ingin memastikan kawan-kawan PPDS aman dengan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap dan berkualitas tinggi saat menangani Covid-19,” pungkasnya. (*)

MANADOPOST.ID— Perjuangan mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) program pendidikan dokter spesialis (PPDS) di Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) belum berhasil. Hingga saat ini, permintaan mahasiswa mendapatkan keringanan uang kuliah tunggal (UKT) selama pandemi, belum digubris.

Berbanding terbalik langkah Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Seakan menggunakan falsafah Dr Sam Ratulangi, Si Tou Timuo Tumou Tou (manusia hidup menghidupkan orang lain), Rektor Unair mengeluarkan kebijakan di masa pandemi.

Di antaranya 2.395 mahasiswa bebas UKT, 1.750 diberi keringanan, dan 1.675 mahasiswa program pendidikan dokter spesialis (PPDS) hanya membayar 50% UKT. Sebab mereka banyak bersinggungan langsung dalam penanganan pandemi di rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya. “Unair Tumou Tou, Unsrat Tumokok Tou,” protes sejumlah mahasiswa.

Dilansir Jawa Pos (Grup Manado Post), UKT mahasiswa PPDS Unair mendapatkan keringanan 50%, tapi tidak berlaku bagi penerima beasiswa tugas belajar.  “Unair titip salam. Mereka bisa, Unsrat tidak. Anehnya rektorat bersikukuh tidak ada payung hukum. Padahal ada Permendikbud 25,” tegas dr Jacob Pajan, Koordinator Residen Unsrat.

Rektor Unair Prof Mohammad Nasih dalam siaran persnya mengemukakan alasan. Yakni mahasiswa PPDS terlibat langsung dalam penanganan Covid-19, sehingga mendapatkan insentif UKT sebesar 50 persen.

“Kami (UNAIR, Red) sudah siapkan bagi siapa saja mahasiswa yang ingin mengajukan keringanan UKT, silakan mengirim surat dan menyertakan alasannya. Kalau ada alasan spesifik dan konkrit, akan kami berikan keringanan,” ungkap Prof Nasih.

Prof Nasih melanjutkan, insentif itu diberikan bukan karena adanya penurunan UKT. Namun mengingat aktivitas mahasiswa PPDS yang terjun secara langsung menangani Covid-19.

Menurutnya, metode pendidikan mahasiswa PPDS berbeda dengan lainnya. Rumah sakit, lanjut dia, adalah laboratorium belajar bagi para mahasiswa PPDS. Dalam katagori tersebut, kata Prof Nasih, semakin banyak kasus maka semakin menunjukkan kompetensi seseorang teruji.

Karena keterampilan itu, model pembelajaran pendidikan dokter juga berbeda dengan mahasiswa di fakultas lain. Sehingga hubungan atau pola interaksi antara peserta dengan para pendidik berbeda.

Prof Nasih melanjutkan, pada masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, ada dua sisi yang menjadi dilema. Pertama, UNAIR tetap memberikan kepedulian dengan ikut menangani Covid-19. Kedua, UNAIR juga berusaha menjaga kesehatan dan keselamatan mahasiswa PPDS.

“Kawan-kawan PPDS yang mempunyai persoalan kesehatan, mempunyai penyakit penyerta atau komorbid yang berisiko tinggi tertular Covid-19, kami anjurkan untuk mengambil cuti tanpa harus membayar UKT,” ujarnya.

Dia menambahkan, jika mengajukan cuti akademik dalam rangka Covid-19, mahasiswa PPDS tidak perlu membayar UKT. Cuti akademik itu juga tidak termasuk dalam hitungan ketentuan batas maksimal cuti.

“Kami juga ingin memastikan kawan-kawan PPDS aman dengan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap dan berkualitas tinggi saat menangani Covid-19,” pungkasnya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/