26.4 C
Manado
Senin, 4 Juli 2022

Terpilih Aklamasi di Musda X PG Manado, Lalu Siapa Teba?

MANADO—Perjalanan Meykel Damopolii atau Teba, sapaan akrabnya, menjadi Ketua Golkar Manado tidak mulus. Sempat terjadi dua kali kericuan. Yang pertama pada pembukaan, sejumlah pengurus mempertanyakan legalitas Plt ketua baru yang ditunjuk secara sepihak tanpa sepengetahuan mereka. Kedua, ricuh terjadi saat persiapan ruangan untuk pelaksanaan Musda.

Plt Ketua Golkar Manado Ruby Rumpesak mengungkapkan, ada lima pengurus kecamatan yang setelah diverifikasi ternyata memiliki berbagai masalah. Proses musyawarah kecamatan itu tidak sesuai dengan anggaran dasar rumah tangga. Contohnya, apa yang terjadi di Kecamatan Tuminting dan Bunaken. Kalau berdasarkan aturan anggaran dasar rumah tangga Musyawarah Kecamatan Luar Biasa ini sah dilakukan apabila dilakukan 2/3 pimpinan kelurahan. Tapi apa yang dilakukan pada waktu itu tidak memenuhi unsur tersebut.

“Setelah kami kroscek pemerintah kelurahan mengatakan bahwa mereka tidak menerima undangan bahkan tidak pernah menandatangani dokumen sebagai salah satu syarat untuk pengusulan musyawarah luar biasa,” ungkapnya. Kejadian ini juga hampir sama dengan yang terjadi di Wanea. Olehnya, sebagai pimpinan partai dia mengambil sikap sesuai dengan kebijakan partai untuk melaksanakan Plt pada tiga kecamatan dan dua kecamatan dikembalikan pada musyawarah kecamatan yang sah.

Terkait dengan dikeluarkannya 7 PK dalam sidang, pihaknya mengatakan mereka itu tidak dikeluarkan kami hanya menyampaikan yang tidak ada tanda pengenal silahkan keluar dulu dan melakukan registrasi ke panitia. Tapi pada saat itu ditanggapi lain dan karena teman-teman tidak mau keluar sehingga pada akhirnya teman-teman panitia melakukan langkah perspektif dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan Musda.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Kata Rumpesak, jika mereka akan membawa hal ini ke mahkamah partai itu hak konstitusi dari tiap kader. Kalaupun mereka berpikir bahwa apa yang telah dia lakukan sebagai Plt tidak sesuai dengan ketentuan anggaran dasar rumah tangga. “Yah mereka punya hak untuk melakukan gugatan di Mahkamah Partai. Kita tidak boleh membatasi hak konstitusi seseorang,” tegasnya.

Sementara itu, Meykel Damopolii selaku ketua terpilih mengucapkan terimakasih kepada panitia pengarah dan pelaksana Musda. “Saya sebagai ketua terpilih akan melaksanakan amanah yang saudara-saudara percayakan untuk kemajuan Golkar ke depan,” ujarnya.

Menurutnya, jika ingin maju diperlukan perubahan. Dia pun mengaku tak dapat berjuang sendiri tanpa dukungan dari pengurus, kader, dan simpatisan partai Golkar Manado. “Tentunya saya ingin membesarkan partai Golkar Kota Manado ke depan dan memenangkan CEP di Pilkada 9 Desember,” terangnya. Maykel ‘Teba’ Damopolii sendiri, dari informasi merupakan ‘orang dekat’ Jimmy Rimba Rogi. Tugas baru kini menantinya. Amankan calon Golkar dalam pilwako Manado maupun pemilihan pilgub Sulut.(*)

MANADO—Perjalanan Meykel Damopolii atau Teba, sapaan akrabnya, menjadi Ketua Golkar Manado tidak mulus. Sempat terjadi dua kali kericuan. Yang pertama pada pembukaan, sejumlah pengurus mempertanyakan legalitas Plt ketua baru yang ditunjuk secara sepihak tanpa sepengetahuan mereka. Kedua, ricuh terjadi saat persiapan ruangan untuk pelaksanaan Musda.

Plt Ketua Golkar Manado Ruby Rumpesak mengungkapkan, ada lima pengurus kecamatan yang setelah diverifikasi ternyata memiliki berbagai masalah. Proses musyawarah kecamatan itu tidak sesuai dengan anggaran dasar rumah tangga. Contohnya, apa yang terjadi di Kecamatan Tuminting dan Bunaken. Kalau berdasarkan aturan anggaran dasar rumah tangga Musyawarah Kecamatan Luar Biasa ini sah dilakukan apabila dilakukan 2/3 pimpinan kelurahan. Tapi apa yang dilakukan pada waktu itu tidak memenuhi unsur tersebut.

“Setelah kami kroscek pemerintah kelurahan mengatakan bahwa mereka tidak menerima undangan bahkan tidak pernah menandatangani dokumen sebagai salah satu syarat untuk pengusulan musyawarah luar biasa,” ungkapnya. Kejadian ini juga hampir sama dengan yang terjadi di Wanea. Olehnya, sebagai pimpinan partai dia mengambil sikap sesuai dengan kebijakan partai untuk melaksanakan Plt pada tiga kecamatan dan dua kecamatan dikembalikan pada musyawarah kecamatan yang sah.

Terkait dengan dikeluarkannya 7 PK dalam sidang, pihaknya mengatakan mereka itu tidak dikeluarkan kami hanya menyampaikan yang tidak ada tanda pengenal silahkan keluar dulu dan melakukan registrasi ke panitia. Tapi pada saat itu ditanggapi lain dan karena teman-teman tidak mau keluar sehingga pada akhirnya teman-teman panitia melakukan langkah perspektif dalam rangka mempersiapkan pelaksanaan Musda.

Kata Rumpesak, jika mereka akan membawa hal ini ke mahkamah partai itu hak konstitusi dari tiap kader. Kalaupun mereka berpikir bahwa apa yang telah dia lakukan sebagai Plt tidak sesuai dengan ketentuan anggaran dasar rumah tangga. “Yah mereka punya hak untuk melakukan gugatan di Mahkamah Partai. Kita tidak boleh membatasi hak konstitusi seseorang,” tegasnya.

Sementara itu, Meykel Damopolii selaku ketua terpilih mengucapkan terimakasih kepada panitia pengarah dan pelaksana Musda. “Saya sebagai ketua terpilih akan melaksanakan amanah yang saudara-saudara percayakan untuk kemajuan Golkar ke depan,” ujarnya.

Menurutnya, jika ingin maju diperlukan perubahan. Dia pun mengaku tak dapat berjuang sendiri tanpa dukungan dari pengurus, kader, dan simpatisan partai Golkar Manado. “Tentunya saya ingin membesarkan partai Golkar Kota Manado ke depan dan memenangkan CEP di Pilkada 9 Desember,” terangnya. Maykel ‘Teba’ Damopolii sendiri, dari informasi merupakan ‘orang dekat’ Jimmy Rimba Rogi. Tugas baru kini menantinya. Amankan calon Golkar dalam pilwako Manado maupun pemilihan pilgub Sulut.(*)

Most Read

Artikel Terbaru

/