24.4 C
Manado
Jumat, 1 Juli 2022

Banner Mobile (Anymind)

dr Devi Kampanye Stop Kekerasan Perempuan di Boltim

- Advertisement -

MANADOPOST.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut) melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Daerah Sulut, terus mendorong agar kekerasan terhadap perempuan berakhir di Tanah Bumi Nyiur Melambai. Hal tersebut terbukti dengan digencarkannya kegiatan kampanye stop kekerasan terhadap perempuan.

Bahkan, Rabu (1/12) siang, Kepala DP3A Daerah Sulut dr Kartika Devi Kandouw-Tanos turun langsung ke Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) untuk mengencangkan kampanye stop kekerasan terhadap perempuan. dr Devi sapaan akrabnya, memboyong rombongan DP3A untuk melakukan pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Boltim, untuk secara bersama mengampanyekan stop kekerasan terhadap perempuan.

 

“Iya hari ini, saya bersama tim DP3A Daerah Sulut, datang ke Kabupaten Boltim untuk mengampanyekan stop kekerasan terhadap perempuan. Jadi kampanye seperti ini, dilakukan selama 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan mulai 25 November sampai 10 Desember. Ini terus kita gencarkan, agar kekerasan terhadap perempuan bisa hilang di Sulut. Upaya-upaya seperti ini tentu perlu dukungan pemerintah di 15 kabupaten/kota. Karena itu, kita turun lapangan untuk bertemu langsung dengan pemerintah setempat,” tuturnya.

- Advertisement -

Mantan Noni Sulut tersebut juga berharap agar semua masyarakat bisa turut serta berpartisipasi dalam mengampanyekan stop kekerasan terhadap perempuan. “Ini sangat penting bagi kita. Karena peran perempuan ini, sangat penting dalam lingkup kehidupan setiap hari kita. Jadi upaya perlindungan terhadap perempuan harus dilakukan semua orang. Jadi memang kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia,” sebutnya.

Istri tercinta Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw tersebut juga mengatakan bahwa, selain melakukan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan, pihaknya juga melakukan visitasi ke korban-korban kekerasan terhadap anak dalam hal ini anak perempuan di Kabupaten Boltim. “Nah kita juga melakukan peninjauan vaksinasi anak remaja di SMPN 1 Kotabunan. Itu dilakukan untuk mempercepat target capaian vaksinasi di Kabupaten Boltim khususnya, dan Sulut pada umumnya,” ucapnya.

Aktivitas ini sendiri diterangkan dr Devi, pertama kali digagas oleh Women’s Global Leadership Institute tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership. “Setiap tahunnya, kegiatan ini berlangsung dari tanggal 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan hingga tanggal 10 Desember yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. Dipilihnya rentang waktu tersebut adalah dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM,” katanya.

KEKELUARGAAN: dr Kartika Devi Kandouw-Tanos saat berfoto bersama dengan kelompok nelayan dan tani perempuan, di Kabupaten Boltim.

MANADOPOST.ID – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Utara (Sulut) melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Daerah Sulut, terus mendorong agar kekerasan terhadap perempuan berakhir di Tanah Bumi Nyiur Melambai. Hal tersebut terbukti dengan digencarkannya kegiatan kampanye stop kekerasan terhadap perempuan.

Bahkan, Rabu (1/12) siang, Kepala DP3A Daerah Sulut dr Kartika Devi Kandouw-Tanos turun langsung ke Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) untuk mengencangkan kampanye stop kekerasan terhadap perempuan. dr Devi sapaan akrabnya, memboyong rombongan DP3A untuk melakukan pertemuan dengan Pemerintah Kabupaten Boltim, untuk secara bersama mengampanyekan stop kekerasan terhadap perempuan.

 

“Iya hari ini, saya bersama tim DP3A Daerah Sulut, datang ke Kabupaten Boltim untuk mengampanyekan stop kekerasan terhadap perempuan. Jadi kampanye seperti ini, dilakukan selama 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan mulai 25 November sampai 10 Desember. Ini terus kita gencarkan, agar kekerasan terhadap perempuan bisa hilang di Sulut. Upaya-upaya seperti ini tentu perlu dukungan pemerintah di 15 kabupaten/kota. Karena itu, kita turun lapangan untuk bertemu langsung dengan pemerintah setempat,” tuturnya.

Mantan Noni Sulut tersebut juga berharap agar semua masyarakat bisa turut serta berpartisipasi dalam mengampanyekan stop kekerasan terhadap perempuan. “Ini sangat penting bagi kita. Karena peran perempuan ini, sangat penting dalam lingkup kehidupan setiap hari kita. Jadi upaya perlindungan terhadap perempuan harus dilakukan semua orang. Jadi memang kampanye 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan merupakan kampanye internasional untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia,” sebutnya.

Istri tercinta Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw tersebut juga mengatakan bahwa, selain melakukan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan, pihaknya juga melakukan visitasi ke korban-korban kekerasan terhadap anak dalam hal ini anak perempuan di Kabupaten Boltim. “Nah kita juga melakukan peninjauan vaksinasi anak remaja di SMPN 1 Kotabunan. Itu dilakukan untuk mempercepat target capaian vaksinasi di Kabupaten Boltim khususnya, dan Sulut pada umumnya,” ucapnya.

Aktivitas ini sendiri diterangkan dr Devi, pertama kali digagas oleh Women’s Global Leadership Institute tahun 1991 yang disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership. “Setiap tahunnya, kegiatan ini berlangsung dari tanggal 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan hingga tanggal 10 Desember yang merupakan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional. Dipilihnya rentang waktu tersebut adalah dalam rangka menghubungkan secara simbolik antara kekerasan terhadap perempuan dan HAM, serta menekankan bahwa kekerasan terhadap perempuan merupakan salah satu bentuk pelanggaran HAM,” katanya.

KEKELUARGAAN: dr Kartika Devi Kandouw-Tanos saat berfoto bersama dengan kelompok nelayan dan tani perempuan, di Kabupaten Boltim.

Most Read

Artikel Terbaru

/