29.4 C
Manado
Minggu, 20 Juni 2021
spot_img

2021, Balai Arkeologi Sulut Kembangkan Rumah Peradaban Danau Tondano

MANADOPOST.ID – Di masa pandemi Covid-19, penelitian yang dilakukan Balai Arkeologi Sulut tetap jalan tapi metodenya diubah.

“Kalau selama ini kita melakukan penelitian di lapangan, kini selama pandemi kami melakukan penelitian lebih ke study literatur tapi melakukan temuan analisis di kantor. Kemudian melakukan kajian-kajian pustaka, melakukan focus group discussion walaupun secara daring, dan wawancara narasumber di daerah tetap dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan, serta melakukan kunjungan ke beberapa daerah untuk mengali studi pustaka,” ujar Kepala Balai Arkeologi Sulut Wuri Handoko, usai kegiatan evaluasi hasil penelitian arkeologi Balai Arkeologi Sulut di salah satu hotel di Manado, Rabu (3/3).

Katanya, ada delapan penelitian yang dilakukan, diantaranya dua penelitian di Sulawesi Tengah pada kawasan Lore Lindu dan wilayah Morowali, untuk industri tambang sejak masa kolonial di Kwandang Gorontalo dan penelitian pengelolaan kota tua Gorontalo, di Sagihe dan Talaud masing-masing satu penelitian, kemudian penelitian di kawasan semenanjung Minahasa, serta di Bolaang Mongondow untuk penelitian pemukiman multietnis di wilayah Swapraja.

Dirinya menerangkan Arkeologi melakukan penelitian lebih ke menggali informasi sebagai bahan edukasi. Arkeologi yang diteliti konteksnya mengali atau mencari informasi pengetahuan tentang sejak peradaban. Sejauh ini hasil penelitian ada beberapa penemuan situs baru. Memang ada beberapa konteks temuan-temuan Waruga ada beberapa hal yang kurang terawat yang perlu kepedulian misalnya di Minawanua banyak yang rusak.

“Kajian Balai Arkeologi Sulut dalam rangka untuk itu, jika ada hal-hal besar yang perlu diselamatkan akan kita rekomendasikan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya maupun di dinas terkait. Di tahun 2021, program kami untuk pengembangan rumah peradaban danau Tondano sebagai tindak lanjut dari penelitian. Selain Waruga, Danau Tondano menjadi salah satu objek pariwisata di Sulut, kami mencoba mengangkat isu danau Tondano bukan hanya dari sisi pariwisata alamnya saja tapi ada objek situs kebudayaan yang harus kami angkat,” ujarnya.

Konsepnya, rumah peradaban Danau Tondano adalah untuk mengintegrasikan tentang wisata alam dan pariwisata budaya. Karena didalam kawasan danau Tondano itu banyak situs-situs pemukiman kuno yang pihaknya kira penting untuk diangkat. “Disana ada Benteng Moraya yang mengambarkan sejarah pemukiman masa lampau, dan juga tentang perang Tondano, serta pemukiman kuno lahan basah dalam konteks bahasa arkeologi,” tuturnya.

Dalam situasi pandemi seperti ini dirinya menyadari ada keterbatasan.Tapi kali ini akan diangkat lewat virtual. “Jadi akan ada virtual toor situs arkeologi. Produksi virtual itu bukan barang yang murah tapi dengan sumber daya yang kita miliki, ini sebagai ujicoba meskipun juga kami akan optimalkan semua riset yang kami punya untuk membuat situs virtual. Selain itu juga, kami akan membuat atau memproduksi film animasi arkeologi yang menceritakan bagaimana perkembangan pemukiman masa lampau hingga sekarang kota Tondano yang hadir di tahun seribu delapan ratusan,” terangnya.

Kata Handoko, ini adalah program yang bukan satu kali buat langsung jadi tapi kami akan mencoba langkah awal sesuai yang kami mampu. Misalnya pengumpulan data dan berkerja sama dengan bagian IT untuk membuat film animasi dan situs virtual.

“Anggarannya juga cukup tinggi, kalau mengambil contoh di Jogja situs virtual itu hampir 120 juta lebih mungkin kalau kami setegahnya itu yang akan dioptimalkan. Untuk rumah peradaban di Danau Tondano angarannya sekitar tiga ratusan juta tapi itu sudah termasuk beberapa aspek alokasi anggaran, misalnya situs virtual 60-70 juta, buku pengayaan sekitar 1600 eksemplar, dan lain sebagainya,” tambahnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulut, Patricia Mawitjere, menuturkan akan mendukung penuh program dari Balai Arkeologi Sulut, dan akan meneruskannya ke Gubernur Sulut setiap program dari Balai Arkeologi yang telah dimulai dari sekarang. “Saya berterima kasih karena sudah melibatkan kami dalam program ini. Semoga kedepan pariwisata menjadi bagian dari kebudayaan bukan kebudayaan bagian dari pariwisata,” harapnya. (Lina Pendong)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru