24.4 C
Manado
Rabu, 6 Juli 2022

Mereka (Juga) Garda Terdepan: Faldo Ponamon, Sopir Ambulans RSUP Prof Kandou

Pandemi yang melanda dunia saat ini sesungguhnya telah melahirkan beberapa pahlawan baru. Tak hanya para dokter dan tenaga kesehatan. Mereka ini pula turut berada di garis terdepan dalam melawan COVID-19. Berikut, cerita Faldo Ponamon, Sopir Ambulans RSUP Prof Kandou.

MINGGU 20 September 2020 akan menjadi hari tak terlupakan bagi Faldo Ponamon. Kala itu, Faldo sedang menjalankan tugasnya sebagai sopir ambulans pengantar jenazah pasien COVID-19. Saat malam hari, Faldo dipukul di Talawaan Bajo, Kecamatan Wori. Alat pelindung diri (APD) yang dikenakannya sobek. Kaca mobil ambulans pecah.

Hal ini diduga karena keluarga menolak pasien dimakamkan dengan protokol COVID-19. Tapi kejadian tersebut dijadikan Faldo sebagai  motivasi untuk tidak takut dalam menjadi garda terdepan penanggulangan COVID-19.

“Saya tidak merasa trauma atau takut menjadi salah satu garda terdepan. Karena banyak pihak yang selalu kasih support. Terutama dari keluarga,” jelasnya. Ia memang cinta dengan pekerjaannya walau penuh resiko. “Kadang juga ada rasa takut untuk tertular. Tapi bersyukur sudah beberapa kali test hasilnya negatif,” ungkap Aldo sapaannya.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Ia mengaku, kerap sering dijauhi. Baik teman maupun para tetangga. Tapi ada juga yang sudah memaklumi profesinya. “Saya harus kerja. Kalau tidak kerja, tidak makan,” tambahnya. Ketika melihat pasien COVID-19, Aldo merasa seperti menolong keluarga sendiri. “Kadang ada rasa kasihan. Karena tidak tahu nantinya akan terjadi di keluarga sendiri,” kuncinya. (*)

Pandemi yang melanda dunia saat ini sesungguhnya telah melahirkan beberapa pahlawan baru. Tak hanya para dokter dan tenaga kesehatan. Mereka ini pula turut berada di garis terdepan dalam melawan COVID-19. Berikut, cerita Faldo Ponamon, Sopir Ambulans RSUP Prof Kandou.

MINGGU 20 September 2020 akan menjadi hari tak terlupakan bagi Faldo Ponamon. Kala itu, Faldo sedang menjalankan tugasnya sebagai sopir ambulans pengantar jenazah pasien COVID-19. Saat malam hari, Faldo dipukul di Talawaan Bajo, Kecamatan Wori. Alat pelindung diri (APD) yang dikenakannya sobek. Kaca mobil ambulans pecah.

Hal ini diduga karena keluarga menolak pasien dimakamkan dengan protokol COVID-19. Tapi kejadian tersebut dijadikan Faldo sebagai  motivasi untuk tidak takut dalam menjadi garda terdepan penanggulangan COVID-19.

“Saya tidak merasa trauma atau takut menjadi salah satu garda terdepan. Karena banyak pihak yang selalu kasih support. Terutama dari keluarga,” jelasnya. Ia memang cinta dengan pekerjaannya walau penuh resiko. “Kadang juga ada rasa takut untuk tertular. Tapi bersyukur sudah beberapa kali test hasilnya negatif,” ungkap Aldo sapaannya.

Ia mengaku, kerap sering dijauhi. Baik teman maupun para tetangga. Tapi ada juga yang sudah memaklumi profesinya. “Saya harus kerja. Kalau tidak kerja, tidak makan,” tambahnya. Ketika melihat pasien COVID-19, Aldo merasa seperti menolong keluarga sendiri. “Kadang ada rasa kasihan. Karena tidak tahu nantinya akan terjadi di keluarga sendiri,” kuncinya. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/