28.6 C
Manado
Kamis, 13 Mei 2021
spot_img
spot_img

KSF UT ke-19 Bahas Membangun dari Pinggiran

MANADOPOST.ID— Pandemi Covid-19 yang belum juga usai di tanah air tidak menyurutkan semangat civitas akademika Universitas Terbuka (UT) untuk terus meningkatkan pemahaman  dan pengetahuan bagi para dosen, mahasiswa, dan masyarakat umum.

Ini terbukti dengan digelarnya kegiatan Knowledge Sharing Forum (KSF) UT ke-19, pada hari Senin (3/5) secara virtual melalui aplikasi Zoom dan Youtobe Universitas Terbuka TV.

Dikatakan, Direktur UT Manado, Dr Ir Ida Zubaidah MA, bahwa KSF adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan UT dan disesuaikan dengan tema. UT melaksanakan KSF sesuai dengan tema-tema yang memadukan antara kebijakan pemerintah dengan praktek-praktek dilapangan yang berkaitan dengan pendidikan.

“Sebelumnya di Hari Kartini kemarin kami mengundang perempuan-perempuan hebat tanah air untuk menjadi narasumber. Dan KSF ke-19 ini dalam rangka Hari Pendidikan dengan tema ‘Implementasi Kampus Merdeka Untuk Mendukung Pembangunan Indonesia dari Pinggiran’. Kami mengundang Ketua MPR RI, Dirjen Dikti,perwakilan kepala Staf Kepresidenan, dan Bupati Sangihe menjadi narasumber,” ujarnya.

Lanjut Zubaidah, KSF ini juga untuk mendukung program pemerintah karena sekarang kan sudah merdeka belajar artinya agar mahasiswa itu tidak terbatas hanya pada kelas-kelas tertentu. Misalnya mahasiswa dari universitas lain bisa mendapatkan ilmu ditempat lain, sama seperti UT juga bisa memberikan kebebasan agar mahasiswa mendapatkan pengetahuan sesuai dengan mereka butuhkan tanpa ada kendala.

Sementara itu, Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe, Jabes Ezar Gaghana, mengatakan KSF adalah sebuah perhatian dari pemerintah pusat secara khususnya UT. Kami yang merasa di daerah perbatasan di Kabupaten Kepulauan Sangihe tentu mempunyai kebanggaan atas tema yang menjadi perhatian utama dari bidang pendidikan.

“Di Kabupaten Kepulauan Sangihe mahasiswa yang mengikuti pendidikan di UT ada 3030 orang dengan alumni 2499. Ini cukup membantu bagi daerah kami dengan adanya UT yang menjadi primadona bagi masyarakat kami,” ucapnya.

Pihaknya berharap UT menjadi sebuah solusi untuk anak-anak dan saudara-saudara yang ada di Sangihe untuk belajar. “Kami melihat bahwa UT ini pertama terjadinya kemandirian untuk belajar bagi mahasiswa itu sendiri,biayanya murah karena tidak lagi pindah-pindah tempat tinggal dimanapun bisa belajar. Kemudian tidak meninggalkan rumah untuk belajar dan tidak meninggalkan tempat kerja, karena kami mempunyai ASN dan guru-guru yang cukup banyak yang mengikuti kuliah di UT mereka bisa kerja sambil kuliah. Selanjutnya, tidak mengenal batas usia dan tentu bisa menjangkau kami di daerah terpencil. Ruang-ruang inilah kami sangat berterima kasih di Hari Pendidikan di tahun ini dapat mewujudkan tanggung jawab di daerah tertinggal daerah terpencil daerah dalam wilayah perbatasan dapat menikmati kondisi yang ada di daerah kita mulai dari pusat sampai kami yang ada di wilayah pelosok di daerah terpencil daerah perbatasan,” tuturnya.

Lanjut Jabes, pihaknya berkomitmen untuk meningkatkan SDM karena tidak mungkin dikondisi saat ini kita mengabaikan SDM. Angka APBD kami untuk sektor pendidikan itu 21,37 persen dari APBD. Untuk pemenuhan terhadap guru-guru ada tiga item selain sertifikasi, gaji pokok dan tunjangan. Ada tunjangan pulau terluar, tunjangan daerah perbatasan dan tunjangan daerah khusus itu kami kelola ada dari pemerintah pusat dan dari pemerintah kabupaten untuk mendukung guru-guru yang dalam penugasan di daerah pulau-pulau kecil dan di wilayah-wilayah pulau terluar. Dan guru-guru kami fasilitasi dengan Sangihe Mengajar yang terinspirasi dari Indonesia mengajar program pemerintah pusat dulu. Kami dari kabupaten melakukan terobosan untuk Sangihe Mengajar untuk memenuhi kebutuhan pendidikan yang ada di daerah kami.

“Dalam penguatan infrastruktur jaringan kami dibantu oleh beberapa pihak termasuk teman-teman dari BAKTI yang telah memfasilitasi juga dari Telkomsel untuk jaringan-jaringan yang menjadi kebutuhan terhadap pembunuhan. Karena kami juga sudah mengikuti ujian akhir sekolah untuk tingkat SD SMP juga sudah menggunakan internet di setiap sekolah jadi walaupun kami di daerah terluar tapi kami tetap mengikuti apa yang menjadi kebutuhan dan menjadi komitmen kami untuk pengembangan sumber daya manusia yang ada di wilayah-wilayah kepulauan dan terluar,” ucap Jabes.

Pihaknya juga tidak memungkiri bahwa aksesbilitas ke wilayah pulau-pulau masih membutuhkan perhatian dari pemerintah pusat. “Khusus untuk IT kami sudah tersambung dengan palapa ring yang jalur tengah itu juga dengan di wilayah terluar pun internet kami juga sudah berfungsi dengan baik dan sekali lagi yang menjadi perhatian adalah aksesibilitas terhadap manusia dan barang yang dihasilkan diproduksi oleh masyarakat untuk dibawah ke wilayah atau ke kabupaten masih membutuhkan perhatian dari pemerintah secara khusus sektor perikanan sektor pertanian yang menjadi andalan di wilayah kepulauan,” tutupnya.(lina)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru