30.4 C
Manado
Minggu, 14 Agustus 2022

Unsrat Dapat Hibah Kapal 105 GT, Prof Farnis: Terima Kasih Kejari Bitung

MANADOPOST.ID— Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado menerima satu kapal 105 GT dari Kejaksaan Negeri Bitung. Kapal penangkap ikan ini nantinya akan digunakan untuk sarana pendidikan dan bisnis untuk menangkap ikan tuna dan ikan-ikan permukaan.

Penyerahan hibah kapal hasil tindak pidana ilegal fishing sekaligus penandatanganan berita acara dilakukan oleh Kajari Bitung Frenkie Son SH MM MH dan Rektor Unsrat yang diwakili Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Prof Ir Farnis Boneka MSc, di aula Pangkalan Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Bitung, Selasa (14/12).

Dalam sambutannya, Prof Farnis menuturkan ungkapan terima kasihnya kepada Kajari Bitung atas penetapan status penggunaan barang milik negara berupa satu unit kapal. “Terhadap barang rampasan negara yang sudah ditetapkan untuk tujuan hibah serta status penggunaannya ini akan digunakan sebagimana peruntukkannya dan juga akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kapal ini tentunya sangat berguna bagi mahasiswa untuk melaksanakan praktek, terutama anak-anak kami dari FPIK,” tuturnya.

Dengan adanya kapal tersebut, lanjutnya praktek dapat ditingkatkan sebab mahasiswa bisa mengaplikasikan teori langsung di lapangan.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Ia bercerita, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo lalu sempat mengatakan, kapal maling ikan asing (KIA) yang tidak ditenggelamkan bakal dihibahkan ke kampus-kampus untuk pendidikan perikanan. Ketika ada ujian mahasiswa S3 FPIK Unsrat, menteri yang hadir dan secara informal terjadilah diaolog serta pak menteri sempat menanyakan apa kamu perlu kapal? Kemudian dibuatlah surat permohonan oleh Rektor dan ditujukan ke Kejaksaan Agung karena Kejaksaan Agung yang berwenang atas kapal hasil rampasan dan selanjutnya mengajukan surat ke Kejaksaan Tinggi Sulut.

“Dengan adanya penyerahan hibah kapal ini maka kapal 105 GT resmi dimiliki Unsrat dan FPIK yang akan paling banyak terlibat didalamnya untuk pengunaan dan pengelolaannya. Usai diserahkan ada banyak hal yang harus diselesaikan, sekarang WD I sedang mempelajari dan mengurus perijinan untuk tangkap ikan dan izin untuk berlayar, dan ini adalah bisnis besar bisa saja kedepan kita akan berbadan hukum karena ini mungkin pertama diperguruan tinggi punya kapal yang komersil jadi harus dimaksimalkan,” tuturnya.

Setelah diperiksanya didapati bahwa memang dari luar sudah ada yang berkarat karena kapal ini sudah terbiar selama dua tahun. Tetapi bagian dalam kapal masih oke mesinnya juga terlindungi, kapal ini punya spesifikasi penangkap alat flushing. Tentunya juga pihak universitas akan berkerjasama dengan pihak swasta karena mereka punya kru, kapten, dan sebagainya.

“Jadi kita perlu kerjasama dengan pihak ketiga karena kapal ini perlu pendamping yaitu kapal penampung dan dikita ini belum lengkap, kapal ini hanya kapal tangkap maka kita kerjasama dulu dengan pihak swasta karena sebuah unit penangkapan itu perlu tiga kapal, yaitu kapal tangkap, kapal penampung, dan kapal lampung,” terang Prof Farnis.

Ia mengatakan kapal ini bukan hanya sekedar kapal latih tapi kapal bisnis juga untuk menagkap ikan Tuna dan ikan-ikan permukaan laut. “Supaya mahasiswa yang berada dibidang terkait bukan hanya belajar teori tetapi ada pengalaman buat mahasiswa melaut dan pihak ketiga menyediakan krunya. Diharapkan kapal ini nantinya akan ada dua sisi, yaitu generating income dan sarana belajar apalagi sekarang kampus merdeka kita harus mencari tempat dan sekarang kita sudah punya tempat tinggal diatur dengan pihak ketiga, misalnya setiap trip berapa mahasiswa yang diikutsertakan untuk melaut,” terangnya.

Ia menambahkan kita berhak untuk mendapatkan usaha bukan semata-mata untuk profit tetapi juga untuk meningkatkan mutu layanan, misalnya suatu saat nanti anak-anak nelayan tidak perlu membayar UKT.

“Di laut ini dengan hasil yang tidak pasti tapi kita mencoba dengan bekerja sama dengan pihak ketiga. Kapal ini juga bisa untuk tri dharma, riset dan pasti akan ada perguruan tinggi atau mitra lain yang akan gabung bekerjasama dengan Unsrat. Jika kita berhasil maka Unsrat adalah universitas pertama yang mengelola kapal perikanan komersil dan kapal ini mungkin uji coba untuk bisa punya kapal lain lagi,” tutupnya. (lina)

MANADOPOST.ID— Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado menerima satu kapal 105 GT dari Kejaksaan Negeri Bitung. Kapal penangkap ikan ini nantinya akan digunakan untuk sarana pendidikan dan bisnis untuk menangkap ikan tuna dan ikan-ikan permukaan.

Penyerahan hibah kapal hasil tindak pidana ilegal fishing sekaligus penandatanganan berita acara dilakukan oleh Kajari Bitung Frenkie Son SH MM MH dan Rektor Unsrat yang diwakili Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Prof Ir Farnis Boneka MSc, di aula Pangkalan Pengawasan Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Bitung, Selasa (14/12).

Dalam sambutannya, Prof Farnis menuturkan ungkapan terima kasihnya kepada Kajari Bitung atas penetapan status penggunaan barang milik negara berupa satu unit kapal. “Terhadap barang rampasan negara yang sudah ditetapkan untuk tujuan hibah serta status penggunaannya ini akan digunakan sebagimana peruntukkannya dan juga akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Kapal ini tentunya sangat berguna bagi mahasiswa untuk melaksanakan praktek, terutama anak-anak kami dari FPIK,” tuturnya.

Dengan adanya kapal tersebut, lanjutnya praktek dapat ditingkatkan sebab mahasiswa bisa mengaplikasikan teori langsung di lapangan.

Ia bercerita, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo lalu sempat mengatakan, kapal maling ikan asing (KIA) yang tidak ditenggelamkan bakal dihibahkan ke kampus-kampus untuk pendidikan perikanan. Ketika ada ujian mahasiswa S3 FPIK Unsrat, menteri yang hadir dan secara informal terjadilah diaolog serta pak menteri sempat menanyakan apa kamu perlu kapal? Kemudian dibuatlah surat permohonan oleh Rektor dan ditujukan ke Kejaksaan Agung karena Kejaksaan Agung yang berwenang atas kapal hasil rampasan dan selanjutnya mengajukan surat ke Kejaksaan Tinggi Sulut.

“Dengan adanya penyerahan hibah kapal ini maka kapal 105 GT resmi dimiliki Unsrat dan FPIK yang akan paling banyak terlibat didalamnya untuk pengunaan dan pengelolaannya. Usai diserahkan ada banyak hal yang harus diselesaikan, sekarang WD I sedang mempelajari dan mengurus perijinan untuk tangkap ikan dan izin untuk berlayar, dan ini adalah bisnis besar bisa saja kedepan kita akan berbadan hukum karena ini mungkin pertama diperguruan tinggi punya kapal yang komersil jadi harus dimaksimalkan,” tuturnya.

Setelah diperiksanya didapati bahwa memang dari luar sudah ada yang berkarat karena kapal ini sudah terbiar selama dua tahun. Tetapi bagian dalam kapal masih oke mesinnya juga terlindungi, kapal ini punya spesifikasi penangkap alat flushing. Tentunya juga pihak universitas akan berkerjasama dengan pihak swasta karena mereka punya kru, kapten, dan sebagainya.

“Jadi kita perlu kerjasama dengan pihak ketiga karena kapal ini perlu pendamping yaitu kapal penampung dan dikita ini belum lengkap, kapal ini hanya kapal tangkap maka kita kerjasama dulu dengan pihak swasta karena sebuah unit penangkapan itu perlu tiga kapal, yaitu kapal tangkap, kapal penampung, dan kapal lampung,” terang Prof Farnis.

Ia mengatakan kapal ini bukan hanya sekedar kapal latih tapi kapal bisnis juga untuk menagkap ikan Tuna dan ikan-ikan permukaan laut. “Supaya mahasiswa yang berada dibidang terkait bukan hanya belajar teori tetapi ada pengalaman buat mahasiswa melaut dan pihak ketiga menyediakan krunya. Diharapkan kapal ini nantinya akan ada dua sisi, yaitu generating income dan sarana belajar apalagi sekarang kampus merdeka kita harus mencari tempat dan sekarang kita sudah punya tempat tinggal diatur dengan pihak ketiga, misalnya setiap trip berapa mahasiswa yang diikutsertakan untuk melaut,” terangnya.

Ia menambahkan kita berhak untuk mendapatkan usaha bukan semata-mata untuk profit tetapi juga untuk meningkatkan mutu layanan, misalnya suatu saat nanti anak-anak nelayan tidak perlu membayar UKT.

“Di laut ini dengan hasil yang tidak pasti tapi kita mencoba dengan bekerja sama dengan pihak ketiga. Kapal ini juga bisa untuk tri dharma, riset dan pasti akan ada perguruan tinggi atau mitra lain yang akan gabung bekerjasama dengan Unsrat. Jika kita berhasil maka Unsrat adalah universitas pertama yang mengelola kapal perikanan komersil dan kapal ini mungkin uji coba untuk bisa punya kapal lain lagi,” tutupnya. (lina)

Most Read

Artikel Terbaru

/