28.4 C
Manado
Jumat, 30 Juli 2021

Kisah Mona Ratuliu, Artis Berdarah Manado, Hadapi Covid-19, Ada Anak Yang Masih Konsumsi ASI

MANADOPOST.ID – Setahun terlewati, persebaran virus SARS-CoV-2 makin ganas. Setiap hari jumlah pasien Covid-19 bertambah. Sebagian besar menjalani isolasi mandiri (isoman). Termasuk para pesohor negeri ini. Mona Ratuliu salah satunya, artis berdarah Manado, Sulawesi Utara

 

Covid-19 memasuki rumah Mona pada April lalu. Adalah Indra Brasco, suami Mona, yang pertama terdeteksi positif Covid-19. Lima hari menjalani isoman di rumah, bapak empat anak itu terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit (RS). Sebab, kondisinya sempat memburuk. Hasil rontgen menunjukkan paru-paru Indra yang dipenuhi kabut.

 

Alarm Mona langsung menyala. Dia sigap. Uji usap dia lakukan untuk mengecek kondisi. Pada hari yang sama dengan jadwal rontgen Indra, hasil tes Mona keluar. Positif. ”Ternyata CT-13. Jadi takut ada gejala berat yang timbul,” kata Mona dalam perbincangan telepon dengan Jawa Pos (Manado Post Group) pada Jumat (2/7).

 

Pusing. Bingung. Dua hal itu yang dirasakan Mona. Bagaimana tidak? Pada saat yang bersamaan, dia dan suami harus tinggal terpisah dari empat buah hati mereka. Itu terjadi pada bulan Ramadan. Saat itu dua anak mereka sedang menghadapi ujian sekolah. Belum lagi si bungsu Numa masih minum ASI.

Untuk semua kepusingan dan kebingungan tersebut, Mona harus mengurainya dari kamar tempatnya menjalani isolasi. Kamar isolasi pun tak ubahnya ruang kendali. Kebayang kan gimana repotnya? ”Beruntung, dokter mengizinkan tetap menyusui Numa,” ungkapnya. Bahkan, Numa tetap tidur bersamanya pada malam hari. ”Itu lumayan ngebantu banget sih. Aku jadi tenang. Nggak mikirin Numa malamnya gimana. Karena itu juga yang bikin bingung,” imbuh bintang sinetron Pelangi di Matamu tersebut.

Tidak mau memperbesar risiko penularan, Mona pun mengungsikan dua anaknya. Raka dan Nala tinggal di rumah adik iparnya. Di rumah Mona ditemani seorang sepupu dan Mima, anak pertamanya. Dengan demikian, ada yang menggantikan dia menjaga Numa dari pagi sampai sore. Sebab, Mona harus banyak istirahat supaya segera sembuh.

 

Agar urusan studi Raka dan Nala tidak keteteran, Mona minta bantuan kerabat. Kadang ada tugas-tugas yang harus dikirim ke sekolah melalui ojek online. ”Wah, banyak banget deh yang diurus. Apalagi karena pisah-pisah itu kan,” keluhnya. Urusan rumah beres. Anak-anak teratasi. Bagaimana dengan suami? Indra harus berjuang sendirian di ruang isolasi RS. Setiap hari Mona mengirimkan cinta dan semangatnya kepada sang suami lewat video call. Rutinitas itu juga dia lakukan untuk memantau kesehatan Indra yang sempat memburuk. ”Dia kadang bosan makan makanan rumah sakit. Jadi harus di-Gojek-in,” ujarnya.

 

Sibuk menjadi ibu yang baik dan istri yang suportif, Mona tidak lantas melupakan kebutuhannya. Apalagi, dia sendiri juga pasien. Demi menjaga kestabilan emosinya, Mona memilih diam. Caranya ialah tidak mengabarkan situasi yang dia alami itu kepada orang lain. Hanya keluarga dekat yang menjadi tempatnya bercerita.

 

Pertimbangannya adalah hemat energi. Juga memutus rantai stres. Sebab, menurut Mona, untuk menjawab pertanyaan satu orang saja tentang kondisinya, dia butuh energi ekstra. Bayangkan jika ada sepuluh orang yang bertanya. Pertanyaan yang sama. Mona yakin energinya akan terkuras habis.

 

Mona memilih fokus pada kesehatannya. Anosmia sempat membuat dia panik. Berbagai upaya dia lakukan sesuai anjuran dokter agar segera sembuh. ”Aku juga nggak mikir panjang. Karena kondisi hari ini dan besok bisa beda. Jadi mikirin hari ini, besok jalanin aja,” katanya.

 

Untuk menjaga mood tetap baik, Mona mengonsumsi makanan-makanan kesukaannya. Dia juga berbagi film komedi atau video lucu dengan Indra untuk saling menguatkan dan meningkatkan imunitas. ”Pokoknya benar-benar fokus nyenengin hati aja,” tutur perempuan kelahiran Jakarta 39 tahun lalu itu. (jawapos)

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Artikel Terbaru