30.4 C
Manado
Minggu, 14 Agustus 2022

Luruskan Kontroversi Isu Politik, Snowdrop Tayang Tiga Episode Sekaligus

MANADOPOST.ID– Snowdrop masih jadi topik panas di kalangan warganet Korea. Serial yang dibintangi Jisoo BLACKPINK dan Jung Hae-in itu menuai kontroversi. Pada Kamis (23/12), pihak JTBC selaku stasiun penyiaran di sana mengambil langkah dramatis. Mereka menayangkan tiga episode sekaligus di akhir pekan ini. Episode 3 hingga 5 akan ditayangkan mulai kemarin sampai besok (24–26/12).

Dalam pernyataan resmi, pihak produksi menyatakan, seluruh narasi tidak bisa dituturkan sekaligus karena Snowdrop memiliki format drama. Hal tersebut ditengarai memicu kesalahpahaman penonton. ”Untuk merespons hal itu, JTBC memutuskan menyiarkan beberapa episode lebih awal dari jadwal untuk meredakan kekhawatiran penonton,” ungkap perwakilan tim produksi sebagaimana dikutip Soompi.

Mereka menjelaskan, tiga episode tersebut akan mengulas latar belakang tokoh Lim Soo-ho (Hae-in), mata-mata Korea Utara yang ditugaskan ke Korea Selatan. Selain itu, pihak JTBC dan tim produksi akan mengulas dua poin. Yakni, Agen Perencanaan Keamanan Nasional atau NSA yang menugaskan agen ke Korea Selatan serta para pemimpin dua Korea yang berkolusi untuk meraih kekuasaan dan uang.

”Episode ini juga akan memuat cerita para anak-anak muda yang ditangkap di operasi rahasia NSA,” lanjutnya. Dalam penutup surat, JTBC menyatakan menghormati pandangan dan opini pemirsa terhadap Snowdrop. Sejak awal pekan ini, mereka juga membuka ruang chat real time dan buletin digital resmi untuk mewadahi respons penonton.

1491945 Adx_ManadoPost_InPage_Mobile

Snowdrop langsung menuai badai sejak sinopsis dan deskripsi tokohnya diunggah. Di awal penayangannya pada 18 Desember lalu, drama besutan Jo Hyun-tak itu langsung ditantang lewat petisi resmi. Pihak penggagas petisi menyatakan, serial yang ditayangkan di Disney+ itu memuat konten yang berlawanan dengan nilai dan sejarah pergerakan demokrasi.

Hingga awal pekan lalu, petisi tersebut mengumpulkan tanda tangan lebih dari 200 ribu. Petisi itu pun memenuhi syarat untuk mendapat tanggapan dari pihak Cheong Wa Dae alias Blue House.

Pada Jumat (23/12), laman petisi resmi baru kembali dibuka. Kali ini, pemohon petisi menuntut penutupan JTBC selaku stasiun penyiaran Snowdrop. ”Stasiun penyiaran tidak menanggapi maupun menangani dugaan distorsi sejarah di tayangannya dengan baik,” lanjut pihak tersebut. Hingga kemarin, jumlah tanda tangan di laman petisi itu menembus lebih dari 30 ribu tanda tangan.

Pihak ahli waris korban pergerakan demokrasi juga ikut memberikan pernyataan terkait serial tersebut. Perwakilan mendiang Park Jong-cheol, aktivis mahasiswa yang meninggal dunia karena hukuman waterboarding, menilai Snowdrop mencederai para korban NSA. ”Masih banyak keluarga yang anggotanya dituduh sebagai mata-mata Korea Utara dan disiksa. Drama ini seolah membenarkan tindakan NSA saat itu,” ungkapnya sebagaimana dikutip Naver.

Pihak Lembaga Memorial Yi Han-yeol, yang didirikan ibu mendiang aktivis Han-yeol untuk mengenang jasa putranya, juga memberi reaksi keras. ”Snowdrop adalah hinaan bagi mereka yang mengorbankan masa mudanya untuk demokrasi,” paparnya dalam wawancara dengan laman Sports Kyunghyang.

Di Naver, warganet juga mengkritik penulis naskah Yoo Hyun-mi. Hyun-mi tak hanya menuai reaksi miring karena meramu cerita yang dinilai penuh distorsi sejarah dan meromantisasi karakter antagonis. Dia juga dinilai mencoreng almamaternya, Ewha Women’s University, perguruan tinggi perempuan satu-satunya di era itu yang jadi lokasi demo pergerakan demokrasi.

”Penggambaran Hosu Women’s University di Snowdrop begitu identik dengan Ewha. Bagaimana bisa dia sembrono menggambarkan tempat yang punya makna dalam bagi sejarah dan jadi tempat belajarnya?” ungkap warganet di laman diskusi Naver.

Kontroversi Snowdrop juga memicu ”perang” di media sosial. Banyak yang beranggapan, kritik keras terhadap drama perdana Jisoo itu berlebihan. Mereka menilai, kisah di serial tersebut merupakan fiksi yang tak perlu ditanggapi berlebihan. Namun, sebagian besar warganet juga menilai, kisah Snowdrop melukai hati saksi hidup maupun keluarga korban pergerakan demokrasi. (fam/c13/ayi/jpg)

MANADOPOST.ID– Snowdrop masih jadi topik panas di kalangan warganet Korea. Serial yang dibintangi Jisoo BLACKPINK dan Jung Hae-in itu menuai kontroversi. Pada Kamis (23/12), pihak JTBC selaku stasiun penyiaran di sana mengambil langkah dramatis. Mereka menayangkan tiga episode sekaligus di akhir pekan ini. Episode 3 hingga 5 akan ditayangkan mulai kemarin sampai besok (24–26/12).

Dalam pernyataan resmi, pihak produksi menyatakan, seluruh narasi tidak bisa dituturkan sekaligus karena Snowdrop memiliki format drama. Hal tersebut ditengarai memicu kesalahpahaman penonton. ”Untuk merespons hal itu, JTBC memutuskan menyiarkan beberapa episode lebih awal dari jadwal untuk meredakan kekhawatiran penonton,” ungkap perwakilan tim produksi sebagaimana dikutip Soompi.

Mereka menjelaskan, tiga episode tersebut akan mengulas latar belakang tokoh Lim Soo-ho (Hae-in), mata-mata Korea Utara yang ditugaskan ke Korea Selatan. Selain itu, pihak JTBC dan tim produksi akan mengulas dua poin. Yakni, Agen Perencanaan Keamanan Nasional atau NSA yang menugaskan agen ke Korea Selatan serta para pemimpin dua Korea yang berkolusi untuk meraih kekuasaan dan uang.

”Episode ini juga akan memuat cerita para anak-anak muda yang ditangkap di operasi rahasia NSA,” lanjutnya. Dalam penutup surat, JTBC menyatakan menghormati pandangan dan opini pemirsa terhadap Snowdrop. Sejak awal pekan ini, mereka juga membuka ruang chat real time dan buletin digital resmi untuk mewadahi respons penonton.

Snowdrop langsung menuai badai sejak sinopsis dan deskripsi tokohnya diunggah. Di awal penayangannya pada 18 Desember lalu, drama besutan Jo Hyun-tak itu langsung ditantang lewat petisi resmi. Pihak penggagas petisi menyatakan, serial yang ditayangkan di Disney+ itu memuat konten yang berlawanan dengan nilai dan sejarah pergerakan demokrasi.

Hingga awal pekan lalu, petisi tersebut mengumpulkan tanda tangan lebih dari 200 ribu. Petisi itu pun memenuhi syarat untuk mendapat tanggapan dari pihak Cheong Wa Dae alias Blue House.

Pada Jumat (23/12), laman petisi resmi baru kembali dibuka. Kali ini, pemohon petisi menuntut penutupan JTBC selaku stasiun penyiaran Snowdrop. ”Stasiun penyiaran tidak menanggapi maupun menangani dugaan distorsi sejarah di tayangannya dengan baik,” lanjut pihak tersebut. Hingga kemarin, jumlah tanda tangan di laman petisi itu menembus lebih dari 30 ribu tanda tangan.

Pihak ahli waris korban pergerakan demokrasi juga ikut memberikan pernyataan terkait serial tersebut. Perwakilan mendiang Park Jong-cheol, aktivis mahasiswa yang meninggal dunia karena hukuman waterboarding, menilai Snowdrop mencederai para korban NSA. ”Masih banyak keluarga yang anggotanya dituduh sebagai mata-mata Korea Utara dan disiksa. Drama ini seolah membenarkan tindakan NSA saat itu,” ungkapnya sebagaimana dikutip Naver.

Pihak Lembaga Memorial Yi Han-yeol, yang didirikan ibu mendiang aktivis Han-yeol untuk mengenang jasa putranya, juga memberi reaksi keras. ”Snowdrop adalah hinaan bagi mereka yang mengorbankan masa mudanya untuk demokrasi,” paparnya dalam wawancara dengan laman Sports Kyunghyang.

Di Naver, warganet juga mengkritik penulis naskah Yoo Hyun-mi. Hyun-mi tak hanya menuai reaksi miring karena meramu cerita yang dinilai penuh distorsi sejarah dan meromantisasi karakter antagonis. Dia juga dinilai mencoreng almamaternya, Ewha Women’s University, perguruan tinggi perempuan satu-satunya di era itu yang jadi lokasi demo pergerakan demokrasi.

”Penggambaran Hosu Women’s University di Snowdrop begitu identik dengan Ewha. Bagaimana bisa dia sembrono menggambarkan tempat yang punya makna dalam bagi sejarah dan jadi tempat belajarnya?” ungkap warganet di laman diskusi Naver.

Kontroversi Snowdrop juga memicu ”perang” di media sosial. Banyak yang beranggapan, kritik keras terhadap drama perdana Jisoo itu berlebihan. Mereka menilai, kisah di serial tersebut merupakan fiksi yang tak perlu ditanggapi berlebihan. Namun, sebagian besar warganet juga menilai, kisah Snowdrop melukai hati saksi hidup maupun keluarga korban pergerakan demokrasi. (fam/c13/ayi/jpg)

Most Read

Artikel Terbaru

/