Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Pemuda, GPIB, Rabu, 18 Februari 2026, Kolose 1:15-16 Muliakan Allah Melalui CiptaanNya

Alfianne Lumantow • Senin, 16 Februari 2026 | 12:47 WIB
Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab: Kolose 1:15–16
Tema: MULIAKAN ALLAH MELALUI CIPTAAN-NYA

“Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi… segala sesuatu diciptakan melalui Dia dan untuk Dia” (ay. 16).

Saudara-saudari muda yang dikasihi Tuhan, Sang Pencipta sudah menjadikan segalanya. Langit, bumi, laut, gunung, hutan, tumbuhan, hewan, dan manusia ada bukan karena kebetulan, melainkan karena kehendak Allah.

Kita hidup di dunia yang diciptakan dengan kasih dan tujuan. Karena itu, sebagai ciptaan-Nya, kita tidak hanya dipanggil untuk menikmati dunia ini, tetapi juga untuk melestarikannya.

Di kalangan anak muda, sering dipakai istilah mother of earth, yang menggambarkan bumi seperti sosok ibu. Istilah ini ingin menunjukkan bahwa bumi menyediakan segala sesuatu yang kita butuhkan untuk hidup.

Seperti seorang ibu yang memberi makan, melindungi, dan merawat anak-anaknya, demikian juga bumi yang diciptakan Tuhan menjadi rumah bagi semua ciptaan.

Dari bumi kita mendapatkan makanan, air, udara, dan bahan-bahan untuk kehidupan sehari-hari. Tanpa bumi, manusia tidak bisa bertahan hidup.

Namun, pertanyaannya: bagaimana sikap kita terhadap “ibu” ini? Apakah kita merawatnya atau justru melukainya? Banyak orang menikmati hasil bumi, tetapi lupa menjaga kelestariannya.

Hutan ditebang sembarangan, sungai dicemari sampah, udara dipenuhi polusi, dan tanah rusak karena bahan kimia. Akibatnya, bencana datang silih berganti: banjir, tanah longsor, kekeringan, dan perubahan iklim. Semua itu adalah tanda bahwa bumi sedang terluka.

Firman Tuhan hari ini mengajak kita melihat kembali siapa Kristus dan bagaimana relasi-Nya dengan ciptaan. Paulus berkata bahwa Kristus adalah “gambar Allah yang tidak kelihatan”.

Tidak seorang pun pernah melihat Allah secara langsung, tetapi melalui Yesus Kristus, Allah menyatakan diri-Nya kepada dunia (bdk. Yohanes 1:18). Ini berarti Yesus bukan hanya guru moral atau tokoh agama, melainkan Allah sendiri yang hadir dalam dunia ciptaan.

Paulus juga mengatakan bahwa Kristus adalah “yang sulung dari segala ciptaan”. Kata “sulung” di sini tidak berarti bahwa Yesus adalah ciptaan pertama, melainkan Ia memiliki kedudukan tertinggi dan ada sebelum segala sesuatu. Ia bukan bagian dari ciptaan, melainkan Sang Pencipta. Segala sesuatu diciptakan di dalam Dia, oleh Dia, dan untuk Dia.

Kalimat ini sangat penting: “segala sesuatu diciptakan melalui Dia dan untuk Dia.” Artinya, seluruh alam semesta memiliki tujuan: untuk memuliakan Kristus. Bumi tidak diciptakan hanya untuk dieksploitasi manusia, tetapi untuk menyatakan kemuliaan Allah.

Gunung, laut, hutan, dan makhluk hidup adalah bagian dari karya Allah yang indah. Ketika ciptaan terpelihara, kemuliaan Tuhan terlihat. Ketika ciptaan rusak, kemuliaan Tuhan menjadi kabur.

Sebagai pemuda Kristen, kita sering berpikir bahwa memuliakan Tuhan hanya dilakukan lewat ibadah, doa, dan pelayanan di gereja. Semua itu benar dan penting.

Tetapi firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa memuliakan Tuhan juga bisa dilakukan melalui cara kita memperlakukan ciptaan-Nya. Cara kita menggunakan air, membuang sampah, menanam pohon, dan mengelola lingkungan adalah bagian dari ibadah kita.

Mengapa demikian? Karena alam bukan milik kita. Alam adalah milik Tuhan. Kita hanya penatalayan, bukan pemilik. Seorang penatalayan yang baik akan menjaga apa yang dipercayakan kepadanya.

Ia tidak akan merusak atau menghabiskan dengan sembarangan. Ia tahu bahwa suatu hari ia harus mempertanggungjawabkan apa yang ia kelola.

Dalam Kejadian, manusia diberi tugas untuk mengusahakan dan memelihara taman. Itu berarti sejak awal, Allah menghendaki manusia hidup selaras dengan alam, bukan menguasainya secara serakah.

Dosa membuat manusia berubah: dari penjaga menjadi perusak, dari pengelola menjadi penguasa yang semena-mena. Tetapi melalui Kristus, Allah memanggil kita kembali kepada tujuan semula: menjadi penjaga ciptaan.

Bagi kita sebagai pemuda, panggilan ini sangat relevan. Kita adalah generasi yang akan hidup paling lama di masa depan. Jika bumi rusak hari ini, kitalah yang akan paling merasakan dampaknya. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya soal iman, tetapi juga soal tanggung jawab terhadap masa depan.

Memuliakan Allah melalui ciptaan berarti kita menunjukkan kasih kepada mother of earth melalui tindakan nyata. Bukan hanya lewat slogan atau unggahan di media sosial, tetapi lewat kebiasaan hidup sehari-hari.

Kita bisa mulai dari hal-hal sederhana: merawat tanaman di rumah atau di gereja, tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi pemakaian plastik sekali pakai, menghemat air dan listrik, serta mengelola sampah dengan bertanggung jawab.

Kita juga bisa terlibat dalam kegiatan reboisasi, membersihkan lingkungan, atau kampanye peduli alam. Mungkin kelihatannya kecil, tetapi ketika dilakukan bersama-sama, dampaknya besar. Tuhan sering bekerja melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan setia.

Lebih dari itu, mengurangi penggunaan bahan kimia dan kendaraan bermotor juga merupakan bentuk kepedulian. Kita belajar hidup lebih sederhana dan lebih bijak. Dunia mengajarkan konsumsi berlebihan: beli banyak, pakai sebentar, lalu buang.

Kristus mengajarkan kesederhanaan dan tanggung jawab. Dunia mengajarkan kenyamanan, Kristus mengajarkan kesetiaan.

Saudara-saudari muda, Mengapa semua ini penting secara rohani? Karena cara kita memperlakukan ciptaan mencerminkan cara kita memandang Allah. Jika kita percaya bahwa Kristus adalah pusat dari segala ciptaan, maka kita akan menghormati karya-Nya.

Jika kita percaya bahwa dunia diciptakan “untuk Dia”, maka kita tidak akan memperlakukan dunia ini seolah-olah hanya untuk kepentingan kita.

Dalam Roma 8, Paulus berkata bahwa seluruh ciptaan sedang mengeluh menantikan pembebasan. Artinya, alam juga menantikan pemulihan dari Allah. Kristus bukan hanya Juruselamat manusia, tetapi juga Pendamai seluruh ciptaan.

Melalui salib-Nya, Ia mendamaikan segala sesuatu dengan Allah, baik yang di bumi maupun yang di surga. Ini berarti bahwa pemeliharaan alam adalah bagian dari karya pemulihan Allah.

Ketika kita menjaga bumi, kita sedang mengambil bagian dalam karya Allah yang memulihkan dunia. Kita sedang berkata: “Tuhan, kami percaya bahwa dunia ini milik-Mu dan Engkau sedang membarui ciptaan-Mu.” Tindakan kita menjadi tanda pengharapan bahwa dunia tidak dibiarkan rusak selamanya.

Sebagai pemuda, kita sering merasa kecil dan tidak berarti. Kita berpikir: “Apa gunanya satu orang peduli lingkungan?” Tetapi firman Tuhan mengajarkan bahwa Allah sering memakai yang kecil untuk melakukan yang besar.

Lima roti dan dua ikan tampak tidak berarti, tetapi di tangan Yesus menjadi makanan bagi ribuan orang. Demikian juga langkah kecil kita, bila dilakukan dalam iman, dapat dipakai Tuhan untuk membawa perubahan.

Memuliakan Allah melalui ciptaan bukan berarti kita menjadi sempurna dalam menjaga lingkungan. Kita tetap belajar dan bertumbuh. Yang Tuhan inginkan adalah hati yang mau taat dan peduli. Ketika kita jatuh, kita bangkit lagi. Ketika kita lupa, kita belajar lagi. Yang penting, arah hidup kita jelas: untuk Kristus.

Akhirnya, firman Tuhan hari ini mengajak kita kembali kepada pusat kehidupan: Kristus. Segala sesuatu diciptakan melalui Dia dan untuk Dia. Maka tujuan hidup kita juga adalah untuk Dia. Kita memuliakan Allah bukan hanya lewat lagu pujian, tetapi juga lewat cara kita hidup di dunia ini.

Marilah kita menjadi pemuda-pemudi yang tidak hanya menikmati bumi, tetapi juga menjaganya. Bukan hanya mengambil dari alam, tetapi juga memulihkannya. Bukan hanya berbicara tentang iman, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata.

Dengan merawat ciptaan, kita sedang memuliakan Sang Pencipta. Dengan menjaga bumi, kita sedang menghormati Kristus sebagai pusat segala sesuatu. Dan dengan hidup selaras dengan kehendak-Nya, kita menjadi saksi bahwa Allah masih bekerja, masih mengasihi, dan masih membarui dunia ini melalui umat-Nya.

Kiranya kita menjadi generasi yang memuliakan Allah melalui ciptaan-Nya: dalam cara kita hidup, dalam pilihan kita, dan dalam tanggung jawab kita terhadap bumi. Sebab segala sesuatu berasal dari Dia, ada oleh Dia, dan kembali kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.


Doa : Ya Tuhan, Sang Pencipta, kami bersyukur atas dunia yang Engkau ciptakan melalui Kristus dan untuk kemuliaan-Mu. Ajarlah kami, kaum muda, menjadi penatalayan yang setia: merawat bumi, mengurangi keserakahan, dan hidup sederhana. Pakailah langkah kecil kami untuk memulihkan ciptaan dan memuliakan nama-Mu. Tuntun kami setia dalam pilihan sehari-hari dan menjadi berkat bagi generasi mendatang selalu. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB