Pembacaan Alkitab: Kolose 1:21–23
Tema: DAMAIKAN DIRIMU, DAMAIKAN BUMI
"Sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya." (ay. 22)
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, Pernahkah kita merasa bersalah setelah membuang sampah sembarangan, lalu dengan cepat menghibur diri sendiri: “Ah, cuma satu bungkus kecil,” atau “Nanti juga ada yang membersihkan”?
Atau ketika kita menggunakan air secara berlebihan, menyalakan listrik tanpa perlu, menebang tanaman di sekitar rumah, lalu berpura-pura lupa bahwa itu semua berdampak bagi bumi?
Banyak dari kita melakukannya. Dan sering kali kita menganggap itu hanya kebiasaan sepele. Namun sesungguhnya, itu adalah bagian dari pelanggaran kita sebagai manusia terhadap ciptaan.
Dosa bukan hanya soal hubungan pribadi kita dengan Allah atau dengan sesama manusia. Dosa juga tampak dalam cara kita memperlakukan bumi, air, udara, tumbuhan, dan hewan.
Rasul Paulus menulis kepada jemaat di Kolose bahwa dahulu kita hidup jauh dari Allah, bahkan memusuhi Dia dalam pikiran dan perbuatan kita. Kita hidup menurut kehendak sendiri, bukan kehendak Allah.
Kita memusatkan hidup pada diri kita sendiri. Namun Paulus juga membawa kabar baik: sekarang, melalui Kristus, kita diperdamaikan dengan Allah.
Pendamaian itu terjadi bukan dengan cara murah. Paulus menegaskan bahwa pendamaian itu terjadi “di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya.” Artinya, damai itu lahir dari salib. Damai itu dibayar dengan pengorbanan. Damai itu adalah anugerah yang mahal.
Tetapi saudara-saudari, pendamaian dalam Kristus tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Allah saja. Pendamaian Kristus bersifat menyeluruh. Ia memulihkan relasi manusia dengan Allah, relasi manusia dengan sesama, dan juga relasi manusia dengan seluruh ciptaan.
Sejak awal penciptaan, manusia ditempatkan di taman bukan sebagai perusak, tetapi sebagai penjaga. Manusia diberi tugas untuk mengusahakan dan memelihara bumi. Namun dosa membuat kita lupa peran itu.
Dosa membuat kita memandang ciptaan hanya sebagai alat untuk keuntungan pribadi. Hutan dilihat sebagai kayu. Sungai dilihat sebagai saluran limbah. Tanah dilihat hanya sebagai lahan ekonomi. Hewan dilihat hanya sebagai komoditas.
Kita lupa bahwa bumi bukan milik pribadi. Bumi adalah rumah bersama. Kita lupa bahwa ciptaan bukan hanya sumber daya, tetapi sesama ciptaan Allah yang juga diciptakan dengan kasih.
Tanpa hati yang diperdamaikan, kita mudah memanfaatkan alam demi kenyamanan diri sendiri. Kita ingin hidup enak hari ini, tanpa memikirkan generasi besok. Kita ingin cepat dan praktis, tanpa memikirkan akibat jangka panjang. Kita ingin untung, meski bumi rugi.
Namun ketika Kristus mendamaikan kita dengan Allah, itu berarti kita dipanggil untuk hidup dalam semangat pendamaian. Orang yang sudah berdamai dengan Allah seharusnya menjadi pembawa damai bagi dunia. Bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam cara hidup.
Damai bukan sekadar tidak bertengkar. Damai bukan hanya suasana tenang tanpa konflik. Damai dalam Alkitab adalah keadaan utuh, selaras, dan harmonis. Damai berarti setiap relasi kembali pada maksud Allah semula.
Karena itu, jika kita sudah diperdamaikan oleh Kristus, kita dipanggil untuk menghadirkan damai dalam seluruh laku hidup kita, termasuk dalam hubungan kita dengan bumi.
Dengan berdamai, seharusnya kita tidak lagi menyakiti alam tempat kita hidup. Kita tidak lagi bersikap rakus terhadap sumber daya. Kita tidak lagi memandang lingkungan sebagai sesuatu yang bisa dipakai lalu dibuang.
Kita belajar hidup secukupnya. Kita belajar membatasi diri. Kita belajar bertanya: apakah kebiasaan saya ini melukai bumi atau merawatnya?
Paulus berkata bahwa tujuan pendamaian itu adalah supaya kita “kudus, tak bercela, dan tak bercacat di hadapan-Nya.” Kekudusan bukan hanya soal ibadah dan doa, tetapi juga soal cara hidup. Kekudusan menyentuh cara kita makan, cara kita membuang sampah, cara kita menggunakan air, cara kita memperlakukan hewan, cara kita mengelola tanah.
Sering kali kita memisahkan iman dari kehidupan sehari-hari. Kita merasa sudah hidup benar karena rajin beribadah, tetapi lupa bahwa iman juga terlihat dalam cara kita hidup di rumah dan di lingkungan sekitar. Padahal iman yang sejati selalu menghasilkan perubahan nyata.
Damai dengan Allah harus berbuah pada damai dengan bumi. Karena itu, Paulus melanjutkan dengan ajakan agar jemaat tetap teguh dalam iman dan tidak digeser dari pengharapan Injil. Artinya, hidup sebagai orang yang diperdamaikan adalah proses. Kita harus terus belajar, terus dibentuk, terus diperbarui.
Salah satu bentuk hidup sebagai orang yang diperdamaikan adalah dengan menunjukkan aksi damai melalui hal-hal kecil. Kita mulai dengan menghargai hewan dan tumbuhan di sekitar kita.
Tidak menyiksa, tidak merusak, tidak membuang sembarangan. Kita mulai dengan mengurangi beban bumi melalui pengelolaan sampah yang lebih bijak. Kita mulai dengan menghemat air dan listrik. Kita mulai dengan tidak memaksakan gaya hidup yang berlebihan.
Damai bukan sekadar tidak bertengkar dengan alam. Damai berarti hidup secukupnya dengan seimbang. Damai berarti tahu batas. Damai berarti sadar bahwa kita bukan satu-satunya makhluk yang hidup di dunia ini.
Damai juga bukan hanya menghindari konflik, tetapi mengakui keberadaan makhluk hidup lain, bahkan makhluk-makhluk yang tak bersuara. Pohon tidak bisa berbicara. Sungai tidak bisa berteriak. Hewan tidak bisa mengajukan protes. Tetapi kerusakan mereka adalah jeritan yang sering kita abaikan.
Damai berarti hidup harmonis dengan Allah, dengan sesama manusia, dan dengan lingkungan tempat kita berpijak.
Ketika kita merusak bumi, sebenarnya kita sedang merusak rumah kita sendiri. Ketika kita mencemari air, kita sedang meracuni kehidupan kita sendiri. Ketika kita mengabaikan alam, kita sedang mengabaikan masa depan anak cucu kita.
Pendamaian Kristus mengajak kita melihat dunia dengan cara baru. Bukan sebagai barang pakai, tetapi sebagai ciptaan Allah. Bukan sebagai objek eksploitasi, tetapi sebagai ruang persekutuan.
Maka malam ini, firman Tuhan mengajak kita untuk memeriksa diri. Bukan hanya dosa-dosa yang bersifat pribadi, tetapi juga dosa-dosa kita terhadap bumi. Mungkin kita tidak menebang hutan, tetapi kita membuang sampah sembarangan. Mungkin kita tidak mencemari sungai besar, tetapi kita membuang limbah kecil tanpa peduli. Mungkin kita tidak melakukan kerusakan besar, tetapi kita hidup tanpa kesadaran.
Semua itu perlu dibawa dalam pertobatan. Karena damai sejati tidak hanya hadir lewat kata atau nyanyian. Damai Kristus harus hidup dalam tindakan nyata.
Maka sebelum tidur malam ini, marilah kita berpikir dalam keheningan: Satu kebiasaan apa yang selama ini kurang ramah bagi bumi? Satu sikap apa yang bisa kita ubah mulai besok?
Satu tindakan kecil apa yang bisa kita lakukan sebagai wujud damai?
Mintalah pertolongan Roh Kudus untuk memperbarui pola hidup kita. Kita tidak bisa berubah dengan kekuatan sendiri. Kita butuh anugerah. Kita butuh bimbingan. Kita butuh hati yang terus dibentuk.
Karena damai yang sejati lahir dari salib Kristus, tetapi damai itu harus terus dihidupi dalam keseharian kita.
Jika kita sungguh telah diperdamaikan oleh Kristus, marilah kita menjadi orang-orang yang mendamaikan: mendamaikan hubungan kita dengan Allah, mendamaikan hubungan kita dengan sesama, dan mendamaikan hubungan kita dengan bumi tempat kita hidup.
Biarlah hidup kita menjadi kesaksian bahwa pendamaian Kristus bukan teori, tetapi kuasa yang mengubah cara kita hidup.
Damai bukan hanya milik doa. Damai bukan hanya milik lagu rohani. Damai adalah panggilan hidup.
Damai dalam diri kita. Damai dengan sesama. Damai dengan bumi.
Kiranya Kristus yang telah mendamaikan kita dengan Allah, juga memampukan kita menghadirkan damai bagi dunia yang terluka ini. Amin.
Doa : Tuhan Yesus, kami bersyukur atas pendamaian-Mu yang memulihkan kami dan dunia. Ampuni sikap kami yang sering melukai bumi. Bentuklah hati kami menjadi pembawa damai melalui pilihan hidup yang sederhana, bijak, dan penuh kasih. Kuatkan kami untuk menjaga ciptaan-Mu sebagai wujud iman dan syukur kami kepada-Mu. Pimpin langkah kami setiap hari agar damai-Mu nyata dalam tindakan kecil dan kesaksian hidup. Amin.
Editor : Clavel Lukas