Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Cerita Alkitab, Kisah Nabi Yusuf Dibuang, Dikhianati, Tapi Dipakai Tuhan

Deiby Rotinsulu • Rabu, 18 Februari 2026 | 13:45 WIB
Ilustrasi Kisah Nabi Yusuf (ss ytb)
Ilustrasi Kisah Nabi Yusuf (ss ytb)

MANADOPOST.ID - Angin padang Kanaan berhembus lembut di antara bukit-bukit sunyi.

Di hamparan padang rumput luas berdiri kemah-kemah keluarga Yakub tempat cinta, kerja keras, dan luka terajut menjadi satu.

Di sanalah seorang pemuda berusia tujuh belas tahun menggembalakan domba bersama saudara-saudaranya. Namanya Yusuf.

Ia berbeda. Tatapannya jernih, langkahnya ringan, dan sikapnya lembut.

Semua orang tahu ia adalah anak kesayangan Yakub—anak yang lahir dari Rahel, perempuan yang paling dicintai ayahnya.

Pada diri Yusuf, Yakub melihat kenangan masa mudanya sekaligus harapan masa depannya.

Suatu hari Yakub memberikan kepada Yusuf sebuah jubah indah beraneka warna.

Hari itu segalanya berubah.

Cahaya sore menyentuh kain berkilau itu, tetapi di mata saudara-saudaranya, yang bersinar bukanlah keindahan—melainkan ketidakadilan.

Bara kecil kecemburuan mulai menyala.

Dan bara itu akan menjadi api.


Mimpi yang Membakar Kebencian

Yusuf bukan hanya anak kesayangan. Ia juga seorang pemimpi.

Suatu pagi ia berkata kepada saudara-saudaranya:

“Aku bermimpi kita mengikat berkas-berkas gandum. Berasku berdiri tegak dan berkas-berkas kalian mengelilinginya serta sujud kepadanya.”

Kemarahan pun meledak.

“Apakah itu artinya kau akan menjadi raja atas kami?”

Beberapa waktu kemudian ia bermimpi lagi.

“Matahari, bulan, dan sebelas bintang bersujud kepadaku.”

Yakub menyimpan perkataan itu dalam hatinya. Ia mengenal suara Tuhan.

Tetapi saudara-saudaranya tidak melihat nubuat—mereka melihat kesombongan.

Sejak hari itu mereka membencinya.

Dan kebencian yang dipelihara selalu mencari kesempatan.

Baca Juga: Cerita Alkitab, Kebijaksanaan, Kemegahan, dan Kejatuhan Raja Salomo


Sumur di Dotan

Suatu hari Yakub menyuruh Yusuf menyusul saudara-saudaranya yang menggembalakan ternak di Dotan.

Dari kejauhan mereka melihat jubah berwarna itu mendekat.

“Si pemimpi itu datang.”

Rencana pun disusun.

Mereka merobek jubahnya. Menyeretnya. Melemparkannya ke dalam sumur yang kering.

Di dasar sumur, Yusuf menangis.

Namun di tengah kegelapan itu ia merasakan sesuatu yang tidak pernah pergi: hadirat Tuhan.

Akhirnya mereka menjualnya kepada kafilah Ismael seharga dua puluh keping perak.

Yusuf dibawa menuju Mesir.
Yakub menerima jubah berlumur darah dan percaya anaknya telah mati.

Satu keluarga hancur.
Satu rencana ilahi baru saja dimulai.


Budak di Mesir

Di Mesir, Yusuf dibeli oleh Potifar, seorang pejabat tinggi istana.

Meskipun menjadi budak, Yusuf bekerja dengan setia. Apa pun yang ia kerjakan berhasil. Potifar mempercayainya sepenuhnya.

Namun godaan datang melalui istri Potifar.

Ketika perempuan itu berkata, “Tidurlah dengan aku,” Yusuf menjawab:

“Bagaimana mungkin aku melakukan kejahatan sebesar itu dan berdosa terhadap Allah?”

Ia memilih lari—meninggalkan jubahnya lagi.

Dan untuk kedua kalinya, jubah menjadi bukti yang memenjarakannya.

Yusuf masuk penjara.


Penjara dan Penantian

Di dalam penjara pun Tuhan menyertainya. Ia dipercaya mengatur para tahanan.

Di sana ia menafsirkan mimpi juru minuman dan juru roti Firaun.

Tafsirnya tepat. Tetapi juru minuman yang berjanji mengingatnya—melupakannya.

Hari berganti bulan.
Bulan berganti tahun.

Yusuf menunggu.

Namun iman yang ditempa dalam penantian menjadi semakin kuat.


Dari Penjara ke Singgasana

Suatu hari Firaun bermimpi tentang tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus, dan tujuh bulir gandum subur ditelan tujuh bulir kering.

Tak seorang pun mampu menafsirkan mimpi itu.

Barulah juru minuman teringat Yusuf.

Yusuf dipanggil ke istana.

Ia berkata dengan rendah hati:

“Bukan aku. Allah yang akan memberi jawaban.”

Ia menafsirkan tujuh tahun kelimpahan diikuti tujuh tahun kelaparan. Ia juga mengusulkan strategi penyimpanan gandum.

Firaun terkesan.

Dalam satu hari, Yusuf diangkat menjadi penguasa kedua di Mesir.

Dari sumur ke penjara.
Dari penjara ke istana.

Mimpi mulai digenapi.


Saudara-Saudara yang Bersujud

Kelaparan melanda Kanaan. Sepuluh saudara Yusuf datang ke Mesir membeli gandum.

Baca Juga: Cerita Alkitab, Kisah Raja Daud, Perjalanan Iman yang Ditempa di Padang Gurun dan Air Mata

Mereka sujud di hadapannya.

Mimpi itu terjadi.

Namun Yusuf tidak langsung menyatakan diri. Ia menguji hati mereka—apakah mereka masih seperti dulu?

Ketika Yehuda menawarkan diri menggantikan Benyamin sebagai budak, Yusuf tak sanggup menahan tangisnya.

Ia berkata:

“Aku Yusuf.”

Saudara-saudaranya gemetar ketakutan.

Namun Yusuf berkata:

“Jangan bersedih dan jangan menyesal, sebab Allah mengutus aku ke sini untuk memelihara kehidupan.”
“Kalian memang mereka-rekakan kejahatan terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.”

Tangis pecah.
Pengampunan mengalir.
Keluarga dipulihkan.


Akhir yang Indah

Yakub datang ke Mesir. Ia memeluk Yusuf dan berkata:

“Sekarang aku boleh mati dengan tenang, sebab aku telah melihat wajahmu.”

Setelah Yakub meninggal, saudara-saudaranya takut Yusuf akan membalas dendam.

Namun Yusuf berkata:

“Jangan takut, aku bukan Allah.”
“Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan.”

Yusuf hidup panjang umur. Dan ketika ia menutup mata, ia tahu satu hal:

Tidak ada sumur yang terlalu dalam untuk menggagalkan rencana Tuhan.
Tidak ada penjara yang cukup kuat untuk menahan janji-Nya.
Tidak ada pengkhianatan yang mampu menghancurkan kasih-Nya.


Pesan dari Kisah Yusuf

Sering kali jalan menuju istana dimulai dari sumur.
Sering kali pintu berkat terbuka lewat penderitaan.

Tuhan tidak pernah lupa.
Ia menulis cerita yang tampak berantakan menjadi kisah keselamatan.

Dan seperti Yusuf, kita dipanggil bukan untuk membalas—
melainkan untuk percaya bahwa di balik luka,
Tuhan sedang menenun rencana yang indah.

Karena ketika waktunya tiba, dunia akan tahu:

Rencana Allah tidak pernah gagal. (FTHI Ytb)

 
Editor : Deiby Rotinsulu
#cerita alkitab #Anak Yakub #Kisah Nabi Yusuf #Yusuf Dibuang