Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Pemuda, GPIB, Jumat, 27 Februari 2026, Mazmur 29:5-6 Belajar Mendengar Suara-Nya

Alfianne Lumantow • Kamis, 26 Februari 2026 | 11:54 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab : Mazmur 29:5–6
Tema : BELAJAR MENDENGAR SUARA-NYA

“Suara TUHAN mematahkan pohon aras, bahkan TUHAN menumbangkan pohon aras Libanon.” (ayat 5)

Sobat muda yang dikasihi Tuhan, pernahkah kamu merasa bingung harus memilih jalan hidup yang mana? Bingung memilih jurusan, pekerjaan, pasangan hidup, atau bingung menentukan arah masa depan?

Di saat seperti itu, sering kita bertanya: “Tuhan, sebenarnya Engkau mau aku ke mana?”
Pertanyaannya bukan hanya apakah Tuhan berbicara, tetapi: apakah kita mau dan mampu mendengar suara-Nya?

Mazmur 29 adalah mazmur yang menggambarkan kedahsyatan suara Tuhan. Pemazmur tidak sedang berbicara tentang suara biasa, melainkan suara yang penuh kuasa, suara yang menggetarkan alam, suara yang sanggup merobohkan apa yang kelihatan kuat dan kokoh.

Pohon aras Libanon dikenal sebagai pohon yang tinggi, kuat, dan mahal nilainya. Namun, pemazmur berkata bahwa suara Tuhan sanggup mematahkannya. Ini bukan sekadar gambaran alam, melainkan simbol bahwa tidak ada kekuatan di dunia ini yang lebih besar dari suara Tuhan.

Sobat muda, dunia hari ini penuh dengan suara. Ada suara media sosial, suara teman, suara keluarga, suara budaya, suara ambisi, bahkan suara ketakutan dalam diri kita sendiri. Semua itu berteriak minta didengar.

Tetapi di tengah kebisingan itu, suara Tuhan sering kali menjadi yang paling pelan—bukan karena Tuhan tidak berbicara, tetapi karena hati kita terlalu ramai untuk mendengar.

Mazmur ini mengajak kita melihat bahwa suara Tuhan bukan suara yang lemah. Suara-Nya bukan sekadar bisikan tanpa kuasa. Suara Tuhan adalah suara yang mencipta, membentuk, mengguncang, dan memulihkan.

Jika suara Tuhan sanggup mematahkan pohon aras Libanon, maka suara itu juga sanggup mematahkan keangkuhan, ketakutan, dan dosa dalam hidup kita. Suara Tuhan sanggup meruntuhkan tembok luka batin, rasa minder, dan masa lalu yang gelap.

Namun, ada satu hal penting: kuasa suara Tuhan baru berdampak jika kita mau mendengarnya.

Sobat muda, mendengar suara Tuhan bukan soal telinga, tetapi soal hati. Banyak orang mendengar firman Tuhan setiap minggu, tetapi tidak semua sungguh mendengar suara Tuhan. Mendengar suara Tuhan berarti memberi ruang bagi Tuhan untuk berbicara dan mengarahkan hidup kita.

Pemazmur seolah berkata kepada kita: lihatlah betapa dahsyat suara Tuhan, maka jangan remehkan ketika Tuhan berbicara kepadamu melalui firman-Nya, melalui doa, melalui peristiwa hidup, bahkan melalui orang lain.

Hari ini Tuhan bertanya kepada kita: “Apakah kamu mau belajar mendengar suara-Ku?”
Pertanyaannya bukan hanya bagaimana suara Tuhan itu bekerja, tetapi juga bagaimana kita merespons suara-Nya. Ada orang yang mendengar suara Tuhan tetapi tetap memilih jalannya sendiri.

Ada yang tahu kehendak Tuhan tetapi menundanya. Ada juga yang sengaja menutup telinga karena takut jika Tuhan menyuruh sesuatu yang berat.

Sobat muda, suara Tuhan tidak selalu nyaman, tetapi selalu benar. Kadang suara Tuhan menghibur, tetapi kadang juga menegur. Kadang suara Tuhan memberi damai, tetapi kadang juga mengguncang supaya kita sadar dan berubah.

Mazmur ini menegaskan bahwa suara Tuhan bukan hanya menciptakan, tetapi juga mengguncangkan. Ini berarti suara Tuhan bekerja bukan hanya untuk menenangkan, tetapi juga untuk mengoreksi.

Jika hidup kita tidak berkenan kepada Tuhan, suara-Nya bisa menghancurkan jalan yang salah agar kita kembali ke jalan yang benar.

Karena itu, kita perlu belajar mendengar suara Tuhan dengan sikap yang benar: bukan sebagai hakim atas suara Tuhan, tetapi sebagai hamba yang siap taat.

Lalu pertanyaannya:
Bagaimana caranya kita bisa mendengar suara Tuhan?

Pertama, jadikan Tuhan sebagai fokus utama hidupmu.
Banyak anak muda sulit mendengar suara Tuhan karena fokus hidupnya bukan Tuhan. Fokusnya adalah popularitas, kesenangan, pacar, uang, atau masa depan versi dunia.

Kalau radio tidak disetel pada frekuensi yang benar, suara yang keluar hanya suara bising. Begitu juga hidup kita. Jika fokus kita bukan Tuhan, maka suara Tuhan akan tertutup oleh suara dunia.


Menjadikan Tuhan fokus utama berarti kita tidak menjadikan Tuhan sebagai pelengkap hidup, tetapi sebagai pusat hidup. Tuhan bukan hanya tempat kita datang saat susah, tetapi Tuhan adalah penentu arah hidup kita.

Saat Tuhan menjadi pusat, maka keputusan kita, cara hidup kita, dan tujuan kita akan disaring oleh kehendak-Nya.

Sobat muda, belajar bertanya bukan hanya “apa yang aku mau?” tetapi “apa yang Tuhan mau?” Ini adalah langkah awal untuk mendengar suara Tuhan.

Kedua, tekunlah dalam doa dan bangun keintiman dengan Tuhan.
Mendengar suara Tuhan tidak terjadi secara instan. Ini seperti hubungan persahabatan. Kita mengenal suara sahabat kita karena sering berbicara dengannya.

Begitu juga dengan Tuhan. Jika kita jarang berdoa, jarang membaca firman, jarang berdiam diri di hadapan Tuhan, maka kita akan sulit mengenali suara-Nya.

Doa bukan hanya soal berbicara kepada Tuhan, tetapi juga soal diam di hadapan Tuhan. Banyak orang berdoa panjang lebar, tetapi tidak pernah memberi waktu untuk mendengarkan. Padahal doa sejati adalah dialog, bukan monolog.

Keintiman dengan Tuhan dibangun melalui kebiasaan kecil: membaca firman, merenung, memuji Tuhan, dan jujur di hadapan-Nya. Dari situlah hati kita dilatih peka. Semakin dekat kita dengan Tuhan, semakin mudah kita mengenali suara-Nya di tengah banyak suara.

Sobat muda, jangan tunggu sampai masalah besar datang baru mau berdoa. Bangun keintiman sekarang, supaya saat badai datang, kamu tahu suara siapa yang harus diikuti.

Ketiga, sikapilah penderitaan sebagai anugerah, bukan beban.
Sering kali justru dalam penderitaan suara Tuhan terdengar paling jelas. Ketika semuanya baik-baik saja, kita jarang bertanya kepada Tuhan. Tetapi saat kita jatuh, gagal, atau terluka, kita mulai mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh.

Pemazmur menggambarkan suara Tuhan mengguncangkan gunung dan mematahkan pohon aras. Ini bisa kita pahami sebagai pengalaman hidup yang mengguncangkan: kegagalan, kehilangan, kekecewaan, dan kesepian. Semua itu bisa menjadi alat Tuhan untuk berbicara.

Sobat muda, penderitaan bukan selalu tanda Tuhan meninggalkan kita. Kadang penderitaan adalah cara Tuhan menarik perhatian kita. Di saat kita tidak punya pegangan lain, kita belajar mendengar suara Tuhan dengan lebih serius.

Jika kita mau merendahkan hati dalam penderitaan, kita akan menemukan bahwa suara Tuhan tidak menghancurkan untuk membinasakan, tetapi menghancurkan untuk membangun kembali.

Akhirnya, Sobat muda, belajar mendengar suara Tuhan adalah perjalanan seumur hidup. Ini bukan soal sekali dengar lalu selesai, tetapi soal terus melatih hati untuk peka dan taat. Suara Tuhan adalah suara yang membawa hidup, bukan kehancuran. Suara Tuhan membawa terang, bukan kegelapan. Suara Tuhan membawa arah, bukan kebingungan.

Hari ini kita diajak untuk bertanya pada diri sendiri:
Apakah aku sungguh ingin mendengar suara Tuhan?
Ataukah aku hanya ingin Tuhan menyetujui keinginanku?

Mari kita belajar berkata: “Tuhan, berbicaralah, aku mau mendengar.”
Dan bukan: “Tuhan, dengarkan aku, tetapi aku tetap mau jalanku sendiri.”

Jika kita sungguh mau mendengar suara Tuhan, maka hidup kita tidak akan mudah, tetapi akan benar. Tidak selalu nyaman, tetapi akan bermakna. Tidak selalu sesuai rencana kita, tetapi sesuai kehendak-Nya yang sempurna.

Sobat muda, suara Tuhan yang mematahkan pohon aras Libanon adalah suara yang sama yang mau membentuk hidupmu hari ini. Jangan takut pada suara-Nya. Jangan lari dari suara-Nya. Belajarlah mendengar, taat, dan berjalan bersama-Nya.

Mari temukan suara Tuhan dalam doa, dalam firman, dan dalam setiap pergumulan hidup kita. Biarlah hidup kita menjadi kesaksian bahwa kita bukan hanya anak muda yang banyak bicara, tetapi anak muda yang mau mendengar suara Tuhan dan melakukannya. Amin

Doa : Tuhan yang penuh kasih, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Ajari kami peka mendengar suara-Mu dan taat melangkah dalam kehendak-Mu. Kuatkan iman kami di tengah pergumulan, pulihkan hati yang lemah, dan pakailah hidup kami menjadi berkat bagi sesama. Satukan kami dalam kasih dan damai sejahtera, selalu setia. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB