Pembacaan Alkitab: Markus 14:3–5
Tema: “GIVE MY BEST”
“Pemberian yang terbaik tidak pernah sia-sia di mata Tuhan.”
“Ada orang yang menjadi gusar dan berkata seorang kepada yang lain: Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini?” (ayat 4)
Saudara-saudari muda yang terkasih dalam Tuhan, Ada satu kalimat dalam sebuah lagu rohani yang sangat menyentuh hati: “Sudahkah yang terbaik ku berikan kepada Yesus Tuhanku? Besar pengorbanan-Nya di Kalvari, Diharap-Nya terbaik dariku.”
Kalimat ini bukan hanya indah untuk dinyanyikan, tetapi tajam untuk direnungkan. Sebab pertanyaannya sederhana, tetapi sangat pribadi: Sudahkah aku memberikan yang terbaik kepada Yesus? Atau jangan-jangan, selama ini aku hanya memberi sisa? Memberi ketika ada waktu luang? Memberi ketika tidak sibuk? Memberi ketika tidak rugi?
Sebagai pemuda, kita hidup di masa yang penuh pilihan. Kita memilih antara Tuhan dan kesenangan dunia. Kita memilih antara melayani dan bersantai. Kita memilih antara memberi waktu untuk Tuhan atau menghabiskan waktu untuk diri sendiri. Dan sering kali, tanpa sadar, kita terjebak dalam logika untung dan rugi ketika mengikut Yesus.
Kalau ikut Tuhan, apa keuntungannya? Kalau melayani, apa yang saya dapat? Kalau memberi waktu, apa balasannya?
Injil Markus 14:3–5 membawa kita pada sebuah kisah sederhana, tetapi sangat dalam maknanya. Di situ diceritakan tentang seorang perempuan yang datang membawa minyak narwastu yang sangat mahal, lalu memecahkannya dan mencurahkannya ke atas kepala Yesus. Minyak itu bukan minyak biasa. Itu minyak wangi yang harganya sangat mahal, setara dengan upah kerja setahun.
Bagi perempuan itu, minyak tersebut mungkin adalah harta paling berharga yang ia miliki. Bisa jadi itu tabungan masa depannya. Bisa jadi itu warisan keluarganya. Bisa jadi itu satu-satunya miliknya yang bernilai. Namun ia tidak menyimpannya. Ia tidak mengamankannya. Ia tidak menundanya untuk nanti. Ia mencurahkannya kepada Yesus saat itu juga.
Tindakannya adalah tanda kasih dan penghormatan yang mendalam. Ia tidak berbicara banyak. Ia tidak berkhotbah. Ia tidak menjelaskan alasannya. Ia hanya melakukan satu hal: memberikan yang terbaik yang ia miliki kepada Yesus.
Namun reaksi orang-orang di sekitarnya sangat berbeda. Mereka gusar. Mereka marah. Mereka berkata: “Untuk apa pemborosan minyak narwastu ini? Bukankah minyak itu bisa dijual dan uangnya diberikan kepada orang miskin?”
Kalimat ini terdengar rohani. Terdengar peduli. Terdengar masuk akal. Tetapi Yesus melihat motivasi di baliknya. Ia tahu bahwa kemarahan mereka bukan karena kasih kepada orang miskin, melainkan karena mereka tidak memahami siapa Yesus dan tidak memahami arti kasih sejati.
Di mata manusia, tindakan perempuan itu adalah pemborosan. Di mata Yesus, tindakan itu adalah kasih.
Di mata manusia, itu tidak efisien. Di mata Yesus, itu berharga. Di mata manusia, itu tidak masuk akal. Di mata Yesus, itu iman.
Saudara-saudari muda, dunia tempat kita hidup mengajarkan untuk menghitung:
Berapa untungnya? Berapa ruginya? Berapa hasilnya?
Tetapi kasih kepada Tuhan tidak bisa dihitung dengan kalkulator. Kasih tidak pernah berdiri di atas perhitungan untung dan rugi. Kasih selalu berdiri di atas pengorbanan.
Yesus tidak mati di salib karena itu menguntungkan bagi-Nya.
Yesus tidak menderita karena itu nyaman bagi-Nya.
Yesus tidak menyerahkan nyawa-Nya karena itu menguntungkan secara duniawi.
Ia melakukan semuanya karena kasih.
Kalau kita mengaku percaya kepada Yesus, pertanyaannya adalah: apakah kasih kita kepada-Nya hanya sebatas kata-kata? Atau sungguh-sungguh nyata dalam tindakan?
Memberi yang terbaik kepada Tuhan tidak selalu berarti memberi uang banyak. Bagi pemuda, memberi yang terbaik sering kali berarti: memberi waktu, memberi tenaga,
memberi perhatian, memberi hati yang sungguh-sungguh.
Ketika kita memilih datang beribadah meskipun capek, itu give my best.
Ketika kita memilih melayani meskipun tidak dipuji, itu give my best.
Ketika kita memilih hidup benar meskipun teman-teman mengejek, itu give my best.
Ketika kita memilih setia kepada Tuhan meskipun dunia menawarkan hal yang lebih menarik, itu give my best.
Perempuan dalam kisah ini tidak peduli dengan komentar orang. Ia tidak sibuk membela diri. Ia tidak takut dianggap bodoh. Ia tidak takut dianggap boros. Yang penting baginya hanya satu: Yesus menerima kasihnya.
Sering kali kita takut memberi yang terbaik karena takut dinilai orang.
Takut dibilang lebay. Takut dibilang sok rohani. Takut dibilang rugi. Takut dibilang aneh.
Akhirnya kita memberi setengah-setengah. Kita melayani setengah-setengah. Kita mengikut Tuhan setengah-setengah.
Padahal Tuhan tidak pernah memberi setengah-setengah kepada kita. Ia memberi hidup-Nya sepenuhnya. Ia mengampuni kita sepenuhnya. Ia mengasihi kita sepenuhnya.
Mengapa kita justru ragu memberi yang terbaik kepada-Nya?
Perempuan itu mengajar kita satu prinsip penting: Give your best, no matter what.
Berikan yang terbaik, tidak peduli komentar orang. Berikan yang terbaik, tidak peduli apakah dianggap sia-sia. Berikan yang terbaik, tidak peduli apakah dipahami atau tidak.
Yesus berkata bahwa apa yang dilakukan perempuan itu akan dikenang di seluruh dunia. Artinya, tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih besar akan dikenang oleh Tuhan. Dunia mungkin lupa, tetapi Tuhan tidak pernah lupa.
Hari ini kita hidup di masa Pra-Paskah. Masa di mana kita diingatkan tentang penderitaan Yesus, tentang jalan salib, tentang pengorbanan-Nya. Masa ini mengajak kita untuk bertanya:
Apa yang bisa aku berikan kepada Tuhan sebagai respon atas kasih-Nya?
Bukan hanya soal uang. Tetapi soal hati. Soal hidup. Soal arah hidup. Memberi diri berarti mau diubah. Memberi diri berarti mau ditegur. Memberi diri berarti mau taat. Memberi diri berarti mau hidup sesuai kehendak Tuhan.
Sering kali kita berkata: “Nanti kalau sudah tua, baru serius ikut Tuhan.” “Nanti kalau sudah mapan, baru melayani.” “Nanti kalau sudah tidak sibuk, baru sungguh-sungguh beriman.”
Tetapi perempuan itu tidak menunda. Ia memberi sekarang. Ia memberi saat itu juga.
Karena kasih tidak menunggu waktu yang ideal. Kasih bekerja ketika ada kesempatan.
Pemuda adalah masa terbaik untuk memberi yang terbaik. Tenaga masih ada. Waktu masih banyak. Semangat masih besar.
Kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Kalau bukan kita, siapa lagi?
Menghitung untung dan rugi tidak akan membuat berkat Tuhan bertambah. Justru sering kali membuat kita kehilangan kesempatan untuk mengalami karya Tuhan. Semakin kita berhitung, semakin kita takut melangkah. Semakin kita takut melangkah, semakin kita tidak mengalami Tuhan bekerja.
Perempuan itu mungkin tidak tahu semua rencana Allah. Ia hanya tahu satu hal: Yesus layak menerima yang terbaik. Dan itu cukup.
Saudara-saudari muda, tema kita hari ini adalah “Give My Best.”
Ini bukan slogan. Ini sikap hidup. Give my best dalam belajar. Give my best dalam melayani. Give my best dalam pergaulan. Give my best dalam iman. Bukan supaya dipuji. Bukan supaya dilihat. Tetapi karena kita mengasihi Tuhan.
Kiranya di masa Pra-Paskah ini, kita tidak hanya mengenang penderitaan Yesus, tetapi juga merespons kasih-Nya dengan hidup yang dipersembahkan. Hidup yang tidak setengah-setengah. Hidup yang tidak hitung-hitungan. Hidup yang berkata: “Tuhan, inilah yang terbaik yang aku bisa berikan.”
Seperti perempuan dengan minyak narwastu, biarlah hidup kita menjadi persembahan yang harum di hadapan Tuhan. Mungkin sederhana di mata dunia, tetapi berharga di mata-Nya.
Dan kiranya ketika Tuhan melihat hidup kita, Ia berkenan berkata:
“Ia telah melakukan apa yang dapat dilakukannya.”
Itulah give my best. Itulah iman sejati. Itulah kasih yang tidak pernah sia-sia di mata Tuhan. Amin.
Doa : Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Ajari kami, sebagai kaum muda, untuk memberi yang terbaik kepada-Mu dengan hati yang tulus dan penuh kasih. Jauhkan kami dari sikap hitung-hitungan dan takut rugi. Pakailah hidup kami sebagai persembahan yang harum bagi-Mu, agar melalui kami nama-Mu dimuliakan setiap hari. Dalam nama Yesus kami berdoa. Amin.
Editor : Clavel Lukas