Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sabda Bina Umat, GPIB, Kamis, 26 Maret 2026, Yesaya 41:4-5 KasihNya Merahmati Semua Orang

Alfianne Lumantow • Rabu, 25 Maret 2026 | 14:02 WIB

Logo GPIB.
Logo GPIB.

Pembacaan Alkitab : Yesaya 41:4-5
Tema : KASIH-NYA MERAHMATI SEMUA ORANG

"Siapakah yang melakukan dan mengerjakan semuanya itu, yang dari dahulu memanggil keturunan-keturunan? Aku, TUHAN, yang terdahulu, dan beserta mereka yang terkemudian, Akulah Dia." (ayat 4)

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, firman Tuhan pada malam hari ini membawa kita pada sebuah perenungan yang sangat dalam tentang siapa Allah kita dan bagaimana Ia bekerja dalam dunia ini.

Tuhan memperkenalkan diri-Nya sebagai Pribadi yang kekal—yang ada sejak dahulu, yang tetap bekerja pada masa kini, dan yang akan terus berkarya sampai masa depan.

Ia adalah Allah yang tidak berubah. Ia adalah Allah yang memegang kendali atas sejarah. Ia adalah Allah yang mengerjakan segala sesuatu, bahkan hal-hal yang seringkali tidak kita pahami.

Dalam konteks bacaan ini, kita diperhadapkan dengan sosok Koresh—seorang raja besar yang dipakai Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya. Menariknya, Koresh bukanlah bagian dari umat Israel. Ia bukan orang yang mengenal Tuhan secara pribadi seperti umat pilihan Allah. Namun justru melalui dialah Tuhan menghadirkan kemenangan dan pembebasan bagi Israel.

Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan yang menarik untuk kita renungkan: Mengapa Tuhan memakai orang yang tidak mengenal-Nya untuk menggenapi rencana-Nya?

Seandainya Koresh dapat diwawancarai, mungkin kita ingin bertanya: “Apa rasanya dipakai oleh Tuhan yang tidak pernah engkau kenal?” Atau mungkin kita bertanya: “Apakah engkau sadar bahwa keberhasilanmu berasal dari Allah Israel?”

Namun firman Tuhan hari ini justru tidak ditujukan kepada Koresh. Firman ini ditujukan kepada umat Tuhan—kepada kita. Mengapa? Karena Tuhan ingin kita mengerti cara kerja kasih-Nya.

Pertama, kasih Tuhan melampaui batas manusia.

Seringkali sebagai manusia, kita membatasi kasih. Kita cenderung mengasihi orang yang sama dengan kita—yang satu iman, satu kelompok, satu pemikiran. Kita lebih mudah menerima mereka yang “sejalan” dengan kita.

Namun Tuhan tidak demikian. Kasih Tuhan tidak dibatasi oleh agama, suku, latar belakang, atau status seseorang. Tuhan bekerja melampaui semua batas itu. Ia memberikan berkat bukan hanya kepada umat-Nya, tetapi juga kepada semua orang.

Yakobus 1:17 berkata: "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas..." Artinya, semua kebaikan yang terjadi di dunia ini—entah dialami oleh orang percaya atau tidak—semuanya berasal dari Tuhan.

Ketika kita melihat seseorang yang tidak seiman tetapi hidupnya berhasil, bahagia, dan diberkati, seringkali muncul pertanyaan dalam hati kita: “Mengapa mereka bisa demikian?” Firman Tuhan menjawab: karena kasih Tuhan juga bekerja dalam hidup mereka.

Ini bukan berarti berkat kita diambil lalu diberikan kepada orang lain. Bukan berarti Tuhan tidak adil. Tetapi ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan bersifat universal—Ia merahmati semua orang.

Kedua, Tuhan tidak menuntut pengakuan dari semua orang, tetapi dari kita umat-Nya.

Ini adalah bagian yang sangat penting untuk kita pahami. Seringkali kita merasa perlu “meluruskan” orang lain. Kita ingin mengatakan kepada mereka bahwa semua keberhasilan mereka berasal dari Tuhan. Kita ingin mereka mengakui Tuhan seperti kita mengakui-Nya.

Namun firman Tuhan dalam bacaan ini justru mengarahkan pesan itu kepada kita, bukan kepada mereka. Tuhan tidak berkata kepada Koresh: “Akuilah Aku.” Tuhan berkata kepada umat-Nya: “Akulah yang melakukan semuanya itu.” Artinya, Tuhan ingin kita yang menyadari dan mengakui pekerjaan-Nya.

Ini mengajarkan kita sebuah sikap rendah hati.
Bahwa kita tidak dipanggil untuk menghakimi, tetapi untuk memahami.
Bahwa kita tidak dipanggil untuk membandingkan, tetapi untuk bersyukur.
Bahwa kita tidak dipanggil untuk mempertanyakan keadilan Tuhan, tetapi untuk percaya pada kedaulatan-Nya.

Sebagai umat Tuhan, kita harus memiliki cara pandang yang benar: bahwa Tuhan bekerja dalam cara yang kadang tidak kita mengerti, tetapi selalu sesuai dengan kehendak-Nya yang sempurna.

Ketiga, kasih Tuhan adalah kasih yang aktif dan bekerja dalam sejarah.

Dalam ayat 4, Tuhan berkata bahwa Dialah yang “melakukan dan mengerjakan semuanya itu.”

Ini berarti Tuhan bukan hanya sekadar ada, tetapi Ia aktif bekerja.
Tuhan bekerja dalam sejarah bangsa-bangsa.
Tuhan bekerja dalam kehidupan individu.
Tuhan bekerja dalam hal-hal besar maupun hal-hal kecil.

Seringkali kita berpikir bahwa Tuhan hanya bekerja dalam hal-hal rohani—di gereja, dalam ibadah, dalam doa.

Namun sebenarnya, Tuhan juga bekerja dalam dunia ini secara luas. Ia bekerja dalam pemerintahan, dalam ekonomi, dalam pendidikan, bahkan dalam kehidupan orang-orang yang tidak mengenal-Nya.

Ketika kita memahami hal ini, kita akan melihat dunia dengan cara yang berbeda. Kita tidak lagi melihat keberhasilan orang lain sebagai ancaman. Kita tidak lagi merasa iri atau cemburu. Sebaliknya, kita belajar melihat semuanya sebagai bagian dari karya Tuhan.

Keempat, kasih Tuhan mengajak kita untuk bersaksi melalui hidup kita.

Meskipun Tuhan merahmati semua orang, kita sebagai umat-Nya memiliki tanggung jawab khusus. Kita dipanggil bukan hanya untuk menerima berkat, tetapi juga untuk menjadi saksi.

Ketika kita menyadari bahwa semua yang kita miliki berasal dari Tuhan, kita akan hidup dengan penuh syukur. Dan kehidupan yang penuh syukur itu akan menjadi kesaksian bagi orang lain.

Kita tidak perlu memaksakan orang lain untuk mengakui Tuhan.
Tetapi kita bisa menunjukkan melalui hidup kita bahwa Tuhan itu baik.

Melalui sikap kita yang rendah hati.
Melalui kasih kita kepada sesama.
Melalui integritas kita dalam kehidupan sehari-hari.

Orang lain mungkin tidak langsung mengenal Tuhan melalui kata-kata kita, tetapi mereka bisa melihat Tuhan melalui hidup kita.

Kelima, kasih Tuhan mengajarkan kita untuk tidak membatasi anugerah-Nya.

Seringkali tanpa sadar kita “membatasi” Tuhan. Kita berpikir bahwa Tuhan hanya bekerja dalam kelompok tertentu, atau hanya memberkati orang-orang tertentu.

Namun firman Tuhan hari ini menghancurkan cara pikir itu. Tuhan adalah Allah bagi semua orang. Tuhan bekerja bagi semua manusia. Tuhan memberikan rahmat-Nya kepada siapa saja yang Ia kehendaki.

Ini bukan berarti semua orang otomatis mengenal Tuhan, tetapi ini menunjukkan bahwa kasih Tuhan jauh lebih luas dari pemahaman kita. Sebagai umat Tuhan, kita harus belajar memiliki hati yang luas seperti Tuhan.

Tidak mudah menghakimi.
Tidak cepat menilai.
Tidak sempit dalam berpikir.
Sebaliknya, kita belajar untuk melihat orang lain dengan kasih.

Saudara-saudari yang terkasih, Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk melihat kembali siapa Tuhan kita. Dia adalah Allah yang kekal. Dia adalah Allah yang bekerja dalam segala sesuatu. Dia adalah Allah yang kasih-Nya melampaui batas manusia. Dan yang paling penting, Dia adalah Allah yang merahmati semua orang.

Maka sebagai umat-Nya, mari kita belajar untuk:
• Mengakui bahwa semua yang baik berasal dari Tuhan
• Tidak iri atau membandingkan diri dengan orang lain
• Memiliki hati yang luas seperti Tuhan
• Dan menjadi saksi kasih Tuhan melalui hidup kita

Ketika kita melihat orang lain diberkati, mari kita bersyukur. Ketika kita melihat dunia berjalan dengan berbagai dinamika, mari kita percaya bahwa Tuhan tetap bekerja.

Akhirnya, ingatlah:
Kasih Tuhan tidak terbatas.
Rahmat-Nya tidak berkurang.
Dan karya-Nya tidak pernah berhenti.

Tuhan yang sama yang bekerja di masa lalu, masih bekerja hari ini, dan akan terus bekerja sampai selama-lamanya. Dan kasih-Nya… berlaku bagi semua orang. Amin.

Doa : Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur atas rahmat-Mu yang berlaku bagi semua orang. Ajarlah kami memiliki hati yang rendah dan penuh kasih, tidak menghakimi, tetapi menjadi saksi kebaikan-Mu. Pakailah hidup kami untuk memuliakan nama-Mu. Dalam nama Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Editor : Clavel Lukas
#GPIB