Pakai Baju dan Sepatu Sendiri, Begini Persiapan Paskibraka di Tahun 1946
Clavel Lukas• Senin, 24 Agustus 2020 | 07:30 WIB
Christiany Eugenia ParuntuMANADOPOST.ID--Andriette Rosa Mantik menjadi salah satu eks Paskibraka perwakilan Sulawesi Utara, dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI yang pertama, pada 17 Agustus Tahun 1946 di Yogyakarta. Meski sudah berusia 88 tahun, saat diwawancarai Manado Post, oma Andriette Rosa Mantik, sejarah penting ketika Bendera Merah Putih berkibar di Istana Yogyakarta. Oma Roos sapaan akrabnya mengatakan saat itu tidak ada fasilitas yang mempuni. Apalagi perlengkapan yang sudah tersedia. "Kita harus memakai baju putih sendiri. Tidak dapat dari istana. Persiapan masing-masing. Namun senang mendengarkan pidato dari bung Karno. Ada makanan atau tidak, kita semua bersatu. Dan begitu pengibaran dan sampai pidato bung Karno. Kita ikuti terus sampai penurunan bendera pada sore hari," jelasnya. “Dan pengibaran bendera kita tidak mengharapkan dari pemerintah. Belum bisa (saat itu) memberikan kita baju atau sepatu (perlengkapan). Itu kita harus siap sendiri. Dan sudah dikatakan, kalian punya baju putih kan, ya pakai baju putih," tambahnya. Terlebih tambah oma Roos, latihan ketat seperti saat ini, belum ada kala itu. “Dan tidak ada latihan. Paling satu atau dua hari sebelum pemasangan bendera. Kita dijalankan. Dan semuanya ikut apa yang dikasih tahu. Belum seperti Paskibraka saat ini, yang banyak dengan formasi. Paskibraka sekarang luar biasa. Mengikuti sekolahnya dan sebagainya. Dulu tidak ada itu," tambahnya. Paskibaraka tahun 1946, dipilih mewakili kepulauan di Indonesia. Masing-masing sepasang. Dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Maluku dan Sulawesi. Oma Roos adalah perwakilan Sulawesi, karena berasal dari Manado. “Waktu persiapan, semua ikut apa yang dikomandokan. Dan waktu pengibaran, yang pegang bendera adalah perwakilan Jawa yang ada di tengah (lihat foto), Kalimantan dan Maluku. Laki-laki di belakang. Terus sampai penurunan bendera kita di Istana. Tegang dan senang. Inilah Republik Indonesia waktu itu. Jadi kita itu boleh dibilang, wakil rakyatnya dari lima kepulauan, menghadapi pengibaran bendera pertama di Istana Jogyakarta. Sesudah Indonesia merdeka," terangnya.(ctr-02/gnr) Editor : Clavel Lukas