Anggota DPRD Sulut, Rhesa Waworuntu mengatakan, dirinya mendapat laporan dari orang tua siswa SMANTO. Dimana, bilamana tak membayar sumbangan tersebut, maka siswa mendapat ancaman dari kepsek.
Menurut Rhesa, orang tua siswa membeberkan bahwa pada awal tahun ajaran, ada meeting komite sekolah, pihak sekolah dan orang tua.
Pada rapat itu disampaikan bahwa ada sumbangan sukarela dari siswa yang dibayarkan per bulan dan dipilih nominal yang akan dibayarkan.
"Namun, pada saat rapat itu ada orang tua siswa menanyakan lagi apakah ini memang wajib dibayar? Karena setahu mereka sebagai orang tua, program ODSK tidak ada pungutan apapun di SMA negeri," kara Rhesa menceritakan laporan orang tua tersebut kepadanya.
Akan tetapi, lanjutnya, tetap diputuskan oleh pihak sekolah dan komite. Di awal tahun ajaran, beberapa orang tua sudah terlanjur memilih nominal mulai dari Rp 20.000, Rp 50.000 dan Rp 100.000. Tapi akhirnya merasa berat. Karena hal ini wajib lunas ketika penerimaan raport.
"Bahkan aduan yang kami terima, waktu apel, kepala sekolah pernah mengatakan bahwa tidak bisa memilih jurusan jikalau tidak lunas," ungkapnya.
Beberapa waktu lalu, ada sejumlah siswa yang sudah siap untuk ikut lomba olahraga. Sebagai orang tua, mereka sudah keluar biaya untuk keperluan anak-anak.
Tapi, pada saat akan ikut lomba, Kepsek melarang karena masih banyak siswa yang belum melunasi sumbangan tersebut.
"Sehingga anak anak gagal ikut lomba. Pada hal sudah banyak keluar biaya," sesalnya.
Sebagai wakil rakyat yang duduk di Komisi 4 yang juga merupakan komisi membidangi pendidikan, politisi PDI Perjuangan ini merasa perlu untuk ada tindak lanjut atas laporan orang tua siswa tersebut.
"Ini peringatan. Sudah disampaikan bahwa sekolah itu jangan ada pungli" ucapnya.
Dirinya pun telah sampaikan hal ini ke Sekretaris Dinas Pendidikan Daerah Sulut. Untuk itu dia meminta agar ada tindakan penindakan tegas pada oknum kepsek.
"Ini memang sudah pernah jadi perhatian. Apa lagi ada ancaman di situ. Kalau tak bisa bayar, siswa tak bisa pilih jurusan dan sebagainya. Ini kan menghalangi siswa untuk berprestasi. Bukannya mendukung supaya sekolah bisa maju, tapi kalau gaya Kepsek seperti ini, menghambat anak-anak untuk berprestasi," pungkasnya.
Dia menegaskan bahwa yang namanya sumbangan tidak jelas, apalagi terkesan memaksa dan mengancam, maka itu namanya pungli.
"Jika ini masih terjadi, maka saya akan usulkan agar Kepseknya diganti. Pungli seperti ini harus diberantas. Ini juga imbauan untuk semua SMA di Sulut. Jangan ada sumbangan-sumbangan tak jelas pada siswa," pungkasnya.
Ditambahkannya, hal ini akan ditindaklanjuti oleh Komisi 4 jika belum ada tindakan tegas dari Dinas.
Terinformasi juga, tim basket dari SMA tersebut terancam bubar. Sebab tidak disetujui oleh Kepsek dikarenakan ada siswa yang belum membayar lunas pungli itu.
Selain itu juga, setiap hari ada derma hasil ibadah. Hal itu pun dipertanyakan orang tua siswa. Sebab, hasil derma setiap hari tidak jelas masuk kemana.(ando)
Editor : Grand Regar