Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Sisakan Ruang untuk Korban Gunung Ruang

Ayurahmi Rais • Jumat, 26 April 2024 | 09:58 WIB

Para warga yang terdampak Letusan Gunung di Posko Pengungsian Kampung Apengsala, Kecamatan Tagulandang.
Para warga yang terdampak Letusan Gunung di Posko Pengungsian Kampung Apengsala, Kecamatan Tagulandang.

MANADOPOST.ID-Lebih dari satu pekan berlalu. Trauma letusan Gunung Ruang masih tergambar jelas dalam ingatan masyarakat yang berada di Kecamatan Tagulandang.  Gemuruh letusan yang begitu dahsyat, kobaran api yang disertai petir, hingga hujan batu yang menghancurkan atap rumah, semuanya masih terekam dengan jelas.  Namun hebatnya, mereka begitu cepat bangkit dari keterpurukan. Perlahan namun pasti, para korban Gunung Ruang sudah kembali menyusun harapan dan menata kembali sebuah ruang yang sempat ditinggalkan beberapa saat.

Laporan Ayurahmi Rais (UKW 17402), Tagulandang, Kabupaten Sitaro.

 

RABU (24/4/2024) untuk pertama kalinya saya menginjakan kaki di Kelurahan Bahoi,  Kecamatan Tagulandang, Kabupaten Kepulauan Sitaro.

Tidak sendiri, kedatangan saya kali ini ikut dalam rombongan Tim PLN Unit Induk Distribusi Wilayah Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan Gorontalo (UID Suluttenggo). Yang datang dengan misi sosialnya untuk menyerahkan secara langsung bantuan PLN Peduli tahap dua bagi korban bencana erupsi Gunung Ruang.

Bertolak dari Pelabuhan Manado sekira Pukul 18.05 Wita menggunakan Kapal Marina Bay dan tiba di Pelabuhan Tagulandang pada Pukul 23.00 Wita. Suasana malam hari di Pelabuhan Tagulandang begitu ramai dan padat. Kami  disambut dengan hangat oleh tim dari PLN ULP Tagulandang.

Baca Juga: Banyak Pergumulan di Pemilu 2024, Laporan dari Masyarakat Terkait Pelanggaran Masih Minim

Para pengungsi Erupsi Gunung Ruang yang sedang terlelap.
Para pengungsi Erupsi Gunung Ruang yang sedang terlelap.

Suhu udara di malam itu 26 derajat Celcius, namun kondisi tubuh begitu gerah. Bangunan Kos dua lantai di bawah Kaki Gunung Ruang menjadi tempat kami bermalam. Jujur, ini adalah salah satu pengalaman terbaik saya dalam hidup.

Waktu berputar begitu cepat, keesokan harinya tepatnya Kamis (25/4) kami  beranjak menuju Kampung Apengsala, Kecamatan Tagulandang. Kampung itu berjarak 8 Kilometer dari  Kelurahan Bahoi. Dengan waktu tempuh sekira 30 menit menggunakan mobil.

Sepanjang perjalanan saya memperhatikan keadaan sekitar. Benar adanya, sebagian besar rumah yang dilewati atapnya dalam keadaan rusak akibat hujan batu yang diakibatkan oleh erupsi Gunung Ruang Rabu (17/4) pekan lalu.

Baca Juga: Pembahasa LKPJ Gubernur Sulut Tahun 2023 oleh Panitia Khusus, Pokja 2 Langsung Turun Lapangan

Tetapi patut disyukuri, aktivitas masyarakat sudah berangsur pulih. Pasar sudah dibuka, layanan publik sudah beroperasi, kelistrikan sudah pulih 100 persen, jaringan internet memadai, bahkan banyak para pengungsi yang sudah kembali ke rumah untuk membersihkan sisa-sisa abu vulkanik dan bebatuan.

Kampung Apengsala sendiri menjadi salah satu desa yang dijadikan tempat pengungsian. Ada ribuan warga korban Erupsi Gunung Ruang yang berada di sana.

Sinta Tatara, seorang pengungsi yang berasal dari Kampung Mohonsawang bercerita, letusan Gunung Ruang adalah bencana alam yang sulit dilupakan bahkan seumur hidupnya. Ia masih ingat betul bagaimana letusan yang begitu dahsyat terjadi di malam hari.

"Susah menggambarkan kondisi malam itu. Bumi rasanya seperti terbelah. Suara letusan disertai petir begitu keras. Syukurnya kami sekeluarga berhasil lari dan selamat," ceritanya dengan nada gemetar. 

Baca Juga: Sosok Keren Sengke, Srikandi PLN yang Menjabat Asisten Manager TJSL PLN UID Suluttenggo di Usia 30 Tahun

 

Sinta sendiri sudah satu minggu tinggal di Posko Pengungsian. Ia bersyukur meski di tengah keterbatasan namun bantuan yang datang begitu banyak. Pemerintah setempat bergerak cepat membantu para korban.

"Untuk makan dan minum semuanya aman. Dari hari pertama mengungsi kami diberikan bantuan makanan siap saji. Pagi, siang dan malam. Kondisi ini tidak sepenuhnya baik, tetapi apapun itu saya bersyukur karena orang tua, suami dan semua anak-anak selamat, meskipun rumah kami hancur," ungkapnya pilu.

Ia pun berharap akan banyak bantuan terpal yang akan diberikan. Untuk menggantikan sementara atap rumahnya yang rusak. "Atap rumah lubang. Kalau hujan semua basah. Jika ada terpal kami sudah bisa pulang ke rumah, sementara atapnya diganti dengan terpal," harapnya.

Kondisi  di Posko Pengungsian. Terlihat banyak bantuan yang terus berdatangan
Kondisi di Posko Pengungsian. Terlihat banyak bantuan yang terus berdatangan

Harapan yang sama juga diutarakan oleh Rudini Wahab. Pengungsi dari Kelurahan Balehumara yang rumahnya pun rusak akibat hantaman batu.

"Setiap hari saya cek di Posko apakah ada bantuan terpal atau tidak. Karena saat ini selain sembako warga juga butuh terpal untuk dijadikan atap sementara. Karena rumah saya hancur, barang-barang pun rusak," akunya. Namun dirinya tetap berterima kasih kepada pemerintah dan semua pihak yang selama ini sudah membantu meringankan beban para korban Erupsi Gunung Ruang.

Pun dengan Dalce Soeleman. Wanita paruh baya itu bahkan harus merelakan Kebun Cengkih dan Pala miliknya habis tak tersisa karena terdampak letusan gunung. Rumahnya pun hancur.

"Saya punya pohon cengkih sudah siap panen, tetapi ada bencana ini semuanya hancur. Gagal panen. Sudah takdirnya seperti ini. Harta bisa dicari yang penting nyawa selamat," syukurnya,  yang saat itu sedang antre melakukan pendataan untuk menerima bantuan.

Baca Juga: Tuntaskan 7 Jam Perjalanan Darat, Ini Potret Kapolda Sulut Irjen Yudhiawan Pertama Kali Kunjungi Polres Bolmut dan Bertemu Personel

Sama seperti Sinta, Dalce juga mengisahkan betapa menakutkannya kondisi saat Gunung Ruang Meletus. 

"Di rumah, saya tinggal bersama ibu yang usianya sudah 85 tahun. Saat kejadian kami langsung melarikan diri. Sampai sekarang rasa takut itu masih ada,  bahkan mendengar bunyi motor saja langsung trauma.  Puji Tuhan semuanya bisa dilalui, dan semoga tidak akan terjadi lagi," doanya.

Lantas, sampai kapan Para Korban Gunung Ruang akan tinggal di posko pengungsian? Apa upaya pemerintah kedepannya?

Mengenai hal ini, Pemerintah Kabupaten Sitaro melalui Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kominfo)  Stanly CF Tukunang  menuturkan, sejak hari pertama proses evakuasi sampai dengan saat ini, pemerintah selalu hadir di tengah-tengah para korban.

Tidak hanya datang memberi bantuan, namun turun langsung ke posko pengungsian untuk memberikan dukungan moral.  Karena korban erupsi Gunung Ruang ini hampir satu Kecamatan Tagulandang.

Baca Juga: Ora et Labora, BEKAS atau BERKUALITAS ???

Di tengah wawancara, Stanly juga mengucapkan terima kasih kepada pihak PLN, yang begitu cepat bergerak memulihkan jaringan listrik.

"Dalam masa tanggap darurat bencana, pemerintah tidak bekerja sendiri. Banyak dibantu oleh pihak lain, termasuk PLN yang begitu cepat melakukan perbaikan jaringan kelistrikan. Sehingga dalam kondisi  seperti ini,  kami dapat  berkoordinasi dengan baik," katanya.

Petugas PLN yang sedang memperbaiki jaringan keliatrikan pasca Erupsi Gunung Ruang.
Petugas PLN yang sedang memperbaiki jaringan keliatrikan pasca Erupsi Gunung Ruang.

Dirinya tak menampik,  sampai saat ini belum ada angka pasti terkait korban erupsi Gunung Ruang. Karena proses pendataan masih terus dilakukan.

Namun jika dilihat dari data pengungsi, ada sekitar 7.000 jiwa. Yang berasal dari 15 Desa dan Dua Kelurahan di Kecamatan Tagulandang. "Total penduduk di Tagulandang itu sekitar 15 ribu-an. Tetapi yang terdampak berdasarkan data sampai dengan saat ini sekitar 7.000 an jiwa," sebutnya.

Di bawah Kaki Gunung Ruang sendiri terdapat dua desa, yakni Desa Laingpatehi dan Pumpenteyakni dengan 301 Kepala Keluarga dan 800 jiwa.  Semua penghuni di dua desa ini sudah diungsikan, dan tidak diijinkan lagi kembali menghuni desa itu demi keselamatan.

Potret Gunung Ruang pasca erupsi.
Potret Gunung Ruang pasca erupsi.


Lantas kemana mereka akan dipindahkan? Adakah ruang yang tersisa untuk mereka tempati?
Hal ini masih sementara dibahas oleh pemerintah. Tetapi solusi dalam jangka pendeknya sudah ada.

Yang pertama, kata Teten, sapaan akrab Kadis Kominfo, para korban Gunung Ruang akan ditampung di Gedung BLK. BLK ini merupakan ruang kerja tetapi bisa menampung banyak orang terutama anak-anak balita, ibu-ibu dan para lansia.

Opsi kedua, di tiga atau empat bulan ke depan, pemerintah akan mencari lahan untuk membangun rumah semi permanen untuk tempat mereka tinggal, sebelum nanti mendapatkan lahan yang layak untuk membangun rumah permanen yang akan ditinggali dalam waktu yang lama. "Ini memang belum dianggarkan karena bencana baru saja terjadi. Tetapi hal ini sedang dibahas. Kedepannya pasti akan dibangun rumah bagi mereka tinggal . Untuk jumlahnya masih belum bisa dipastikan, karena kami terus melakukan pendataan," katanya.

Baca Juga: Motivasi Kristiani GMIM By Pdt Melki Tamaka MTh, Kamis 25 April 2024

Tak sampai di sini, peran pemerintah pun masih terus berlanjut, termasuk menanggulangi sementara semua konsumsi makan dan minum para korban Erupsi Gunung Ruang selama masa pemulihan. Karena sebagian besar dari mereka kehilangan mata pencaharian.

Mewakili pemerintah ia pun menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang sudah mengirimkan bantuan. Mulai dari pemerintah provinsi, pemerintah 15 kabupaten/kota, pihak TNI/Polri, Pihak Swasta, BUMN, Perbankan, BPD, Relawan, Organisasi dan semua pihak yang turut membantu sejak hari pertema posko pengungsian sampai dengan saat ini. "Saya berharap kedepannya kita akan terus bersama-sama. Sampai sekarang kami terus melakukan pendataan sambil menyalurkan bantuan," tukasnya.

Sebelumnya Wakil Gubernur Sulut Steven Kandouw juga mengunjungi lokasi pengungsian. Dalam kunjungan tersebut Wagub berjanji akan membantu fasilitas publik dan rumah-rumah warga yang rusak.
"Saya datang langsung ke sini (Posko Pengungsian,red) untuk melihat langsung kondisi seperti apa. Nanti kami akan bantu rumah-rumah warga yang terdampak," kuncinya.

Baca Juga: BRI Bukukan Laba Rp15,98 Triliun, Cermati Perkembangan Global dan Lebih Fokus ke Tantangan Domestik Melalui Pemberdayaan UMKM

Seperti apa yang diuraikan di awal, pemulihan pasca bencana di Tagulandang tidak hanya dilakukan oleh satu pihak. Namun oleh seluruh stakeholder termasuk PT PLN Persero.

Seperti apa upaya PLN dalam memulihkan listrik pasca bencana Erupsi Gunung Ruang? Simak penuturan ekslusif Manager ULP Tagulandang Hanry Nugroho, di edisi selanjutnya, bersambung..


 

Editor : Ayurahmi Rais
#posko pengungsian #Kondisi Tagulandang pasca erupsi #Gunung Ruang #Erupsi Gunung Ruang di Tagulandang #Tagulandang