Berita Utama Ekbis Kapol Teropong Minahasa Raya Nusa Utara Bolmong Raya Nasional Publika Politik Esport Healthy Hukum Internasional Lifestyle&Teknologi Liputan Khusus Olahraga Opini Otomotif Show & Celebrities Xpresi

Di Balik Duka Keluarga Almarhum Benny Laos, Ada Istri yang Berjuang Pulih

Foggen Bolung • Rabu, 16 Oktober 2024 | 10:15 WIB
Ketiga anak Almarhum Benny Laos, Edbert, Edelyn, dan Edrick saat menabur bunga di makam papa tercinta yang dimakamkan di San Diego Hills Memorial Park, Selasa (15/10).
Ketiga anak Almarhum Benny Laos, Edbert, Edelyn, dan Edrick saat menabur bunga di makam papa tercinta yang dimakamkan di San Diego Hills Memorial Park, Selasa (15/10).

MANADOPOST.ID—Edbert, Edelyn, dan Edrick terlihat tegar mengantar almarhum Benny Laos, papa tercinta yang telah kembali ke Yang Maha Kuasa. Mengenakan kemeja putih, ketiga anak almarhum Benny Laos bersama istri, Sherly Tjoanda, sesekali melempar senyum ramah menyapa kerabat yang ikut menghantarkan calon Gubernur Maluku Utara ini ke peristirahatan terakhir, di San Diego Hills Memorial Park, Selasa (15/10). 

Pemakaman Almarhum Benny Laos berlangsung penuh haru dan kesedihan. Suasana di lokasi dipenuhi rasa kehilangan yang mendalam, baik dari Edbert, Edelyn, dan Edrick sebagai anak-anak yang ditinggalkan, keluarga besar, bahkan para kerabat yang hadir untuk mengantarkan kepergian sosok yang begitu dicintai. Istri almarhum, Sherly Tjoanda, terlihat tidak hadir karena masih berjuang pulih dari luka-luka yang dideritanya dalam insiden tragis yang merenggut nyawa sang suami.

Benny Laos dan Sherly menjadi korban kebakaran kapal yang terjadi di Dermaga Pelabuhan Regional Bobong, Desa Bobong, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, pada Sabtu (12/10) lalu. Meskipun Sherly berhasil selamat, Benny tak dapat tertolong meskipun sempat mendapatkan pertolongan darurat.

Adik Sherly, Robert Tjoanda, saat diwawancarai usai pemakaman, mengatakan bahwa almarhum di mata keluarga dan kerabat adalah sosok pria yang baik dan tulus. “Beliau dikenal sebagai pribadi yang tegas, namun berhati lembut. Di luar mungkin terlihat keras, tapi hatinya sangat baik. Banyak orang yang ingin membantu karena Pak Benny selalu siap menolong siapa pun yang membutuhkan," kata Robert tentang sosok kakak iparnya yang dikenang banyak orang.

Robert juga menjelaskan kondisi Sherly yang sampai saat ini masih dirawat dan dalam masa pemulihan setelah melalui perjuangan panjang dan penuh rasa sakit. “Ibu (Sherly, red) sempat tidak mendapat penanganan medis segera. Belasan jam Ibu menahan sakit sebelum akhirnya dievakuasi ke Luwuk untuk mendapatkan perawatan. Saat ini memang sudah membaik, tapi dokter masih menyarankan untuk belum bisa keluar. Namun, beberapa hari ini, Ibu masih sempat melihat almarhum suaminya. Terakhir tadi pagi, sebelum berangkat ke lokasi pemakaman, Ibu masih sempat melihat Bapak untuk terakhir kali,” cerita Robert yang tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.

Bahkan, kata Robert, sebelum kejadian, ia ingat Sherly ingin agar almarhum bertemu dengan anak-anaknya. “Ibu menyampaikan pesan untuk suaminya (sebelum kejadian). Ibu ingin membawa Pak Benny pulang untuk melihat anak-anak sebelum ia pergi," ungkap Robert sambil menahan tangis.

Robert pun mengingat kembali kejadian nahas tersebut. Dengan suara terbata-bata, ia menceritakan kronologi kejadian. “Saat kejadian, saya sedang berada di Jakarta. Saya langsung mengatur proses evakuasi. Awalnya, sesaat setelah kejadian, Pak Benny masih ada nadi, meski lemah. Kami berusaha semampu mungkin, tapi keterbatasan alat membuat kondisinya memburuk. Dua jam kemudian, kami mendapat kabar bahwa Pak Benny sudah tidak ada," kenangnya penuh pilu.

Robert juga menceritakan betapa sulitnya mendatangkan bantuan pada malam itu karena kondisi cuaca dan waktu yang sudah larut. “Kami kirim helikopter, tapi baru bisa datang keesokan paginya. Kami sudah berusaha semampu kami,” lanjut Robert.

Diceritakannya, saat kebakaran terjadi, Sherly yang berada di dalam kamar sempat keluar dari kapal, namun mencoba kembali untuk menyelamatkan suaminya. “Tangan Pak Benny masih bergerak saat itu, tapi api sudah terlalu besar. Ibu ingin kembali, tapi kakinya terbakar. Akhirnya, Ibu kolaps karena tak sanggup lagi," kata Robert.

Namun, kini keluarga besar Benny Laos percaya bahwa almarhum telah berada di tempat terbaik. “Kami sangat bersyukur atas segala doa dan dukungan dari masyarakat, terutama di Maluku Utara, bahkan seluruh Indonesia. Terima kasih juga kepada semua pihak yang terlibat dalam proses evakuasi dan penanganan, dari tim medis hingga kepolisian," kata Robert mewakili keluarganya.

Meski masih dalam pemulihan, keluarga percaya bahwa Sherly akan melanjutkan mimpi besar yang ditinggalkan oleh suaminya, didukung sepenuhnya oleh anak-anak mereka. “Setelah sembuh, Ibu akan meneruskan apa yang menjadi impian Bapak. Kami percaya bahwa mimpi Bapak tidak akan sia-sia,” tutup Robert penuh harap.

Kepergian Benny Laos meninggalkan duka yang dalam bagi banyak orang, namun semangat kebaikan yang ia wariskan akan terus dikenang. Banyak kesan baik yang ditinggalkan kerabatnya, termasuk di mata Harsen Roy Tampomuri, Tenaga Ahli Madya Kantor Staf Presiden yang juga merupakan rekan kerja almarhum.

“Sebagai orang yang sama-sama bekerja di Kantor Staf Presiden, saya mengenal Pak Benny Laos sebagai orang yang visioner, baik, dan kaya akan gagasan serta keberanian untuk mewujudkannya. Beliau juga membangun hubungan yang egaliter dengan siapa saja, pada posisi apa pun, termasuk dengan rekan kerja pada jabatan di bawahnya,” kata Harsen yang merupakan putra Sulawesi Utara.

Ia menambahkan bahwa dalam aktivitas di daerah, Benny Laos memiliki semangat yang besar untuk mengabdikan diri bagi rakyat. “Bukan semata nafsu untuk berkuasa, tetapi beliau memiliki keinginan hati untuk melayani rakyat. Karakteristik kepemimpinan yang melayani kental dimilikinya,” pungkas Harsen. (*)

Editor : Foggen Bolung
#maluku utara #Benny Laos #San Diego Hills Memorial Park #Sherly Tjoanda